
Ponsel Eric tiba tiba berdering. Pemuda itu langsung mengambil ponsel dari saku jas nya untuk memastikan siapa yang menelpon nya.
Nomor tak dikenal.
Tanpa pikir panjang, Eric langsung menjawab panggilan itu.
“Halo” ucap nya pada seseorang diseberang telpon.
“Halo Eric, lo dimana sekarang?”tanya penelpon yang ternyata adalah Ivana.
“Di jalan, abis ngejar Elvira. Tapi gue kehilangan jejak dia”
“Ngejar Elvira? Ngejar Elvira gimana? Dia ada disini sekarang”
“Hah, kak Ivana emang nya ada dimana?”
“Gue ada di GOR, di markas El diablo. Tempat ini udah dikelilingin banyak anak buah King. Dan barusan gue lihat diturunin dari mobil dalam keadaan pingsan. Dia udah dibawa masuk ke GOR. Gue nggak tau lagi keadaan nya gimana”
“Kita harus cepet tolongin dia!” kali ini Eric terdengar panik.
“Gue tahu. Tapi nerobos tempat yang dijaga lima puluh orang berandalan? Bukan berarti kita nggak sanggup. Tapi kayak nya… bakal makan banyak waktu dan keselamatan Elvira lebih nggak kejamin.”
Eric mengacak rambut nya, frustasi.
“Kita panggil polisi” ucap Eric yakin.
“Nggak”
__ADS_1
“Tapi—“
“Eric!” Ivana menyentak. “lo panik. Gue tahu ini situasi dimana lo nggak bisa tenang. tapi, please tenangkan pikiran lo. kita ketemu di sekolah, sekarang”
“Oke…”
Sambungan telepon terputus.
Pandangan Eric kembali beralih pada sosok hantu berambut perak yang beberapa saat lalu menawarkan bantuan pada nya.
“Di GOR markas El diablo? Gue udah tahu dimana Elvira sekarang. Jadi, lo simpan aja persyaratan lo lain kali. Gue lagi nggak punya waktu buat ngurus kepentingan orang yang udah mati, okay?” Eric langsung melangkahkan kaki nya kembali menuju ke sekolah, namun sosok tak kasat mata itu masih mengekor nya. Eric bisa merasakan hawa dingin makhluk itu menyapu bahu nya.
“Ini bukan buat kepentingan gue!” ucap hantu itu berusaha meyakinkan.
“Terus, kepentingan siapa? Keluarga lo? pacar lo? orang orang yang pernah berhubungan sama lo selama lo masih hidup?” tanya Eric sinis. Ia sedang tak bisa berpikir jernih sekarang. Bahkan hal hal sederhana yang biasanya tak ia tanggapi pun terasa sangat mengganggu.
“Ini soal Elvira, dan…”
“Dan apa?” tanya nya serius.
“Dan kepribadian dia yang lain”
***
“Jangan kak! Itu hadiah ulang tahun Vira dari ayah!” gadis itu berusaha mengambil boneka teddy berukuran besar dari tangan seorang pemuda. “kak Vino!! Kembaliin!” gadis itu memohon.
PLAKKK!!!
__ADS_1
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan gadis kecil itu. tapi ia tak menyerah begitu saja. Ia kembali berontak, berusaha mempertahankan boneka kesayangan nya. namun ternyata kali ini, bukan hanya tamparan yang harus ia terima.
“ANAK BANGS4T! J4LANG SIALAN!!! DASAR PARASIT!!!” kata makian terus terlontar dari mulut pemuda itu.
Tendangan bertubi tubi di perut bagian bawah, dilanjut dengan tinju yang mengenai sekujur tubuh nya. mengahantam tubuh kecil Elvira.
“Kak!! Udah kak!! Sakit kak, Ampun!” gadis itu memohon.
Pemuda itu menghentikan tindakan brutal nya, dan langsung mengambil gunting. Dihadapan Elvira yang terkulai, ia mulai menggunting leher boneka itu, mengeluarkan seuntai kalung liontin yang terbuat dari emas putih murni, bertahtakan batu safir yang berkilau.
Elvira sama sekali tak tahu perihal keberadaan kalung itu dalam boneka teddy yang tiap hari menemani tidur nya.
“Ini harus nya cukup buat gantiin semua duit yang bakal dikeluarin orang tua gue buat lo nanti.” Ucap pemuda itu sambil memasukan kalung itu ke dalam saku nya. pemuda itu lalu menjambak rambut Elvira, memaksa gadis kecil tak berdaya itu untuk melihat kearah nya. sementara tangan lain nya menggenggam gunting.
Menyedihkan.
“Vira, lo tau gak. Lo itu cewek dan cewek itu lemah. Yang bilang cewek kuat itu Cuma quotes quotes hipokrit yang dibikin sama orang orang feminis”
Pemuda itu mulai menggunting rambut Elvira dengan gunting di tangan nya. Elvira sudah tak sanggup berontak, hanya bisa menyaksikan helai demi helai rambut nya berguguran.
“Kalau lo laki laki, suatu hari nanti lo bakal tumbuh besar dan mukul balik gue. tapi nggak, untung nya lo perempuan. Lo nggak bakal pernah bisa nge bales apa yang udah gue lakuin ke lo”
Helaian rambut lain nya jatuh ke lantai.
“Setelah jadi parasite di rumah ini, di masa depan nanti lo bakal jadi parasite lagi dan menggantungkan hidup lo ke makhluk yang nama nya laki laki. Lo bakal hidup dibawah standar menyedihkan yang diciptakan oleh laki laki atas nama takdir. Lo akan memenuhi ego mereka buat punya anak, dan ngurus keperluan rumah. Lalu jadi tua dan mati”
Elvira terisak. Ujung gunting yang memotong rambut nya secara sembarang itu menggores kepala nya, menyisakan jejak perih disana.
__ADS_1
“Kalo nggak mau hidup kaya gitu, berhenti jadi perempuan. Atau… mati aja dari sekarang”
***