Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Bad Liar


__ADS_3

“Nyari masalah gimana maksud nya?” tanya Ivana heran. “dia baru keluar dari penjara kemaren kan?”


“Yup, dia memang baru keluar dari penjara kemaren. Tapi tadi sore, ada anak buah nya yang nyerang anak Santana.”


“Seriusan? Siapa korban nya?”


“Korban nya anak kelas satu, syukurlah pas kejadian dia sempet ngehindar. Jadi nggak ada luka serius. Tapi… tetep aja ini nggak bisa dibiarin.”


Daniel tak menjelas kan secara rinci mengenai korban penyerangan itu. tentu saja karena ia sudah berjanji pada Yukiya untuk merahasiakan hal itu dari Ivana.


“Untuk saat ini, King emang belom nunjukin maksud nya… jadi nggak ada yang bisa kita lakuin selain nunggu. Apa lagi, Janetta baru balik ke Indonesia hari minggu nanti. Pokok nya, gue minta lo buat waspada dan jangan gegabah. Kalo ada apa apa, lo harus langsung hubungin gue” Daniel memberi instruksi.


“Oke, gue ngerti”


Setelah menjelaskan semua yang perlu disampaikan, sambungan telpon pun terputus. Ivana mengepalkan tangan kuat kuat.


Sial.


Berita keluar nya King dari penjara telah mengorek luka lama nya. ia tak bisa membiarkan hal yang sama terjadi dua kali, apa lagi kali ini Yukiya yang bersekolah di Santana pun memperbesar kemungkinan kalau adik nya itu bisa turut menjadi korban.


Bagaimana kalau King kembali mengancam nya menggunakan Yukiya?


Ia segera bangkit dari sofa tempat nya duduk dan mengetuk pintu kamar yukiya.


“Yukiya, ada yang mau gue bicarain sebentar” ucap Ivana dari luar kamar.


Tak lama kemudian, Yukiya pun membuka pintu kamar nya.


“Kenapa?” tanya Yukiya. Ia sempat menguping pembicaraan Ivana dan Daniel barusan. Jadi, ia sudah bisa menebak apa yang akan Ivana bicarakan.


“Di sekolah, selain kak Daniel siapa lagi yang tahu kalau lo adik gue?” tanya nya.


“Cuma kak Daniel—“ Yukiya terdiam sejenak. Soal Elvira… apa Ivana perlu tahu?


“Sama anak kelas S yang nama nya Elvira” lanjut nya.


“Apa? Elvira? Elvira yang anak tiri nya keluarga Gildereich itu? yang gue ceritain pernah ngelakuin percobaan bunuh diri bareng Alfian?”


Yukiya menganggukan kepala nya.

__ADS_1


“Kenapa dia bisa tahu?”


“Dia… anggota Esperia yang bisa baca pikiran orang lain. dia Esper kaya kak Alfian”


Ivana menepuk jidat nya. ia tak habis pikir kalau rahasia yang ia jaga mati matian bisa bocor se mudah itu, pada gadis mencurigakan seperti Elvira. Ini gawat, kalau sudah begini… ia tak bisa membiarkan Yukiya berkeliaran sendirian di sekolah. Tapi ia tak mungkin mengikuti Yukiya kemana mana atau meminta Daniel melakukan itu. bahkan Gio punya tugas nya sendiri untuk menjaga Eric. kalau begini, tak ada pilihan lain selain mengurung Yukiya di rumah.


“Yukiya, apa minggu ini lo bisa bolos sekolah dulu?” tanya Ivana.


“Bolos sekolah di minggu kedua? Kalau gue ketinggalan pelajaran gimana?” protes Yukiya.


“Oh ayolah… lo itu jenius. Ketinggalan pelajaran seminggu dua minggu nggak bakal bikin lo nggak naik kelas”


“Tapi gue harus pertahanin nilai gue kalau gue pengen tetep di kelas S, semester depan”


“Yukiya, keselamatan lo lebih penting!” Ivana bersikeras. Ia menggenggam tangan Yukiya erat, setengah memohon. “please, lo bisa kan bolos dulu sampai keadaan nya reda? Paling nggak sampai kita tahu tujuan King ngelakuin ini semua”


Yukiya tahu, kekhawatiran Ivana memang bukan sesuatu yang tak beralasan. Tapi, jika hal ini terus dibiarkan… Ivana akan terus menerus memperlakukan nya seperti anak anak.


Dan ia tak bisa selama nya bergantung pada Ivana.


“Kadang, gue ngerasa kaya beban lo. dari kecil, lo selalu ngelakuin segala hal buat jagain gue” ucap yukiya jujur.


Yukiya tersenyum simpul. Ini adalah saat saat dimana ia membenci fakta bahwa ia dan Ivana adalah saudara sedarah.


“Gue bakal skip class sampai keadaan nya reda.” Ucap yukiya akhirnya. Dan wajah Ivana langsung berubah cerah mendengar keputusan Yukiya.


“Gue mau lanjut ngerjain tugas. Pembicaraan kita udah selesai kan?”


Ivana menganggukan kepala nya.


“Kalau gitu, bye” ucap Yukiya seraya menutup kembali pintu kamar nya.


***


Sabtu pagi, Nathanael kim menjemput Alfian dari rumah sakit.


“Barang barang bawaan kamu sudah masuk semua?” tanya pemuda itu sambil memasukan tas besar milik Alfian ke dalam bagasi mobil.


“Udah pak, Cuma segitu kok barang nya”

__ADS_1


Setelah memastikan semua barang terbawa, mobil pun melaju meninggalkan rumah sakit.


“Apa bapak tahu kabar nya? kemarin yukiya diserang sama orang nggak dikenal di jalan, waktu dia mau jenguk saya bareng Eric dan Julia” Alfian membuka pembicaraan.


“Oh ya? tapi nggak ada laporan penyerangan ke pihak sekolah kok.”


“Yukiya emang bilang supaya jangan kasih tahu siapa siapa. Jadi, informasi ini… mungkin Cuma saya sampaikan ke bapak aja.” Alfian menjelaskan.


Nathanael menepikan kendaraan nya dan mengambil ponsel yang ia taruh di Dashboard.


“Kalau gitu, saya telpon Yukiya dulu buat mastiin kalau dia nggak kenapa napa. Kalau ada apa apa sama dia, pihak sekolah juga bisa repot”


Setelah terdengar bunyi nada sambung beberapa kali, Yukiya pun mengangkat telpon itu.


“Halo Yukiya?” ucap Nathanael pada anak didik nya di seberang telpon. “ini saya Nathanael Kim, guru pembimbing klub Esperia”


“Oh… pak Nathanael, ada apa pak?” tanya Yukiya.


“Saya dengar, kamu di serang di jalan. Apa itu benar?”


Yukiya terdiam sejenak. Pasti Alfian yang memberi tahukan ini pada Nathanael kim.


“O… oh… itu… iya pak. Tapi saya nggak kenapa napa kok pak. Ini saya lagi di rumah, lagi main game”


“Kata nya luka lo sampai harus dijahit?” Alfian meninggikan suara nya agar tertangkap microphone ponsel.


“Luka di jahit? Luka apaan… itu Cuma gores doang ternyata. Beneran nggak apa apa kok. senin nanti paling udah nggak bersisa” Yukiya berusaha meyakinkan.


“Kamu nggak berbohong kan?” tanya Nathanael penuh selidik.


“Bener pak, Suer! Ngapain juga saya bohong. Kalau bapak perlu bukti, saya bisa pap dan buktiin kalau saya beneran nggak apa apa kok pak”


“Oke, kalau kamu beneran nggak apa apa. pokok nya lain kali kalau ada apa apa, kamu harus kasih tahu saya.” Nathanael mengingatkan.


“Iya pak, ngomong ngomong, soal ini nggak perlu di ceritain ke orang lain atau ke pihak sekolah. Soal nya saya beneran nggak apa apa, nggak enak kalau sampia jadi bahan omongan dan terlalu dibesar besarin”


“Soal saya bakal lapor ke pihak sekolah atau nggak, itu urusan saya. Ya sudah kalau kamu baik baik saja. Selamat liburan” ucap Nathanael seraya mengakhiri sambungan.


“Loh aneh, apa Eric sama Julia salah lihat ya?”

__ADS_1


***


__ADS_2