
Saat itu, jam sudah menunjukkan waktu sekitar pukul sembilan malam saat sebuah mobil terlihat tengah terparkir rapi di halaman depan mansion. Itu Charlotte dan Xander yang ternyata sudah sampai di mansion utama sejak beberapa saat yang lalu. Sejak tadi mereka bukannya turun dan masuk, namun justru menunggu di dalam mobil.
Dan menit demi menit berlalu cepat. Saat ini sudah hampir tiga puluh menit lamanya berlalu sejak kedatangan mereka, namun Charlotte dan Xander belum juga mau turun dari mobil mereka. Kedua kakak beradik itu benar-benar merasa enggan bahkan hanya sekedar untuk menginjakkan kaki di halaman mansion itu.
"Lottie, kau yakin tidak mau turun?" tanya Xander sambil menatap bangunan mansion itu dari dalam mobil.
Charlotte, orang yang baru saja di ajak bicara oleh Xander itu tidak menjawab.
Merasa tidak ada jawaban dari orang di sebelahnya Xander pun menoleh. "Lottie! Jadi gimana? Kita turun atau nggak nih? Ah... atau kita pergi saja lagi dari sini?"
Charlotte masih diam.
Gadis itu lalu menolehkan kepalanya. Ikut melihat ke arah bangunan mansion yang pintunya tengah tertutup rapat itu. Dahinya lalu berkerut saat melihat bangunan itu. Dia punya perasaan tak enak saat ini.
"Kau dia kan tadi, Xander?" ujar Charlotte setelah sekian lama terdiam.
"Lihat siapa?" Xander menaikkan sebelah alisnya bingung, menatap Charlotte "Liat Mario, maksudmu?"
"Hm, Mario!" Charlotte mengangguk pelan lalu kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Melihat pada sekeliling mobilnya.
"Aku lihat! Tentu saja." Xander menggaruk belakang kepalanya, kaku.
"Kenapa Mario bisa ada di sini, di mansion ini?" gumam Charlotte lalu menatap Xander. "Coba kau pikir, kalau Mario ada disini, bukankah itu artinya kakek pasti juga ada di sini. Kakek pasti sudah datang, Xander!"
Xander mengangguk. "Benar."
"Apa ini?" omel Charlotte.
"Aku jadi ngeri rasanya mau masuk." Xander kembali melirik ke arah mansion, memperhatikan ke sekitar bangunan itu. Terlihat beberapa pelayan yang sejak tadi mondar mandir, sepertinya sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing.
"Ya, benar!" Charlotte mengangguk setuju lalu menghela nafasnya.
"Jadi bagaimana?"
"Entahlah. Kalau kita masuk ke dalam sana sekarang, bukankah itu sama saja seperti kita sedang masuk ke kandang macan."
Xander menggeleng cepat. "Jangan ngomong begitu dong, Lottie! Aku nggak setuju. Itu kan bukan kandang macan... tapi kandang serigala."
Charlotte memutar bola matanya malas. "Itu sama saja, Xander." jawab Charlotte yang hanya di balasan senyuman kecil oleh Xander.
"Kakek itu juga mengerikan buatku"
"Benar." Charlotte mengangguk.
__ADS_1
Setelah percakapan tak penting itu, Xander dan Charlotte kembali terdiam. Mereka tidak mengatakan apapun sampai akhirnya beberapa menit kembali berlalu, namun mereka masih belum juga beranjak sedikit pun dari tempat itu.
Sebelumnya, begitu sampai di gerbang mansion, Charlotte dan Xander sempat di buat terkejut saat mendapati Mario, bodyguard setia dari tuan Romanov keluar dengan mobil dan tanpa sengaja berpapasan dengan mobil mereka. Mereka benar-benar kaget, karena jika Mario ada di sini, bukankah itu artinya tuan Romanov juga sudah tiba di sini.
Xander dan Charlotte merasa terkejut karena mereka tidak menyangka tuan Romanov akan tiba lebih dulu sebelum mereka. Awalnya mereka mengira jika sang kakek pasti akan sampai lebih lama dari mereka.
Charlotte lalu menatap tajam pada Xander. "Tapi bukannya sebelumnya kau bilang kakek bakal pulang jam sepuluh nanti? Tapi lihatlah! Ini bahkan baru jam sembilan, tapi dia sudah sampai di sini"
Xander melirik ke arah Charlotte kemudian berdesis pelan.
"Iss... bukan aku yang bilang Lottie, tapi kakek. Dia sendiri yang mengatakan padaku kemarin kalau dia akan tiba di bandara jam sepuluh malam nanti. Jadi mana aku tau kalau dia akan tiba lebih cepat daripada kita."
"Tapi apa ini, Xander? Lihat ini!" Charlotte lalu menunjukkan jam di pergelangan tangannya. "Ini bahkan masih jam sembilan, tapi kenapa Mario sudah ada disini?"
"Aku juga nggak tau, bawel." gerutu Xander yang jadi ikut merasa kesal. "Yang jelas ini bukan keterlambatan kita. Justru kita sudah datang di waktu yang tepat."
"Ya! Ini jelas bukan kesalahan kita. Kita tidak terlambat. Aku yakin, pasti kakek sudah memberi waktu kedatangan yang salah pada kita." Charlotte mendecih. "Apa ini artinya kita sudah di bohongi?"
"Aku pikir juga begitu." balas Xander. "Kakek pasti sudah membohongi kita."
"Kalau begini, aku pasti bakal kesulitan buat menghindari semua omelan dan ceramah pak tua itu!"
"Panggil dia kakek Lottie, bukan pak tua!" ujar Xander tegas membuat Charlotte hanya bisa mengenduskan nafasnya."
Xander mendengus. "Hei, jangan merasa paling menderita di sini. Kau lupa, semua yang kau lakukan selama ini sudah jadi tanggung jawabku. Dan itu artinya masalahmu nanti akan jadi masalahku juga."
Charlotte kembali berdesis. "Iss..bisa nggak kau jangan mengeluh tentangku dulu? Lebih baik ayo cepat kita masuk!"
"Masuk? Masuk ke dalam maksudmu?" Xander menatap Charlotte lalu menggeleng kencang. "Tidak! Lebih baik kau saja yang masuk. Aku pergi saja lah dari sini dan aku akan datang lagi kesini nanti malam, saat kakek sudah tidur."
Charlottee mendengus.
"Sial*n! Jadi kau mau mengorbankanku?" tanya Charlotte sinis yang langsung di jawab anggukan oleh Xander.
"Ku kan lebih muda sekitar lima bulan dariku, itu artinya posisimu adalah adik. Jadi, adikku yang cantik, berkorbanlah sedikit untukku,"
"Tapi kau kan lebih tua dariku. Dan posisimu adalah kakak!" balas Charlotte tak mau kalah. "Itu artinya, disini kau-lah yang harusnya melindungiku dari bahaya."
"Enak aja! Tidak, aku tak mau!" tolak Xander cepat. "Denger ya, aku memang akan selalu melindungimu dari bahaya. Sumpah! Tapi, kalau bahayanya adalah omelan kakek, aku juga tak akan mau!"
"Ya, masa harus aku yang masuk duluan?" tanya Charlotte dengan raut kesal.
Xander mengangguk. "Iya. Kau masuk duluan! Aku entar malam atau besok pagi aja."
__ADS_1
"Iss...kalau begitu aku juga tidak mau!" ujar Charlotte yang langsung melipat tangannya didada lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil, memasang ekspresi cemberut.
Keadaan kembali hening untuk yang kesekian kalinya. Saat ini mereka berdua hanya duduk diam di posisi masing-masing.
"Ya sudah gini aja. Gimana kalau masuknya barengan?" tawar Charlotte yang sejak tadi tidak tahan dengan keheningan yang terjadi.
"Oke!" Xander langsung mengangguk. "Kalau itu aku mau, kita masuk bersama!"
"Ayo!" seru Charlotte semangat.
Xander membuka pintu mobil kemudian turun setelah menutup pintu mobil diikuti Charlotte yang juga ikut turun dari pintu di sebelahnya.
"Ini kunci mobilmu!" ujar Xander melempar kunci mobil yang langsung di tangkap oleh Charlotte.
"Ayo masuk!" ajak Charlotte lagi.
Xander mengangguk. "Hmmm."
Xander menghentikkan langkahnya lalu kembali menatap mansion mewah itu. Namun tiba-tiba saja ia malah berbalik arah dan berjalan menuju pintu gerbang, hendak pergi keluar dari mansion dan kabur meninggalkan Charlotte.
"Nggak jadi deh, Lottie! Aku pulang ke apartment aja!" ujar Xander gugup.
Charlotte berlari mengejar dan langsung menarik kerah belakang baju milik Xander. "Hei, mau kemana kau, hah? Mau kabur? Dasar penipu! Penghianat!"
"Aku pingin pulang aja lah. Ngeri! Aku pulang ya, aku janji deh bakal kembali lagi besok siang buat menjemputmu, tapi setelah situasi aman."
"Nggak!" tolak Charlotte. "Nggak ada pulang! Ayo, buruan kita masuk ke dalam!" ujar Charlotte menarik Xander untuk segera masuk ke dalam mansion.
"Mati aku!" gumam Xander pelan di sela tarikan paksa Charlotte.
Setelah menaiki sederet anak tangga, menuju pintu masuk utama, Charlotte lalu mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam mansion mewah itu diikuti Xander yang berjalan di belakangnya.
Mereka melangkah dengan mengendap-endap sambil sesekali memberitahu pelayan yang lewat agar tutup mulut dan tidak memberitahukan perihal kedatangan mereka pada sang kakek.
"Charlotte! Xander! Kenapa kalian mengendap-endap seperti itu?" seru sebuah suara dan membuat mereka berdua terperajat.
***
Catatan :
Tidak akan mengubah kesalahan ejaan/EYD/Typo/Alur yang kacau, karena faktor Kemalasan.
Dan sesungguhnya kemalasan adalah kerajinan yang tertunda.
__ADS_1