
Ruangan dengan ciri khas ornament antik bernuansa merah itu terasa sepi. karena tak seperti biasanya, hari ini hanya ada Eric, dan Alfian di ruangan itu. Yukiya izin karena harus memulai kegiatan sebagai anggota The core di klub Jurnalistik. Sementara Elvira, hari itu langusng pulang tanpa mengatakan apapun.
“Jadi, kegiatan kita hari ini apa? eh, emang nya klub ini masih bisa berkegiatan? Kita nggak tahu apa Elvira dan yukiya masih mau jadi bagian dari klub ini” ucap Eric begitu menyadari bahwa anggota yang hadir saat itu hanya dirinya dan Alfian.
“Walau udah jadi anggota The core, gue rasa Yukiya tetep bisa jadi bagian dari klub ini. lagian, dia ternyata sub esper kan? Masih cocok sama klub Esperia. gue juga udah ngomong ke kak Janetta dan dia nggak keberatan soal itu. asalkan, kita nggak manfaatin Yukiya buat ngorek ngorek soal The core. Sedangkan Elvira… gue nggak tahu” jawab Alfian. “Lo sendiri gimana? Lo udah jadi anggota El diablo loh”
“Setau gue sih, El diablo masih libur sampai beberapa hari kedepan. Banyak yang harus dipertimbangkan, terutama setelah kejadian nya King.” Jawab Eric.
Tak lama kemudian, Nathanael masuk kedalam ruangan sambil membawa buku ditangan kanan nya. buku setebal hampir seribu halaman itu tampak lusuh dan tua, dengan sampul merah berbahan kulit dan bordir keemasan. Buku modern sudah tidak menggunakan bahan seperti itu untuk Cover buku, jadi Eric menebak kalau buku yang Nathanael bawa itu pastilah buku yang cukup spesial. Entah spesial karena isinya, atau karena usianya.
“Sepertinya hanya kalian yang hadir hari ini. tapi bukan masalah, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan mengenai kejadian kemarin.”
Nathanael menuju mejanya dan menaruh buku tebal itu diatas sana.
“Yang ada dihadapan kalian saat ini adalah salinan manuskrip kuno dari abad pertengahan yang sudah diterjemahkan. Codex Gigas. Apa kalian pernah dengar?”
Eric menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tak tahu menahu soal per-iblis-an maupun buku buku yang menyertainya.
“Itu… buku tentang iblis gitu kan pak?” tanya Alfian.
“Benar. Codex ini berisi asal mula penciptaan dan sejarah iblis, juga ritual pemanggilan dan seluk beluk lain nya. memang bukan manuskrip asli yang utuh, hanya salinan dari sebagian kecil pengetahuan yang bisa didapat dari codex gigas yang asli. Tapi, saya rasa ini cukup untuk memberitahu kalian mengenai… apa yang kita hadapi kemarin” Nathanael menjelaskan secara singkat.
__ADS_1
“Buku buku kaya gini beneran ada pak?” ucap Eric tak percaya.
“Ada, tapi hanya disebarkan di kalangan komunitas tertentu. Alfian, bisa tolong tutup tirai nya?”
Alfian menganggukan kepala nya dan segera menuju jendela untuk menutup tirai. Setelah semua tirai ditutup, kini ruangan itu benar benar gelap.
“Nyalain lampunya pak?” tanya Eric.
“Jangan. Kalian berdua, merapat ke meja ini” guru kesenian itu menginstruksikan. Sesuai instruksi, Eric dan Alfian pun menghampiri meja tempat buku itu diletakkan.
“Codex gigas adalah, manuskrip yang ditulis oleh bangsa iblis. Bahkan salinan nya pun melibatkan makhluk tak kasat mata dalam proses pembuatan nya. karena itu, persiapkan diri kalian” Nathanael memberi peringatan.
Eric menelan ludah. Entah kenapa, tiba tiba saja ia merasa kalau bulu kuduk nya meremang. Dan hawa dingin yang terasa familiar perlahan menyentuh bahu nya.
***
Hari itu setelah jam pelajaran kelas S berakhir seperti biasa Gio langsung menuju ruangan yang disediakan khusus untuk anggota The hive. ruang berukuran empat kali empat meter yang terletak di lantai tiga itu menyerupai ruang pertemuan dengan fasilitas lengkap. Alexander Gildereich secara khusus memang memfasilitasi anggota The hive agar dapat bekerja secara efektif. Lemari berisi data data penting diletakkan di sudut ruangan. Juga Job Desk dengan satu unit komputer keluaran terbaru. Tak lupa lemari pendingin dan Air Conditioner yang diletakkan di tempat strategis agar udara dingin dapat menyebar ke sleuruh ruangan.
Gio duduk seorang diri disana, dua anggota the hive lain nya memang cukup jarang menggunakan ruangan ini. mereka hanya akan datang jika diminta, atau ada urusan tertentu.
Tak lama setelah ia duduk, Gio dapat mendengar seseorang mengetuk pintu ruangan nya. Gio yang baru saja duduk terpaksa bangkit lagi untuk membukakan pintu, orang yang mengetuk pintu ruangan The hive biasanya hanya ada dua kemungkinan. Antara anggota The hive yang membawa murid bermasalah, atau Staff sekolah yang hendak memeriksa kegiatan sekolah.
__ADS_1
Tapi, tebakan Gio meleset. Yang mengetuk pintu adalah Daniel, ketua El diablo. Murid S class kelas tiga.
“Hai.” sapa Daniel pada Gio.
“Daniel? ngapain lo kesini?” tanya Gio heran.
“Mana sebutan kak nya? di sekolah ini gue masih kakak kelas lo” protes Daniel.
“Bodo amat.”
Setelah Gio membukakan pintu, Daniel pun masuk kedalam ruangan The hive.
“Lo keliatan sehat. Katanya gara gara kejadian kemaren, lo harus dibawa ke rumah sakit?” tanya Daniel.
“Ya gitulah. Ntar sore gue juga harus kontrol lagi ke rumah sakit. Ngomong ngomong, ada urusan apa lo kesini?” tanya Gio langsung.
Daniel mendudukkan dirinya di salah satu sofa yang kosong.
“Hmm… lo mungkin bakal agak kaget.” Pemuda itu mengeluarkan sebuah amplop dari saku jas nya. Gio langusng mengambil amplop itu dan memeriksa isi nya.
“Ini…” Gio menatap Daniel tak percaya.
__ADS_1
“Ya, itu surat pengunduran diri gue sebagai ketua El diablo”
***