
Mobil itu melaju meninggalkan apartemen tempat Elvira tinggal jauh di belakang. Dari kaca spion, Regina Gildereich dapat melihat Eric yang duduk dibelakang. Matanya menatap jalanan dengan tatapan kosong.
“mama sudah dengar situasi nya dari pak Nathanael, tadi dia telpon mama” Regina mencoba membuka pembicaraan. Eric tak menunjukan reaksi apapun, ia masih menatap ke luar jendela. “Eric, mama gak tahu banyak
soal kondisi kamu karena itu di luar pemahaman mama. Tapi kalau ada yang bisa mama bantu, kamu harus cerita, oke?” pinta Regina.
“Mama nggak pernah cerita soal keadaan Elvira…” Eric akhirnya buka suara.
“Eric… mama nggak cerita karena waktunya memang belum tepat.”
“jadi, kapan waktu yang tepat?”
Hening
Regina tahu akan kearah mana pembicaraan ini dan ia enggan untuk melanjutkan nya.
“ma.. sampai kapan mama nganggap Eric anak kecil?”
Regina menelan ludah. Selama ini ia merahasiakan latar belakang Elvira, karena ia tahu kalau Eric masih merasa bersalah atas kejadian itu. Kejadian delapan tahun yang lalu ketika sekelompok mafia masuk ke mansion yang ditinggali Eric. Saat itu, ia dan Alex tengah pergi ke luar negeri untuk keperluan bisnis. Polisi datang ketika sekelompok mafia itu telah berhasil menghabisi seluruh penjaga dan body guard yang berjaga di mansion. Bahkan pembantu dan tukang kebun pun menjadi korban. Saat itu, pak Artha melindungi Eric dengan menyembunyikan nya di dalam sebuah lemari. Pak Artha tewas tentu saja, karena ia melindungi lemari itu bahkan hingga saat saat terakhirnya. Eric benar benar terpukul oleh kejadian itu. Mungkin itu pula sebab nya, mengapa Eric tumbuh menjadi anak yang terlampau patuh, tak pernah sekalipun ia mengatakan keinginan nya jika itu bertentangan dengan keinginan orang tua nya.
Bagaimana pun, Regina tak bisa mneyembunyikan latar belakang Elvira selamanya. Wanita itu menghela nafas panjang, bersiap untuk mengatakan kebenaran nya pada Eric.
“oke… ini mungkin bakal ngorek luka lama kamu. tapi, apa kamu inget pak Artha?” Eric mengangguk. Pria berjas
putih yang melindungi nya. Di kejadian delapan tahun yang lalu.
“tunggu… jangan jangan”
“benar, Elvira adalah anak pak Artha”
Nafas Eric tercekat. Ia benar benar tak menyangka kalau Elvira terhubung dengan seseorang yang amat ia sesali kematian nya.
“setelah kejadian itu, istri pak Artha mengalami depresi berat. Dan dari kabar yang beredar, dia meninggal bunuh diri.”
Sekarang semua nya menjadi masuk akal. Citra yang ia lihat saat memasuki memori Elvira ternyata bersumber dari kejadian itu.
“Setelah itu, Elvira diadopsi oleh salah satu kerabat terdekat. Tapi masalah lain mulai timbul. Elvira sering mendapat kekerasan dari keluarga baru nya, terutama dari anak laki laki keluarga itu yang tidak suka dengan kehadiran Elvira.”
Eric juga sudah melihat itu semua. Citra seorang anak perempuan dengan tubuh penuh luka dan lebam yang tengah menangis.
“salah satu tetangga melaporkan kejadian itu ke polisi, anak laki laki keluarga itu menjalani proses hukum, sementara Elvira dipindahkan ke sebuah panti asuhan. Dan disanalah mama bertemu Elvira, dengan keadaan mental yang kurang stabil akibat trauma yang dia terima. Kita semua terlambat menyelamatkan dia. Karena itulah mama berusaha menebus semua nya dengan mengadopsi Elvira, dan merahasiakan latar belakang Elvira dari kamu. supaya kamu tidak merasa terbebani oleh masalah itu”
Eric mendengar penjelasan itu dengan seksama, agar tak ada sedikit pundetail yang luput dari pemahaman nya. Perasaan bersalah dalam dirinya naik ber kali kali lipat. Bukan hanya membuka kembali luka lama gadis itu, ia juga secara tidak langsung menjadi penyebab kematian ayah Elvira, menjadika gadis itu seorang yatim.
__ADS_1
“mama tahu, kamu akan merasa sangat bersalah… karena kamu anak baik. Justru karena itu mama gak mau cerita. Mama takut tiap kali melihat Elvira, kamu akan teringat pada kejadian itu”
Eric dapat mendengar ibunya terisak, tapi ia tak bisa memberi penghiburan apapun. tidak ketika pikiran nya sendiri berada dalam keadaan kacau.
“apa Elvira tahu soal ini?” tanya Eric. Ibu nya mengangguk pelan.
Eric menyandarkan kepala nya ke jendela mobil. Sial. Jadi selama ini hanya dia yang tak tahu apa apa. Entah bayangan seperti apa yang terpantul di mata Elvira saat melihat nya. Ia tak akan terkejut kalau Elvira benar benar membenci nya.
***
Hari ke dua masa orientasi di Santana senior high school.
Seluruh murid yang menjalani masa Orientasi diminta untuk mengumpulkan tanda tangan para penghuni sekolah. Terutama tanda tangan teman seangkatan dan kakak kelas. Tak seorang pun berani mengerjai Eric selama masa orientasi itu, malah banyak anak perempuan yang secara suka rela mencarikan tanda tangan untuk nya, dan tentu saja eric menerima bantuan itu dengan senang hati.
Ia tak bisa menjalani masa Orientasi ini dengan sepenuh hati, pikiran nya terus menerus tertuju pada Elvira yang tak ada disana.
“jadi, udah ketemu Elvira?” tanya Alfian yang tiba tiba sudah berada di samping Eric yang tengah duduk santai di halaman sekolah.
“nggak, dia sama sekali gak mau bukain pintu nya” jawab eric.
“jangan kan bukain pintu buat lo, bukain pintu buat gue aja gak pernah sama sekali. Satu satunya orang yang pernah masuk ke kamar Elvira ya makhluk ini”
Alfian menunjuk pemuda berambut perak yang tak kasat mata di hadapan orang awam itu. Kini ia tengah duduk tepat disamping Eric.
“lo beneran temenan sama hantu? Nggak takut dikira orang gila?” tanya Eric heran.
“gue gak bakal jawab kecuali lo gabung sama Esperia…” lagi lagi Alfian membawa nama klub buatan nya.
“jadi, Elvira bisa ngeliat lo?” kali ini Eric bertanya langung pada hantu disamping nya.
“bisa dong, katanya dia temenan sama gue waktu gue masih hidup. Gue gak inget sih…” ucap hantu itu tak yakin.
“apa lo mati bunuh diri?” kali ini Eric mengubah topic pembicaraan. “gue ngeliat lo dan kak Alfian bikin janji kelingking sama Elvira. Buat bunuh diri bareng, supaya kalian gak mati sendirian. Apa gue salah?” tanya Eric dengan nada bicara serius.
Plakkk!
Alfian memukul punggung Eric keras.
“astaga serius banget nanya nya… kaya lagi detektif detektifan aja” Alfian berusaha mencairkan suasana. “dia amnesia, dia sama sekali gak inget kenapa dia bisa mati… no homo ya, tapi yang dia tau Cuma fakta kalau dia pernah temenan sama gue. Maka nya dia ngikutin gue terus…”
“terus kak Alfian sendiri gimana? Pernah janjian buat bunuh diri bareng Elvira?”
Ekspresi wajah Alfian mendadak berubah. Dari yang semula ceria, menjadi agak muram. Seolah ada sesuatu yang sangat berat untuk dikatakan.
__ADS_1
“sebenernya gue…” Alfian mengambil jeda sejenak.
“gue…” Alfian kembali mengmabil jeda sebelum melanjutkan pembicaraan nya.
“gue baru mau cerita kalau lo gabung Esperia”
Seandainya Alfian bukan kakak kelas dan tidak menyimpan banyak informasi yang sangat dibutuhkan, Eric pasti sudah mengikat anak itu, menggulung nya, dan menenggelamkan nya di sungai terdekat.
***
Sepulang sekolah, Eric kembali mendatangi apartemen tempat Elvira tinggal. Kali ini, ia bisa melihat mobil petugas pengurus apartemen terparkir di halaman Apartemen. Pemuda itu menebak nebak, mungkinkah ada penghuni baru yang hendak tinggal di apartemen ini?
Eric menaiki tangga menuju lantai tujuh tempat apartemen yang Elvira tinggali berada. Sesampai nya disana, ia mendapati bahwa pintu apartemen itu sudah terbuka lebar. Dan betapa terkejut nya ia ketika melihat seisi apartemen Elvira dari ambang pintu yang terbuka.
Kamar itu terlihat benar benar berantakan, dengan pecahan beling dan kaca yang berserakan dimana mana. Meja rias yang rusak, tanaman dalam pot yang sudah tidak pada tempat nya, seprai kasur yang tercabut, standing lamp yang pecah. entah apa yang terjadi di tempat ini sebelum nya, yang jelas hal pertama yang dikhawatirkan Eric adalah Elvira. Kemana pergi nya gadis itu?
Eric melangkah masuk ke dalam kamar yang kini tak berpenghuni itu. Ada bercak darah yang menetes di lantai. Apa yang sebenar nya terjadi?
“permisi mas, ada perlu apa datang kesini?” tanyapetugas kebersihan yang kini sudah berada di ruangan sambil membawa beberapa alat bersih bersih.
“ini… tempat tinggal teman saya pak. Waktu saya kesini, orang nya udah gak ada… kira kira, apa yang terjadi di tempat ini ya pak?” tanya eric pada petugas kebersihan itu.
“oh teman nya mbak Elvira yang tinggal disini ya.” Petugas kebersihan itu berpikir sejenak. “saya kurang tahu sih mas, tapi tadi pagi saya ditelpon bu Regina buat bersihin tempat ini. Saya ketemu bu Regina di tempat parkir. Dia bilang mau antar anak perempuan nya ke rumah sakit” petugas itu menjelaskan.
Dari penjelasan petugas kebersihan itu, Eric dapat menyimpulkan kalau memang ada sesuatu yang terjadi pada Elvira. Eric langsung merogoh saku jas sekolah nya, mengambil handphone yang tersimpan disana dan menelpon Regina ibunya. Seletah terdengar beberapa kali nada dering, Regina pun menjawab panggilan itu.
“halo, ma?” Eric berusaha memastikan bahwa sambungan telpon itu terhubung.
“iya, Eric… ada ada apa?” tanya Regina dari seberang telpon.
“Eric lagi ada di Apartemen Elvira, tapi…” Eric mengehentikan kata kata nya. Bahkan tanpa perlu dijelaskan pun, sepertinyna Regina sudah dapat menebak apa yang hendak Eric katakan. “ma, apa yang terjadi sama Elvira” ucap eric akhirnya.
“Tadi pagi, waktu mama datang ke apartemen nya… pikiran Elvira sepertinya sedang kacau. Jadi Mama langsung bawa dia ke rumah sakit buat ngobatin luka luka nya. Dia juga sudah dibawa ke psikiater dan akan mulai sesi konseling lagi sore ini. Kamu jangan kesini ya, bicara sama Elvira nya nanti saja kalau dia sudah agak baikan.” Regina menjelaskan.
Eric terdiam. Bayangan tentang Elvira yang melakukan self harm dengan mengiris tangan nya sendiri kembali muncul di benak nya.
“Eric, mama tahu kamu merasa bersalah. Tapi tolong jangan terlalu dipikirkan ya… dipikir terus menerus pun nggak akan menghasilkan apa apa. Kalau Elvira udah agak baikan nanti, kamu bisa bicara langsung dan meluruskan semua nya oke?”
“oke…” Eric asal mengiyakan sebelum sambungan telpon benar benar terputus.
“mas, boleh keluar dulu? Kami mau mulai membereskan tempat ini” pinta salah satu petugas kebersihan itu.
“oh iya pak…” ucap Eric seraya keluar dari apartemen itu.
__ADS_1
Petugas kebersihan mulai mengangkut keluar Standing lamp, dan cermin yang rusak. Serpihan beling juga mulai disingkirkan. Tirai yang yang copot dipasang kembali, dan bercak darah di lantai di pel hingga tak bersisa. Sebelum petugas kebersihan selesai membereskan Apartemen Elvira, Eric sudah meninggalkan tempat itu.