Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Denial


__ADS_3

“Tapi, lo bukan mati karena hal itu. kita semua selamat karena tepat sebelum kita loncat, Julia mergokin kita. Setelah hari itu, Elvira… ngejalanin proses Catharsis. Lo dipindah ke fasilitas kesehatan lain. sebulan setelah kejadian itu, gue diizinin buat lanjut sekolah lagi, dan akhirnya jadi murid di SMP Santana bareng Julia.” Alfian mengakhiri ceritanya.


“Terus, gue matinya kenapa?” tanya Luciel bingung. “setelah dipindah ke fasilitas kesehatan lain, apa lo udah nggak pernah denger kabar lagi tentang gue? atau jangan jangan… gue mati karena jadi kelinci percobaan buat proyek tertentu?” Luciel berspekulasi.


“Nggak ada bukti konkrit soal kematian lo. terus terang, segala hal tentang lo itu masih misteri. Dan asal lo tahu… lo itu terdaftar sebagai murid disini, diangkatan gue. lo masuk lewat jalur rekomendasi khusus. Gue tahu karena gue pernah ngejabat sebagai ketua The hive.”


Eric tampak terkejut ketika mengetahui bahwa Luciel si anak hilang ternyata merupakan murid dari jalur rekomendasi khusus.


“Yang ngerekomendasiin Luciel, siapa kak? Orang yang ngerekomendasiin dia mungkin tahu banyak soal dia kan?” ucap Eric yakin.


Alfian menghela nafas panjang begitu mendengar pertanyaan Eric.


“Yang ngerekomendasiin Luciel itu, bokap lo”


***


Sambil duduk menghadap tumpukan buku diatas meja belajar nya. setelah mengerjakan tugas tugas nya, Eric banyak menghabiskan waktunya untuk berpikir. Semua kejadian aneh yang ia alami belakangan ini selalu berkaitan dengan sang ayah. Ia tahu benar, alexander Gildereich memang punya tujuan tertentu ketika menyuruhnya untuk pulang dari Amerika. Kalaupun ia menanyakan hal itu secara langsung, Alex bukanlah tipe orang yang akan memberikan jawaban begitu saja pada Eric.


Tapi, semua petunjuk yang ada malah membuka pintu menuju misteri lain. seolah semua itu mengarah pada sesuatu yang besar, suatu hal yang mungkin tidak akan bisa dihadapi oleh murid SMA biasa.

__ADS_1


Faktanya, bahkan Eric maupun orang orang yang terlibat dalam scenario ini memang bukan murid SMA biasa. keberadaan Esper dan Sub Esper di Santana, murid murid dari jalur rekomendasi khusus dengan data diri tak lengkap, Pandora Association, murid yang hilang. Bagaikan jarring laba laba, Eric yakin kalau semuanya memang terhubung.


Ditengah lamunan itu, tiba tiba Eric mendengar suara bel pintu berbunyi. Ia langsung bangkit dari tempat nya duduk dan berjalan menuju balkon. Dari balkon, ia dapat melihat seorang gadis tengah berdiri di pintu masuk utama. Gadis itu, tak lain adalah Janetta. Ia datang sambil membawa tumpukan kertas yang dijinjing di dalam tote bag berwarna hitam. Tak lama kemudian, salah seorang pembantu membukakan pintu dan mempersilahkan Janetta untuk masuk.


“Gue seratus persen bakal protes kalau itu tugas tugas baru yang harus gue kerjain” ucap Eric seraya meninggalkan balkon.


***


“Kak Janetta kok ada disini?” tanya Ivana begitu tak sengaja bertemu dengan Janetta di ruang tamu.


“Saya ditugaskan untuk menjadi guru sementara untuk eric, karena orang yang biasa mengajar Eric tengah ada urusan” Janetta menjelaskan sesingkat mungkin.


“Udah dari kapan?” tanya Ivana penasaran.


Tak lama kemudian, Eric tiba diruang tamu sambil membawa setumpuk kertas berisi LKS yang menjadi tugasnya beberapa hari ini.


“Kak Janetta, kok nggak ngabarin dulu sebelum datang?” tanya Eric begitu tiba dihadapan Janetta.


“Saya tidak tahu kontak kamu. selain itu, saya juga datang sesuai jadwal. Jadi, tidak ada masalah kan?” Janetta beralasan.

__ADS_1


“Nggak masalah sih. tapi barangkali ada apa apa, gimana kalau kita tukeran kontak?” Eric mnegeluarkan ponselnya. Ivana tersenyum mendengar ucapan Eric. ini kesempatan yang bagus untuk menyelidiki soal The core. Mungkin saja ada sesuatu yang bisa didapat jika ia mengetahui nomor kontak Janetta. Sudah menjadi kebiasaan umum kalau nomor ponsel biasa digunakan sebagai bagian dari verifikasi ketika hendak mendaftarkan akun di internet.


Eric menatap Ivana, dan memasang senyum juga. Tampaknya, mereka sudah sepemikiran.


“Maaf, saya tidak bisa memberikan kontak saya ke sembarang orang. Saya juga tidak menyimpan kontak orang lain selain Daniel. tapi, kalau kamu memberitahu saya nomor kontak mu, saya pasti akan langsung mengingat nya” Janetta menolak.


“Tapi… kadang gue penasaran, lo sama Daniel emang sama sama dateng dari Vatikan bareng. Tapi… hubungan kalian apa? sodara kah? Nggak… lo sama Daniel Cuma beda umur beberapa bulan. Cuma temen kah? Tapi, kayak nya lebih dari itu” tanya Ivana penuh selidik.


Janetta tak menjawab pertanyaan itu. ia hanya menatap lurus kearah Ivana dengan ekspresi datar, Kemudian melirik jam tangan nya.


“Eric, sudah jam tujuh lewat lima menit. Bukankah kita akan terlambat untuk sesi belajar?” gadis itu mengalihkan pembicaraan.


“Lo… ngalihin topic ya?”


“Perpustakaannya di lantai tiga. Gue biasa belajar disana. Ayo, ikut gue” ucap Eric sambil menunjukan jalannya pada Janetta.


“Oi, pertanyaan gue belom dijawab!” protes Ivana.


“Lanjut nanti aja deh kak, kalo sesi belajar gue nggak dimulai sekarang, nanti selesai nya bakal lebih malem” ucap Eric. Ivana tampak agak kesal mendengar hal itu, tapi alasan Eric ada benarnya juga.

__ADS_1


“Kalo gitu, gue ikut ke perpustakaan” ucap Ivana seraya mengekor Eric dan Janetta dari belakang.


***


__ADS_2