Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
56.


__ADS_3

Jam menunjukan pukul delapan pagi. Terlihat para mahasiswa sudah mulai berdatangan mengingat ini memang hampir jam masuk kuliah.


Beberapa ruangan bahkan sudah ada yang menjalankan kegiatan perkuliahan sejak jam tujuh pagi tadi.


Kebanyakan dari para dosen memang sangat suka mengubah waktu perkuliahan, tak jarang dari mereka yang sangat suka mempercepat atau bahkan memperlambat jam perkuliahan, tergantung jadwal yang sang dosen miliki.


Sementara beberapa mahasiswa lain juga masih bertahan di parkiran dan beberapa lainnya ada yang bercengkrama di koridor, lapangan atau di dalam ruang kuliah. Semuanya tampak biasa, sampai…


   Bruuum…


   Bruuum…


Yah, sampai bunyi bising dari deru mobil mewah itu mulai masuk ke dalam area parkir kampus. Semua orang menoleh, melihat ke area parkir kampus, tentu saja ke arah suara yang menurut mereka sangat memekikkan telinga itu. Namun semua itu menjadi sangat 'wajar' saat melihat siapa yang sudah mencoba berulah seperti ini.


Wajar? Tentu saja…


Lihat, kini bukannya marah atau jengkel dengan suara bising itu, para mahasiswa itu justru heboh kegirangan dan saling berbisik satu sama lain.


Mereka menatap ke arah parkiran dengan tatapan terpana, dimana terlihat dua orang anak muda turun dari mobil sport yang kini sudah terparkir rapi disana.


“Lihat! Mereka datang!" bisik seseorang mahasiswi pada mahasiswi lainnya. "Xander dan Charlotte datang!"


Semua orang sontak saja tersenyum sambil melihat ke area parkir, tepatnya melihat si pemilik mobil.


Ya, Xander dan Charlotte. Kedua manusia yang memang menjadi mahasiswa paling populer di kampus mereka. Charlotte si model terkenal dan kakaknya, Xander si pintar dan berbakat yang juga sangat populer di kampus.


"Itu mereka. Lihatlah mereka sangat sempurna!" seru seorang mahasiswa.


"Ya mereka sangat sempurna," balas mahasiswa  lainnya.

__ADS_1


"Aku iri sekali pada Charlotte." sahut mahasiswa di sebelahnya lagi.


"Xander sangat tampan!"


"Charlotte terlalu sempurna, kita bahkan tidak akan bisa menyainginya." terdengar seruan lainnya.


Celotehan-celotehan itu hanya terarah untuk dua orang yang berada di tengah kerumunan itu.


Mereka memang dikenal sebagai dua orang paling berpengaruh di universitas itu. Seluruh mahasiswa dari semua fakultas yang ada di kampus itu mengenal mereka. Bahkan kepopuleran mereka juga sudah terdengar sampai ke universitas lain di kota itu.


Mereka berdua kemudian mulai melangkah memasuki gedung universitas, menuju ruang kuliah masing-masing. Mereka berjalan dengan gaya yang cuek bahkan terkesan arogan dan tak memperdulikan sekitar mereka. Namun meskipun begitu kekaguman para mahasiswa di kampus itu pada mereka tidak berkurang sedikitpun, justru membuat mereka semakin histeris.


Xander menghela nafasnya kasar. Lihatlah, baru beberapa detik dia tiba di kampus ini, para gadis menyebalkan yang ada di kampusnya itu sudah berulah dan membuatnya muak dengan teriakan mereka.


Ada kalanya dia mencoba bersikap biasa saja dan tidak berniat menanggapi para gadis itu. Tapi tidak pernah berhasil, bahkan ulah mereka terus berlarut dan malah membuatnya semakin jengah.


Xander melirik kearah Charlotte dan mendecih saat melihat gadis itu kini justru tengah asyik tebar pesona. Dia memasang senyum menggodanya pada para pria yang ia lewati. Ya, seperti biasanya, gadis itu memang menyukai semua kegaduhan ini.


"Gue tidak sok cantik, gue memang cantik!" jawab Charlotte acuh.


"Sama saja!" balas Xander tajam. "Para mahasiswa itu, mereka pasti suka sama elo karena mereka nggak tahu sifat asli lo."


"Kalau begitu jangan sampai mereka tahu, gampang kan!" Charlotte menggedikkan bahunya acuh.


"Jujur saja! Lo suka hal-hal gila seperti ini kan? Menjadi pusat perhatian!" ujar Xander melirik sinis.


Charlotte mengangguk angkuh. "Eum, tentu aja gue suka! Lagipula ini hal yang biasa buat gue! Di kenal orang dimana-mana."


"Ck, dasar gila!" ujar Xander pada Charlotte yang kini tengah melambai pada para mahasiswa itu. Xander bahkan dapat mendengar seruan kegirangan dari para lelaki itu. "Hentikan hal konyol itu, Lottie! Sebelum gue yang akan menghentikannya!"

__ADS_1


"Diamlah Xander!" seru Charlotte yang langsung manatap Xander sinis. "Lo nggak lihat? Saat ini gue sedang mencoba memamerkan dan memanfaatkan anugrah dari Tuhan yang ada pada diri gue."


Xander mendengus. "Anugrah apa yang sedang lo bicarakan." cibirnya sinis.


Xander kemudian memilih mempercepat langkahnya, meninggalkan Charlotte di belakangnya. Saat ini dia hanya ingin cepat-cepat sampai di ruang kuliahnya dan terhindar dari kerumunan yang memuakkan itu.


Charlotte berlari kecil menyusul Xander kemudian dia berhenti tepat di depan Xander, membuat pemuda itu langsung menghentikan langkahnya.


"Lo buta? Tidak bisa lihat anugrah terbaik Tuhan ini? Bukankah ini terlihat jelas?" kata Charlotte mulai berpose, mencoba memamerkan lekuk tubuh indahnya pada Xander tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya.


Xander menaikan sebelah alisnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Ah, maksudmu tubuh kurusmu itu?" cibir Xander memulai perdebatan.


Charlotte berkacak pinggang, menatap Xander tajam. "Berhenti mengataiku, Xander! Tubuh ini, lo tidak tau berapa juta gadis yang menginginkan memiliki tubuh seperti gue." ucap Charlotte sedikit nyaring namun tidak sampai terdengar orang-orang di sekitar mereka.


"Benarkah?" tanya Xander menatap Charlotte dengan tatapan mengejek.


Charlotte menganguk bangga. "Tentu saja."


"Jika pacar gue punya tubuh seperti lo, gue akan memberinya makan sebanyak yang gue bisa setiap satu jam sekali, supaya dia tidak kurus seperti lo." ujar Xander dengan seringaian kecil.


"Apa?" Charlotte benar-benar tidak dapat mempercayai telinganya saat ini.


Sementara itu, Xander yang sudah tidak lagi berniat untuk menjawab pertanyaan Charlotte justru dengan santainya kembali melanjutkan langkahnya. Ia bahkan mengacuhkan Charlotte yang masih menatapnya cengo di belakang.


Seketika raut wajah Charlotte berubah kesal. "iish, Xander sialan!"ucapnya kesal. "Apa lo bilang tadi, hah?"


Charlotte menggerutu, ia berdesis sebal sambil menghentakkan kakinya kesal. Ia kemudian berlari mengejar Xander, mencoba mensejajarkan kembali langkahnya dengan pemuda tampan itu memasuki kawasan kampus.


***

__ADS_1


✔ Note :


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian. Jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.


__ADS_2