
Suara gebrakan itu terdengar nyaring dan membuat keadaan di ruang makan seketika menjadi hening.
Semua orang terkejut dengan apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Bahkan para pelayan sampai menghentikkan kegiatan mereka.
Mereka menoleh ke arah Charlotte yang baru saja bangkit dari posisinya setelah menggebrak meja dengan kasar.
"Ya ampun, menyebalkan sekali." gumam Charlortte kesal.
Charlotte kini tengah mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Wajahnya memerah, tanda ia sedang kesal bukan main.
Ya, saat ini Charlotte sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Kesabarannya sudah benar-benar habis sekarang. Dan baginya, semua percakapan ini terlalu bertele-tele juga memuakkan baginya.
Melihat apa yang baru terjadi, Xander langsung bereaksi. "Lottie apa yang-"
"Diam!"
"Charotte, tapi-"
"Ku bilang kau diam Xander!" potong Charlotte kesal.
Charlotte kini bahkan menodongkan jari telunjuknya pada Xander untuk memperingatkan pemuda itu.
Perbuatan Charlotte itu pun lantas membuat Xander langsung bungkam seketika.
"Tenanglah, Lottie... duduklah!" bujuk tuan Romanov dengan nada pelan. "Kita bisa membicarakan ini secara baik-baik!"
Charlotte mendengus. "Oh jadi kita sekarang akan membicarakan dengan baik-baik? Setelah semua yang kakek lakukan itu, sekarang kakek akan membicarakannya baik-baik?"
"Charlotte-"
"Kakek, jika kakek ingin memulai dengan baik-baik, kakek tidak akan melakukan hal seperti yang kakek lakukan kemarin. Melakukan sesuatu secara diam-diam itu tidak dapat dikatakan sebagai hal yang pantas."
Tuan Romanov hanya terdiam setelah Charlotte membungkamnya dengan perbuatannya.
"Lottie, jangan bicara seperti itu pada ķakek!"
"Kenapa aku tak boleh? Sejak tadi kalian terus bicara dan aku hanya diam. Bukankah sekarang bagianku untuk bicara juga."
"Tidak apa Xander!" sahut kakek berusaha menenangkan situasi.
"Tapi kakek, sikapnya ini sangat-"
"Apa? Sikapku kenapa? Katakan!" potong Charlotte tajam. "Kurang ajar, itu yang ingin kau katakan?"
Xander tak lagi menjawab. Charlotte tampaknya benar-benar sedang kesal saat ini.
Charlotte meletakkan tangannya di meja sembari menghembuskan napasnya. Gadis itu lalu memajukkan tubuhnya agar lebih dekat pada tuan Romanov, lalu menatap kakeknya itu dengan tajam.
__ADS_1
"Aku tau, kakek sengaja membawa Xander diam-diam kemarin pagi kan? Apa itu bisa di sebut membicarakan secara baik-baik? Kakek bahkan sudah memulai semuanya dengan kebohongan. Tapi tidak... aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi untuk yang kedua kalinya."
"Dan satu lagi! Aku ingin kalian semua mendengar ucapanku yang satu ini." Charlotte beralih menatap satu per satu orang di dalam ruangan itu. "Mulai pagi ini dan hari seterusnya, Xander tidak akan kemana pun! Dia hanya akan bersamaku, ikut denganku ke kampus atau kemanapun aku pergi! Dan kakek jelas tidak akan membawanya kemanapun!"
Charlotte lalu memundurkan tubuhnya setelah puas mengeluarkan seluruh isi kepalanya dan membuat semua orang bungkam.
Charlotte melirik Xander sebentar kemudian menghela pelan.
"Ayo kita kuliah Xander! Sedikit memuakkan jika aku terlalu lama berada di tempat ini." Setelah mengatakan itu Charlotte mengambil tas mahal miliknya, ia berbalik hendak meninggalkan ruang makan sampai ia mendengar suara Xander.
"Lottie-"
Charlotte langsung menghentikkan langkahnya. Ia menoleh dan menatap tajam pada Xander.
"Aku bilang, ayo kita pergi kuliah!" tegas Charlotte menekan tiap kata-kata yang keluar dari mulutnya kemudian segera melanjutkan langkahnya, pergi meninggalkan ruang makan.
Xander memilih mengangguk. Ia sangat tahu jika saat ini sang adik sedang dalam kondisi buruk.
"Kakek, maafkan aku."
Tuan Romanov mengangguk, "Ya, pergilah."
Setelah berpamitan dengan tuan Romanov, ia pun ikut bangkit dari posisinya dan berlari mengejar Charlotte yang sudah lebih dahulu pergi.
Selepas Charlotte dan Xander pergi keadaan menjadi lebih sepi. Tuan Romanov meletakkan roti tawar di tangannya ke atas piring kemudian menatap ke arah pintu keluar mansion.
Hei, memangnya siapa yang tidak khawatir saat melihat secara langsung adegan sang majikan yang di bentak oleh cucunya sendiri di depan matanya seperti itu.
"Saya tidak menyangka nona Charlotte akan berontak seperti itu." ujar Paul masih kaget.
Tuan Romanov menarik napasnya dalam kemudian menoleh pada Paul, ia tersenyum. "Kau tidak menyangka, Paul? Berbeda denganku. Kalau aku sudah menyangka-nya Paul."
"Tu-tuan?"
Tuan Romanov terkekeh. "Dia Charlotte Clinton, kalau kau lupa, Paul. Dia sangat ambisius. Dan ego adalah hal nomor satu baginya. Tidak akan ada yang bisa melawan kemauannya. Jika seseorang menghalanginya, dia jelas akan lebih menentang balik,"
Paul mengangguk setuju. Bagaimana dia bisa lupa bagaimana sifat nona mudanya itu.
"Dia hanya butuh waktu!" ujar tuan Romanov.
"Ya, tuan. Saya rasa butuh waktu sedikit lebih lama bagi nona muda untuk berpisah dengan tuan muda Xander!"
"Dia sangat ketergantungan dengan Xander." ujar Tuan Romanov kemudian menghela perlahan. "Itu bukan hal baik karena Xander tidak aku rawat untuk menjadi pesuruh, tapi untuk menjadi presdir di perusahaanku."
"Lalu sekarang bagaimana dengan rencana anda? Setelah melihat apa yang baru terjadi, saya tidak yakin nona akan mengizinkan tuan Xander pergi ke Jepang seperti yang anda rencanakan sebelumnya."
"Aku juga tidak yakin." tuan Romanov meraih lagi roti tawar miliknya untuk kembali memakannya. "Harus ada yang menggantikan posisi Xander di samping Charlotte, jika tidak rencanaku untuk membawa Xander pergi ke Jepang selama beberapa bulan ke depan akan gagal."
__ADS_1
"Menggantikkan tuan Xander?"
Tuan Romanov mengangguk. "Seseorang yang harus membuat Charlotte perlahan melupakan kehadiran Xander. Seseorang yang lebih spesial dari Xander!"
***
Brakk!
Charlotte menutup pintu mobilnya dengan bantingan keras. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi mobil.
Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya saat ini. Dadanya bergemuruh karena sisa emosi yang tadi sempat menyerangnya.
Tidak lama setelah itu, pintu mobil di sebelahnya juga turut terbuka. Itu Xander, yang saat ini tengah bergerak memasuki kursi mobil bagian pengemudi.
"Lo mulai lagi, marah-marah!" gerutu Xander sambil memasang sabuk pengaman ke tubuhnya. Charlotte hanya diam, sepertinya dia tidak berniat menjawab ucapan Xander padanya.
Xander melirik sekilas ke arah Charlotte kemudian menggeleng pelan sambil setelah mengetahui gadis itu tengah mendiamkannya.
'Apa-apaan itu. Kenapa dia malah mendiamkanku sekarang, memangnya apa salahku?' gerutu Xander dalam hati.
Xander menghela pelan. Sudah belasan tahun ia hidup bersama gadis cerewet ini. Dan itu membuat Xander bisa sangat mengenal perangainya. Ia yakin kalau saat ini gadis cerewet ini pasti juga tengah marah kepadanya.
"Lo bahkan nggak memberi gue kesempatan untuk menghabiskan sarapan gue!" oceh Xander lagi sambil menggigit roti tawar yang ternyata turut ia bawa sejak tadi, pemuda itu lalu mengunyah roti tawar itu dengan kasar.
Charlotte belum juga mengatakan apapun. Gadis itu masih terus memilih bungkam, tidak berniat untuk menjawab apapun kalimat Xander padanya.
Ia hanya menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa Xander terus saja mengoceh santai seperti itu? Apa lelaki bodoh itu tidak tau jika saat ini dia sedang kesal.
Xander kembali menggigit roti tawar di tangannya yang kini tinggal sepotong.
"Oke! Gue tahu kalau tadi elo memang lagi marah sama kakek. Tapi kenapa nggak melihat kondisi di sekitar lo juga sih? Lo kan tau kalau gue tadi lagi asyik makan, harusnya elo bisa kasih gue kesempatan untuk menyelesaikan sarapan gue dengan tenang tadi, baru setelah itu lo ngajak gue pergi. Lihat ini, bagian yang ini bahkan belum terkena olesan selai kacang." pemuda itu masih terus mengoceh panjang lebar sambil memandangi roti tawar di tangannya.
'Apa yang dia katakan barusan? Membiarkan dia makan dengan tenang? Dia pasti sudah gila.' batin Charlotte.
Charlotte mendecih kesal, ingin sekali rasanya saat ini dia memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut pemuda ini agar ia menutup mulutnya itu.
Xander kembali melirik Charlotte untuk yang kesekian kalinya karena gadis itu tidak juga kunjung membuka mulutnya untuk menjawab semua kata-katanya itu.
"Semarah-marahnya elo, tetap jangan lupa pasang sabuk pengaman," ujar Xander mencoba untuk mengingatkan setelah ia selesai menghabiskan potongan terakhir dari roti tawarnya. "Gue nggak bakal jalan kalau elo belum pasang sabuk pengaman lo."
Charlotte tidak menjawab namun ia tetap melakukan apa yang di katakan Xander, terbukti dari tangannya yang saat ini bergerak menarik sabuk pengaman dan langsung memasangnya ke tubuhnya.
Setelah itu Xander menoleh ke arah Charlotte yang saat ini tengah menatap keluar jendela mobil.
"Kita berangkat sekarang!" ujar Xander tanpa menatap Charlotte.
Dan tanpa menunggu jawaban apapun dari gadis itu, Xander mulai menancap gas mobil yang mereka tumpangi, meninggalkan halaman mansion mewah itu.
__ADS_1
***