
Eric menatap Ivana dengan tatapan tak percaya. Siapa yang menyangka kalau anggota geng El diablo yang dijuluki sebagai monster itu adalah putri dari salah satu konglomerat terkaya di Bellkarta?
“Ivana! kamu sudah jadi perempuan cantik rupanya” ucap Alex setelah berbincang bincang beberapa saat dengan Vano. “karena tinggal di Bellkarta, sesekali harus nya kamu main ke rumah om. Oh ya, kenalin… ini Eric anak om”
Ivana tampak tenang mengikuti alur pembicaraan, sementara Eric agak canggung ketika harus bersalaman dengan Ivana.
“Oh, kebetulan kami juga udah ketemu kok disekolah” ucap Eric pada sang papa.
“Kamu ketemu sama Ivana di sekolah? Kalian papasan?” kali ini Vano yang bertanya.
Pertemuan pertama Eric dengan Ivana adalah… ketika gadis itu membanting nya di atas Ring. Sekarang, Eric tahu kenapa setelah kejadian itu, Ivana meminta Eric untuk melupakan semua yang terjadi di atas Ring. Dan lihatlah Ivana sekarang, ia melotot tajam, seolah mencegah Eric untuk menceritakan apa yang terjadi di hari itu.
“Oh… iya, ketemu pas acara demo eskul” ucap Eric jujur.
Ups, seperti nya Ivana tambah marah.
“Iya, saya kan ikut eskul bela diri om… jadi, Eric waktu itu kebetulan nonton pas saya jadi pembicara buat temen temen saya yang tampil. IYA KAN ERIC?”
Eric menelan ludah.
“Iya, bener itu” Eric mengiyakan.
“Tapi ingatan kamu cukup bagus ya, sekali ketemu bisa langsung ingat” puji Vano.
Sekali bertemu, langsung ingat? Pertemuan pertama, Eric jadi korban di atas Ring. Pertemuan kedua, Eric menonton Ivana bertarung di atas Ring, pertemuan ketiga… adalah kemarin saat Ivana menceritakan sejarah kelam nya bersama El diablo yang tentu saja dipenuhi pertarungan.
Mana mungkin Eric lupa?
__ADS_1
“Yasudah… Ivana, om titip Eric ya. silahkan kalian keliling keliling tempat ini. dan pastikan kalau Eric nggak minum yang aneh aneh” pinta Alex pada putri kolega nya itu. Eric memicingkan mata nya kearah ayah nya sendiri. Awas saja, kalau sudah cukup umur, ia akan berpesta pora dan menjadi orang dewasa sungguhan, sehingga tak seorang pun bisa memperlakukan layak nya anak kecil seperti ini.
“Kami mau ketempat lain, ada hal penting yang harus dibicarakan” Vano menambahkan.
“Iya, pa, om… kami keliling dulu ya” ucap Ivana sambil setengah menyeret Eric yang masih menatap ayah nya dengan tatapan kesal.
***
"Hei, awas aja kalo lo sampai cerita yang aneh aneh ke om Alex atau bokap gue…” ucap Ivana setengah mengancam. Saat ini, kedua nya tengah berada di ruang terbuka yang terletak di atap gedung. Dari sini, pemandangan City light dari pusat pulau bellkarta dapat terlihat dengan jelas.
“Oh, jadi bokap lo nggak tahu kalau lo gabung sama gangster?”
“Ya nggak lah, Gila! Mana ada bapak yang ngizinin anak perempuan nya jadi anggota gangster?”
“Tapi, dia tahu kalo lo sub esper?”
“Dia tahu kalau gue, emang beda dari anak kebanyakan. Dia bilang, gue mewarisi bakat nya nyokap gue… walau nggak seratus persen”
“Apa nyokap lo masih punya kemampuan kayak lo gitu sampai sekarang? Enak dong bokap lo jadi punya istri berasa body guard” Eric berseloroh.
Ivana memicingkan mata nya dan menatap Eric dengan tatapan dingin.
“Nyokap gue udah meninggal”
Nafas Eric tercekat, ia sama sekali tak tahu kalau Ibu Ivana sudah meninggal.
“Sorry, gue nggak tahu…” ucap Eric, merasa bersalah.
__ADS_1
Kedua nya terdiam, dan suasana menjadi agak beku. Apa etis, kalau Eric menanyakan sebab kematian ibu Ivana? Eric berusaha mencari topic pembicaraan untuk mencairkan suasana. Hingga akhirnya, Ivana yang duluan buka suara.
“Di ulang tahun gue yang ke delapan, ada paket besar datang ke rumah gue di jepang. Ukuran nya sebesar tangki Aquarium. Waktu itu, gue emang lagi suka banget main ke Sea World yang ada Aquarium raksasa nya. jadi gue pikir, kado itu mungkin Aquarium yang dibeliin bokap sebagai hadiah ulang tahun gue. setelah dibuka, apa lo tahu isi Aquarium itu?”
Eric menggelengkan kepala nya.
“Isi nya adalah mayat nyokap gue dalam keadaan tanpa organ dalam dan tanpa kedua bola mata. Mayat itu di taruh dalam sejenis Resin bening yang mengeras… itu kado ulang tahun yang nggak bakal pernah gue lupain seumur hidup gue”
Eric merinding mendengar penjelasan Ivana. tunggu, bukankah adegan itu pernah ia lihat di suatu tempat?
Seorang gadis kecil berambut pirang yang duduk bersimpuh didepan Aquarium berisi mayat dalam Resin?
“Sorry, gue bikin lo nginget hal hal yang mungkin nggak mau lo inget.” Eric lagi lagi meminta maaf.
“Itu bukan sesuatu yang bisa bikin gue trauma atau nggak enak. Gue cerita ini ke elo karena hal ini mungkin bakal berhubungan sama lo suatu hari nanti…”
“Oh ya? berhubungan sama gue gimana maksudnya?” tanya Eric heran.
“Di badan nyokap gue itu, ada tattoo dengan symbol Eos, symbol yang sama pernah gue liat di badan nya kak Daniel. dan setahu gue, kak Daniel itu anak yang datang bareng Mr.Arthur sebagai bagian kerja sama antara Saint Foundation dan Pandora Association.” Ivana menjelaskan. “gue yakin, nyokap gue itu ada hubungan nya sama Pandora Association”
“Tapi kak Alfian, pak Nathanael, dan kak Gio juga… bukan nya mereka ada hubungan nya sama Pandora Association?”
Ivana menggelengkan kepala nya.
“Mereka memang ada hubungan nya, tapi mereka jelas bukan orang dalam. Orang dalam yang gue maksud disini adalah, orang yang emang datang dari Vatikan bareng Mr.Arthur. Ini memang Cuma hipotesis… bisa aja dugaan gue itu salah”
“Gue juga ngerasa kalau hal itu ada hubungan nya sama alasan bokap gue nyuruh gue pulang ke Indonesia sih…”
__ADS_1
***