
pagi itu, bulletin sekolah menampilkan berita yang cukup mengejutkan. “Tiga orang murid kelas 2S, pergi ke klub malam di daerah Squaretown.” bukan hal baru memang, sebagian murid Santana terbiasa berpesta pora semalam suntuk. Tapi, cerita nya akan berbeda jika dilakukan oleh murid kelas S.
berbagai kelonggaran yang diberikan pada murid kelas S, bertujuan agarmurid murid dengan kecerdasan yang jauh diatas rata rata itu dapat mengembangkan bakat mereka di bidang lain selain bidang akademik. Juga untuk mengakomodir kondisi beberapa murid yang memang memiliki kegiatan penting lain diluar sekolah. jika pihak Santana tahu kalau murid kelas S, --terlebih berjumlah tiga orang-- melakukan pelanggaran yang cukup berat, maka berbagai kelonggaran dan kebijakan yang diberikan pada murid kelas S perlu ditinjau kembali.
Awalnya, Gio hendak mengabaikan bulletin itu karena ia tak begitu menyukai gossip. tapi, ketika beberapa teman sekelas yang biasanya tidak membicarakan gossip ikut bergunjing soal isi bulletin itu, ketua the hive yang juga murid kelas 2S itupun ikut berkerumun di sekitar mading.
“Ini berani banget sumpah, ngusik anak kelas S itu sama aja kaya bunuh diri” ucap salah seorang murid yang ikut berkerumun disekitar mading.
“Apa dia nggak takut, berurusan sama anak kelas S? bukan Cuma jenius… rata rata dari mereka punya latar belakang yang… ah udahlah”
“Mungkin yang nulis artikel ini juga dari kalangan orang penting”
“Paling nggak, lo harus ada di level yang sama kaya… anak pemilik yayasan buat bikin artikel kaya gini tanpa takut dibully atau diusir”
Mendengar beberapa percakapan dari orang orang disekitar mading membuat Gio agak was was. Karena jika ini memang berkaitan dengan murid kelas S, maka masalahnya akan jadi cukup rumit.
“Oh! Gio, tumben lo tertarik sama gossip.” sapa Alfian begitu mendapati bahwa Gio juga termasuk dalam kerumunan orang yang penasaran dengan isi bulletin di mading.
“Gue harus baca, soalnya ini berkaitan sama murid kelas S” Gio beralasan.
Akan makan waktu lama jika ia harus mengantri dan menunggu kerumunan berkurang. Jadi Gio langsung meminjam kemampuan Alfian agar orang orang dapat memberinya jalan menuju mading.
“Permisi, bisa minggir sebentar?” ucap Gio dengan suara cukup lantang. Karena ia meminjam kemampuan direct command milik Alfian, kerumunan yang semula bergerombol itu secara otomatis terbelah, memberi jalan pada Gio untuk membaca artikel itu dari dekat.
__ADS_1
Membaca judul artikel itu membuat Gio terkejut, baris selanjutnya yang berisi rincian berita malah membuat Gio naik pitam. Pemuda itu langsung mencabut kertas itu dari majalah dinding, membuat semua orang bingung dan tidak terima, tapi tentu saja tak seorang pun berani melawan tindakan Gio karena mereka tahu kalau pemuda itu adalah pemimpin dari dewan keamanan sekolah The hive.
“Woy! Tunggu sebentar, gue belom baca!”
Alfian berusaha menghentikan Gio yang berjalan cepat menuju ruang jurnalistik. Tapi, pemuda itu tak menggubrisnya.
“Gue bilang, tunggu sebentar!”
Kali ini, Alfian menghentikan Gio dengan kemampuan Direct command nya. Begitu Gio menghentikan langkahnya, Alfian langsung merebut kertas itu dari Gio.
“Loh, gue tahu siapa cewek cewek di foto ini. mereka kan anak anak yang sering ngebully Ivana”
***
Beberapa murid kelas 1S agak terkejut dengan kunjungan ketua The hive yang mendadak menerobos masuk ke dalam kelas tanpa permisi. Tanpa basa basi, Gio langsung menuju meja di jajaran belakang dan meletakkan kertas berisi artikel bermasalah itu diatas meja Yukiya.
“Yang nulis artikel ini, adalah lo kan?” tanya Gio pada Yukiya.
“Yup, betul sekali~” ucap Yukiya riang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Gio sedikit mengedarkan pandangan ke sekitar. Menilai dari situasi nya, kurang bijak jika harus menegur Yukiya di dalam kelas yang ramai seperti ini, apalagi perhatian orang orang mulai terpancing karena ia menerobos masuk begitu saja tanpa permisi.
“Ikut gue, kita ngomong di tempat lain”
__ADS_1
Gio memberi isyarat pada Yukiya agar adik Ivana itu mengikutinya. Sesuai instruksi, yukiya pun mengekor dibelakang Gio sambil membawa selebaran yang menjadi sumber masalah itu dan meninggalkan kelas menuju suatu tempat.
Eric menatap beberapa orang yang… mulai menatap nya dengan tatapan penasaran.
“Gue nggak tahu apa apa, suer! Gue yakin, meja yang gue tempatin ini emang bawa sial”
***
“Kenapa lo nulis artikel itu? apa lo tahu konsekuensi apa yang harus lo hadapin kalau ngusik anak kelas S?” tanya Gio begitu keduanya tiba di luar gerbang sekolah, di wilayah dimana tidak terdapat CCTV. Jika CCTV memergoki Gio yang bicara pada Yukiya dengan Gestur mengintimidasi, ia kawatir kalau beberapa pihak akan mengira kalau Gio tengah merundung adik kelasnya.
“Buat ngasih pelajaran… mereka anak anak yang suka nge bully kak Ivana, juga bikin gossip nggak jelas soal kak Julia kan?”
“Apa lo perlu berbuat sejauh itu? ngusik murid kelas S, artinya ngusik orang orang yang ada dibelakang mereka juga. Lo nggak tahu kan kalau mereka anak anak pejabat atau pengusaha yang paling berpengaruh di bellkarta? Apa lo tahu, gimana reaksi komite kalau tahu hal ini nyebar dikalangan siswa? Reputasi sekolah ini bisa anjlok kalau murid kelas S ketahuan ngelakuin hal illegal kaya gini” Gio berusaha menjelaskan konsekuensinya pada Yukiya.
“Tahu kok, emang nya gue bakal takut Cuma gara gara mereka anak dari orang paling berpengaruh di bellkarta.”
Gio menatap Yukiya tajam. Entah perkataan seperti apa yang bisa membuat bocah dihadapannya ini mengerti.
Yukiya menghembuskan nafas panjang, memecahkan kesunyian diantara keduanya.
“Oke, kak Gio nggak usah khawatir. Gue juga udah nyari tahu latar belakang mereka. Orang tua mereka ternyata punya jabatan yang lumayan tinggi di LightUs Company. Mereka memang bukan dari kalangan pengusaha, pejabat, atau orang penting lain nya, tapi gue bakal take down artikel nya, toh artikel itu pun Cuma gue pajang di satu tempat, yaitu di mading entrance hall. Anggap aja ini shock therapy buat orang orang yang ngusik kak Ivana, atau siapapun yang berharga buat gue”
Yukiya mencondongkan tubuhnya, dan mendekatkan bibirnya ke telinga Gio.
__ADS_1
“Kalo lo nggak bisa jagain kak Ivana, biar gue yang jagain dia.”
***