Terjebak Cinta Nona Arogan

Terjebak Cinta Nona Arogan
82.


__ADS_3

Setelah makan malam, tuan Romanov meminta pada Justin untuk beristirahat dahulu sekalian menunggunya di ruang keluarga bersama Paul. Tuan Romanov sendiri tengah pergi ke ruang kerjanya untuk mengurus sesuatu hal yang penting.


"Apa ada hal yang anda butuhkan?" tanya Paul.


"Tidak ada paman, terima kasih." jawab Justin menggeleng.


"Baik." Paul mengangguk mengerti. "Kalau begitu saya pergi dahulu. Ada hal yang harus saya kerjakan."


Justin menganggukkan kepalanya, "Ya, paman."


Setelah kepergian Paul kini Justin hanya seorang diri di ruangan itu. Justin menatap ke sekeliling ruang keluarga milik tuan Romanov dengan tatapan lekat. Jika tadi ia di suguhkan dengan pemandangan luar biasa dari ruang tamu, kali ini ia tengah menikmati keindahan dari ruang keluarga itu.


Ruangan itu terlihat sangat mewah dengan enam lampu kristal yang menggantung diatas. Beberapa set sofa yang terlihat mewah dan nyaman yang keseluruhannya berwarna hitam menyerbu penglihatan Justin.


Ruangan ini jelas tak kalah megah juga mewah jika di sandingkan dengan ruangan yang lain. Dan semua pemandangan itu membuat Justin hampir tak bisa berkedip. Detik itu juga Justin menyadari sesuatu yang membuat wajahnya berubah murung. Yah, di dalam lubuk hatinya yang terdalam Justin merasa sedih saat menyadari betapa tinggi derajat orang-orang ini di bandingkan dengan darinya.


Seketika dia mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. Sedang apa dia di sini? Untuk apa? Apakah untuk bergaul? Ah, jangankan untuk berteman atau bergaul dengan mereka. Dia bahkan tidak pantas walaupun hanya sekedar berdiri di dekat mereka saja


Lalu mengapa hatinya justru menyukai Charlotte. Ia harusnya sadar diri bukan? Tapi kenapa hatinya tetap menolak untuk melupakan perasaannya pada gadis itu. Justin merasa tidak ada yang salah dari mengagumi gadis itu. Ya, meskipun ia sudah jelas mengetahui jika gadis itu adalah cucu dari atasannya. Ia akan tetap mengangumi Charlotte. Meskipun harus secara diam-diam.


Justin menghela napasnya perlahan, seandainya saja Justin boleh berharap, dia pasti berharap jika Charlotte hanya gadis biasa yang sama seperti dirinya.


"Apa kau mengikutiku?" seseorang tiba-tiba saja berseru.


Justin menoleh dan mendapati Charlotte tengah berdiri di hadapannya. Ia tak menghiraukan pertanyaan Charlotte barusan, justru mata Justin kini tertuju pada gadis itu, menatap wajahnya lekat dan gadis itu juga sebaliknya


Charlotte adalah tipe gadis yang tak pernah Justin lihat selama ini. Justin bukan orang munafik yang akan mengatakan kalau ia tak tertarik pada gadis itu. Bahkan di pertemuan pertama mereka Justin juga sudah menyukainya, tapi karena Charlotte adalah gadis yang keras kepala dan dingin, Justin merasa akan lelah saat mengadapinya. Tapi semakin sering mereka bertemu, Justin semakin jatuh cinta pada gadis itu.


"Apa yang kau lihat?" Charlotte bertanya sambil melambaikan tangannya di depan Justin. Tatapannya penuh dengan raut bertanya-tanya.


"Hah?" Justin segera dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya, lalu menjawab Charlotte. "A-apa?"


Setelah mengejutkan Justin dengan kehadirannya di tempat itu, Charlotte lalu berjalan lebih dekat ke sofa, berdiri untuk menatap pemuda itu.


"Aku barusan bertanya, apakah kau sedang menguntitku?"


"Kenapa anda bertanya begitu. Lalu kenapa saya harus menguntit anda?"


"Ya, itu karena..." Charlotte menjeda kalimatnya dan segera duduk ke sofa yang ada di hadapab Justin.


Charlotte duduk menyilangkan kakinya sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia menatap Justin dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Entah kenapa kita selalu saja bertemu dalam ketidaksengajaan, kebetulan. Ah, tapi tidak ada kebetulan di dunia ini. Kalau begitu kau pasti memang mengikutiku kan?" tuduh Charlotte dengan asal.


Justin menggeleng canggung, ia lalu tersenyum kaku. "Aku tidak mengikuti anda, nona. Aku diminta untuk datang kemari, jadi aku datang. Aku bahkan tidak tau kalau tuan Romanov adalah kakek anda."


"Kau tidak tau?"


Justin mengangguk, "Bagamana bisa aku tau itu?"

__ADS_1


"Hal itu juga yang menjadi pertanyaanku." Charlotte lalu tersenyum dengan sinis. "Kau... bagaimana bisa kau tidak tau. Pertama kau mengatakan kau tidak tau kalau aku ini adalah orang terkenal. Sekarang kau tidak tau kalau aku ini cucu dari kakekku."


"Tapi aku memang-"


"Aku dan kakekku, kami adalah orang yang paling sering muncul di televisi, internet dan media lainnya."


"Jadi, bagiku itu mustahil. Mustahil kalau dari awal kau bahkan mengatakan kalau kau tidak tau siapa aku? Lalu sekarang kau tidak tau kalau aku adalah cucu tuan Romanov. Bagaimana kau bisa tidak tau?" Charlotte menatap Justin penuh selidik.


"Ta-tapi aku memang tidak tau siapa anda." Justin berujar gugup.


"Internet? Televisi! Sosial media?" tembak Charlotte tajam. "Ini jaman modern, bukankah omong kosong jika kau tidak memiliki tiga hal itu dalam hidupmu."


"Aku tak punya televisi. Akan mahal bagiku membayar biaya listriknya." jelas Justin.


Charlotte mendecih, "Internet?"


"Aku hanya membuka internet saat butuh mengerjakan tugas."


"Sosial media?"


"Aku hanya punya satu aplikasi chat. Whatsapp!"


Charlotte memutar bola matanya malas, "Kemasan produk? Billboard yang ada di jalan raya?"


Justin menggeleng pasrah, "Aku benar-benar tak mengenal anda, nona."


Charlotte menatap Justin dengan lekat. Ia masih merasa tak percaya. Saat ini Charlotte begitu ingin tau apakah pemuda ini benar-benar tak mengenal dirinya atau mungkin hanya sekedar pura-pura tak tahu saja.


Justin kembali menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana aku bisa tau siapa saja keluarga tuan Romanov. Aku bahkan baru bekerja selama sehari di kafenya."


Charlotte menaikkan sebelah alisnya, menatap dengan terkejut. "Sehari?"


"Ya," Justin mengangguk mantap seakan mencoba memperjelas ucapannya. "Itulah alasannya aku tidak mungkin mengenal anda."


"Benar-benar hanya sehari?" tanya Charlotte memastikan dan Justin mengangguk sekali lagi.


Charlotte terdiam, tampak berpikir untuk beberapa saat. Ia menghela napasnya perlahan. "Baiklah." ujarnya.


Charlotte memilih mengalah setelah ia mendengar pengakuan itu. Ia sudah tak bisa menuduh apa-apa lagi. Lagipula benar juga. Justin mengatakan kalau ia baru sehari bekerja pada kakeknya lantas bagaimana pemuda bisa tau kalau tuan Romanov adalah kakeknya.


Saat ini Charlotte memang tampaknya agak memaksa agar Justin mengakui kalau pemuda itu sudah lebih dahulu mengenalnya. Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia berharap Justin memang mengejarnya dan tengah menguntitnya. Gila memang. Tapi itulah harapan tersembunyi dari Charlotte.


'Apa sebenarnya tujuannya bertanya semua itu padaku. Dia bahkan menuduhku macam-macam.' batin Justin.


Justin terlihat mengerjap beberapa kali, bingung dengan sikap aneh Charlotte. Gadis itu entah kenapa begitu memaksanya agar mengakui hal yang bahkan tak dia lakukan.


Detik selanjutnya Justin refleks mengerjapkan kedua matanya seakan ingin membuang apapun tentang itu. Ia melirik ke arah jam dinding di ruangan itu dan menyadari kalau ternyata hari sudah larut. Justin sudah harus pulang sekarang kalau tidak ia akan kemalaman saat pulang kerumah nanti.

__ADS_1


Setelah itu Justin segera bangkit dari duduknya sambil mengecek barang-barang pribadinya di dalam saku jaket. Membuat Charlotte yang ada di hadapannya langsung bereaksi.


"Apa kau akan pulang?" tanya Charlotte penasaran saat melihat Justin bersiap.


Justin mengadah, "Ah, aku...ya... ini sudah agak malam..." ujarnya canggung.


"Begitu rupanya." Charlotte mengangguk perlahan melihat Justin yang tengah melangkah.


"Bisakah nona mengatakan pada tuan Romanov tentang kepulangan saya ini, nona."


"Kau bisa mengatakan padanya sendiri."


"Saya tidak ingin mengganggu pekerjaan beliau, nona."


Charlotte memutar bola matanya malas, "Baiklah."


Justin membungkuk terima kasih.


Tepat saat Justin ingin melangkah menuju pintu utama, salah satu pelayan mansion muncul di hadapan mereka. Ia memberi hormat pada Charlotte kemudian menatap pada Justin.


"Apakah anda ingin pulang?" tanya pelayan itu pada Justin.


Justin mengangguk. "Iya."


"Maafkan saya, tapi Tuan Romanov menanti anda di ruang kerjanya."


"Menanti aku? Tapi untuk apa?" tanya Justin heran.


"Saya juga tidak tau tuan. Silahkan, saya bantu mengantar anda ke ruangan tuan Romanov." ujar pelayan itu mengulurkan tangan, memberi arah.


Justin mengangguk, barulah setelah itu Justin mulai melangkahkan kakinya, berjalan mengikuti sang pelayan dari belakang.


Melihat kepergian pemuda itu, Charlotte mencibir di dalam hatinya, tapi tetap berekspresi tenang.


"Ada apa sebenarnya dengan kakek, dia seperti tidak bisa lepas dari Justin bahkan semenit saja." gerutunya.


"Untuk itu aku jadi merasa kalau kakek jauh lebih sayang padanya di banding dengan dirimu." ujar seseorang.


Charlotte menoleh untuk melihat siapa yang baru saja bicara padanya. Itu Xander, yang saat ini tengah berdiri di dekatnya, berdiri menyandar ke dinding sambil melipat tangannya dengan senyum jahil di wajahnya.


Mendecih, Charlotte lalu bangkit dari posisinya dan mendekat pada Xander.


"Siapa yang menyayangi siapa?" Charlotte menyipitkan kedua matanya, menatap tajam pada Xander.


"Justin! Kakek lebih menyayanginya di banding denganmu. Kau benar, kakek memang tak bisa lepas dari pemuda itu." ujar Xander menggoda emosi Charlotte.


"Begitukah?" ujar Charlotte lalu mengangkat kakinya dan langsung menginjak kaki pemuda itu dengan sepatu hak tingginya, untuk yang kedua kalinya.


"Kau sangat banyak bicara. Lain kali aku akan menggunakan tombak untuk melubangi kakimu."

__ADS_1


Xander hanya tertawa sambil mengaduh sakit saat melihat Charlotte yang menghentakkan kakinya menuju ke arah ruang tamu mansion.


***


__ADS_2