Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Death wish


__ADS_3

“Eric, pintunya kok nggak ditutup sih? listrik buat nyalain AC nya jadi boros dong karena udara dingin nya keluar terus” protes Alfian begitu ia memasuki ruangan milik Nathanael. Ia cukup terkejut begitu menyadari bahwa selain Eric, Elvira juga sudah ada diruangan itu.


“Elvira? lo… bisa duduk diruangan ini sama Eric?” tanya Alfian heran.


“Fian, untung kamu juga dateng. Sini duduk, aku mau cerita sesuatu” Vira menunjuk tempat kosong disampingnya. Jika dilihat dari cara bicara, dan cara gadis itu memanggil dirinya, Alfian yakin kalau gadis yang ada dihadapannya itu bukanlah Elvira, melainkan Vira.


“Lo… Vira?” Alfian berusaha memastikan. Gadis itu mengangguk cepat.


Alfian melangkah mendekati sofa, ia hampir saja duduk disamping gadis itu ketika tiba tiba ia berubah pikiran dan lebih memilih untuk duduk disamping Eric. ia ingat kalau tempo hari, gadis itu sempat memotong rambut Eric dengan gunting yang ia sembunyikan entah dimana.


“Hampir aja gue kejebak…” ucap Alfian lega.


“Oke, jadi… soal masalah yang lo sebutin tadi, coba lo jelasin ke gue dan Alfian. Luciel pengen kamu mati gimana?” tanya Eric langsung.


Gadis itu masih memperhatikan keadaan sekitar.


“Um… kak Nathanael nggak ada disini kan? Dia kesini nya masih lama kan?” tanya gadis itu lagi.


“Kak?” Eric cukup heran dengan sebutan kak itu. kenapa menyebut guru dengan sebutan kak?


“Vira ketemu pak Nathanael sebelum beliau jadi guru disini. Dan waktu itu, pak Nathanael masih… lebih muda.” Alfian menjelaskan.

__ADS_1


“Pak Nathanael masih ada urusan, mungkin kesininya nanti. Emang nya kenapa kalau ada pak Nathanael?”


Gadis itu menggelengkan kepalanya.


“Pokoknya, nggak mau ketemu kak Nathan. Kalau dia tahu aku keluar gini, dia bakal…”


Gadis itu tak melanjutkan kata katanya. Seolah memiliki firasat buruk, Ia langsung bergegas menuju pintu, dan hendak menutup pintu itu dari dalam. Namun tangan seseorang mencegah pintu itu tertutup. Vira benar benar terkejut ketika bertemu mata dengan orang itu.


“Loh, kamu disini?”


***


Julia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya diruangan Jurnalistik. Sejak kedatangan yukiya di tempat ini, ruangan Jurnalistik yang biasanya sudah seperti rumah kedua bagi Julia, mendadak terasa sempit. Tentu saja, ini karena sebisa mungkin Julia ingin menjaga jarak dari pemuda itu.


Itu dugaan yang cukup masuk akal. Tapi,Yukiya terlalu misterius untuk ditebak.


Julia menghentikan pekerjaan nya sejenak, dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


“Ah… gue capek jadi Julia. Kalo boleh gue mau terlahir kembali sebagai cewek biasa dari keluarga normal yang hidup biasa biasa aja” ucapnya pada diri sendiri.


“Apa lo yakin, bisa ngejalanin hidup kaya gitu?” ucap seseorang yang mengintip dari balik bilik ruangan kayu kecil tempat Julia mengerjakan tugas tugasnya sebagai anggota klub Jurnalistik. Julia refleks menoleh, dan mendapati bahwa sumber suara itu berasal dari seseorang yang seharian ini mati matiian ia hindari.

__ADS_1


“Apa iya, kak Julia bisa hidup tanpa nge gossip? Yang bikin lo terlibat sama semua ini kan… diri lo sendiri” lanjutnya.


“Apaan sih, nggak usah ikut campur!” ucap Julia ketus.


“Loh emang iya. lo terlibat sama urusan esper dan sub esper gara gara kepo soal anak anak dari jalur kontribusi khusus yang identitas di lama sekolahnya nggak lengkap. Lo terlibat sama masalah nya Eric, karena lo bikin artikel provokatif di hari pertama tahun ajaran baru. Dan yang paling utama, lo keseret masuk kedalam semua pusaran ini karena ngejual kak Ivana ke El diablo buat masuk The core” Yukiya bicara tanpa jeda.


Nafas Julia tercekat. Ternyata benar, yukiya memang mengetahui sesuatu mengenai peristiwa itu.


“Yukiya, mending langsung ngpmong aja deh. Lo datang kesini dan gangguin gue buat balas dendam kan?”


Julia menatap Yukiya dengan tatapan tajam. Yang ditatap hanya tertawa mendengar dugaan itu.


“Dugaan lo Cuma sampai situ doang?”


“Nggak usah basa basi, gue selalu inget sama semua kesalahan yang gue lakuin. Termasuk waktu gue nge bongkar rahasia Ivana ke kak Janetta soal dia yang punya adik. Gue tahu gue salah. Jadi apapun konsekuensi nya, gue bakal terima. Maaf aja nggak cukup buat nebus itu semua” ungkap Julia jujur.


Yukiya mendekatkan dirinya pada Julia, hingga kini jarak diantara keduanya hanya sekitar satu meter.


Julia menelan ludah. Entah kenapa jantung nya berdegup kencang, ia takut kalau kalau Yukiya akan mengeluarkan kartu As nya untuk menyerang dirinya.


Kartu As berupa, sesuatu yang ada di database The core, sesuatu yang Julia inginkan, tak peduli apapun resikonya. Aib terbesar yang ingin ia hapus untuk selama lamanya.

__ADS_1


“Sebenernya gue… pengen kak Julia jadi pacar gue”


***


__ADS_2