
Eric menatap gadis dihadapan nya dengan tatapan tak percaya. Tidak mungkin, orang yang bahkan tinggi badan nya tidak sampai 160 cm ini mengalahkan orang yang menang atas pertarungan melawan satu klub hanya dalam waktu semalam. Apa Alfian hanya melebih lebihkan?
“itu cerita lama, kalau gue tau bakal gini jadi nya… gue pun nggak mau berurusan sama Prince. Tapi…” Ivana mengambil jeda beberapa saat sebelum melanjutkan perkataan nya.
“sama kaya lo, gue pun punya tujuan tertentu gabung sama klub ini”
“oh, jangan bilang kalo lo suka sama Prince?” Eric menebak.
“ya enggak lah ***! Please, jangan berspekulasi yang nggak nggak”
Ivana berbalik, hendak kembali ke Arena meninggalkan Alfian dan Eric.
“gue izinin kalian masuk. Tapi dengan satu syarat.” Ivana menghentikan langkah nya dan menengok ke arah Alfian.
“kalau ada apa apa sama Eric, lo yang gue tuntut”
***
“gue penasaran, kenapa Ivana mendadak over protektif banget sama lo ya….” Ucap Alfian begitu kedua nya selesai diperiksa oleh Gio dan dipersilahkan untuk memasuki area gelanggang.
“mana gue tahu… pertama kali gue ketemu dia, gue udah kena bantingan malah”
“apa ini yang di maksud sebagai cinta pada pandangan pertama?”
Eric menendang paha belakang Alfian, membuat pemuda dengan pakaian serba warna pastel itu mengaduh kesakitan.
“jangan ngaco. Ini kan bukan sinetron”
__ADS_1
“selama dia cewek tulen dan lo cowok, kemungkinan kaya gitu tetep ada” Alfian tampak nya tidak kapok menggoda Eric. Eric hanya diam tak menanggapi perkataan Alfian lagi. Matanya kini tertuju pada Arena di tengah gelanggang. Ivana naik ke atas panggung sebagai pembawa acara. Bahkan kehadiran nya di atas panggung saja, berhasil membuat pandangan seluruh penonton tertuju padanya.
Bagaimana mungkin seluruh perhatian tidak tertuju pada nya. menurut standar yang beredar, Ivana itu cantik. Dia punya dua bola mata biru jernih khas orang Rusia, kulit putih bersih, dan rambut pirang yang jarang ditemui di asia. Dengan sedikit usaha, Eric yakin gadis itu bisa menjadi model majalah mingguan. Tapi entah kenapa, ada sesuatu dalam diri gadis itu yang memaksa nya untuk tetap waspada. Entah karena ia pernah kalah dari Ivana, atau ada hal lain yang memang membuat mekanisme pertahanan diri dalam Diri Eric untuk bersiaga.
“oke, sebelum memulai acara hari ini, kami ingin memberi pengumuman penting. Prince yang di jadwalkan buat tanding hari ini, nggak bisa datang karena ada kegiatan lain. karena itu, sebagai perwakilan El Diablo, saya akan mengajukan diri saya sendiri”
Penonton bersorak, sebagian kecewa karena orang bernama sandi Prince tak bisa hadir. Sebagian lagi senang karena bisa melihat Ivana diatas panggung lebih lama.
“oke, List pertandingan akan dibacakan oleh Gio sebagai perwakilan dari dewan kemanan Santana Senior Highschool The Hive”
Gio naik ke atas Arena membawa secarik kertas berisi daftar pentandingan yang akan dihelat malam itu.
“tunggu, gue mau protes sebentar” ucap Gio begitu melihat daftar pertandingan yang ada di tangan nya. Gio meminta Ivana untuk turun ke belakang Arena.
daftar pertandingan itu adalah milik El Diablo, dan Gio baru melihat nya tepat setelah Ivana memberi nya aba aba untuk naik ke atas panggung. Jadi ia terkejut, begitu mengetahui kalau pertandingan hari itu nyaris semua nya akan dijalani oleh Ivana seorang diri.
“ya mau gimana lagi? Prince kan masih ada sesi pemotretan sampai tengah malem. Mau nunggu dia balik? Jadwal pertandingan nggak bisa di tunda loh… bahkan slot buat minggu depan udah penuh” Ivana beralasan.
“oke, gue tau lo kuat… tapi kalau sampai ada apa apa—“
“ada Alfian” potong Ivana. “itu sebab nya gue bawa Alfian. Supaya nggak terjadi hal hal yang nggak diinginkan”
Gio berpikir sejenak. Ia masih menimbang apakah pertandingan ini harus dilanjutkan atau tidak.
“Prince pasti punya pertimbangan sendiri, kenapa pertandingan hari ini dipercayakan ke gue… jangan kebanyakan mikir. Lo nahkan nggak lebih pinter dari dia”
Ivana menepuk pundak Gio, berusaha meyakinkan pemuda itu agar melanjutkan Acara yang tertunda oleh pembicaraan tadi. Ivana kembali naik ke Arena bersama Gio.
__ADS_1
“oke, maaf atas gangguan nya barusan. Sekarang pertandingan pertama akan dimulai. Silahkan…”
Gio membuka catatan nya dan mulai membacakan jadwal pertandingan pertama.
“pertandingan pertama, El Diablo sebagai perwakilan Santana Senior Highschool melawan The Busters”
Seorang laki laki yang mengenakan seragam SMA naik ke Arena. Tubuh nya cukup Atletis. Tinggi badan nya mungkin lebih dari 170 cm. Ivana melepas Hoodie yang ia kenakan, bersiap untuk menghadapi lawan nya.
“oke, taruhan nya?” tanya Gio pada anak dari The busters itu.
“kalau The Busters menang, kami bakal mungut jatah mingguan ke anak Santana.” Jawab nya percaya diri.
“kalau El diablo menang, nggak ada satu pun anak The busters yang boleh menginjakan kaki di wilayah El diablo” balas Ivana yakin.
Setelah diberi aba aba, pertarungan pun dimulai.
Pemuda dari the busters itu langsung menyerang, berkali kali melancarkan pukulan yang berhasil di hindari Ivana, kemudian berputar dan melancarkan tendangan ke perut, membuat tubuh Ivana terdorong ke pembatas Arena.
Gio mengernyit, tidak mungkin itu tidak terasa sakit. Kalau hal seperti ini sudah terjadi dalam interval beberapa detik, bagaimana mungkin ia tidak khawatir. Tapi Ivana tak tampak kesakitan. Ia kembali memasang kuda kuda guna menghadapi serangan selanjut nya. kali ini, hook langsung kearah jaw nya, dan Ivana lagi lagi menghindar. Hanya dalam jangka waktu sepersekian detik, Ivana melancarkan High kick super cepat yang mengenai rahang kiri pemuda itu dengan telak. pemuda itu tersungkur dan berusaha bangkit, tapi kembali jatuh. Serangan Ivana berdampak pada bagian tubuh yang mengatur keseimbangan. Jika bagian itu terkena dengan telak, maka akan sulit untuk bangun dan melanjutkan pertandingan.
Penonton bersorak, satu lawan berhasil ditumbangkan. Gio bernafas lega, ternyata tak butuh waktu lama bagi seorang Ivana untuk menumbangkan berandal SMA biasa seperti The Buster. Sementara itu Eric yang menyaksikan dari bangku penonton tampak kagum. Itu tendangan yang sama seperti yang ia hadapi beberapa hari lalu saat demo eskul. Syukurlah waktu itu ia berhasil menghindar. Kalau tidak, nasib nya mungkin akan sama seperti anak yang kalah di atas Arena itu.
Lain kali, ia tak boleh meremehkan Ivana, walau postur dan penampilan nya tampak tidak meyakinkan, paras nya benar benar menipu.
“Next—“
***
__ADS_1