Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
37.


__ADS_3

*Rumah Justin


Pagi itu, dering alarm tampak mengusik Justin yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidurnya. Ia menggeliat pelan dan merentangkan kedua tangannya, mencoba merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


Pemuda itu membuka matanya perlahan lalu mengerjap beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk melalui celah jendela kamarnya.


Ia mengusap kedua matanya yang masih terasa sedikit mengantuk lalu mulai mendudukan dirinya pada pinggir tempat tidur miliknya. Justin kemudian meraih ponselnya di nakas samping tempat tidur, mengecek jam pada benda persegi di tangannya itu. 


"Ini jam delapan pagi. Sepertinya aku hanya tidur satu jam saja." ujarnya terkekeh pelan kemudian meletakan kembali ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya.


Ia menguap lebar karena merasa masih sedikit mengantuk dan butuh waktu tambahan untuk tidur.


Semalam Justin harus bergadang. Ia tidak bisa tidur lebih cepat karena harus bekerja hingga larut malam. Setelah itu tidak ada waktu tidur untuknya karena dia harus lanjut mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.


Dan setelahnya dia juga harus mengantar beberapa langganan koran sebagai pekerjaan sampingan tambahan yang baru-baru ini ia jalani, baru bisa tidur pada pukul lima pagi ini.


"Aku masih mengantuk," gumamnya pelan sambil menggosok wajahnya.


Justin lalu bangkit dari tempat tidurnya dengan rambut yang masih acak-acakan. Ia mengambil handuk kemudian berjalan pelan menuju kamar mandi sambil sesekali menguap.


Beberapa menit berlalu sampai Justin selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi ke kampus.


Setelah menikmati sarapannya yang terdiri dari nasi goreng yang ia masak sendiri, Justin langsung bergegas keluar dari rumahnya.


Ia mengikat kencang tali sepatunya, lalu berjalan ke samping rumahnya untuk mengambil sepeda miliknya. Setelahnya baru ia bergegas mengayuh sepedanya menuju ke kampus.


Sesampainya di kampus.


Justin langsung memarkirkan sepedanya di parkiran kampus. Ia lalu berjalan cepat menuju ruang administrasi kampus untuk menyelesaikan beberapa urusan pembayaran yang memang belum ia selesaikan.


Beberapa menit berlalu, Justin terlihat berjalan keluar dari ruang administrasi setelah ia selesai membayar sisa tagihan dari iuran kampus yang memang sempat ia tunggak beberapa hari sejak ia masuk di kampus ini. Ia lalu menutup pintu ruang administrasi dan berjalan pelan menyusuri koridor yanh menuju ruang kuliahnya.


Sambil terus melangkah Justin tersenyum kecut menatap lembaran kertas kwitansi di tangannya.


"Mahal sekali biaya kuliah di kampus ini." gumam Justin pada dirinya sendiri. "Untung saja kampus ini adalah kampus idamanku sejak masih SMA."  lanjutnya.


Ia lalu melipat kertas kwitansi itu menjadi lipatan kecil dan memasukannya ke dalam tas ransel miliknya.

__ADS_1


Justin meraih dompet dari kantong celana jeans-nya kemudian membuka dan menatap isi dompet yang saat ini hanya menyisakan beberapa lembar uang saja.


"Uangku sudah benar-benar habis sekarang," gumamnya pelan sambil menatap dompetnya.


Tentu saja uangnya habis, pasalnya Justin baru saja menghabiskan seluruh gaji terakhir yang ia miliki untuk membayar sisa iuran kuliahnya.


Justin menghela napasnya pelan. "Sepertinya aku membutuhkan pekerjaan tambahan." gumamnya.


Justin terdiam di posisinya.


Tiba-tiba saja ia teringat saat beberapa hari yang lalu Harry, salah satu senior di kampusnya yang juga berstatus sebagai orang yang berteman paling dekat dengannya di kampus selain Charlie, sempat menawarkan pekerjaan untuknya.


Dan saat itu, sebenarnya Justin sendiri belum menanggapi tawaran pekerjaan itu. Ia belum menerima atau pun menolaknya.


"Apakah aku harus menerima pekerjaan paruh waktu yang di tawarkan Harry waktu itu?" Justin bertanya pada dirinya sendiri.


Justin kembali menghela nafasnya kemudian memasukan kembali dompetnya ke dalam tas ranselnya.


Sebenarnya Justin memiliki beberapa pekerjaan sampingan. Mulai dari kurir makanan cepat saji, pagawai minimarket di akhir pekan tempat salah satu temannya dan pekerjaan sampingan lainnya. Baru-baru ini Justin bahkan menjadi seorang pengantar koran.


Justin tidak pernah menyangka bahwa semua pekerjaan yang ia jalani selama ini tidak dapat membantu mengurangi beban kebutuhan hidupnya. Kadang ia bahkan masih sering kesusahan saat akan membayar beberapa kebutuhan mendadak dalam hidupnya.


"Hey.. bro!" seseorang secara tiba-tiba merangkul pundak Justin dari arah belakang. "Sedang apa kau disini?" tanya orang itu.


Justin menoleh dan mendapati Charlie tengah tersenyum ramah menatapnya. "Aku membayar sisa iuran!" jawab Justin singkat.


"Oh."


"Kenapa?" tanya Justin.


"Apa rencanamu besok pagi? Besok kan hari sabtu, jadi kampus pasti libur. Bagaimana kalau kita pergi ke toko buku?" ajak Charlie sambil menatap Justin dengan senyum lebar.u


Justin menggeleng pelan, "Tidak bisa, Charlie! Aku harus membersihkan rumahku karena besok pagi itu adalah satu-satunya jam kosong yang aku miliki."


"Begitukah?! Baiklah kalau begitu." Charlie menggedikkan bahunya. "Bagaimana kalau siang hari?" lanjutnya.


"Bekerja!" jawab Justin cepat. "Aku kan harus mengantar beberapa paket makanan pada jam dua siang. Apa kau lupa?"

__ADS_1


"Hah?!" pekik Charlie sedikit kaget. "Ya sudah, bagaimana dengan sore harinya?"


Justin hanya menatap Charlie dengan ekspresi datar sebagai jawaban. Melihat itu dahi Charlie langsung berkerut, berusaha menerjemahkan arti dari tatapan sahabatnya itu sebelum akhirnya matanya membulat menatap Justin.


"Bekerja juga?" tanya Charlie menatap Justin tak percaya. "Kau menjadi kurir pengantar makanan sampai sore hari?"


Justin mengangguk. "Tentu saja. Bahkan bisa sampai jam sebelas malam jika aku mengambil lembur."


"Ah, tidak mungkin kan kita pergi ke toko buku pada malam hari, tokonya pasti tutup."


"Kalau buka juga aku tetap tidak bisa ikut. Aku bekerja di minimarket dua puluh empat jam yang berada di dekat rumah pada hari sabtu dan minggu."


"Yang benar saja. Kau benar-benar gila kerja. Apa kau ingin cepat kaya, hah?" omel Charlie


Justin terkekeh kecil. "Ingin cepat kaya kau bilang? Dengar! Untuk makan satu hari ke depan saja aku harus susah payah hari ini."


"Lagi pula kau ini seperti tidak mengenalku saja. Sejak awal kau pasti tahu kalau aku ini pasti tidak akan bisa pergi karena aku punya banyak pekerjaan sampingan." lanjut Justin.


"Ya, masalahnya besok kan hari sabtu, jadi aku pikir kau akan libur bekerja besok!"


"Aku bekerja hari ini untuk makan besok, Charlie!"  ujar Justin.


"Tapi kan-"


"Dan kalau aku libur bekerja, itu juga sama seperti aku sedang libur makan di hari itu, kau tau?" jawab Justin acuh sambil melangkahkan kakinya menjauhi sahabatnya itu.


"Hey, kau mau kemana?" seru Charlie sambil mengejar Justin yang mulai berjalan menjauhinya. "Kelas kita akan dimulai lima belas menit lagi." lanjutnya.


"Aku mau pergi ke kantin, aku lapar!" ujar Justin tanpa menoleh dan terus melangkah pergi.


"Kau belum sarapan?" tanya Charlie yang kemudian di jawab anggukan oleh Justin.


Charlie mengernyit heran. "Bagaimana bisa?"


Mendengar pertanyaan itu Justin langsung menghentikkan langkahnya. Ia menoleh ke arah Charlie kemudian tersenyum kaku sambil menggaruk leher belakangnya.


Ia merasa gugup karena tahu kalau jawaban yang akan dia berikan pasti akan membuat sahabatnya itu marah besar.

__ADS_1


"i-itu.. aku..."


***


__ADS_2