
Alfian terbangun dan mengerjapkan mata nya perlahan ketika mendapati seberkas sinar matahari menyusup melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Pemuda itu bangkit perlahan dan meregangkan tubuh nya. ia hendak membangunkan Eric karena hari ini bukan hari libur. Tapi, betapa terkejutnya ia begitu menyadari bahwa kasur King size di samping nya sudah kosong.
“Gue… ditinggalin?”
Pemuda itu langsung memeriksa jam di ponsel nya. waktu baru menunjukan pukul enam pagi. Tidak mungkin Eric berangkat ke sekolah sepagi ini, karena jam masuk sekolah di Santana Senior Highschool adalah pukul delapan pagi.
Alfian segera bangkit dari tempat nya tidur, dan beranjak pergi tanpa melipat selimutnya. Aneh. Ia juga baru menyadari kalau selimut Eric tak ada di atas kasurnya.
“Apa Eric pindah kamar ya?” Alfian berspekulasi.
Karena bingung, Alfian akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar yang ditempati Ivana.
Ivana membuka pintu kamarnya, mendapati bahwa Alfian sudah bangun dan masih mengenakan pakaian tidur nya.
“Lo nggak siap siap ke sekolah? jangan bilang kalo lo lupa bawa seragam” tebak Ivana.
“Lo liat Eric nggak?” tanya Alfian. Sebelum tiba di kamar Ivana, ia sempat bertanya pada beberapa pembantu yang sibuk membersihkan rumah. Tapi tak satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Eric.
“Nggak tuh. Gue baru bangun pas lo ngetok pintu gue. pindah kamar kali… siapa tahu dia keganggu sama ngorok lo” tebak Ivana.
“Hey, gue nggak ngorok. Gue juga ngiranya Eric pindah kamar, makanya gue tanya pembantu disini. Tapi ternyata, nggak ada yang lihat” ucap Alfian bingung.
“Saya tahu dimana mas Eric…” ucap salah satu pembantu yang menghampiri Alfian dan Ivana tiba tiba. Dilihat dari wajahnya, ia tampak lebih tua dari kebanyakan pekerja yang bekerja di lingkungan kediaman Gildereich. “mari…” wanita itu menunjukan jalan nya pada Ivana dan Alfian.
Baik Alfian maupun Ivana agak bingung karena jalan yang ditunjukan oleh wanita itu adalah jalan menuju kamar yang Eric tempati bersama Alfian.
__ADS_1
“Dia hilang dari kamar loh bi, waktu saya bangun, Eric udah nggak ada di tempat tidurnya” Alfian berusaha menjelaskan.
“Mas Eric masih ada dikamar kok. kalian hanya nggak tahu tempat nya.” jawab wanita itu yakin.
“Ngomong ngomong bi… kok Cuma bibi yang tahu dimana Eric? yang lain juga keliatan biasa biasa aja waktu saya bilang Eric hilang” tanya Alfian penasaran.
“Maklum lah, semua pekerja disini kecuali saya adalah pekerja lepas yang dikontrak selama tiga bulan saja. Mereka nggak kenal terlalu dekat sama mas Eric. mereka sudah dikasih tahu kalau Eric ini… unik. Bukan hal aneh kalau dia tiba tiba hilang. Sebagai orang yang bekerja disini cukup lama, saya sudah tahu dimana mas Eric sembunyi” pembantu itu menjelaskan.
Ia membuka pintu kamar Eric dan menunjuk lemari besar yang terletak di sudut ruangan.
“Coba periksa disana…”
Ivana langusng melangkah masuk, dan mendapati bahwa Eric sedang tertidur pulas di dalam lemari itu, seluruh tubuh nya dibalut selimut yang ia ambil dari tempat tidur nya sendiri. Eric mengerjapkan matanya, ia cukup terkejut ketika melihat Alfian dan Ivana sudah berada di hadapan nya.
“Cepet bangun, tidur ditempat kayak gini nggak bagus buat postur lo” ucap Ivana datar.
***
"Jadi, udah berapa lama lo ngalamin hal kayak gini?” Ivana membuka pembicaraan. Saat ini, ketiganya tengah menikmati sarapan di meja makan.
“Sejak… kejadian lima tahun yang lalu. kalau mimpi buruk atau apa… gue kebiasaan pindah kedalam lemari” Eric mengakui.
“Apa lo cukup sering ngalamin hal kayak gini? Emang nya… ada yang ngeganggu pikiran lo akhir akhir ini?” tanya Ivana lagi.
Eric terdiam sejenak. ia mengingat kembali mimpinya semalam.
__ADS_1
“Gue mimpiin… sesuatu yang aneh.”
Eric meneguk segelas air putih sebelum melanjutkan ceritanya.
“Gue mimpi ketemu King, di tempat yang mirip sama Archein dia. oh, kebetulan Archein nya King ini menyerupai tempat dia mati tiga tahun yang lalu. dia juga ngomong sesuatu soal… wadah Lilith. Dia mati karena gagal dijadiin wadah Lilith. Entahlah gue nggak paham. Yang jelas… dia minta maaf sama semua masalah yang dia timbulin” Eric menceritakan kembali mimpinya.
“Kalau itu semua memang bukan ulah dia… nggak mungkin gue nggak maafin dia. sekarang gue cukup lega. Semoga King udah ada di tempat yang lebih baik sekarang” ucap Ivana akhirnya.
“Oh iya, gue lupa ngasih tau soal kelanjutan dari kejadian kemaren” Alfian angkat bicara. “pak Nathanael ngasih tau gue, kalau semua kejadian itu udah ditanganin sama Unit Khusus kepolisian Bellkarta. Kita semua mungkin bakal diminta tutup mulut soal kejadian ini, lagian… kalau ngomongin soal kejadian yang nggak masuk akal, kemampuan kita pun masuk kategori nggak masuk akal itu kan. Soal kematian King juga, karena dia anak yatim piatu yang hidup menggelandang di Bellkarta, nggak ada keluarga atau sanak saudara yang nyari, dan kasus ini pun di tutup sebagai kategori Special Case. Gio terlalu banyak pake kemampuan Copycat nya, jadi dia mungkin butuh perawatan lebih lanjut.” Alfian menjelaskan.
“Terus, dia dimakamin dimana?” tanya Ivana penasaran.
“Dia… nggak dimakamin. Badan nya yang mendadak jadi lebih muda tiga tahun setelah tanda vital berhenti bekerja, jejak Ether di badan dia, kemampuan Hipnotis di mata dia… nggak mungkin orang orang itu ngelewatin King gitu aja.” Alfian berspekulasi. “emang sedih sih, dia meninggal dan bahkan nggak ada yang nyariin. Yang inget kalau seorang King pernah hidup, mungkin Cuma kita dan anak anak yang pernah berurusan sama El diablo”
Ivana menghela nafas panjang.
“Gue… cukup sedih ngedenger hal ini” ungkap nya jujur.
“Gue rasa, King udah damai di alam sana. dan apapun yang terjadi ke badan dia di dunia ini, itu udah bukan urusan dia lagi. Bukan nya gue nggak berempati, tapi… gue harap, ada sesuatu yang bisa didapat dari fenomena yang terjadi ke King. Ini berkaitan sama Lilith juga.”
Alfian menganggukan kepala nya.
“Setelah kejadian itu juga, Lilith hilang gitu aja. nggak ada yang bisa ngelacak keberadaan dia. selain itu, gue pun penasaran sama apa yang terjadi sama Luciel.”
***
__ADS_1