
Di tengah perjalanan setelah mengantarkan Justin pulang, Charlotte sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Bayangan wajah Justin terus saja menghiasi isi kepalanya. Yah, menatap wajah Justin dari jarak sedekat itu entah kenapa membuatnya kacau.
Charlotte terus menerus memaki dirinya sendiri di dalam hati. Entah bagaimana dia bisa begitu menikmati saat menatap wajah pemuda itu dari jarak dekat? Bagaimana bisa jantungnya malah berdebar tak karuan seperti saat ini hanya setelah menatap wajahnya? Sejak kapan dia jadi lemah begini?
Tersipu.
Itulah yang diam-diam Charlotte rasakan saat ini. Ia tak tau kenapa, tapi sejak ia menatap wajah pemuda itu saat sedang tidur, seperti ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Dan satu hal yang semakin mengejutkan dalam dirinya adalah… Charlotte menyukai rasa itu.
"Kenapa aku malah menyukai rasa ini? Ini tidak masuk akal." Charlotte bergumam pada dirinya sendiri. Ia mencoba menolak tetapi ia tak dapat memungkiri detak jantung di dadanya yang masih berdebar dengan kencang.
Di sela pikiran kecilnya itu Charlotte mendengar ponselnya yang tiba-tiba saja berdering. Charlotte yang tengah menyetir lalu meraih ponsel dari dalam tasnya dengan sebelah tangan. Charlotte menatap layar ponselnya dan mendapati nama kakeknya di tampilkan pada layar ponselnya.
Tidak biasanya dia menelepon.
"Untuk apa kakek menelepon?" gumamnya.
Charlotte sebenarnya sedang tidak dalam mood yang baik untuk menerima telepon dari siapapun saat ini, terutama dari kakeknya. Paling-paling kakeknya itu menelepon karena dia hanya ingin bertanya tentang Justin.
Tapi apa boleh buat.
Charlotte menghembuskan napasnya pelan lalu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya. Ia memilih untuk meletakkan ponselnya di paha dan menyalakan pengeras suara agar lebih mudah dalam menyetir.
"Bagaimana? Justin sudah sampai ke rumahnya? Apa kau sudah mengantarkannya pulang?" tanya sang kakek begitu Charlotte mengangkat teleponnya.
Charlotte memutar bola matanya malas.
"Hm." jawabnya.
"Dengan selamat?"
"Hm." ujar Charlotte lagi, menjawab dengan nada malas-malasan. "Maksudku... mungkin."
"Mungkin?"
"Entahlah... aku tidak tau."
"Kau tidak tau? Apa maksudnya, Lottie?" ujar tuan Romanov berkata dengan nada heran. "Charlotte kau bicara tidak jelas. Apa kau mabuk lagi? Kau singgah ke klub untuk minum lagi?"
"Tentu saja tidak!" protes Charlotte cepat.
"Kalau begitu bicaralah yang benar, kakek tidak mengerti apapun dari kalimatmu barusan." jawab tuan Romanov. "Bisa kau katakan dengan jelas, apakah kau mengantar Justin ke rumahnya dengan selamat?"
"Ya, aku mengantrnya. Sebenarnya aku hanya mengantarkannya sampai di halte bis yang ada di dekat rumahnya saja!"
"Apa katamu?"
"Aku hanya mengantarnya sampai halte." Ulang Charlotte.
"Kenapa kau tidak mengantarnya sampai ke rumahnya saja." tanya tuan Romanov dengan nada tajam. Charlotte bisa tau dari nada bicara kakeknya itu kalau dia sedang marah.
Charlotte hanya memutar bola matanya malas setelah mendengar omelan sang kakek.
"Ini bukan salahku, kek."
"Bagaimana ini bukan salahmu?"
"Tentu saja bukan. Dia sendiri yang sudah meminta padaku tadi, kakek! Dia mengatakan agar aku mengantarnya hanya sampai di halte bis dekat rumahnya saja. Aku ya setuju-setuju saja."
"Kenapa kau bisa dengan mudah menyetujuinya begitu?"
"Karena dia sendiri yang meminta." jawab Charlotte santai.
"Lalu kenapa dia memintamu mengantarnya sampai halte bis saja?" Tuan Romanov kembali bertanya.
__ADS_1
"Mana aku tau, kakek!"
"Apa kau memarahinya?"
"Kakek jangan asal main tuduh begitu," protes Charlotte, ketus.
Charlotte bisa mendengar tuan Romanov yang menghela napasnya perlahan.
"Kalau begitu kau kembalilah kesana dan antar dia sampai rumahnya! Kau harus pastikan dia sampai ke rumahnya!"
Charlotte mencemooh, "Aku bahkan sudah dalam perjalanan pulang."
"Lalu kenapa?"
"Ya, mana mungkin aku kembali kesana."
"Kenapa tidak mungkin?"
"Ya tidak mungkin!" balas Charlotte asal.
"Berhenti membuat alasan. Cepat kau kembali dan antar dia pulang sampai rumahnya. Lakukan dengan benar, Lottie. Antar dia sebagaimana mestinya. Sampai di rumah!" perintah sang kakek sekali lagi.
"Yang benar saja. Jangan bercanda, kek!" Charlotte tak percaya dengan telinganya sendiri sekarang.
"Kakek tidak bercanda. Kakek serius! Akan berbahaya untuknya jika dia pulang sendirian, Lottie!"
"Kakek, dia sudah dewasa. Bahkan bukan anak-anak lagi. Mana mungkin akan terjadi apa-apa dengannya."
"Kita tak akan tau, Lottie!" kata tuan Romanov masih bersikeras dan mulai membuat Charlotte merasa jengah.
"Ayolah kek, lagipula dia itu kan laki-laki, dia bisa menjaga dirinya sendiri."
"Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Bagaimana kalau dia di ganggu preman nanti. Ini sudah malam."
"Dia akan baik-baik saja, kek!" balas Charlotte juga bersikeras.
"Ya sudah, begini saja, kau kembali-lah dahulu ke halte itu. Jika dia masih di sana kau antarkan dia pulang, tapi kalau dia tak ada silahkan kau pulang ke mansion."
"Tapi, kek-"
"Cepat lakukan saja."
"Ck, baiklah." ujar Charlotte akhirnya menyerah.
"Sebenarnya cucu kakek dia atau aku sih." omelnya kesal kemudian memutuskan sambungan telepon.
Usai menutup panggilan teleponnya dengan sang kakek, Charlotte lalu bergegas memutar balik arah mobilnya untuk kembali ke halte dimana ia menurunkan Justin tadi.
Sepanjang perjalanan ia terus menerus menggerutu meruntuki nasib buruk yang menimpanya jika berada di dekat pemuda itu.
"Sial sekali sih aku!" Omelnya.
***
Charlotte tidak tahu umpatan macam apalagi yang harus dikatakannya setelah ia putar balik dan tak mendapati sosok pemuda itu di halte tadi. Alhasil dia memutuskan untuk pulang saja karena tak ingin membuang waktunya untuk sekedar mencari pemuda itu.
"Ini sungguh tak ada gunanya."
"Kakek benar-benar sudah menyusahkan diriku!"
"Seumur hidupku aku bahkan tak pernah melakukan hal konyol seperti ini."
"Kakek membuatku terlihat bodoh. Aku jelas sudah seperti pembantu dan pelayan dari pemuda itu."
__ADS_1
Charlotte mengeratkan pegangannya pada stir mobilnya. Semakin erat dan semakin kencang. Ya ampun, Charlotte merasa sudah hampir menangis sekarang, tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan hal konyol itu. Selama dia hidup dia bahkan hampir tak pernah menangis.
Ia merasa begitu kesal. Sangat kesal hingga ingin menabrakkan mobilnya sendiri sekarang. Ia tentunya bisa melakukan itu dengan mudah, tapi sayang sekali mobil ini adalah mobil favoritnya.
"Kenapa aku menurut saja sih dengan perintah kakek?" omelnya.
Bayangkan saja, semenjak kecil ia selalu saja di perlakukan seperti ratu oleh orang-orang di sekitarnya. Hidupnya tak pernah susah. Ia bahkan hanya perlu menjentikkan jarinya dan apa yang dia butuhkan sudah ada di hadapannya.
Bak lampu aladin dengan ribuan batas permintaan.
Tapi sekarang, ia harus susah payah menjadi seorang supir dan juga pembantu dari seseorang. Ia bolak balik di tengah malam hanya untuk mengantarkan seseorang. Ini gila bukan?
Dan selain itu sekarang ada hal lain yang juga terus mengganggu pikirannya. Hal yang sebenarnya sudah ia pikirkan bahkan sejak beberapa waktu yang lalu.
Justin adalah targetnya.
Justin adalah seseorang yang ia inginkan.
Meniduri pemuda itu. Bukankah itu adalah rencananya sejak awal. Ya, tapi itu rencana sebelum sang kakek dengan tiba-tiba membawa pemuda itu ke rumahnya. Dan hal itu jelas saja meruntuhkan segala rencana yang sudah Charlotte susun rapi sejak beberapa waktu yang lalu. Hancur sudah rencananya.
"Bagaimana dunia bisa sekebetulan ini sih?" gerutunya.
Charlotte lalu tertawa hambar, mengingat kembali ketika ia melihat kehadiran pemuda itu di ruang tamu mansion. Itu hal yang tak dapat ia lupakan karena saat itulah ia hampir mati karena terkejut.
Charlotte menjambak-jambak rambutnya dengan satu tangan yang ia sandarkan di pintu mobil. Ia berdecak kesal kemudian menginjak pedal gas-nya semakin dalam guna menambah kecepatan mobilnya.
Ia kini membawa mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata bahkan menerobos persimpangan lampu merah dan hampir membuat mobilnya tertabrak mobil lainnya. Tapi ia terlihat tak peduli sama sekali justru semakin menambah kecepatan mobilnya.
Charlotte tertawa getir.
"Kakek bahkan meminta padaku untuk menjaga pemuda itu. Ini semua benar-benar gila..." gerutunya sambil mendecih sinis.
'Lalu setelah ini bagaimana? Aku harus melanjutkan rencanaku atau tidak.'
'Tapi jika melihat keadaan saat ini aku yakin kakek tak akan membiarkanku melakukan hal itu. Aku rasa dia bahkan akan menghabisiku jika aku sampai menyentuh Justin.'
Bayangkan! Jika Charlotte mempermainkan Justin apalagi sampai menidurinya kakeknya itu pasti akan menguburnya hidup-hidup. Lihat saja betapa sang kakek sangat memanjakan Justin saat acara makan malam tadi. Kakeknya itu bahkan terlihat lebih menyayangi pemuda itu lebih dari Charlotte.
'Si*l, kenapa semua jadi rumit begini, sih?' Charlotte kembali bicara dalam hati.
Pikirkan saja, sudah lama sejak dia mulai menargetkan Justin menjadi 'korban ranjangnya'. Lantas bagaimana dia bisa melepaskannya segampang itu? Charlotte mendesah napasnya frustasi. Dia tidak mungkin merelakan Justin untuk pergi darinya. Jika itu terjadi, Charlotte jelas akan kehilangan harga dirinya.
Akhirnya... karena merasa konsentrasi menyetirnya yang sudah sangat kacau, Charlotte memilih untuk menepikan mobilnya secara sembarangan.
Ia mengeratkan pegangannya pada stir mobilnya, menundukkan wajahnya di antara tangannya. Charlotte menghela napas kasar sambil memejamkan kedua matanya, mencoba mengurangi emosi yang menumpuk pada dadanya.
Tapi ia gagal.
Emosinya tak kunjung reda.
"Sīal!" umpat Charlotte sembari memukul kencang stir mobilnya sendiri.
"Kakek, kakek sudah merusak segalanya. Kakek benar-benar sudah merusak rencanaku!".
Charlotte kembali memejamkan kedua matanya, menyandarkan kepalanya yang terasa pusing ke punggung kursi sambil memijit keningnya pelan.
"Aku harus mencari cara!" Charlotte bergumam sendiri tanpa membuka matanya. "Cara yang tak akan di ketahui kakek."
"Aku pasti akan mendapatkan caranya." ujarnya lagi sambil membuka matanya.
Ya! Charlotte cukup cerdas untuk mendapatkan cara mengelabuhi semua orang. Ia akan mencari cara lain yang akan dia gunakan agar tidak membuat kakeknya itu menjadi jantungan saat mengetahui apa yang dia lakukan nanti.
***
__ADS_1