Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
106.


__ADS_3

Charlotte tak tahu sudah berapa lama ia tidur. Ia hanya ingat setelah selesai makan ia langsung mandi lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sepertinya ia ketiduran.


Sambil menggeliat, Charlotte memutar bola matanya untuk mengecek jam di dinding kamarnya yang saat ini sudah menunjukkan pukul dua malam.


Baru jam dua malam? Bukankah itu artinya ia hanya tidur tiga jam saja.


Charlotte merenggangkan tubuhnya lalu meraba-raba tempat tidur, mencoba untuk mencari ponselnya yang ternyata tertindih bantal.


Ia melihat layar untuk mengecek panggilan dan pesan yang dikirim teman-temannya. Ia hanya membaca satu persatu pesan itu. Dan tak ada sedikitpun niat di hatinya untuk membalas pesan-pesan itu apalagi ingin menghubungi balik teman-temannya.


"Mereka membosankan." gumamnya malas.


Ia melempar kembali ponselnya dan menghela napasnya lelah. Entah kenapa ia tak lagi merasakan kebahagian yang sama seperti dahulu saat bersama teman-temannya.


Teman-temannya memang selalu menemaninya untuk bersenang-senang, berpesta. Tapi bagi Charlotte mereka membosankan, hanya sekejap perasaan senang saat bersama mereka, tak ada kebahagiaan.


Hanya Xander dan Laurent yang menjadi teman terdekatnya yang benar-benar bisa menghibur dirinya. Tapi kedua manusia itu bahkan mulai menjauh dari hidupnya. Xander beberapa kali harus sibuk mengurus hal lain dengan kakeknya, sementara Laurent adalah pebisnis muda. Ia punya banyak klub malam yang harus di pantau. Tidak bisa selalu bersama Charlotte.


Charlotte benar-benar kesepian sekarang. Ia tak pernah merasakan sesepi ini. Hatinya hampa. Kosong. Ia tak punya daya hidup lagi.


Apa Charlotte tak lagi mempunyai alasan untuk merasa bahagia? Apa tak ada satu pun hal yang bisa menjadi penyemangat hidup untuk dirinya?


Tiba-tiba saja bayangan seseorang muncul di kepala Charlotte. Pemuda itu, Justin Kim. Charlotte ingat kalau pemuda itu satu-satunya yang berhasil memunculkan gairah di dadanya.


Ah, selama ini ia banyak bertemu manusia, tapi tak ada yang berhasil membangkitkan semangat Charlotte. Berbeda jika bertemu dengan Justin. Cukup hanya dengan membayangkan wajahnya saja sudah bisa membuat pipi Charlotte memanas. Bayangan wajah pemuda itu bahkan berhasil membuat senyum di wajah Charlotte muncul dengan mudahnya saat ini.


Charlotte tidak mengerti kenapa ia merasakan perasaan aneh ini. Jujur saja, selama ia hidup Charlotte tidak pernah sekalipun merasakan keinginan untuk terus menerus melihat wajah seseorang seperti ini. Wajah pemuda tampan itu lebih seperti memiliki candu, hingga membuatnya seperti ingin dan selalu ingin melihatnya.


"Apa yang lakukan? Aku memikirkan Justin Kim?" ujar Charlotte seakan tak percaya pada dirinya sendiri.


Dahi Charlotte lalu mengernyit saat menyadari sesuatu. Ia ingat. Sebelum masuk ke kamar tadi ia sempat mengatakan pada kakeknya kalau Justin berhenti dari kafe.


Bukankah ia bodoh sekali. Kenapa dia harus memberitahu tentang Justin pada kakeknya seperti itu? Toh bukankah pada akhirnya nanti kakeknya itu akan tahu dengan sendirinya.


Ngomong-ngomong, hanya dengan memikirkan berhentinya pemuda itu dari kafe kakeknya, hati Charlotte jadi merasa kesal lagi. Ia merasa tak terima. Charlotte tak bisa membiarkan pemuda itu pergi begitu saja dengan mudah seperti ini.

__ADS_1


"Kakek sudah membuat bocah bodoh itu masuk dalam hidup kami. Bukankah itu artinya dia tidak boleh pergi begitu saja. Ya ia jelas tak boleh pergi begitu saja."


Charlotte mengerjap lalu terkekeh kecil akan perkataannya sendiri. Kenapa Charlotte seolah mengatakan kalau ia ingin agar Justin selalu berada di dekatnya sekarang. Seolah-seolah ia mulai khawatir jika pemuda itu pergi. Apakah itu satu-satunya hal yang perlu di khawatirkan di sini?


Mungkin.


Dan masih soal Justin. Setelah bertemu dengannya kemarin sore, Charlotte masih saja merasa begitu gelisah dengan kabar Justin telah berhenti bekerja. Ia bingung. Entah kenapa, perasaannya saat ini benar-benar tak nyaman mengetahui Justin keluar dari kafe kakeknya.


Charlotte merasa kehilangan pemuda itu. Ia bahkan tak menemukan cara apapun untuk dekat dengan pemuda itu sebelumnya. Dan sekarang ia di tinggal begitu saja.


Ya, meskipun mereka masih berada di satu kampus yang sama, tetap saja fakultas mereka bahkan berada di jarak yang jauh. Berbeda gedung.


Mereka memang pernah bertemu di kampus, tapi saat itu hanya sebuah kebetulan belaka.


Entah kenapa Charlotte merasa sedih saat mengetahui fakta kalau mereka akan benar-benar menjauh. Charlotte bukanlah orang yang pandai mengetahui apa yang hatinya rasakan. Ia tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Satu kalipun dalam hidupnya hanya diisi dengan nafsu dan permainan hubungan. Bukan cinta.


"Jadi apa ini yang di sebut jatuh cinta?" gumam Charlotte memegang dadanya sendiri.


Tak ada yang bisa memberitahunya dengan pasti perasaan ini. Tapi yang jelas Charlotte tak rela jika harus jauh dari pemuda itu.


Charlotte mengerjap dan melepas tangannya dari dada, mengernyit bingung.


"Lagipula kenapa aku malah peduli dengan bocah tengik itu? Dia ingin berhenti atau apa, itu sama sekali bukan urusanku. Dan kenapa juga aku harus memberitahu kakek." gumamnya.


"Ah, aku pasti melakukannya karena aku kecewa dengan berhentinya dia membuat keinginan ku untuk berkencan dengannya jadi gagal total."


Charlotte mengangguk mantap. "Pasti karena itu." gumamnya.


Setelah berpikiran hal yang menurutnya sangat tak jelas, Charlotte memutuskan untuk memejamkan matanya, mencoba tidur kembali. Namun gagal total. Entah kenapa matanya tak mau terpejam lagi.


Charlotte berpikir mungkin karena ia sedang merasa tak tenang karena memikirkan tentang Justin. Ya, suasana hati Charlotte sedang terasa amat kacau karena memikirkan pemuda itu sekarang. Charlotte menghela napas panjang. Ia merasa semakin tak karuan saja saat ini karena terus berpikir tentangnya.


Charlotte lalu bangkit untuk duduk di tepi kasur. Ia berdiri kemudian melangkah menuju ke arah pintu kamarnya. Ia membuka pintu itu lebar-lebar dan keluar menuju balkon kamarnya.


Charlotte bisa memandangi taman mansion milik kakeknya yang menurutnya tampak begitu indah jika dilihat dengan sorot lampu taman, seperti yang ia lihat saat ini.

__ADS_1


"Selera kakekku terlalu mewah untuk di simpan di mansion ini. Harusnya ia menggelar pameran di sini." gumannya lalu terkekeh.


Ia lalu memutar pandangannya ke sudut lain, dimana beberapa penjaga tengah saling mengobrol satu sama lain. Memang hal biasa jika menjumpai beberapa penjaga yang belum tidur, karena mereka memang memiliki jadwal untuk berjaga malam hari.


Charlotte menyipitkan matanya saat melihat seorang pria tengah duduk menyilangkan kaki di kursi taman, sendirian.


"Sedang apa anak bodoh itu di sana" gumam Charlotte sinis.


Siapa lagi kalau bukan Xander. Pemuda itu tampak begitu santai, bersandar di sandaran kursi sambil menikmati angin malam, merokok.


Charlotte mendecih.


"Dia tak akan berani hanya untuk sekedar mengeluarkan batang rokok jika Elena ada di sini." gumam Charlotte tersenyum membayangkan Elena, mantan pacar Xander yang mungkin akan mengomeli pemuda itu jika sampai melihatnya.


Senyum tipis Charlotte memudar sesaat setelah ia menatap sang kakak dari kejauhan seperti ini. Ia menyadari satu hal.


Selama ini tak ada yang lebih mengerti dirinya di banding Xander. Bahkan kakeknya sendiri tak memahami apa yang Charlotte inginkan. Kakeknya memang bukan orang yang acuh, bahkan selalu memberikan apapun pada Charlotte. Tapi pria tua itu tak dapat mengerti jalan pikiran Charlotte. Pendapat mereka selalu saja bertentangan.


Charlotte memalingkan pandangannya ke arah lain. Ya, sejujutnya ia masih merasa marah sekaligus kesal atas ucapan sang kakek yang berkata seakan dirinya adalah anak manja.


Ya, memang benar dia tak bisa melakukan apapun tanpa Xander. Tapi dia bukan anak manja. Ia hanya terlalu ketergantungan pada sang kakak.


Bukankah itu dua hal yang berbeda. Dia hanya akan merasakan kesepian jika tak ada Xander di dekatnya. Bahkan teman-temannya tak bisa menutupi rasa kesepiannya. Bagi Charlotte, ratusan temannya juga tak ada gunanya jika di bandingkan dengan satu Xander.


Seperti kau sudah berumah tangga tapi masih membutuhkan bantuan dan kehadiran ibumu. Kau akan bahagia jika berads di dekat ibumu. Anak yang manja dan membutuhkan kehadiran itu jelas sekali merupakan dua hal yang sangat jauh berbeda bagi Charlotte.


Lantas, bagaimana bisa sang kakek mengatakan kalau Charlotte adalah anak manja sedangkan ia bahkan bisa menghasilkan banyak uang hanya dalam satu bulan, sendirian. Ia artis dan model terkenal. Jangan lupakan itu. Ia bisa mencari uang sendiri. Lalu bagian mana yang belum dewasa dari dirinya?


Tapi Charlotte tahu apapun yang akan dilakukannya, hal itu tidak akan mengubah fakta apapun saat ini. Kakeknya memang egois. Sama seperti dirinya. Ini adalah sifat warisan dari sang kakek. Memangnya siapa yang bisa mewariskan sifat egois selain kakeknya.


Keegoisan itu membuat mereka berdua jadi selalu berperang pendapat satu sama lainnya. Tak ada yang mau mengalah. Itulah masalahnya.


Charlotte menghela pelan.


"Lalu…aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan…." Katanya lirih.

__ADS_1


'Apakah merelakan Xander pergi dan menjauh darinya memang jalan terbaik?'


***


__ADS_2