Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
An Innocent Sinner (2)


__ADS_3

Pertarungan sengit itu belum berlangsung lama, tapi luka yang diderita Gio dan Ivana tampak… parah.


Bersembunyi diantara barisan penonton yang mayoritas mengenakan masker, topeng, dan penutup wajah lain nya, Janetta mulai harap harap cemas. Pertarungan ini sungguh diluar perkiraan nya. sedari tadi, ia sudah menggunakan seluruh kemampuan telepatinya untuk menjangkau Gio, tapi tak ada hasil nya.


darah segar menetes dari hidung nya. kepalanya benar benar terasa sakit. Gadis itu menyeka darah yang jatuh dengan pergelangan tangan nya, tiba tiba seseorang menyerahkan sapu tangan handuk pada nya.


“Nggak usah di terusin kak… gak ada gunanya” ucapnya tenang.


Janetta cukup terkejut. Tapi ia sama sekali tak mengenali pemuda dengan hoodie hitam yang mengenakan masker Scuba dan kacamata itu.


Sebelum tetesan darah lainnya mengotori tangan, Janetta langsung menerima sapu tangan handuk yang diulurkan pemuda itu dan menyeka darah nya.


“Bentar lagi rencana kita berhasil. Tinggal hitung mundur aja” lanjutnya.


“Kamu siapa?” tanya Janetta sambil berusaha menyeka hidungnya dengan sapu tangan yang baru saja ia terima. “Dari mana kamu tahu soal rencana kami?”


Walau separuh wajah pemuda itu ditutupi masker, Janetta yakin betul kalau pemuda itu tengah tersenyum dibalik kain yang menutup separuh wajahnya tersebut.


“Kita udah kenalan loh kak, saya ini calon anggota The core yang baru”


Belum sempat Janetta menunjukan keterkejutan nya, tiba tiba penonton menjadi riuh tatkala King yang sedari tadi menyaksikan jalannya pertandingan, mendadak jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaran.


“Nah kan, apa gue bilang”


***


            Eric dan Vira tiba di sebuah pantai dengan deburan ombak yang cukup kuat. satu satunya suara yang memecah keheningan di tempat ini, ternyata berasal dari pantai dihadapan nya. Vira melangkahkan kakinya ke garis pantai, dan menyentuhkan kakinya ke air laut yang dangkal. Cahaya rembulan keperakan yang benar benar terang menjadi satu satunya penerangan yang mereka miliki.


“Yup, aku yakin ini tempat nya” ucap gadis itu setelah bermain air beberapa saat. “Archein King ada disini.”

__ADS_1


“Lo yakin? Tahu dari mana kalau tempat ini Archeinnya King?” tanya Eric skeptis.


“Feeling?”


Eric langsung menepuk jidat nya, mendengar pernyataann Vira.


“Ayolah, masuk aja… nyari jalur masuk ke Archein itu keahlian aku. Kamu perlu khawatir.” Vira berusaha meyakinkan. Gadis itu menarik Eric untuk melangkah melewati pantai, ketinggian air yang kali ini mereka pijak memang hanya sebatas mata kaki.


“Kamu jalan terus kesana… aku Cuma bisa anter sampai sini” ucap Vira lagi.


“Lo gak bakal ikut masuk ke Archein?” tanya Eric heran. Vira menggelengkan kepalanya cepat.


“Sejak kepribadian aku kebelah dua… kemampuan buat masuk ke Archein jadi miliknya Elvira. selamanya, kami nggak bakal jadi benar benar utuh sebelum salah satu dari kami mati” Vira menjelaskan.


“Banyak yang pengen gue tanyain ke lo… tapi kayaknya ini bukan waktu yang tepat. Kalau kita ketemu di luar nanti, apa gue bisa tanya tanya ke lo?” tanya Eric.


“Aku nggak keberatan. Yang keberatan itu Elvira. tapi, kita bahas itu nanti aja. kamu harus jalan terus ke laut sampai tiba di Archein” Vira memberi instruksi.


Eric melangkahkan kaki nya, semakin jauh dari bibir pantai. Ketinggian air yang semula hanya menyentuh mata kaki nya, mulai naik hingga selutut, sepinggang, dan semakin dalam. Eric menoleh kea rah Vira untuk memastikan bahwa ia mengambil langkah yang benar dengan masuk semakin dalam ke tengah laut.


“Ayo, maju terus ke tengah laut” Vira meyakinkan.


Lama lama, Eric bergerak semakin jauh. Hingga ia melangkah ke tempat yang… terasa tak terjangkau kakinya lagi. Ia menyadari kakinya tak bisa menjangkau dasar. Karena penasaran, Eric mencelupkan kepalanya untuk mengamati kedalaman air tanpa gangguan pembelokan cahaya.


Betapa terkejutnya Eric, ketika mendapati bahwa yang ada di hadapannya adalah palung gelap tak berdasar.


“Gila!! Lo mau gue masuk sini?” sembur Eric begitu menyadari apa yang ada dihadapan nya.


“Eric… kamu mau masuk Archein orang yang udah mati. Kamu nggak berharap tempatnya bakal bagus kaya Archein kak Daniel yang udah di modifikasi sama tangan manusia kan?”

__ADS_1


“Ya tapi… gue… takut” ucap Eric jujur. “gue bukannya phobia kedalaman atau apa… tempat kaya gini buat manusia normal juga pasti bikin takut” Eric beralasan.


“Ini tempat King mati. Sebelum dia dibangkitin lagi pake ritual khusus apalah itu… dia mati disini. Kamu mungkin bakal kena Overwritten lagi. dan kedepan nya, bakal ada banyak hal lebih serem yang bakal kamu hadapin sebagai… Soul Diver.”


Vira melangkah kan kakinya menuju laut, dan mendekati Eric. sesampainya di tempat Eric, gadis itu langsung menyentuh bahu Eric dengan kedua tangan nya.


“Seandainya diri aku utuh, kita pasti bisa hadapin ini sama sama. Tapi buat sekarang, kamu harus masuk ke sana sendirian. Aku bakal nunggu kamu disini, dan kamu nggak perlu khawatir. Semuanya bakal baik baik aja”


Perlahan, dengan gerakan sehalus mungkin, Vira membenamkan Eric ke dalam laut dan mendorong pemuda itu ke dalam palung.


Takut


Eric dapat merasakan ketakutan yang menguasai dirinya. seluruh indera di tubuhnya meneriak kan alarm tanda bahaya.


Massa jenis tubuh manusia seharusnya lebih ringan dari air. Lantas kenapa ia terus tenggelam?


Eric mendapati bahwa di kaki nya, terdapat tambang yang diikat dengan sejenis pemberat, pemberat yang membawanya semakin dalam ke dalam palung. Seperti inikah kematian yang dihadapi king?


Sesak


Air laut mulai memasuki paru parunya, rasa sakit tiada tara mulai membakar tubuh nya.


Rasa sakit itu bukan milik mu


Eric teringat pada perkataan Nathanael saat ia menjalani proses catharsis.


Tempat ini bahkan tidak nyata.


Semakin dalam, pemuda itu akhirnya memasrahkan dirinya dalam lautan imaji yang tengah ia susupi,

__ADS_1


***


__ADS_2