
“oi, ngomong gitu sekali lagi, dan nilai kesenian kamu saya kasih C!” Nathanael Kim tiba tiba saja muncul dari balik pintu, sambil membawa kantong plastic berisi minuman dingin.
“eh pak…” sapa Eric canggung. “tamu nya udah pulang?”
“belum, dia masih nunggu temen nya yang baru sampai di bandara. Jadi saya izin keluar dulu buat nengok kalian. Jadi, gimana hasil diskusi nya?”
Nathanael mengambil tempat duduk di antara Yukiya dan Eric, kemudian mengeluarkan isi kantong plastic yang ia bawa. “pilih yan kalian suka, saya beli nya Random ya”
Nathanael memang membeli beberapa minuman secara Random. Tapi hanya ada satu soft drink disana, sisanya Susu dan jus. Tentu saja, tangan Alfian, Eric, dan Yukiya berebut minuman bersoda itu di siang hari yang panas ini. tak seorang pun mengalah, sampai Nathanael mengambil minuman itu.
“soft drink ini punya saya, anak anak yang masih dalam masa pertumbuhan lebih baik minum susu atau jus ya” ucap pemuda itu dengan nada sedikit mengejek.
“makasih…” ucap ketiga nya bersamaan, walau agak kecewa.
“jadi, udah sampai mana diskusi nya?” tanya Nathanael lagi.
“oke, jadi… rencana nya, sebagai bagian utama dari kegiatan klub ini kami akan menerima Request dari warga sekolah.” Sebagai ketua Klub, sekaligus murid paling senior Alfian menjelaskan.
“request seperti apa?”
“nah, itu yang sedang kami diskusikan pak…. Karena basic nya kita klub yang bekaitan dengan hal Supranatural, udah bisa ditebak sih, Request macam apa yang bakal di ajuin ke klub ini” Eric berpendapat.
Nathanael berpikir sejenak.
“kalau orang orang tahu klub macam apa Esperia, Request yang datang paling nggak jauh jauh dari permintaan buat ngusir setan, ngobatin kesurupan dll… kalo udah gitu, paling Cuma saya yang kerja”
“oh, bapak pernah ngusir setan sebelum nya?” tanya Yukiya polos.
“saya ini Exorcist berlisensi dari Asosiasi Pandora yang berpusat di Vatikan. Makanya saya berani ngajuin diri buat jadi pembimbing klub kalian. Ngusir setan, atau Exorcism itu memang keahlian saya” Nathanael menjelaskan.
“woah… keren keren. Kak Alfian atau Eric bisa ngusir setan juga?”
“gue belom pernah ngusir setan. Kalau ketemu pun gue lebih milih pura pura nggak liat. Nggak ada untung nya ngurusin hal metafisik kaya gitu” jawab Eric.
“kalo gue malah kebalikan nya Exorcism. Gue malah jadi mediator yang tujuan nya justru masukin makhluk supranatural ke badan gue buat satu dan lain hal” jawab Alfian.
“hmm… gue pikir semua anak yang punya sixth sense bisa ngusir setan…”
“ngomong ngomong soal Setan, kaya nya ada satu orang lagi yang nggak hadir hari ini…” Nathanael melepaskan pandangan ke sekitar nya.
“maksud bapak Elvira?”
“kalau Elvira, saya udah tau kenapa dia nggak masuk…”
Mendengar jawaban itu, Eric agak terkejut. Kenapa pak Nathanael yang bahkan bukan wali kelas nya bisa tahu alasan mengapa Elvira Absen hari ini? bahkan Eric dan Yukiya sebagai teman sekelas nya pun tak tahu banyak.
“hantu itu… yang sering ngikutin Alfian” lanjut Nathanael.
__ADS_1
“oh… makhluk itu. saya juga belum lihat seharian ini” jawab Alfian singkat.
“eh, hantu apa? Disini ada hantu?” Yukiya menengok kanan kiri, cemas.
“oke, sepertinya saya harus kembali ke ruangan. Silahkan lanjutkan diskusi nya” ucap Nathanael sebelum beranjak pergi.
Hening…
Baik Yukiya, Alfian maupun eric masih sibuk berkutat dengan pikiran nya masing masing.
“oke, karena gue nggak punya Sixth sense kaya kalian, gue bakal bantu nge desain poster nya.” Yukiya berinisiatif mengeluarkan selembar HVS dari dalam tas nya.
“gimana kalo untuk sementara, kita terima segala macam request yang nantinya kita sortir sesuai kapasitas klub? Gue rasa… kalau langsung mengkhususkan di bidang supranatural, seisi sekolah bakal nganggep klub kita sebagai sejenis perkumpulan dukun atau paranormal.” Eric berpendapat.
“ide bagus…” jawab Alfian setuju. “kita juga bisa nerima Request dari klub lain. gue rasa, anak The hive bakal banyak berhubungan sama kita. Dan kalau Request pertama kita sukses, kita bisa kerja sama bareng anak Jurnalistik buat mempublikasikan hasil kerja kita supaya Klub jadi lebih eksis”
“nice… atleast, kita udah dapet tujuan dan inti kegiatan dari klub ini.”
Yukiya mencorat coret kertas ditangan nya, dan menggambar lima buah stickman. Salah satu Stickman diberi
rambut panjang untuk menunjukan kalau itu adalah sosok perempuan. Di bagian atas, Yukiya menulis tulisan “Esperia” berukuran besar. Di bagian bawah, Yukiya menuliskan “menerima berbagai jenis permintaan. Mencari orang hilang, barang hilang, fenomena supranatural dan lain lain”
“oi oi… stickman ini kita?” tanya Alfian.
“yup… nanti kita pake foto asli. Menurut penilaian gue, member klub ini yang lumayan good looking…. Ehem… terutama gue… uhuk… bisa jadi daya Tarik tersendiri buat narik minat orang orang.” Yukiya berpendapat.
Perkataan Eric ada benar nya juga, tapi walau bagaimana pun Yukiya tidak bisa menjadi satu satu nya nggota yang tidak memberikan kontribusi apapun pada klub.
“oke, kalian tunggu disini ya… gue punya ide supaya posternya jadi. Pokok nya, jangan kemana mana sampai gue balik”
Yukiya langsung bergegas pergi meninggalkan tas nya di atap sekolah bersama Eric dan Alfian.
***
Berdasarkan petunjuk yang ia dapat, ruangan klub jurnalistik berada di lantai satu, tepat disebelah ruang galeri yang memajang berbagai hasil karya siswa siswi Santana High school. Berhubung kelas S adalah satu satu nya kelas yang jam pelajaran nya selesai pukul 12.30 siang, maka suasana di koridor tampak cukup sepi. Yukiya tetap mengetuk pintu ruang jurnalistik walau ia tak yakin apa ada orang di dalam atau tidak.
“permisi… apa ini bener ruangan klub jurnalistik?” ucap nya sambil mengetuk pintu. Seorang gadis membuka kan pintu untuk Yukiya. Gadis itu tak lain adalah Julia, orang yang kemarin bertengkar dengan Eric.
“iya, bener ini ruangan klub jurnalistik” jawab Julia. “ada perlu apa?”
“gini kak, saya denger klub Jurnalistik yang gabung sama eskul Graphic Art and photography Terima jasa promosi klub. Kalo boleh, saya mau ngobrol sebentar” ucap yukiya sopan.
“oke, silahkan masuk…” Julia mempersilahkan adik kelas nya itu untuk masuk.
Ruangan itu cukup luas untuk ukuran klub yang nyaris kekurangan anggota hingga harus bergabung dengan klub lain. ukuran ruangan itu mungkin sekitar 5 x 5 meter, dengan tambahan ruang khusus cuci foto dan ruang penyimpanan berkas. Di sudut ruangan yang menghadap langsung ke halaman sekolah, dibuat ruangan dengan sekat berukuran 1,5 x 2 meter yang tampak nya digunakan untuk menerima tamu. Terdapat dua buah kursi yang saling berhadapan dan sebuah meja dengan computer di atas nya. Hanya dengan memasuki ruangan klub saja, Yukiya bisa menilai kalau klub ini cukup professional.
“Cuma ada kak Julia aja disini kak?” tanya Yukiya penasaran.
__ADS_1
“iya… yang lain kan masih ada jam pelajaran di kelas. Murid kelas S di klub ini Cuma gue dan kak Janetta dari kelas 3S. kebetulan dia juga lagi absen karena ikut lomba debat internasional di Stockholm. Jadi sekarang, Cuma ada gue disini” Julia menjelaskan. “jadi, lo perwakilan dari klub mana?” Julia menyalakan computer di hadapan nya, dan mencatat log sheet berisi daftar pengunjung klub Jurnalistik.
“saya dari Klub Esperia kak…”
Julia tiba tiba menghentikan kegiatan mencatat nya, ia tampak agak terkejut dengan jawaban Yukiya.
“oh… jadi klub itu udah resmi sekarang.” Gadis itu kembali melanjutkan kegiatan menulis nya.
“jadi, kak Julia udah pernah denger tentang klub Esperia?”
“kebetulan, pacar gue ketua klub nya”
“maksud nya kak Alfian?”
Julia menganggukan kepala nya cepat.
“oke, jadi klub kalian mau promosi dalam bentuk apa? Pamphlet, atau mau dibikinin Artikel buat masuk bulletin sekolah?” Julia memberikan beberapa tawaran, sementara Yukiya masih mempertimbangkan tawaran apa yang akan ia ambil.
“kalo dibikin Artikel, teknis nya gimana kak?”
“kami bakal wawancara anggota klub kalian, ikutin kegiatan kalian, ada sesi dokumentasi juga… kalau berita tentang kalian cukup laku dan bisa nutup ongkos produksi, kami nggak akan minta bayaran. Justru mungkin kedepan nya bakal ada lebih banyak kerja sama dan lain lain. kalau pun enggak, ongkos pembuatan artikel dan lain lain bakal ditagih setelah Artikel di sebar. Ini jasa yang paling banyak di pake sama klub klub baru.” Julia menjelaskan.
Bicara tentang kegiatan, klub Esperia bahkan belum punya kegiatan yang layak diliput sama sekali. Jadi sepertinya, tawaran itu tidak akan masuk pertimbangan klub.
“kalo desain poster aja, gimana kak?”
“kalo desain poster, itu yang paling sederhana sih. desain poster tanpapublikasi bisa beres dalam waktu 24 jam. Gue Cuma bakal tanya tanya dikit tentang anggota klub, kegiatan, dan keunikan dari klub tersebut buat dijadiin bahan pembuatan poster. Gimana, tertarik?”
Yukiya menganggukan kepala nya. sejak awal, memang inilah tujuan nya datang ke klub Jurnalistik.
“nah, sekarang… lo bisa ceritain secara singkat tentang klub lo”
“oke, jadi… Klub Esperia itu wadah buat anak anak dengan kemampuan khusus yang disebut Extra Sensory
Perception. ada yang punya kemampuan buat baca pikiran orang, ada yang bisa baca masa lalu, ada yang bisa jadi medium buat makhluk astral, ada juga yang bisa… ehm, nge pellet?”
“ok tunggu sebentar” Julia memotong cerita Yukiya. “itu beneran?” tanya nya tak percaya. “gue emang denger kalau Alfian mau bikin klub yang unik. Tapi terus terang, gue nggak ngerti sama konsep klub nya kaya gimana. Semua yang lo ceritain itu asli?”
Yukiya menganggukan kepala nya.
“tadi lo bilang, di klub itu ada yang bisa baca masa lalu. Siapa yang punya kemampuan kaya gitu?”
“kak Julia… baru aja nge hajar orang itu kemarin” jawab yukiya polos.
Wajah Julia mendadak berubah pucat. ia nyaris tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Pantas saja kata kata itu trelontar dari mulut Eric. pemuda itu ternyata dapat membaca masa lalu nya.
Yang jadi masalah, sejauh mana Eric tahu?
__ADS_1
***