Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
50.


__ADS_3

Hari ini hari senin pagi, seperti biasa para pelayan sedang menyiapkan menu sarapan untuk keluarga Clinton.


Xander kini sedang duduk menikmati sarapannya yang terdiri dari oatmeal dan beberapa menu lainnya. Ia menyendok dan memasukkan sarapannya ke dalam mulutnya tepat saat Tuan Romanov datang.


"Dimana Charlotte?" tanya tuan Romanov sambil menarik menu makanan agar lebih dekat padanya.


"Dia sudah pergi lebih dahulu, kek. Dia ada janji dengan seseorang pagi ini."


Tuan Romanov mengernyit. "Seseorang?"


"Kekasihnya mungkin." ujar Xander sambil menggedikkan bahunya. "Tapi kami akan bertemu di restoran dekat kampus nanti untuk pergi bersama ke kampus."


"Begitu rupanya." Tuan Romanov mengangguk mengerti kemudian mulai menikmati sarapannya. 


Xander lalu menatap tuan Romanov dan tersenyum kecut saat mengingat kejadian kemarin malam. "Kakek, untuk masalah kemarin malam, aku minta maaf! Aku tid-


"Tidak apa!" tuan Romanov sambil mengangkat tangannya memberi tanda pada cucunya itu agar menghentikkan perkataannya. "Kakek berharap masalah semalam adalah pembelajaran untukmu."


Xander mengangguk. "Ya kakek!"


"Dengar Xander, kakek merasa kau terlalu memanjakan Charlotte." ujar tuan Romanov dengan tenang.


Xander menundukkan kepalanya. "Masalah itu-"


"Kakek tau kalau kau sangat menyayangi Charlotte. Tapi kau terlalu memanjakannya hingga membuatnya terlalu bergantung padamu." ujar tuan Romanov panjang lebar. "Dengar, kakek hanya ingin Charlotte berubah dan tidak lagi bergantung padamu tentang sesuatu. Apapun itu."


"Dia harus belajar hidup tanpamu." lanjut tuan Romanov sambil menatap Xander penuh arti. "Tapi sebelum itu, masih banyak kebiasaan buruk lainnya yang juga harus dia ubah. Mulai dari berhenti berfoya-foya, berhenti mabuk-mabukan dan berhenti membuat masalah."


Xander mengangguk. Sebenarnya dia juga sangat setuju dengan ucapan sang kakek. Charlotte, gadis itu memang harus merubah semua kebiasaanya itu.

__ADS_1


Dan itu harus di mulai dari tiga kebiasaan terburuknya itu.


Berfoya-foya.


Mabuk-mabukan.


Dan terakhir, membuat masalah.


Itu adalah tiga masalah utama yang ada pada diri Charlotte yang Xander sendiri bahkan sampai angkat tangan.


Tuan Romanov kembali menoleh pada Xander. "Dan bukankah selain itu, kau sempat mengatakan pada kakek kalau Charlotte juga suka mempermainkan para pria?"


Xander mengangguk cepat. "Sangat suka, kek!"


Tuan Romanov menghela. "Kakek takut, karena kebiasaannya itu, para pria tidak akan berani mendekatinya."


"Kakek salah! Para pria itu justru tergila-gila dengannya!" Xander terkekeh saat mengingat kembali situasi dimana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Charlotte mencampakan para pria itu.


Xander tersenyum. "Kakek tidak perlu khawatir, karena aku tidak akan membiarkan dia menikahi lelaki sembarangan."


"Kakek tahu itu." ujar tuan Romanov tersenyum bangga. "Pacaran terserah, tapi urusan pernikahan adalah topik yang berbeda."


Xander mengangguk setuju. "Tapi untuk saat ini tolong kakek biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Charlotte adalah gadis berjiwa bebas, dia tidak bisa di kekang."


Tuan Romanov berdecak. "Kakek tidak melarangnya melakukan apapun, Xander. Kakek hanya membatasi. Kau tau dia sangat sulit untuk di larang. Dia bahkan selalu melakukan hal yang dia inginkan sejak dia masih kecil."


Xander tertawa. "Ah, kakek benar!" jawab Xander yang di balas senyuman oleh tuan Romanov.


Keadaan kembali hening beberapa saat. Mereka berdua kini tengah sibuk dengan sarapan mereka masing-masing.

__ADS_1


Diam-diam Xander melirik tuan Romanov dari sudut matanya. "Apa kakek berencana mencarikan jodoh untuk Charlotte?"


Kegiatan tuan Romanov yang hendak menyendok makanannya itu langsung terhenti. Ia terdiam sambil menatap mangkuk makanan di tangannya itu.


"Mencarikan jodoh?" tanya tuan Romanov kemudian menoleh pada Xander.


Xander mengangguk tapi tidak menyahut.


"Entahlah.." jawab tuan Romanov pelan kemudian meraih air minum dan menyesap minuman itu lalu kembali menatap Xander dengan raut tenang, seperti biasanya.


"Kakek sempat memikirkannya. Tapi kakek tidak terlalu suka melakukan hal seperti itu." ujar tuan Romanov.


"Dan sekalipun kakek menjodohkannya dengan seseorang, pada akhirnya kakek akan mengembalikan lagi keputusan akhir pada Charlotte! Tetap dia yang akan memilih." tegas tuan Romanov. "Karena jika kakek memaksanya, bukankah itu sama saja kakek sedang menekankan keinginan kakek padanya?"


Xander mengangguk setuju. "Ya! Lagipula Charlotte juga bukan orang yang mudah di tekan. Aku yakin jika kakek melakukan itu dia pasti akan berontak."


"Tidak masalah." ujar tuan Romanov enteng. "Kakek juga akan tetap membiarkan dia mencari pasangan hidupnya sendiri nanti. "


Tuan Romanov lalu menghela napasnya. "Tapi kakek juga tidak yakin apakah Charlotte akan bisa mendapatkan suami yang baik dengan caranya sendiri nantinya, apalagi jika di lihat dengan sifat dan sikap yang ia miliki itu." ujar tuan Romanov tersenyum pada dirinya sendiri. "Dia terlalu liar untuk mendapatkan pemuda seperti itu."


Xander menatap wajah tuan Romanov lekat. Ia tau benar apa maksud tuan Romanov saat ini. Dengan kebiasaan buruk Charlotte itu, Xander sendiri bahkan tidak yakin apakah gadis itu akan mendapatkan laki-laki yang baik.


Hei, pikirkan saja, bagaimana gadis itu akan mendapatkan pria yang baik sedangkan Charlotte sendiri sangat suka pergi ke klub malam dan ke tempat yang tidak baik lainnya.


Laki-laki yang baik tidak akan pergi ke tempat seperti itu.


"Pasti ada! Akan ada orang yang bisa membuat Charlotte rela membuang semua kebiasaan buruknya itu."


"Aku juga mengharap hal yang sama kek!" ujar Xander tersenyum."Apakah kakek mau aku yang mencari?"

__ADS_1


"Tidak. Kau tidak perlu melakukan apapun!" terang tuan Romanov. "Kita lihat apakah Charlotte bisa mendapatkan pria yang baik nantinya.


***


__ADS_2