
Elvira menatap anak laki laki dihadapan nya itu dengan tatapan lurus. Rambut nya hitam, kulit nya putih seperti salju. Manik mata nya sebiru lautan. Hanya dari penampilan nya saja, Elvira tahu ada sesuatu yang spesial dalam diri orang itu. Bagaimana mungkin tidak spesial? Dia anak tunggal konglomerat yang memiliki 30% asset yang ada di bellkarta, pulau hasil reklamasi teluk yang kini ia pijak. Salah satu kota futuristic termaju yang ada di Indonesia. Sedangkan Elvira sendiri hanyalah seorang anak pungut, yang diambil dari panti asuhan dan kini berada di bawah naungan saint foundation. Jika bukan karena kebaikan hati keluarga Gildereich, mana mungkin ia berada rumah se megah ini sekarang.
“Eric, mama mau kenalin kamu sama Elvira. Mulai hari ini, dia bakal nemenin mama dirumah” ucap nyonya muda, pemilik rumah itu pada putra semata wayang nya. Penolakan, tatapan memusuhi, Elvira sudah bersiap dengan semua scenario terburuk yang mungkin akan dihadapi oleh anak pungut di lingkungan baru nya. Namun, semua prasangka itu tampak nya harus ia singkirkan, karena tuan muda yang sedari tadi menatap nya bingung itu mengulurkan tangan nya, hendak berjabat tangan dengan Elvira.
“Salam kenal, nama saya Eric Gildereich” ucap nya sopan.
“Na… nama saya Elvira…” ucap gadis bermata gelap itu gugup.
“Nah, Elvira… Eric ini anak tante satu satu nya. Dia seumuran sama kamu, jadi… kamu bisa panggil dia Eric saja.” Nyonya muda itu menjelaskan.
Elvira mengangguk paham.
“Kalau ada perlu apa apa, kamu bisa bilang ke aku. Kamarku ada di lantai tiga, dekat perpustakaan. Disana banyak buku buku bacaan bagus, kamu pasti suka” anak laki laki itu berucap ramah.
“Iya” Elvira mengangguk, kaku.
“Oke, sepertinya kamu masih belum terbiasa sama suasana rumah ini. Tante bawa ke kamar kamu ya. Eric, kamu juga… sudah waktunya tidur” nyonya muda gildereich itu mengingatkan.
“Iya ma…” anak laki laki itu menurut dan langusng pergi ke kamar nya.
“Eric itu… tiap disuruh tidur, bilang nya mau tidur. Tapi tante yakin, dia pasti masih ngelakuin kegiatan lain”
Elvira tidak menanggapi perkataan itu. Ia masih terlalu gugup dengan suasana baru yang hendak ia hadapi. Walau keramahan penghuni rumah ini membuat Elvira lebih mudah merasa diterima, tetap saja ia butuh waktu untuk benar benar menyesuaikan diri.
***
“Elvira, kenapa kamu pakai sarung tangan terus?” tanya Eric penasaran. Saat ini, kedua nya tengah menghabiskan waktu bersama di perpustakaan sambil menunggu kedatangan guru bahasa inggris yang didatangkan secara privat ke kediaman Gildereich. Elvira berpikir sejenak, ia bingung harus menjawab apa.
“Umm… soalnya di suruh sama dokter” jawab Elvira apa adanya.
“Hmmm… kenapa disuruh? Kamu luka? Atau ada alergi?” pernyataan Elvira itu malah membuat Eric makin penasaran. Elvira memalingkan wajah nya ke sudut ruangan dan memilih untuk bungkam. Kalau bisa, ia tak ingin membicarakan nya dengan siapapun.
“Oke, kalau gak mau cerita sekarang… mungkin kamu mau cerita nanti kalau kita sudah lebih akrab?” Eric mengambil kesimpulan yang langsung disetujui Elvira dengan anggukan. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik memasuki ruangan didampingi nyonya Gildereich.
“Selamat pagi” sapa wanita itu ramah.
“Eric, Elvira… mulai hari ini tante Elena bakal ngajar bahasa inggris buat kalian” Regina menjelaskan.
“Lho, ma… bukan sama om Ivan?” tanya Eric heran. Biasa nya, orang bernama Ivan lah yang menjadi tutor bahasa inggris bagi Eric.
“Enggak sayang, mulai hari ini tante Elena yang ngajar. Gak apa apa kan?”
Eric menatap guru bahasa inggris baru nya itu sejenak, kemudian mengangguk cepat. Anak yang beberapa hari lagi menginjak usia sepuluh tahun ini memang tak pernah rewel dalam hal apapun, termasuk masalah siapa guru yang dipilihkan oleh mama nya untuk mengajar.
Walau begitu, diam diam Eric pun penasaran. Beberapa hari sebelum kedatangan Elvira pegawai laki laki di rumah
berkurang drastis sedangkan jumlah pegawai perempuan malah bertambah. Entah kenapa, ia merasa kalau hal itu ada hubungan nya dengan kedatangan Elvira ke rumah ini.
“Oke, sekarang tante mau tau kemampuan bahasa inggris kalian. Tante sebutin satu barang terus kalian sebutin bahasa inggris nya ya” guru itu memberi instruksi.
“Gimana kalau langsung ke daily conversation aja tante?” pinta Eric.
“Hmm… apa gak terlalu buru buru? kenapa kamu mau langsung belajar Conversation?” tanya guru muda itu penasaran
“Iya, soalnya minggu depan saya berangkat ke amerika”
***
Jago matematika, mahir main piano, juga fasih berbahasa inggris. Setelah menghabiskan waktu seharian dengan seorang Eric Gildereich, ia merasa kalau dirinya kalah jauh dalam hal apapun jika dibandingkan dengan anak di hadapan nya ini. Standar yang di tetapkan oleh pasangan Gildereich terhadap nya pasti tak jauh beda. akan sangat mengecewakan bagi mereka jika kemampuan Elvira berada jauh di bawah Eric.
“Oh ya, apa benar minggu depan kamu berangkat ke amerika?” tanya Elvira penasaran.
“Iya, buat belajar…” jawab Eric sebelum menyesap teh nya.
“Kenapa harus di Amerika?” tanya Elvira lagi.
“Disuruh papa, aku juga gak tau alasan pasti nya.” Jawab Eric jujur.
Jawaban Eric membuat Elvira penasaran, mulai dari jadwal harian hingga guru yang mengajar, semua ditentukan oleh orang tua nya. Apa Eric tidak keberatan dengan itu semua? Atau jangan jangan Eric akan dimarahi kalau ia tidak menurut?
“Papa kamu galak ya?” Elvira menebak. Eric menggelengkan kepala nya.
“Nggak kok… nggak sama sekali”
“Kamu nggak di paksa sama orang tua kamu kan?” tanya Elvira lagi.
“Nggak kok, Cuma… gak ada alasan buat gak nurut kan?”
Jawaban Eric cukup masuk akal, jadi Elvira dapat menerima nya begitu saja.
“Oh ya, ngomong ngomong… kamu belum cerita soal sarung tangan itu” Eric menunjuk tangan Elvira yang masih
ditutupi sarung tangan seharian ini. Elvira terdiam sejenak, berusaha mencari cara yang tepat untuk menghindari pertanyaan itu.
“Kalau belum mau cerita juga gak apa apa… masih ada waktu satu minggu sebelum aku berangkat ke Amerika. Nanti juga kamu pasti bakal cerita” ucap Eric yakin.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Regina Gildereich datang menghampiri Eric dan Elvira yang tengah menikmati cookies dan teh sore hari di kebun belakang, ia menaruh sebuah amplop di atas meja dan mengusap kepala Eric pelan.
“Eric… jadwal keberangkatan kamu di majukan. Kamu berangkat besok pagi ya, sayang…”
***
“Eric hati hati ya kamu disana… mama pasti bakal sering berkunjung, jangan nakal, makan yang benar” nyonya muda Gildereich itu berkali keli memeluk eric, seolah begitu sulit untuk melepaskan anak semata wayang nya ke tempat yang cukup jauh. Bagaimanapun, ini yang terbaik untuk eric, ia yakin akan hal itu.
“Iya ma… Eric pasti bakal hati hati disana” Eric berusaha meyakinkan. Pandangan nya kemudian beralih pada Elvira yang berdiri disamping mama nya.
“Elvira, belum mau cerita soal sarung tangan itu ya?” lagi lagi Eric penasaran akan hal itu.
“Eric, jangan ikut campur urusan orang lain… Elvira pasti punya alasan kenapa dia gak mau cerita. Benar kan Elvira?” Regina mengelus kepala Elvira lembut. Gadis itu mengangguk tanda setuju.
“Oke…”
Eric mengulurkan tangan nya pada Elvira, dan gadis itu langsung menjabat tangan Eric seperti saat pertama kali kedua nya bertemu.
Sebuah kenangan tiba tiba saja terlintas dalam benak Elvira. Kenangan tentang ibu dan ayah nya, ketika mereka piknik ke taman kota, ketika semua masih baik baik saja. Dan tiba tiba saja ia menangis sejadi jadinya. Regina berpikir kalau gadis ini sudah sangat akrab dengan putra nya dan tidak ingin berpisah. Namun, Eric justru tidak berpikirkearah sana.
Barusan, ia baru saja membaca masa lalu gadis ini dengan kemampuan nya. Bukan kah kenangan yang barusan ia lihat adalah suatu kenangan yang manis?
***
5 tahun
kemudian…
Hiruk pikuk suara bandara membuat Elvira merasa kurang nyaman. Seandainya ia membawa plug play nya, ia pasti akan menggunakan penyumpal telinga favorit nya itu untuk meredam kebisingan yang mengganggu nya saat ini. Sayang sekali, plug play itu tertinggal di mobil saat ia turun barusan. Semoga saja benda itu tidak jatuh atau terinjak karena jika ya, maka Elvira terpaksa membeli plug play lagi untuk ketiga kali nya di bulan ini.
“Maaf ya Elvira, kamu pasti gak nyaman sama suasana Bandara yang rame kayak gini” ucap Regina Gildereich pada Elvira. Elvira menggelengkan kepala nya.
“Sama sekali nggak kok, tante… Elvira juga memang mau nemenin tante jemput Eric di bandara. Udah sekitar… lima tahun kan Eric gak pulang ke Indonesia?” tebak Elvira.
“Iya… ya ampun, tante gak nyangka tahun ini dia udah masuk SMA aja tante juga udah semakin tua” ujar Regina, membuat gadis bersurai hitam dihadapan nya tertawa ringan.
Tak lama kemudian, seorang pemuda melambaikan tangan kearah mereka. Rambut hitam dan mata sebiru lautan itu… siapa lagi kalau bukan Eric Gildereich. Ia segera menghampiri Regina dan Elvira. Regina langusng memeluk putra semata wayang nya itu erat. Maklum, walau ia selalu mengunjungi Eric nyaris tiap bulan, menyambut kepulangan Eric di Negara sendiri tetap saja terasa spesial. Elvira sendiri hanya pernah mengunjungi Eric beberapa kali saat libur semester. Bahkan untuk dua tahun terakhir, Elvira tak mengunjungi Eric sama sekali karena sibuk. Jadi ia cukup terkejut ketika menyadari kalau tinggi badan Eric kini sudah lebih tinggi sekitar 10 – 15 cm dibanding diri nya.
“Ya ampun Eric, sudah lama sekali kamu gak pulang. Kamu pasti kaget, pembangunan di palau ini lumayan cepat… ada banyak tempat baru yang harus kamu lihat di pulau ini yang gak kalah keren dari tempat tempat di amerika sana” Regina berceloteh.
“Oh ya? Jadi penasaran pengen cepet keliling keliling…” jawab Eric tampak senang. Matanya beralih pada gadis berambut hitam panjang dengan iris mata gelap yang berdiri di samping mama nya. Sarung tangan yang dikenakan gadis itu tak berubah. Jadi, walau penampilan Elvira tampak berbeda dibandingkan dua tahun yang lalu, Eric tetap bisa mengenali gadis itu.
“Hai..” sapa Eric singkat, yang langung dijawab dengan senyuman dan anggukan dari Elvira. Gadis itu bersikap sangat sopan, membuat Eric agak canggung. Yah, walaupun Elvira sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga Gildereich, hubungan diantara kedua nya memang tidak begitu akrab. Elvira selalu menjaga jarak dengan Eric, dan Eric tak punya banyak waktu untuk mengakrabkan diri dengan Elvira.
“Eric, tante, saya turun duluan ya” ucap Elvira seraya membuka pintu mobil.
“Loh, nggak ikut pulang ke rumah?” tanya Eric heran, begitu Elvira menginjakan kaki nya turun dari mobil.
“Enggak, aku mau coba tinggal di tempat yang deket sekolah. Supaya gak terlalu makan waktu buat pulang pergi” Elvira menjelaskan.
“Kalau ada apa apa telfon tante ya, jangan lupa kunci pintu begitu masuk apartemen ya” Regina mengingatkan yang langsung di iya kan oleh Elvira.
“Hati hati…” ucap Elvira begitu mobil mulai meninggalkan tempat tersebut.
“Elvira, gak tinggal di rumah ma?” tanya eric penasaran.
“Enggak… katanya mau mulai tinggal mandiri. Sudah satu bulan dia tinggal disana, padahal pembangunan nya belum seratus persen rampung. Tapi… kalau memang Elvira lebih suka tinggal di apartemen itu, ya mama gak bisa larang” Regina menjelaskan.
“Penghuni nya kaya Cuma sedikit…” Eric melihat ke belakang, melihat bangunan Apartemen yang perlahan semakin tertinggal jauh.
“Cuma beberapa penjaga keliing dan penghuni sementara yang tinggal di tempat itu sekarang. Elvira memang ingin tinggal disitu karena sepi juga katanya” jawab regina.
“Oh ya, kamu mungkin baru pulang dari amerika dan masih jet lag. Tapi, besok ada ujian tes masuk Santana senior high school. Sekolah itu memang ada di bawah yayasan punya papa kamu, tapi kamu harus tetap ikut ujian. Atau, mau ikut susulan?” Regina menawarkan.
“Kalau harus ujian besok gak apa apa kok. Eric Cuma butuh istirahat malam ini” jawab eric yakin. Diam diam, ia juga penasaran apa Elvira akan mengikuti ujian di sekolah yang sama dengan nya?
***
Dugaan Eric benar, gadis itu datang ke tempat ujian di waktu yang nyaris bersamaan dengan nya.
“Lo mau daftar ke sekolah ini juga?” tanya Eric pada gadis itu ketika kedua nya berpapasan di dekat ruang ujian. Elvira agak terkejut dengan cara bicara Eric. Ia pikir Eric akan menggunakan bahasa Indonesia dengan logat western atau bahasa Indonesia formal karena ia tinggal dia amerika selama lima tahun. Namun, cara bicara Eric ternyata sesuai dengan cara bicara anak anak penghuni bellkarta pada umum nya.
“Iya, lo juga langsung ikut tes hari ini? Bukan nya lo baru pulang kemarin, kenapa gak istirahat dulu dan ikut susulan?” Elvira balik bertanya.
“Ya… gue Cuma gak mau orang orang nyinyir dan nganggap gue dapet perlakuan khusus dengan ikut jadwal susulan” Eric menguap, ia tampak kurang tidur. “gue juga gak keberatan kok, ikut ujian di jadwal regular” lanjut nya.
“Mau gimana lagi ya… kita gak bisa nyumpel mulut orang yang nyinyir satu persatu” ujar Elvira sambil sedikit tertawa. Mata Eric tertuju pada sarung tangan yang di kenakan gadis itu.
“Lo masih pake sarung tangan itu ternyata…” ucap Eric sambil menunjuk tangan Elvira yang tertutup sarung tangan.
“Jelas nggak lah, ini bukan sarung tangan yang lo liat lima tahun yang lalu” jawab Elvira.
“Ya enggak, maksud gue… kebiasaan lo buat nutupin tangan lo pake sarung tangan itu yang gak berubah”
Tiba tiba terdengar pemberitahuan bagi seluruh peserta ujian untuk memasuki ruang ujian dari intercom.
__ADS_1
“Gue di ruang sebelah… duluan ya” ucap Eric sambil berlalu pergi.
***
Eric baru saja meninggalkan ruang ujian ketika tiba tiba saja handphone nya bordering. Hampir 24 jam berlalu sejak eric menginjakan kaki di tanah ini setelah lima tahun lama nya hidup di negeri orang, dan sang ayah baru sempat menelpon nya. Eric bisa memaklumi nya, ayah nya memang orang se sbuk itu.
“Eric, papa denger kamu udah sampai di Indonesia ya?” Alexander Gildereich, ayah dari eric di seberang telpon.
“ Iya pa, Eric baru sampai disini kemarin jam enam sore” jawab Eric.
“Maaf ya, papa gak sempet jemput kamu dibandara karena ada acara di luar kota. Oh ya, sore ini bisa ketemu papa di kantor? Ada yang mau papa bicarakan” kali ini nada bicara Alex tampak serius.
“Oke, nanti sore Eric kesana” ucap Eric kemudian.
Eric melepaskan pandangan nya ke luar jendela, dari lantai tiga gedung sekolah ini, ia bisa melihat halaman luas yang terhampar di depan gedung sekolah, lapangan, gelanggang olahraga, dan murid murid yang sibuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Matanya tiba tiba saja tertuju pada Elvira yang tengah asyik bercengkrama dengan dua orang anak laki laki yang tampak nya murid sekolah ini.
Teman dekat? Pacar?
Ketiga nya memang terlihat akrab, tapi cara Elvira menjaga jarak terlihat agak ganjil. Mereka bicara dari jarak sekitar dua meter. Bukankah itu terlalu jauh untuk ukuran seorang teman? Atau… mereka tidak saling kenal?
Salah satu anak laki laki itu, menoleh kearah Eric. Wajah nya pucat, rambutnya keperakan. Ia tersenyum ramah, ada aura Aneh yang menyelimuti Eric ketika kedua nya bertemu pandang.
Begitu rupanya, anak laki laki itu… adalah hantu. Hantu yang sedari tadi mendekati Elvira.
Eric langsung mengambil handphone nya dan menelpon Elvira. Setelah beberapa kali terdengar nada sambung, akhirnya Elvira pun mengangkat telpon itu.
“Halo, Ric” ucap Elvira dari seberang telpon.
“El, bisa temenin gue sebentar gak… mau nyari makan siang” Eric langung mengatakan maksud dan tujuan nya. Elvira berpikir sejenak.
“Oke, gue juga belom makan siang kok. Gue tunggu di bawah ya”
Sambungan terputus. Eric kembali melihat ke halaman sekolah, tempat Elvira berada. Kini Cuma ada Elvira dan seorang anak laki laki disana. Hantu itu sudah tidak ada. Seharus nya Eric bisa bernapas lega. Namun tiba tiba, seseorang menyentuh bahu nya dan hantu yang sedari tadi ia perhatikan sudah berada di samping nya.
Tak ada bekas tanda tanda kekerasan atau luka luar di tubuh makhluk itu yang bisa menjadi petunjuk mengenai penyebab kematian nya. Hanya wajah yang terlihat sedikit lebih pucat. Hantu ini tampak seperti murid pada umum nya. Makhluk itu tersenyum pada Eric, dan eric pura pura tidak menyadari kehadiran makhluk itu dengan berlalu pergi begitu saja.
“Kita bakal ketemu lagi kok, dalam waktu dekat…” ucap makhluk itu pada Eric yang mulai menuruni tangga.
***
Elvira asyik membolak balik daftar menu dihadapan nya, berusaha memutuskan makanan apa yang hendak ia makan siang ini.
“Gue pesen Lasagna aja, minum nya iced lemon tea. Lo mau pesen apa?” tanya Elvira setelah memutuskan makanan yang hendak ia pesan.
“Samain aja…” jawab eric singkat. Elvira pun menyerahkan pesanan nya ke waitrees yang berdiri di samping meja.
“Ngomong ngomong, gue kok belom liat nama lo di kartu keluarga ya?” tanya Eric tiba tiba. “emang nya proses adopsi serumit itu? Udah lima taun kan… lo keluar dari panti asuhan?” lanjut nya.
“Gue udah di adopsi kok… tapi bukan sama keluarga lo” jawab Elvira santai. “om Alex nyuruh sekertaris nya buat ngangkat gue sebagai anak. Jadi diatas kertas, gue gak pernah jadi bagian dari keluarga gildereich walalupun gue udah tinggal di rumah lo selama kurang lebih lima tahun” Elvira menjelaskan.
“Kok jadi ribet gitu? Kenapa papa gak ngadopsi lo secara langusng aja sih?” eric tampak heran.
“Om Alex emang gak keberatan. Tapi om, tante, paman, bibi, ponakan, sepupu dan keluarga lo lain nya? Mereka pasti bakal nyinyir masalah pembagian hak waris di kemudian hari. Lo juga sebagai anak tunggal bakal banyak di rugiin kalo gue bener bener bagian keluarga lo. Bener gak?” Elvira balik bertanya.
“Gue… gak mikir sejauh itu sih” jawab eric asal. “jadi… orang yang ngadopsi lo secara resmi orang nya gimana?” tanya eric lagi.
“Terus terang gue gak terlalu kenal juga sih, dia kan Cuma jadi wali gue di atas kertas. Dia laki laki umur 28 tahunan, udah punya istri… tapi belom punya anak.” Elvira menjelaskan secara singkat.
“Beda umurnya Cuma sebelas tahun sama lo? Lo yakin, gak bakal dijadiin simpenan?”
“Enggak lah, dia udah punya istri kok. Istrinya juga CEO perusahaan manufaktur yang punya kerjasama sama perusahaan om alex. Gak ada untung nya jadiin gue simpenan… kenal aja nggak”
Tak lama kemudian, pramusaji pun mengantrakan makanan ke meja Elvira dan Alex. Elvira mulai menyantap makana nya. Lagi lagi, Eric menyadari bahwa gadis itu sama sekali tak membuka sarung tangan nya bahkan ketika makan. Namun, Eric mengurungkan niat nya untuk mengajukan pertanyaan mengenai hal itu. Karena bahkan setelah lima tahun mengenal Elvira, ada banyak hal yang Eric tidak ketahui dari gadis itu.
***
Sore itu, sesuai janji Eric pun mendatangi kantor ayah nya yang terletak tepat di jantung kota bellkarta. Di sebuah gedung setinggi tiga puluh lantai yang menjulang tinggi diantara bangunan perkantoran megah lain nya. Waktu mendekati jam pulang kantor. Walau begitu, eric masih harus menunggu beberapa waktu karena di dalam ruangan, san ayah tengah menerima tamu lain.
Tak lama kemudian, tamu itu keluar ruangan. Seorang laki laki yang mengenakan jas hitam formal, dan anting anting salib di telinga kiri nya. Dari wajah nya, eric dapat menebak kalau pria ini berusia sekitar awal dua puluhan. Dibelakang nya, seorang anak laki laki yang tampak seumuran dengan diri nya mengikuti. Tubuh nya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar 170 cm kurang sedikit. Wajah nya terlihat agak feminim, dengan rambut dibawah telinga dan berponi. Eric ingat kalau ia sudah bertemu anak ini sebelum nya, ia adalah orang yang berbicara dengan Elvira siang tadi.
“Dugaan gue bener kan, kita bakal ketemu lagi dalam waktu dekat”
Hawa keberadaan ini terasa tak asing. Satu anak laki laki lagi keluar dari pintu, mengikuti dua orang yang barusan sudah berlalu pergi. Hantu itu masih mengekor anak laki laki berwaja feminim tadi.
“Tunggu sebentar…” Eric langsung menghentikan dua orang tadi sebelum melangkah lebih jauh.
“Emm… mungkin ini kedengeran aneh, tapi… apa lo ngerasa diikutin atau keganggu sama sesuatu?” tanya Eric canggung. Anak laki laki itu tersenyum, mata nya tertuju pada sosok tak kasatmata yang mengikuti nya.
“Dia temen gue kok…” anak laki laki itu menjawab dengan tenang. “dia ngasih tau gue, kalo anak yang punya sekolahan bakal jadi anggota klub yang hari ini resmi berdiri.” Lanjutnya.
“Klub apa? Kok… gue agak gak ngerti ya? Belom resmi jadi murid dan tiba tiba direkrut jadi anggota eskul. Padahal hasil ujian belom keluar”
Anak laki laki itu menepuk nepuk pundak Eric.
“Oh, ayolah kayak nya gak mungkin anak yang punya sekolahan gagal masuk sekolah punya bapak nya sendiri.” Ucap anak laki laki itu tanpa bermaksud menyindir. “gue duluan… ntar juga kita ketemu lagi kok” ucap nya sambil pergi meninggalkan Eric yang masih tak percaya dengan kejadian barusan. Ternyata ada juga orang yang benar benar berteman dengan Hantu di dunia ini.
__ADS_1