Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Break up


__ADS_3

    Rasanya sudah cukup lama Eric tidak menginjakkan kakinya di apartemen ini, hunian sepi penghuni yang hanya diisi oleh seorang gadis penyendiri di lantai tujuh. Eric melihat ke sekeliling.  Proses pembangunan sudah rampung seratus persen, dan lift di gedung dimana Elvira tinggal sudah mulai beroperasi. Dalam waktu beberapa bulan lagi, murid murid Santana yang baru akan menempati tempat ini. dan Elvira… mungkin akan mendapatkan teman baru.


        Lift itu melewati lantai demi lantai hingga tibalah Eric di lantai tujuh. Kamar nomor 88A.


Pemuda itu hendak mengetuk pintu, tapi ia kemudian teringat kalau Elvira tidak menerima pengunjung laki laki. Apa… ia taruh saja kue itu di gagang pintunya?


    Tepat sebelum Eric mengetuk, seseorang tiba tiba sudah membuka pintu dari dalam. Eric mundur beberapa langkah, jika berada terlalu dekat… Eric khawatir kalau Elvira akan berteriak histeris.


    “Eric?” gadis berambut hitam panjang itu tampak agak terkejut. “ayo masuk dulu. Kebetulan banget kamu ada disini.” Gadis itu keluar sambil membawa kantung plastic berisi sampah yang hendak ia buang ke saluran pembuangan.


    “Masuk aja… nggak apa apa kok. kita juga lagi ngerjain tugas” ucap gadis itu santai.


    “Kita?”


    Gadis itu menganggukan kepalanya sebelum menuju tempat pembuangan. Karena sudah mendapat izin, Eric langsung melepas sepatunya dan melangkah masuk ke apartemen Elvira.


    Ini pertama kalinya Eric masuk ke apartemen itu dalam keadaan normal. Semua nya tertata rapid an bersih, tak ada pecahan beling atau perabot yang berserakan. Tapi, bukan itu yang mencuri perhatiannya.


    Mata Eric tertuju pada sosok pemuda yang duduk di depan sofa, dihadapan tumpukan buku buku diatas meja lipat.


    “Yukiya?” Eric menyebut nama pemuda itu.


    “Eric? lo kesini juga ternyata?” ucap pemuda itu sumringah. “lo bawa apa? bawa cake ya?”


    “Lo… ngapain disini?”

__ADS_1


***


    "Julia! Julia!” Alfian masih mengejar Julia, berusaha menyamakan langkah nya dengan kecepatan gadis yang ia kejar.


    “Apaan sih?” Julia menghentikan langkah nya, dan menatap Alfian lurus.


    “Lo tuh kebiasaan tau nggak? Tiap kali terpojok atau apa… lo selalu kabur gitu aja” protes Alfian.


    “Terus lo mau gue gimana?”


    Alfian menghela nafas panjang, dan menatap mata Julia selama beberapa detik. Ia tak tahu, apa yang ia inginkan. bahkan hubungan ini pun, bisa terus bertahan karena tak satu pun diantara mereka yang tahu cara mengakhirinya.


    “Lo ngerasa aneh nggak sih sama hubungan ini? maksud gue… tujuan kita tuh apa sih?”


    “Kadang gue mikir, bukan nya kita mending putus aja ya? lo bisa ngelakuin apapun tanpa harus nutupin apa apa dari gue, dan gue bisa nge jalanin hidup gue tanpa khawatir soal apa yang lo tutup tutupin dari gue. terus terang gue udah ca—“


    Setetes air mata turun dari pelupuk mata Julia.


    Ia sudah tahu akan begini akhirnya, lantas air mata apa ini?


    “Julia, lo…” Alfian tak sempat melanjutkan kata katanya. Bahkan pemuda itu tak menyangka kalau Julia akan meneteskan air mata karena hal ini.


    “Yaudah, setelah gue pikir pikir juga kita mending putus” gadis itu menghapus air matanya.


    “Maafin gue” lanjutnya.

__ADS_1


    Setelah mengatakan hal itu, Julia langsung mencegat taksi yang lewat dan pergi meninggalkan tempat itu.


    Sementara Alfian, masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.


***


    “Lo ngapain disini?” tanya Eric begitu mendapati bahwa orang yang ada di apartemen Elvira itu adalah Yukiya.


    “Lo nggak lihat tumpukan buku di atas meja ini? gue disini buat ngerjain tugas minggu depan lah. Tugas nya banyak loh, lo udah ngerjain?” tanya Yukiya tanpa menghentikan kegiatan nya mengerjakan soal.


    “Maksud gue… Elvira itu kan—“ Eric menghentikan kata katanya. Benar juga, dilihat dari reaksinya barusan, tampak nya yang mengendalikan tubuh itu kali ini adalah sosok Vira.


    “Lo bisa duduk dengan tenang. semua gunting dan benda tajam udah gak ada di apartemen ini, jadi lo nggak perlu khawatir soal rambut lo” Yukiya meyakinkan.


    Eric melihat sekelilingnya. Apartemen tipe alcove studio ini cukup besar untuk ukuran tempat yang ditempati oleh satu orang. Ia bersyukur, orang tua nya sepertinya sangat memperhatikan tempat tinggal Elvira walau gadis itu bukan bagian dari keluarga gildereich. Semua perabot di tempat itu juga sudah diganti, tentu saja karena perabot yang lama sudah rusak saat kejadian itu.


    “Eric, di kantong plastic itu isinya apa?” tanya Vira yang tiba tiba sudah berada di belakang Eric.


    “Oh, ini cake… barusan nggak sempet di makan di Café. Jadi tadinya ini mau gue kasihin ke lo” ucap Eric sambil menyerahkan kantong plastic berisi cake itu pada Vira. Vira membuka kantong plastic itu dan memeriksa isinya.


    “Pas banget isinya ada tiga, aku sajiin aja ya” ucap nya seraya membawa kantong itu ke dapur.


    “Kak Alfian… lagi sakit ya?” tanya Yukiya tiba tiba. “sebelum kesini, kebetulan gue ngeliat dia masuk ke Central Hospital”


***

__ADS_1


__ADS_2