Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
109.


__ADS_3

Charlotte melangkah lurus menuju parkiran kampus diiringi tatapan kagum dari beberapa mahasiswa yang ia lewati.


Ia sudah mengantarkan tugas kuliahnya dan sekarang waktunya pergi ke studio pemotretan untuk bekerja. Beberapa waktu lalu pihak agensi meneleponnya dan mengatakan kalau ia jadwal pemotretan sekitar pukul dua siang, artinya ia punya dua jam untuk makan siang sebelum pekerjaannya.


Charlotte merogoh tasnya untuk mencari kunci mobil sampai sebuah suara menyerukan namanya.


"Charlotte…."


Charlotte refleks menolehkan pandangannya ke sumber suara.


"Kau?"


"Ya, ini aku." jawab orang itu.


Charlotte mendecih sinis. "Apa yang kau lakukan di sini, Brandon?"


Pemuda itu, Brandon segera melangkahkan kakinya mendekat pada Charlotte.


"Untuk menemuimu." jawab Brandon pelan.


"Ya, alasan bodoh apalagi yang bisa ku dengar darimu selain itu." ujar Charlotte melangkahkah kakinya hendak meninggalkan Charlotte.


"Charlotte, aku tau kau membenciku. Tapi aku hanya ingin bicara denganmu."


Ya ampun, bukankah suara pemuda ini cukup keras untuk bisa di dengar mahasiswa yang ada di sana.


"Brandon, ini kampus."


"Aku tau."


"Kau bahkan tak kuliah di sini." gerutu Charlotte. "Kau harusnya tau tempat. Ini benar-benar melanggar privasiku, kau tau?"


Charlotte benar-benar kesal sekarang. Kenapa pemuda ini selalu mengikutinya kemana pun.


"Aku hanya datang untuk bicara."


Sepertinya Charlotte tidak punya pilihan lagi selain harus mengiyakan permintaan Brandon. Pemuda menyebalkan itu sama sekali tak memberinya ruang bahkan sudah dengan repot-repot datang ke kampusnya hanya untuk bicara dengannya. Konyol sekali bukan.


Dan kenapa juga ia harus bicara sekeras itu. Membuat malu dirinya saja.


"Cepat bicara, waktu tidak banyak!" ujar Charlotte malas. Sesekali matanya melirik kesana kemari, memastikan kalai ta ada mahasiswa lain yang lewat.


Saat ini mereka tengah berada di area belakang kampus, ke tempat yang lebih sepi dan jauh dari kerumunan mahasiswa.


Charlotte lalu melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Brandon dengan kesal. Kenapa banyak sekali yang ingin dikatakan pemuda ini padanya.


"Kenapa kau menghindariku?"


"Aku menghindarimu?" Charlotte mengernyit.


"Kau tidak membalas satupun pesanku?"


"Ah, kau mengirimiku pesan?" ejek Charlotte. Dia benar-benar ingin tertawa saat ini.


"Ratusan pesan ku kirimkan padamu, Charlotte."


Itu dia. Tidakkah mengerikan bagi seseorang jika mendapat teror pesan seperti itu dari seseorang. Apa dia seorang psikopat?

__ADS_1


"Sejujurnya aku bahkan tidak membuka satupun pesan darimu." ungkap Charlotte jujur. "Dan juga, aku bukan sedang menghindarimu tapi aku hanya tidak ingin berhubungan denganmu tentang apapun!"


"Itu sama saja kau sedang menghindariku."


"Baiklah kalau kau menyebutnya begitu." jawab Charlotte santai.


"Kenapa?"


Charlotte menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa apanya?"


"Kenapa kau menghindariku."


Ya ampun, bukankah Charlotte sudah pernah menjelaskan ini padanya. Ia akan lelah jika harus menjelaskan hal ini lagi.


"Itu jarena kita sudah putus. Kau dengar? Kita. Sudah. Putus."


"Tapi aku bahkan tidak menerimanya! Hanya kau yang membuat keputusan."


"Lantas? Apa lagi yang kau harapkan?"


"Kau tau pasti apa yang aku mau!"


Charlotte mendecih. " Brandon bisa kau hentikan omong kosong ini."


"Omong kosong? Kita bahkan sudah--"


"Aku ada kelas sebentar lagi." Charlotte menyela. Tentu saja ia berbohong. Tak ada jam kuliah lagi. Ia bahkan sudah akan pulang tadi. Itu karena dia tak tahan dengan segala omong kosong ini. Ya ampun, ia benar-benar tidak tahan ingin segera pergi saja dari hadapan Brandon.


Brandon menarik nafas dalam. "Ayo kita kembali bersama dan menikah!"


Charlotte hampir tersedak ludahnya sendiri. Sepertinya pria di hadapannya ini benar-benar sudah gila. Mungkin ia terbentur di suatu tempat dan mengalami geger otak parah.


Lihatlah, benar kan? Dia memang gila.


Menikah katanya? Tuan Romanov, kakeknya yang maha memerintah itu bahkan tak pernah sekalipun memintanya menikah dengan seseorang. Lantas, siapa pemuda ini berani memintanya.


Charlotte terkekeh geli. 'Aku rasa masa kecilnya selalu di suguhi adegan drama televisi oleh orang tuanya.'


Namun senyum Charlotte perlahan memudar saat Brandon mulai mendekap pipi Charlotte dengan kedua tangannya.


Ya ampun, apalagi sekarang.


"Dengarkan aku, oke." ujar Brandon mencoba memasang ekspresi meyakinkan, membuat Charlotte langsung memutar bola matanya.


"Kenapa kau melakukan hal konyol ini Brandon." ujar Charlotte mencoba menjauhkan tangan pemuda itu dari wajahnya. "Jauhkan tanganmu! Kau akan merusak riasan wajahku."


Brandon menggeleng.


"Charlotte, harusnya kau mengerti kenapa aku sampai melakukan ini. Aku cinta padamu. Apa kau tidak peduli dengan perasaanku?"


Charlotte tertawa mengejek. Ekspresinya menunjukkan seakan dia baru saja mendengar sebuah lelucon kuno yang usang. Ia kembali menarik tangan Brandon dari wajahnya. Adegan barusan entah kenapa terasa menjijikan untuknya.


"Brandon, aku tidak peduli alasanmu melakukan hal konyol ini. Aku juga tak peduli bagaimana perasaanmu padaku. Tapi semua ini sudah benar-benar menggangguku."


"Apakah tak ada kesempatan untukku?"


Charlotte mendecih sinis, ia memilih untuk tidak menjawab. Ia lalu memutar tubuhnya dan beranjak pergi dari tempat itu. Namun Brandon tiba-tiba saja malah meraih lengannya, menahan kepergiannya.

__ADS_1


Charlotte memutar bola matanya malas.


'Adegan ini lagi?' batin Charlotte saat mengingat berapa kali Brandon sudah mencoba menahan dirinya untuk pergi selama ini


"Tunggu dulu!" tahan Brandon.


"Apalagi sekarang?"


"Kau belum menjawab permintaanku!"


"Kau bahkan sudah tau jawabanku!" Charlotte muak sekarang.


"Tapi-"


Charlotte menepis tangan Brandon dari lengannya dan bergerak untuk segera pergi dari tempat itu lagi. Namun Brandon kembali menahannya. Ya ampun, apakah disini tak ada air untuk Charlotte siramkan kewajahnya lagi, seperti waktu itu? Pemuda sialan ini.


Charlotte sudah hendak membuka mulutnya untuk bicara, sampai tiba-tiba Brandon menariknya ke dalam pelukannya.


Pemuda itu mulai memeluk paksa tubuh Charlotte membuat gadis itu merasa risih bukan main. Apa-apaan ini? Mereka sedang ada di kampus sekarang. Jika ada yang melihat Charlotte berpelukan di belakang kampus image-nya bisa rusak.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku brengs*k!" protes Charlotte


Charlotte bukanlah gadis yang suka melakukan hal seperti ini, di tempat seperti ini. Ayolah, dia tidak bohong Jika dia 'ingin', maka dia akan memilih untuk pergi ke hotel. Ini rendahan sekali, oke.


"Charlotte, aku benar-benar menginginkanmu." ujar Brandon semakin mengeratkan pelukannya.


"Dan aku tidak, jadi cepat lepaskan!" sentak Charlotte.


"Tidak!" ucap Brandon tegas. "Dengar Lottie, aku menemuimu karena aku benar-benar berharap agar kita bisa kembali bersama lagi."


Charlotte mendecih kesal. "Kembali bersama? Kau belum juga sadar rupanya, selama ini kau hanya mainanku!"


"Aku tidak peduli. Kau mau mempermainkanku sekejam apa. Yang aku inginkan hanya kembali bersamamu."


"Lepas bodoh!" teriak Charlotte. "Lepaskan atau aku akan teriak."


"Kumohon Charlotte!"


"TOLONG!" teriak Charlotte pada akhirnya. Ia memilih melakukan hal ini di bandingkan harus di pergoki oleh mahasiswa lain sedang berpelukan dengan seseorang di belakang kampus bersama seorang pria.


"Kita bisa menikah dan hidup bersama!" Brandon tampak tak peduli dengan teriakan Charlotte itu.


"TOLONG!" teriak Charlotte lagi.


Kenapa sepertinya tak ada yang mendengar atau menolongnya. Charlotte tau ini sudah jam pulang kuliah tapi bukankah harusnya ada satu atau dua orang yang melintas.


"Charlotte, kau dan aku akan-"


"Lepaskan dia!" teriak seseorang.


Brandon sontak mengendurkan pelukannya dan menoleh ke sumber suara.


Charlotte tersenyum saat menyadari ada yang akan menolongnya, ia refleks menolehkan pandangannya ke sumber suara. Namun senyum di wajahnya perlahan memudar.


"Justin?"


"Nona?"

__ADS_1


Kebetulan sekali.


***


__ADS_2