Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Forgiveness


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Elvira dibawa ke rumah sakit. Masa Orientasi siswa sudah usai, jam pelajaran regular akan diberlakukan mulai besok. Regina memang menyuruh Eric untuk meluruskan permasalahan nya dengan Elvira jika keadaan Elvira sudah membaik. Tapi, ia tak pernah diberitahu kapan waktu yang tepat itu tiba. Jadi, sore ini ia memutuskan untuk pergi ke tempat Elvira lagi.


            Suasana apartemen sepi seperti biasanya. Hanya terdengar suara hujan yang turun deras di luar apartemen. Padahal barusan, saat ia pergi ke sini, hujan masih gerimis.


“Elvira…” Eric mengetuk pintu apartemen itu berkali kali. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu di buka dari dalam. Ia tampak terkejut melihat penampilan Elvira. Kepala nya di balut perban, telapak tangan nya kali ini tdak di tutupi sarung tangan. Untuk pertama kalinya, Eric melihat secara langsung tangan Elvira tanpa sarung tangan yang biasa ia kenakan setiap hari. Terdapat banyak goresan disana, baik luka goresan baru maupun lama terlihat bertumpuk. Beberapa plester terlihat membalut luka baru di jari jemari gadis itu. Mau bagaimana lagi, perbuatan mengiris tangan dan jemari nya itu sudah dilakukan selama bertahun tahun. Tangan penuh luka itu… tampak asing bagi Eric.


            Tanpa sadar, Eric sudah menatap Elvira selama beberapa detik tanpa mengatakan apapun, membuat Elvira agak Risih.


“mundur…” ucap Elvira datar.


Sepertinya ini bukan waktu yang tepat, Eric langsung berbalik hendak meninggalkan tempat itu ketika tiba tiba Elvira memanggil nya.


“gue kan suruh mundur, bukan pergi” ucap gadis itu.


“oh… hahaha…” Eric tertawa Awkward. Elvira memperhatikan Eric. jaket yang ia kenakan tampak agak basah terkena gerimis hujan saat pemuda itu datang kesini. Begitu pun rambutnya, dan Eric sama sekali tidak tampak membawa payung.


“lo hujan hujanan?” tanya Elvira penuh selidik.


“barusan pas gue kesini masih gerimis kok…” Eric beralasan.


“tunggu sebentar…” Elvira masuk kedalam apartemen nya, dan beberapa saat kemudian, kembali lagi sambil membawa handuk kecil Dan jemuran kecil.  “keringin rambut lo dan gantung jaket basah lo disini. Kalo lo sampai sakit, tante Regina juga yang repot…” Elvira beralasan.


“emm… gabisa ya jemur didalem aja?”


“nggak, nanti bau jaket nya nyebar di ruangan gue”


“lo se najis itu sama gue?”


Elvira mengambil jeda beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


“iya” ucap nya singkat sambil menatap lurus kearah Eric. normal nya, siapapun akan tersinggung dengan perkataan itu. Tapi Eric sudah tau situasi nya dari citra kilas balik yang ia saksikan lewat memori Elvira, juga penjelasan Alfian mengenai kondisi gadis itu.


“oke…” ucap Eric kemudian. Sesuai instruksi Elvira, pemuda itu menanggalkan jaket nya dan menaruh nya asal di atas jemuran kecil yang disediakan Elvira, kemudian mengeringkan rambutnya dengan handuk pemberian gadis itu.


“kalo asal taro gitu gak bakal kering…” Elvira membenarkan posisi jaket itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya untuk meminimalisir kontak dengan jaket Eric. lagi lagi,Eric tak bisa mengalihkan pandangan nya dari jemari Elvira. Ada jejak darah pada perban yang dikenakan Elvira. Apa gadis ini tidak bisa merasakan sakit?


“lo… gak berniat buat mati muda kan?” kata kata itu tiba tiba terlontar dari bibir Eric tanpa ia sadari. “kalo lo terus terusan ngelakuin hal kaya gini gue…” Eric tak melanjutkan kata kata nya.


“apaan sih? Lo gak tahu apa apa… jadi gak usah ikut campur”


            Dan beberapa saat setelah melontarkan kata kata itu, Elvira baru ingat kalau Eric sudah menerobos masuk ke dalam ruang ingatan nya. menyebut pemuda ini sebagai orang yang tidak tahu apa apa tentang dirinya, rasanya kurang tepat.


“oh, sorry… lo kan udah ngeliat masa lalu gue seenak jidat” Elvira meralat kata katanya, setengah menyindir.


“dan siapa yang tahu, udah berapa kali lo baca pikiran gue?” Eric balik menyindir.


Elvira memutar bola matanya, kesal.


“nggak…”


            Elvira tahu, ia sudah bersikap agak kasar. Terus terang, sebenar nya ia masih kesal. Ia tak menyangka kalau Eric punya kemampuan untuk melihat masa lalu nya. dan ia benci untuk diingatkan kembali pada kejadian kejadian yang ingin ia kubur jauh dalam sudut hati nya. tapi Eric tidak sepenuh nya bersalah. seseorang, sudah mengorek rasa tidak aman dalam diri Eric, memaksa pemuda itu untuk menunjukan sisi gelap nya. sisi gelap manusia, bukan hal baru bagi seorang Elvira yang terbiasa membaca pikiran orang lain.


“gue mau keluar…”


            Elvira kembali ke dalam apartemen nya, dan kembali sambil membawa dua buah payung.


“kalau mau ikut, lo pake payung ini. Dan jaga jarak dua meter dari gue.” Elvira memberi peringatan.


Eric dapat menangkap maksud Elvira, kesempatan ini mungkin bisa ia manfaatkan untuk meluruskan permasalahan nya dengan gadis itu. Jadi tanpa pikir panjang, ia pun mengikuti gadis itu.

__ADS_1


***


            Hujan dengan intensitas sedang membasahi kota. Jalanan beraspal yang dilalui kendaraan menjadi licin karena basah. Orang orang sibuk menghindari hujan dan memilih menunggu hujan reda di mall, restaurant, atau emperan toko terdekat.


“katanya… lo kena Overwritten ya?” Elvira membuka pembicaraan.


“lo tau dari mana?” Eric balik bertanya. Tangan kanan nya memegang payung, sementara tangan lain nya menenteng tas berisi barang belanjaan milik Elvira. Baru pertama kali ia diperlakukan seperti ini. Bahkan barang belanjaan milik ibu nya sendiri saja tak pernah ia bawakan karena tugas itu sudah diambil alih oleh supir pribadi mereka.


“gue absen sekolah, bukan berarti absen main hape kan? Kak Alfian yang cerita…” Elvira mejelaskan. “jadi, gimana rasa nya?”


“takut… rasanya, gue bisa ngerasin rasa takut yang lo rasain selama ini” jawab Eric. “gue gak bisa bayangin… lo ngalamin itu semua pas masih kecil.”


            Rasa bersalah kembali memenuhi diri Eric. seandainya pak Artha tidak melindungi diri nya dan tetap hidup, ibu Elvira tak akan mengalami depresi dan bunuh diri. Elvira pun tak akan mengalami semua kejadian itu.


“Mau gimana lagi kan… semua itu udah lewat.”


Mereka tiba di persimpangan jalan raya, lampu merah untuk pejalan kaki menyala. Jadi Elvira dan Eric menghentikan langkah kedua nya.


“lo juga nanya pertanyaan yang aneh… lo bilang, apa gue punya rencana buat mati muda?” Elvira mengangkat tangan nya, menunjukan tangan penuh bekas luka sayatan dan plester itu pada Eric. “ini bukti kalau apapun yang terjadi, gue bakal mencoba buat bertahan hidup. Sejauh ini, gue belom nemuin metode yang tepat buat ngatasin masalah di kepala gue. gue gak bisa ngebiarin semua halusinasi dan suara suara gak jelas yang nyuruh gue mati itu tetep ada di kepala gue. Tiap kali trauma gue kambuh, gue gak bisa terus terusan panic gak jelas. Jadi gue nyayat tangan gue supaya semua gangguan itu reda. Gue gak bermaksud buat nyakitin diri gue sendiri atau mati muda.” Elvira mengatakan semua itu dengan tegas. Ketika menatap mata Elvira, eric menyadari, bahwa itu


bukan mata orang yang mengalami keputus asaan. Itu mata seseorang yang telah melewati berbagai hal buruk dan memilih untuk hidup. Mata orang yang masih hidup.


            Dan tiba tiba, Eric merasa lega. Seolah sebagian beban yang ia pikul di pundak nya selama ini hilang entah kemana. Bisa dibilang, kejadian itu telah membebani nya selama ini. ia berusaha membayar pengorbanan orang orang yang mati untuk nya dalam kejaian itu dengan menjadi anak penurut, dan sebisa mungkin memenuhi ekspektasi orang orang disekitar nya terus menerus. Walau berkali kali ia diyakinkan bahwa kejadian itu bukan salah nya, rasa bersalah tetap tak bisa ia hindarkan. Tapi mendengar perkataan Elvira, membuat nya merasa dimaafkan.


“masalah kita udah beres kan, jadi ini terakhir kali nya gue ngeliat lo ketok ketok pintu apartemen gue dengan muka bersalah. jangan datang lagi. Lo paham?”


Lampu merah berubah hijau, dan kedua nya kembali melanjutkan perjalanan menuju bangunan apartemen tempat Elvira tinggal.


“gue gak janji kalo gue gak bakal datang ke tempat lo sih… semua gedung apartemen itu kan punya bokap gue, masa lo ngelarang anak yang punya apartemen ngedatengin property punya bokap nya sendiri?”

__ADS_1


Eric tersenyum puas.


***


__ADS_2