
“Eric, sebelum nya gue udah pernah cerita soal Prince yang ngerombak El diablo lama kan?”
“Ya, kemarin juga kak Ivana udah cerita soal El diablo yang lama, dan pemimpin mereka yang nama sandi nya King”
Alfian menyerahkan kartu itu kembali pada Julia.
“Bagus kalo lo tahu, jadi gue nggak harus ngejelasin panjang lebar lagi. King udah keluar dari penjara. Gue nggak tahu, apa dia udah dikeluarin dari Santana apa belom. Yang jelas, setelah keluar dari penjara… dia pasti pengen ngambil alih El Diablo lagi” Alfian memulai analisis nya.
“Oke, tapi kenapa Yukiya yang diserang?” tanya Julia heran. “padahal disitu ada Eric, kalau dia mau nyari masalah, harus nya dia nyerang orang yang lebih penting dong?”
Alfian berpikir sejenak. Julia benar, kenapa orang orang itu malah menyerang yukiya, bukan nya Eric?
“Mari kita anggap, dia nyerang murid Santana secara Random. Mungkin aja King belom tahu kalau Eric anak nya yang punya yayasan. Yang jelas, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus ngehubungin El diablo dan ngasih tahu kalo King udah mulai nyari masalah” ucap Alfian.
“Tapi kayak nya, El diablo pun udah tahu soal king. Maksud gue, mereka emang belom tahu soal kejadian hari ini. tapi kemaren, King ngirim sejenis surat peringatan ke El diablo langsung.”
“Peringatan kaya gimana?”
“Gue juga nggak tahu detil nya. tapi, disurat itu ada tulisan ‘Shall we meet’ dan dikirim sama seseorang berinisial K” Eric menjelaskan.
“Itu inisial King!” ucap Alfian yakin.
“Tapi, kok lo bisa tahu banyak dari anak El diablo sih? lo ngorek informasi dari mereka apa gimana?” tanya Julia penasaran.
“Gue nggak bermaksud ngorek informasi sih. tapi, setelah nolongin kak Alfian kemarin, gue diajak Prince buat datang ke markas El diablo. Tadi nya buat gantiin kak Ivana yang lagi nggak fit. Tapi, ternyata GOR dalam keadaan kosong. Dan kak Ivana dapet surat misterius. Gue udah diminta buat nggak ikut campur sama kak Ivana dan kak Gio. Tapi…” Eric mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan pembicaraan nya.
“Kak Daniel justru nawarin gue buat jadi anggota El diablo.
***
Ruangan itu ada di lantai teratas gedung rumah sakit Central Hospital yang terdiri dari dua puluh lantai. Yukiya melihat ke sekeliling nya. di bandingkan rumah sakit, ruangan ini lebih menyerupai hotel bintang lima. Ia terbaring di atas Spring bed King sized, di dalam sebuah ruangan yang ditata sedemikian rupa hingga kesan ‘rumah sakit’ dari tempat ini benar benar tidak terasa. Ruangan itu dikelilingi dinding dinding kaca transparan anti peluru, dengan medan reflector sehingga seisi ruangan tak dapat dilihat dari luar, walau kaca tampak tembus pandang jika dilihat dari dalam ruangan. Tentu saja karena ruangan terisolir ini adalah ruangan khusus pasien pasien penting yang mendapatkan pelayanan Khusus.
Rasa sakit yang dirasakan Yukiya di belakang kepala nya sama sekali tak berkurang. Protocol khusus diberlakukan pada nya karena ia memiliki kondisi tertentu yang memerlukan penanganan spesial.
Pemuda itu kebal terhadap segala jenis racun.
__ADS_1
Hal itu juga berlaku untuk obat anestesi, tubuh yukiya memiliki kemampuan detoksifikasi tingkat tinggi sehingga segala jenis obat obatan mudah sekali tereliminasi dari system metabolisme nya.
Yukiya mengambil ponsel dari saku jaket nya, dan menghubungi seseorang. Seyelah beberapa kali terdengar nada sambung, seseorang di seberang pun mengangkat telpon nya.
“Halo, kak Daniel” ucap Yukiya pada Daniel yang ada di seberang telpon.
“Halo, Yukiya?”
“Yup, ini gue Yukiya. Gue diserang di jalan sama orang nggak di kenal. Eric sama kak Julia ngeliat kepala gue sobek dan ngeluarin darah. Gue yakin, mereka bakal cerita ke kak Alfian dan selanjut nya di tembusin ke lo atau kak Ivana.”
“Lo diserang? Terus sekarang dimana?”
“Gue masih di rumah sakit. Gue juga udah ditanganin sama dokter. Oh, lebih tepat nya… gue udah dibawa ke ruangan isolasi khusus sih. gue nggak apa apa. satu jam lagi luka gue hilang sempurna. Jadi, bisa tolong rahasiain ini dari kak Ivana? gue nggak mau nambah masalah dia”
Daniel terdiam sejenak.
“Jadi, Ivana belom tahu soal kemampuan Regenerasi lo?”
“Belom waktu nya dia tahu… yang tahu soal ini bener bener Cuma lo, dan staff rumah sakit yang dikirim dari Pandora Association.”
“Iya”
“Terus, kalo Eric sama Julia nanyain soal luka lo yang mendadak sembuh, lo mau bilang apa?”
Yukiya merebahkan kembali tubuh nya di tempat tidur.
“Gue tinggal ngehindarin mereka, dan bilang kalo gue udah di jemput pulang. Kebetulan ini Weekend. Senin nanti, gue bilang aja kalau itu Cuma luka kecil dan udah sembuh.”
“Bagus deh kalo lo bisa nyari alesan. Ada lagi yang mau diomongin?”
“Nggak kak, segitu aja”
“Oke, kalau gitu gue tutup ya. gue udah nyampe di lokasi pemotretan”
“Iya kak, makasih”
__ADS_1
Sambungan pun terputus.
Seorang dokter memasuki ruangan, melalui lift khusus yang hanya terhubung dengan ruang terisolir ini. Lift itu adalah satu satu nya akses keluar masuk ruangan ini. passcode nya hanya dimiliki oleh orang orang tertentu dari Pandora Association.
“Bagaimana keadaan mu?” tanya dokter itu pada Yukiya.
“Hmm… gimana ya. pendarahan nya udah berhenti, sakit nya juga udah nggak terlalu se sakit tadi” Yukiya mendeskripsikan.
Dokter itu langsung memeriksa luka Yukiya, dan mendapati bahwa ukuran luka itu sudah mengecil secara signifikan dibandingkan satu jam yang lalu.
“Proses penyembuhan nya sudah jauh lebih cepat dari pada terakhir kali kamu kesini. Seperti dugaan saya, kemampuan Sub Esper kamu memang masih dalam tahap perkembangan.” Ucap Dokter itu setelah melakukan inspeksi.
“Oh ya? jadi kapan saya boleh pulang?”
“Kalau proses regenerasi selesai seratus persen, kamu sudah bisa pulang. Untuk sementara, kamu istirahat saja dulu di tempat ini.”
Dokter itu berjalan menuju Lift, hendak meninggalkan Yukiya di ruangan itu.
“Satu jam lagi, saya akan datang kesini untuk memeriksa kamu lagi” ucap nya sebelum menutup pintu lift dan meninggalkan lantai Isolasi.
Notifikasi lain nya masuk ke ponsel Yukiya. Sebuah pesan yang dikirim oleh Eric ke inbox nya.
EricG : “Yukiya, gue sama kak Julia ada di ruangan kak Alfian. Kalo ada apa apa, tinggal hubungin aja. gue udah cerita ke kak Alfian soal kejadian barusan. Gue harap, lo nggak keberatan karena sebelum nya lo bilang buat nggak ngasih tahu siapa siapa.”
Tulis Eric dalam pesan nya.
Yuuki : “iya nggak apa apa. gue udah nge hubungin keluarga gue, dan mereka bakal jemput. Makasih udah bawa gue kesini.”
Balas Yukiya
Yukiya melepaskan pandangan ke luar kaca jendela setinggi dua meter, di samping tempat tidur nya. dugaan nya benar, dan semua berjalan sesuai perhitungan nya.
Jika ia memenangkan pertaruhan ini, bukan mustahil bagi dirinya untuk bisa menyelamatkan Ivana dari salah satu mimpi terburuk nya.
***
__ADS_1