Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Couple Issue


__ADS_3

“Eric, hari ini gue pulang ya.” ucap Ivana begitu berpapasan dengan Eric sepulang sekolah. setelah cukup beristirahat di UKS, Ivana memutuskan untuk langsung pulang karena jam pelajaran murid kelas S sudah berakhir sejak dua jam yang lalu. saat ini, keduanya tengah berjalan dikoridor kelas menuju pintu keluar gedung sekolah.


“Makasihnya mana?” protes Eric setelah menunggu ucapan terimakasih dari Ivana selama beberapa detik. Ivana memutar bola matanya.


“Gue udah bilang Terima kasih ke tante Regina. Gue izinnya ke tante Regina, dan rumah itu adalah assetnya bokap lo” Ivana beralasan.


“Apa susahnya sih bilang makasih. Ngomong ngomong… kak Ivana udah baikan sama Yukiya? Ngambeknya cepet juga ya… Cuma dua hari” Eric berkomentar.


“Bukan Cuma soal ngambek, gue emang nggak biasa ninggalin anak itu lama lama. Asal lo tahu, Yukiya itu bahkan belom genap berusia lima belas tahun. Seumuran anak SMP. Dia tuh sebenernya belom bisa ngurus diri, soal makan aja kalau bukan gue yang nasehatin… dia bisa tahan seharian di depan komputer tanpa makan” Ivana menjelaskan.


“Basicnya emang masih bocah, tapi cara dia bisa tahu segalanya… kadang bikin gue merinding”


Ivana dan Eric tiba di pintu keluar gedung sekolah.


“Bau nebeng sampai Square town?” Eric menawarkan.


“Sopir lo udah disini emang?”


“Udah di deket gerbang, pak Yudha emang selalu stand by sesuai jadwal”


Ivana berpikir sejenak, mempertimbangkan tawaran yang diberikan Eric. selain menghemat Energi, Ivana memang hendak menanyakan sesuatu pada Eric.


“Boleh deh, sekalian gue punya beberapa hal yang pengen gue tanyain ke lo”


***

__ADS_1


Mustang Ford hitam itu berhenti di jalan Andromeda, tepatnya di depan rumah nomor dua puluh tempat Alfian dan Julia tinggal bersama beberapa anak rantau lainya.


“Makasih ya pak,” ucap Alfian sebelum menutup pintu mobil.


“Makasih atas tumpangannya pak,” Julia berpamitan pada Nathanael.


“Ya, sama sama. Ngomong ngomong, besok nggak ada kegiatan klub ya… jadi besok tidak usah berkumpul untuk kegiatan klub” Nathanael berpesan sebelum meninggalkan tempat itu.


Begitu mobil Nathanael bergerak pergi, Julia langsung berbalik dan membuka kunci gerbang.


“Tumben banget lo banyak melamun, kaya lagi mikirin sesuatu” ucap Alfian. Julia tak menggubris pertanyaan itu. mana mungkin ia mengatakan pada Alfian kalau salah satu anggota klub nya berusaha merebut dirinya dari Alfian.


“Gue Cuma capek, akhir akhir ini banyak kegiatan di klub. Apalagi senin besok ada jadwal ganti mading.” Julia beralasan.


“Tiap minggu juga ada jadwal ganti mading, tapi nggak biasanya lo kaya gini” Alfian mendesak.


“Tunggu sebentar!”


Langkah Julia mendadak berhenti. Ia tak bisa bergerak sama sekali, apa ini?


“Sampai kapan lo mau main rahasia rahasiaan sama gue? gue tahu… lo mungkin butuh waktu dan punya banyak alesan yang bikin lo nyimpen banyak hal dari gue. tapi, sampai kapan lo bakal nyembunyiin semuanya terus?”


Langkah Julia memang sempat tertahan, dan gadis itu tak dapat menggerakkan tubuhnya. Tapi, itu hanya berlangsung beberapa detik. Tentu saja karena kemampuan Direct Command milik Alfian hanya dapat bertahan dalam interval waktu yang singkat.


Julia menyadari, bahwa ini pertama kalinya Alfian menggunakan kemampuan itu pada dirinya.

__ADS_1


“Lo… pake kemampuan Esper lo ke gue?” tanya Julia kesal.


“Lo tahu soal Esper darimana?” Alfian balik bertanya.


Julia terdiam. Apa itu adalah sesuatu yang seharusnya tak ia ketahui?


“Lo juga nggak banyak cerita soal kegiatan klub lo. soal temen temen lo yang punya kemampuan aneh, soal King yang mendadak ngilang, bahkan soal kejadian tempo hari pas lo tiba tiba dirawat di rumah sakit. Lo nggak jelasin apa apa ke gue”


Alfian kehabisan kata kata untuk membalas ucapan Julia.


“Julia, itu… bukan sesuatu yang lo bisa terlibat seenaknya” pemuda itu berusaha membela diri.


“Kalau gitu, urusan gue juga sama. Itu bukanurusan dimana lo bisa terlibat seenaknya”


“Nggak… pembicaraan kita udah beda konteks”


Julia menghebuskan nafasnya, kesal.


“Gue capek, kalau emang ada yang perlu dibicarain, mending besok aja.” ucap Julia sambil berlalu pergi meninggalkan Alfian.


Gadis itu mempercepat langkahnya.


Sebenarnya, apa yang ia katakana pada Alfian sebelumnya bukanlah sesuatu yang benar benar ingin ia katakana. Ia tahu, alasan kenapa Alfian tak menceritakan itu semua padanya. semua hal tentang Esper dan Sub Esper adalah sesuatu yang berada diluar nalarnya, nalar seorang gadis biasa tanpa kemampuan spesial apapun. Alfian hanya tidak ingin dirinya terlibat dalam hal hal yang membahayakan.


Sesungguhnya, Julia hanya mencari alasan untuk menutup pembicaraan, mencegah Alfian untuk bertanya lebih lanjut mengenai masalahnya.

__ADS_1


“Sial, kenapa kita harus berantem sekarang sih?” umpat gadis itu dalam hati.


***


__ADS_2