Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
13.


__ADS_3

Itu pagi hari saat Charlotte pergi ke restoran mewah yang terletak di dekat apartment miliknya. Ini adalah restoran yang hampir setiap hari ia datangi. Dan hari ini ia mengajak Xander untuk sarapan bersama sekaligus ingin membahas sesuatu hal dengan saudaranya itu.


"Mau pesan sekarang nona?" seorang pelayan bertanya sambil menuangkan segelas air putih untuk Charlotte.


"Ya, aku pesan dua steak yang biasa aku pesan dengan tingkat kematangan medium dan dua gelas jus jeruk. Ah, dan juga tambahkan segelas air putih lagi untuk temanku yang akan datang."


"Baik, nona!" pelayan itu menganggukkan kepalanya sopan. "Apa ada lagi yang pesanan yang ingin anda tambahkan, nona?"


"Tidak ada."


"Baiklah! Kalau begitu, mohon tunggu sebentar nona. Makanan akan segera di antarkan." ujar pelayan itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Charlotte.


Setelah memesan, Charlotte lalu mengedarkan pandangannya ke penjuru restoran yang menurutnya sedikit lebih ramai dari biasanya.


'Tidak biasanya seramai ini' batin Charlotte sambil terus menatap kesekelilingnya.


Namun begitu menoleh kembali ia harus terkejut setengah mati karena tiba-tiba saja Xander sudah duduk tepat di hadapannya, entah datang dari mana.


"Sialán, Xander!" umpat Charlotte memegangi dadanya.


"Kenapa?" Xander menatap Charlotte bingung. "Apa lagi salahku sekarang? Aku baru datang bahkan belum mengatakan apapun tapi kau sudah mengumpat padaku."


Charlotte menggeleng, Xander sudah membuatnya terkejut namun masih menunjukkan ekspresi tanpa dosa sedikitpun.


"Kau membuatku terkejut, bodòh!"


"Oh!" Xander hanya menggedikkan bahunya santai terkesan cuek. "Aku tak sengaja. Lagipula, mana aku tau kalau kau akan terkejut seperti itu."


"Ya, tapi tetap saja kau membuatku kaget."


"Oh iya, maaf karena aku datang terlambat. Aku baru saja selesai berolahraga jadi harus pulang dan mandi lebih dahulu. Itupun sudah kulakukan dengan buru-buru."


Charlotte mengangguk paham. Ia mengerti maksud penjelasan Xander itu. Jika Xander terlambat, itu karena Charlotte sendiri. Sebelumnya, Charlotte menghubungi Xander pagi-pagi sekali dan secara mendadak mengajak kakaknya itu untuk makan bersama jadi pantas saja jika pemuda itu tetap datang terlambat meskipun sudah buru-buru.


"Tidak masalah. Itu kan karena aku mengabarimu mendadak tadi." ujar Charlotte sambil menegak air putih yang ada di depannya.


Xander menengok kanan dan kiri restoran itu. "Kau sudah pesan makanan untukku belum?" tanyanya.


"Hm, aku pesan steak untukmu tadi."


"Steak? Maksudmu aku harus sarapan steak?"


"Kenapa memangnya?"


"Kau pikir aku akan kenyang hanya dengan makan itu? Ayolah, aku ini baru selesai berolahraga. Aku butuh banyak makan." protes Xander.


"Kalau kau belum kenyang gampang. Kau kan bisa menambah porsinya nanti. Kalau masih kurang juga, kau bisa ambil persediaan camilan yang ada di apartmentku."  jawab Charlotte santai.


"Oke, aku setuju." jawab Xander saat mengingat betapa banyaknya camilan yang ada di ruang persediaan apartment gadis itu.


"Ya, hitung-hitung tujuan dari makan bersama ini adalah cara untuk menepati janjiku padamu waktu itu."


"Janji?"


"Ya, janji traktir steak, kau lupa?"


Xander mengangguk paham. "Hm, ya. Aku ingat."


Beberapa detik setelah itu, Xander kembali menatap Charlotte. Ia memajukan tubuhnya ke meja, semakin mendekatkan wajahnya pada gadis di hadapannya itu.

__ADS_1


"Jadi ada apa? Kenapa kau mengajak bertemu denganku di sini? Aku yakin tujuan kau memintaku ke sini bukan hanya untuk mentraktirku saja, ya kan?"


Charlotte meletakkan gelas berisi air putih yang ada di tangannya dengan gaya elegan. Ia lalu melipat kedua tangannya di dada lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya.


"Aku mengajakmu ke sini... karena ya... karena aku ingin sarapan di sini. Dan kenapa harus di sini, ya karena hanya di tempat ini saja aku bisa makan steak yang enak dan sesuai dengan seleraku." ujar Charlotte mencoba untuk memberi alasan. "Tapi kau benar, kita datang ke sini memang bukan hanya untuk makan saja."


"Berarti aku benar." ujar Xander menjentikkan jarinya. "Kau itu bukan orang yang akan dengan berbaik hati mengajakku makan seperti ini, kecuali kalau ada yang kau inginkan dariku."


Xander tanpa izin meraih gelas berisi air putih milik Charlotte tadi dan langsung menenggaknya.


"Ada apa memangnya?" tanya Xander.


"Sebentar!" Charlotte bergerak maju lebih dekat dengan meja, "Jadi begini, aku-"


Charlotte mendengus kesal ketika tiba-tiba saja seorang pelayan datang untuk mengantarkan pesanan makanan mereka yang membuat ucapan-nya langsung terpotong begitu saja.


Xander menata piring makanannya di atas meja kemudian mulai menyantapnya dengan lahap. Namun suapannya terhenti saat melihat Charlotte yang saat ini masih terlihat cemberut karena ucapannya yang sempat terpotong.


"Kenapa diam? Ayo, lanjutkan saja bicaranya. Aku mendengarkanmu, tenang saja." ujar Xander sambil memotong daging di piringnya dan langsung memasukkannya ke dalam mulut. "Jadi ada apa sebenarnya?"


Charlotte menghela nafasnya perlahan, "Jadi begini, dua hari lalu kau bilang kakek akan pulang ke Indonesia, kan?"


"Hmm," Xander memutar bola matanya, mencoba untuk mengingat-ingat. Ia lalu mengangguk sambil terus mengunyah daging steak-nya. "Kurasa aku bilang begitu. Kakek bilang kalau dia akan pulang nanti malam."


Charlotte dengan antusias memajukan tubuhnya agar lebih dekat pada Xander, sambil melipat kedua tangannya ke atas meja. "Jam berapa dia akan sampai di Jakarta?"


"Entahlah." Xander menggedikkan bahunya. "Kalau tak salah, kakek sempat mengatakan padaku di telepon waktu itu kalau dia akan tiba di Indonesia sekitar jam sepuluh malam."


"Jam sepuluh malam baru tiba?" Charlotte bertanya memastikan.


Xander mengangguk, "Hm, sepertinya begitu."


"Entahlah, kakek sendiri yang mengatakan padaku kemarin."


"Kalau begitu, bagaimana kalau siang ini, kita berdua-" Charlotte menjeda kalimatnya untuk beberapa saat kemudian menatap Xander, "… kita pergi minum bersama Laurent di apartmentku?"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Xander tersedak makanannya sendiri saat mendengar perkataan yang baru saja Charlotte lontarkan. Tangannya buru-buru terarah pada jus jeruk milik Charlotte dan langsung menenggak habis minuman itu.


"Hei, itu minumanku!" protes Charlotte.


Xander lalu meletakkan gelas minuman itu di meja dengan bantingan kasar sementara sebelah tangan yang lain memukul-mukul dadanya.


"Kau kenapa, sih?" tanya Charlotte heran.


"Kau bertanya aku kenapa?" Xander langsung menatap tajam adiknya itu. "Kau itu baru saja membuat aku tersedak."


"Hah? Kau yang tersedak, tapi kenapa jadi aku yang salah?" Charlotte menaikkan sebelah alisnya.


"Jelas salahmu, lah!" omel Xander kesal. "Ajakanmu barusan sudah jelas membuatku kaget, kau tau?"


"Kenapa malah jadi salahku? Memangnya apa yang salah dengan ajakanku barusan. Aku kan hanya mengajakmu minum bersama."


Xander berdecak kesal. "Apa kau bilang? Hanya mengajak minum bersama?"


Charlotte hanya menganggukkan kepalanya santai sebagai jawaban. Ia bahkan menatap Xander dengan ekspresi tenang di wajahnya.


"Apa kau gila?" umpat Xander, menatap tak percaya pada adiknya itu. "Ayolah, Charlotte. Justru itu dia masalahnya. Kakek itu akan pulang malam ini, tapi kau malah mengajakku minum bersama. Apa kau tak waras?"

__ADS_1


"Ck, justru karena kakek akan pulang, itulah sebabnya aku mengajakmu!" jelas Charlotte masih dengan raut santai di wajahnya. "Ini karena kakek akan datang secara mendadak, jadi aku juga mengajak dirimu mendadak hari ini."


Charlotte menatap Xander antusias, "Dengar Xander! Kita bisa minum untuk yang terakhir kali sebelum kakek pulang. Setelah itu barulah kita pergi ke mansion seperti yang kakek harapkan sebelumnya. Dan kita berdua sudah harus ada di mansion saat dia datang nanti."


"Tidak. Aku tidak mau." tolak Xander dengan tegas. "Resikonya terlalu besar untuk ketahuan. Apalagi ini hanya beberapa jam sebelum kakek sampai."


"Tapi, Xander! Kita-"


"Charlotte! Kakek pasti akan marah. Dia bahkan bisa membinasakan kita kalau sampai dia tahu nanti. Terutama aku! Aku-lah yang akan diomelin habis-habisan oleh kakek nanti." Xander menjelaskan penolakannya pada Charlotte dengan mati-matian.


"Ya, kalau begitu jangan sampai dia tahu, gampang kan?" jawab Charlotte masih dengan nada tenang.


Xander kini terdiam di posisinya, tak menjawab apapun. Ia tampak memikirkan sesuatu. Entah apa. Tapi jelas sekali ia merasa tak tenang. Sementara itu, melihat sang kakak yang terdiam, Charlotte segera mendekatkan wajahnya pada kakak laki-lakinya itu.


"Ayolah Xander! Ini hanya sampai jam tujuh atau delapan malam saja, tak lebih!" bujuk Charlotte.


Xander menatap Charlotte dengan bimbang, "Kau yakin kalau kakek tak akan tahu tentang ini nanti?"


"Hmm!" Charlotte menganggukkan kepalanya mantap. "Aku jamin dia tak akan tahu apapun tentang ini. Jadi, ayo kita pergi sekarang. Aku punya banyak minuman di apartementku. Dan aku juga sudah menghubungi Laurent tadi untuk datang."


Xander kembali terdiam. Ia tampak berfikir sebentar kemudian meletakan sendok dan pisaunya ke atas piring steak dengan bantingan keras.


"Tidak! Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu, Charlotte." tolaknya sekali lagi.


"Ada apa lagi sekarang?" ujar Charlotte menatap Xander dengan jengah.


"Kau sana lah yang minum! Aku tak akan ikut-ikutan." ujar Xander.


Charlotte menaikkan sebelah alisnya, merasa semakin bingung pada pemuda di hadapannya ini. "Iya, tapi kenapa?"


"Begini... kalau aku juga mabuk, lalu siapa yang akan menyetir mobil ke mansion nanti? Tidak. Tentu tidak aman kalau salah satu dari kita harus menyetir apalagi dalam keadaan mabuk!"


"Gampang! Aku punya banyak teman yang bisa bantu menyetir nanti. Lagipula ini bahkan masih jam sepuluh pagi dan kita akan ke mansion jam tujuh malam nanti. Waktunya masih sangat lama kan?"


"Tapi kan-"


"Ayolah Xander." bujuk Charlotte sakali lagi.


"Aku-"


"Tidak, ayolah... Aku tak terima penolakan!" ujar Charlotte tegas. "Denger Xander, ini adalah hari terakhir kita bisa bersenang-senang tanpa kakek. Setelah dia datang nanti, aku yakin kalau dia pasti tidak akan membiarkan apalagi sampai mengizinkan kita untuk minum-minum lagi. Ayolah!" Charlotte berkata dengan nada memohon.


"Ya! Oke." Xander berujar pasrah pada akhirnya dan langsung membuat Charlotte kegirangan.


"Kalau begitu, ayo!" ujar Charlotte sambil mengeluarkan dan meletakkan beberapa lembar uang kertas ke atas meja kemudian segera bangkit dari posisinya.


"Eh, mau pergi sekarang memangnya?" tanya Xander.


"Ya, sekarang. Kapan lagi memangnya?"


"Tunggu sebentar dulu. Biarkan aku habiskan steak-nya dulu."


"Ya sudah, aku pergi duluan. Kau cepat habiskan steak-nya setelah itu baru kau langsung menyusulku ke apartment!"


***


✔ Note :


▪Typo, alur ngaco, kesalahan Eyd tidak akan di perbaiki. Saya author pemalas. Titik!

__ADS_1


▪Author peduli dengan kesehatan mata kalian, jadi, kalau kalian kurang suka sama ceritanya, Author sarankan kalian untuk mencari cerita yang lain saja, karena cerita ini bisa menyebabkan sakit mata akut.


__ADS_2