Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Like a beast


__ADS_3

Setelah peserta dari The busters itu di bawa ke luar Arena, penantang selanjut nya pun bersiap. Kali ini seorang pria dengan postur lebih tegap dan badan yang lebih berisi dari penantang sebelum nya. Ivana menatap lawan nya dengan tatapan dingin. Sepertinya, kali ini akan lebih sulit dari sebelum nya.


“lo mau ngambil jeda dulu gak?” tanya Gio sambil menyodorkan botol berisi air mineral pada Ivana. Ivana memberi isyarat pada Gio menyimpan air itu kembali, ia belum butuh minum karena pertandingan baru berjalan beberapa menit.


“gue masih bisa lanjut tapi, gue mau minta tolong sedikit”


Gio mendekati Ivana agar suara gadis itu terdengar lebih jelas diantara suara riuh penonton yang memenuhi gelanggang.


“bawa Alfian ke deket Arena, buat jaga jaga”


***


            Gio berjalan di antara bangku penonton, menuju tempat dimana Eric dan Alfian berada.


“pindah tempat duduk lo? Disini keliatan lebih jelas loh” ucap Alfian begitu melihat Gio menghampirinya.


“Ivana minta lo pindah ke tempat duduk yang deket ke panggung. Lo tau kan maksud nya apa?”


Eric yang mendengar pembicaraan itu menatap Alfian tak paham. Apa maksud nya Alfian akan menggantikan Ivana bertarung di atas Arena?


“oke, gue pindah…” ucap Alfian seraya bangkit dari tempat nya duduk.


“gue ikut” ucap Eric sebelum Alfian meninggalkan tempat duduk nya. Gio menatap Eric beberapa saat, mempertimbangkan apakah orang yang bahkan tak ada kaitan nya dengan El diablo boleh ikut atau tidak.


“oke, lebih gampang jagain lo kalau lo ada di deket gue” ucap Gio kemudian.


“ih…” Eric merinding. Kata kata Gio terdengar agak menggelikan. Menjaga nya dari apa? Kenapa Gio juga sangat protektif pada diri nya?

__ADS_1


“Gio, lo no homo kan sama si Eric?” celetuk Alfian saat ketiga nya bergerak menuju panggung. Gio memilih untuk tidak menanggapi perkataan Alfian. Sia sia saja meladeni ucapan Alfian yang terlanjur ngelantur.


“eh, kalo diem maksudnya—“


***


            Benar saja, pertandingan itu berlangsung lebih alot dari sebelum nya. lawan kali ini lebih tangguh, beberapa kali Ivana harus menyentuh pembatas Arena, berkali kali pula serangan nya masuk tapi tidak cukup untuk menumbangkan lawan nya. tiga ronde berakhir. Ivana masih belum bisa menumbangkan lawan nya.


            “lo yakin, bisa ngalahin yang satu ini?” tanya Gio sambil menyodorkan botol air mineral yang kali ini diterima Ivana. “taruhan nya wilayah loh… kalo sampe ada yang kena palak di Santana dan tembus ke pengurus Yayasan bisa gawat”


            “tau kok” Ivana menenggak minuman di botol hingga bersisa separuh nya.


            “apa perlu gue yang turun tangan?”


            Ivana memutar bola mata nya. mau ditaruh dimana harga diri El diablo jika pertarungan ini diambil alih dewan keamanan siswa? Bukankah justru tujuan keberadaan el diablo adalah untuk menghindarkan Murid biasa dari urusan yang tidak perlu seperti berkelahi?


            “secara fisiologis, jelas gue lebih kuat”


            Ivana bangkit dari tempat nya duduk, bersiap untuk memulai ronde selanjut nya. ia melihat penonton disekitar Arena. Alfian ada disana, tak jauh dari Arena tempat nya bertarung. Begitupun Eric yang sedari tadi mengekor Alfian.


            “asal lo tau aja… yang dari tadi lo liat itu bahkan nggak nyampe seperempat kemampuan asli gue”


            Iris mata biru langit Ivana berkilat, dan kini berubah emas. Ia siap untuk pertarungan selanjutnya.


            “gue justru baru mau mulai serius”


 Eric dapat melihat nya dengan jelas, perubahan warna Iris yang janggal itu.

__ADS_1


            “kak Alfian, lo liat tadi? Iris mata nya berubah warna!” Eric menunjuk nunjuk Ivana di atas Arena. Tapi Alfian tampak tak terkejut dengan perubahan warna mata Ivana yang janggal itu.


            “Eric, Eric… lo nggak berpikir kalau orang spesial itu Cuma kita doang kan?”


***


            Pertarungan kembali di lanjutkan. Ivana langsung menyerang lawan nya. tapi kali ini, tiap serangan Ivana terlihat lebih cepat. Jauh lebih cepat dari sebelum nya. bahkan cara nya menghindari serangan lawan pun tampak lebih lincah. Hanya butuh waktu 20 detik setelah ronde ke empat dimulai bagi Ivana untuk menjatuhkan lawan yang sedari tadi memojok kan nya.


            “yang barusan lo lihat itu adalah kemampuan khusus nya Ivana yang disebut Aetherkinesis. Dia ngendaliin energy yang disebut Aether, dan dipake buat ningkatin kemampuan fisik nya. mulai dari refleks, Agility, power. Lo bisa lihat kan… bahkan orang dewasa sekelas petarung professional pun tumbang dalam waktu singkat. Ini kemampuan yang dia pake buat ngalahin Prince.” Alfian menjelaskan.


            Penantang terakhir memasuki Arena. Seorang pria dewasa yang tak kalah kuat dari penantang sebelum nya. Ivana mengatur nafas nya, berusaha mengendalikan diri. Gio masih berada di atas Arena untuk membaca kan taruhan. Dan kali ini, yang dipertaruhkan adalah keberadaan El diablo sendiri. Jika Ivana kalah, El diablo terpaksa dibubarkan.


            “jadi, dia Esper kaya kita?”


            Alfian menggelengkan kepala nya.


            “orang orang kaya Ivana atau prince… mereka beda dari kita. Mereka disebut sub esper. Gue bakal bahas soal sub esper di pertemuan besok. Buat sekarang, gue harus focus sama pertarungan ini. kalo gue sampe lengah, bukan nggak mungkin hal yang berbahaya bisa terjadi” ucap Alfian, kembali focus pada pertandingan dihadapan nya.


            “ada efek samping dari penggunaan Aetherkinesis. Makin banyak Ivana pake energy Aether, makin kuat insting bertarung dia. Sampe dia sampai di suatu titik dimana dia nggak bisa berenti ngehajar orang dihadapan dia sebelum orang itu tewas”


            Ivana melancarkan serangan. Kali ini, ia langsung melakukan bantingan keras yang langsung membuat pria itu terkapar di lantai Arena. Belum sempat lawan nya bereaksi atas serangan Ivana, gadis itu sudah bersiap melakukan Elbow fist ke arah dada.


Bahaya.


“IVANA, BERHENTI!!”


***

__ADS_1


__ADS_2