Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
History of The Hive (1)


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu. dan, entah bagaimana… tak pernah sekalipun Ivana mendengar kabar tentang El diablo. Semua berjalan normal, Yukiya sudah keluar dari rumah sakit, ia bahkan berhasil lulus Ujian nasional dan dinyatakan siap untuk mulai mengenyam bangku pendidikan SMA. padahal Ivana sendiri bahkan masih duduk di kelas tiga SMP. Bagaimanapun, Yukiya memilih untuk menunda pendidikan SMA nya. ia tak ingin memiliki jarak usia yang terlampau jauh dari teman teman SMA nya kelak. Ia benci diperlakukan seperti anak kecil, dan Ivana dapat memahami hal itu.


Selain itu, tak ada lagi kabar tentang Gio.


Regina Gildereich hanya memberitahu Ivana kalau pemuda itu diberangkatkan ke Vatikan, karena seseorang bersedia mengadopsi nya.


“Pokok nya, dia baik baik saja. Orang orang dari Pandora Association akan mengurus nya dengan baik disana.”


Untuk apa dan kenapa Gio ditawari untuk menjadi Sub Esper, Ivana tak pernah tahu.


Pada akhirnya, disinilah ia, kembali mengenyam bangku pendidikan setelah membolos selama setahun. Syukurlah Santana Junior Highschool masih mau menerima nya sebagai murid. (dengan campur tangan Regina tentu saja). Walau sudah banyak tertinggal, Ivana bersedia untuk belajar lagi. Seperti murid normal.


“Heiii~ bangku di sebelah sini masih kosong ya?”


Seorang perempuan perambut kecoklatan menghampiri nya.


“Oh kenalin, nama Gue Julia. Lo?” gadis itu mengulur kan tangan nya,hendak berjabat tangan dengan Ivana.


“nama gue Ivana. Ivana Isadores” Ivana menerima jabat tangan dari gadis itu. Julia menunjukan ekspresi terkejut begitu mendengar nama gadis di hadapan nya.


“Oh… jadi lo Ivana?” gadis itu mendudukan diri nya di samping bangku Ivana. “gue denger, lo skip class setahun ya? Eh… katanya lo gabung sama gangster juga. Itu beneran nggak sih? gue Cuma denger denger doang soal nya” tanya Julia kepo.


“Itu bukan urusan lo” jawab Ivana ketus.


“Emang bukan urusan gue sih, Cuma kepo aja. tapi apa lo nggak keberatan kalau rumor itu terus terusan kesebar. Kalo lo nggak ceritain duduk permasalahan nya—“


“Julia…” seorang anak laki laki memotong pembicaraan itu. “kalo Ivana nggak mau nyeritain, ya jangan maksa dong. Lo kepo banget sih sama urusan orang lain”


Pemuda itu mengambil tempat duduk tepat di depan bangku Ivana.


“Hai, nama gue Alfian. Mau tukeran tempat duduk gak? Gue pengen banget duduk di pojok kelas” pinta nya.


“Nggak. Gue juga suka tempat di pojokan gini” tolak Ivana.


“Oh… oke. Julia, mau tukeran ama gue nggak? Gue pengen duduk di pojok kelas”


“Terus, lo duduk sebangku sama Ivana? lo pikir gue nggak bakal cemburu apa?”


“Ya maaf…”


Walau Ivana ketus dan sulit ditebak. Alfian dan Julia tetap bersedia untuk menjadi teman nya. bersama mereka, untuk pertama kali nya Ivana menjalani persahabatan normal layak nya anak sekolah pada umum nya.


Satu tahun penuh kedamaian berlangsung.


Hingga akhirnya, di Santana Senior High school…

__ADS_1


Gio kembali.


***


“hei, lo masih hidup ternyata” ucap Ivana setelah satu tahun lebih tak bertemu dengan pemuda yang pernah menjadi anak buah nya itu. dari segi penampilan, pemuda itu sudah cukup banyak berubah. Sekarang, Ivana harus lebih mendongakan kepala nya untuk bertemu mata dengan Gio. Selain itu, pembawaan nya juga lebih tenang. “lama nggak ketemu. Lo masih bisa bahasa indonesia? Atau gue harus ngomong pake bahasa itali?”


“Gue masih inget bahasa Indonesia kok, jangan khawatir” ucap pemuda itu. “gimana kabar lo? Masih di kejar kejar El diablo?”


Ivana menggelengkan kepala nya.


“Sejak lo berangkat… gue belom pernah ketemu anak El diablo lagi. Gue juga udah nggak pernah denger nama mereka lagi.”


“Aneh… El diablo bisa ngilang kaya ditelen bumi gitu”


“Dari pada itu… gue lebih tertarik sama cerita lo selama di Vatikan. Disana ngapain aja? apa sekarang lo udah jadi Sub Esper?” tanya Ivana penasaran. Gio hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.


“Itu rahasia”


“Rahasia lo bilang?”


“Yup, rahasia.”


“Jadi lo nggak bakal cerita?”


“Nggak”


“Kalo gitu, gue tes aja langsung. Apa lo udah berubah jadi monster kaya gue, atau masih Gio yang dulu”


Ivana melayangkan pukulan bertubi tubi, dan semua berhasil di tangkis oleh Gio. Apa ini bukti kalau Gio telah menjadi Sub Esper? Apa kemampuan yang Gio miliki sama seperti dirinya.


“Ivana~ ke kelas yuk, kita cari bangku di pojokan lagi” teriak Alfian sambil mencari gadis itu hingga ke belakang sekolah. Ia memergoki Ivana tengah berkelahi dengan seseorang.


Ivana langsung menghentikan kegiatan nya, ketika Alfian memergoki nya berkelahi di hari pertama sekolah.


“Lo lagi berantem?” tanya Alfian polos. “oh, maksud gue… lanjutin aja berantem nya. gue balik ke kelas duluan, ntar tempat duduk lo gue tandain” ucap Alfian salah tingkah.


Ivana menghela nafas panjang.


“Gue nggak lagi berantem kok. Yuk balik ke kelas”


Gadis itu berjalan meninggalkan Gio dan menghampiri Alfian.


“Kita bahas lagi nanti, gue nggak mau nyari masalah di hari pertama sekolah”


***

__ADS_1


“Kalian dari mana aja sih? pagi pagi udah gilang” ucap Julia kesal, begitu Alfian dan Ivana menghampiri nya.


“Yang tiba tiba ngilang itu Ivana. dan lo tahu? Pagi pagi gini gue udah mergokin dia berantem di belakang sekolah” ucap Alfian jujur.


“Gue nggak berantem. Cuma… nyapa temen lama” Ivana beralasan.


“Yaudah lah… by the way, gue udah nandain tempat duduk buat kalian. Berkat gue, kita dapet tempat duduk di pojokan kelas lagi. Berterima kasih lah ke gue karena Gercep” ucap Julia bangga.


Ivana dan Alfian pun menempati tempat duduk yang sudah ditandai oleh Julia. Urutan nya benar benar sama seperti di SMP Santana dulu. Julia dan Ivana duduk bersebelahan. Tepat satu bangku di depan nya adalah tempat duduk Alfian, dan tempat duduk kosong disebelah nya yang bisa diisi siapapun.


Siapapun bahkan jika orang itu adalah Gio.


Pemuda itu duduk tepat di samping Alfian dan secara natural berbaur dengan murid lain nya. oh, Ivana hampir tak mengenali pemuda yang dapat bersosialisasi dengan baik ini. Gio yang dulu hanya mengikuti nya kemana mana dan akan berbicara jika diperlukan. lihat lah Gio yang sekarang, ia bahkan mengambil inisiatif untuk berkenalan dengan Julia dan Alfian.


“Nama gue Gevanni Gio” pemuda itu memperkenalkan diri.


“Tunggu bentar, gue belom pernah denger ada nama Gevanni di nama lo. Jadi itu nama asli lo?” tanya Ivana heran.


“Itu nama gue setelah di adopsi”


“Jadi, lo di adopsi? Orang tua asli lo kemana?” tanya Julia. Lagi lagi Kepo.


“Julia… bisa nggak sih sehari aja nggak nanya hal hal yang sensitive. Lo tuh selalu kepo sama hal hal yang bukan urusan lo” lagi lagi Alfian harus mengingatkan.


“Nggak apa apa kok. Itu bukan hal yang terlalu sensitive buat gue. tapi kalo harus ngejelasin semua nya… bakal terlalu panjang. Intinya, gue kabur dari rumah dan sekarang di adopsi sama seseorang” Gio menjelaskan secara singkat.


“Kabur dari rumah nya kenapa?”


“Juliaaaa!!” Alfian segera bangkit dan membekap mulut kepo Julia. “nggak usah repot repot dijawab. Ni anak kepo nya emang udah nggak ketolong”


“Oke…” Gio tertawa melihat tingkah Julia dan Alfian.


***


Jam istirahat dimulai. Mr.Arthur meminta Gio untuk segera pergi ke ruangan nya. sesampai nya disana, ia juga bertemu dengan Alexander Gildereich. Pemilik yayasan Saint Foundation yang menaungi Santana Senior Highsschool.


“Sekolah ini akan membentuk dewan keamanan siswa yang disebut The hive. ini sebuah tanggung jawab yang besar, saya membutuhkan orang yang benar benar spesial untuk mengemban tanggung jawab sebagai ketua.” Alex membuka pembicaraan. “tapi, selain kamu… tentu ada kandidat lain. dia adalah Esper sekaligus Sub Esper seperti kamu.”


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar.


“Seperti nya itu dia. silahkan masuk”


Pintu terbuka. Seorang anak laki laki masuk ke dalam ruangan.


“Alfian?”

__ADS_1


***


__ADS_2