
Halo, nama saya X. saya dengar klub ini berisi orang orang yang punya Sixth sense ya? Jadi saya mau nanya sama kalian. Ada rumor beredar kalau gedung olah raga itu ada penghuni nya, yaitu mantan penjaga sekolah yang meninggal di kolam renang sekolah karena kecelakaan teknis. Sebagai klub yang berisi anak anak dengan Sixth sense, apa kalian bisa memberi penjelasan?
Ps : tolong jelaskan secara rinci dan kirim ke kotak saran dekat klub jurnalistik ya.
Alfian membacakan isi salah satu surat yang ditaruh di atas meja nya sebagai bagian dari Request seseorang yang meminta bantuan klub.
“gue bisa jamin seratus persen kalau ini pasti berasal dari anak klub jurnalistik yang butuh bahan buat di taro di mading” ucap Alfian sambil melemparkan isi surat itu ke atas meja. Kali ini ia, Yukiya, Eric, dan Elvira yang ditemani hantu berambut perak tengah menghabiskan waktu di ruangan pak Nathanael. Kebetulan hari ini ruangan itu sedang menganggur, dan pak Nathanael sebagai guru pembimbing yang baik hati secara suka rela meminjamkan ruangan itu lagi pada klub Esperia.
“jadi nggak perlu gue ketik nih?” tanya Yukiya.
“emang di ketik mau buat apa?”
“ya… buat data aja gitu, sebagai satu satu nya anak yang nggak punya sixth sense disini, kontribusi yang bisa gue lakuin ya nggak jauh jauh dari ngetik. jadi gimana, di ketik jangan?” tanya yukiya lagi.
“diketik deh… kali aja nanti nanti bisa kepake” jawab Alfian kemudian.
Dan sesuai instruksi Alfian, Yukiya pun memasukan isi surat itu ke dalam laptop nya.
“tapi bener ya dugaan pak Nathanael, gara gara orang denger istilah Sixth sense… permintaan nya jadi nggak jauh jauh dari hal supranatural.” Ucap eric sambil membuka surat permintaan bantuan lain nya.
Hai, nama saya Keyra. Baru baru ini, saya tertarik sama seorang anak laki laki. Menurut kalian, apa kami saling cocok satu sama lain? selain itu, apa saat ini ada perempuan lain yang sedang mendekati dia? apa saya masih punya kesempatan buat jadi pacar dia?
Ps. Identitas tolong dirahasiakan. Jawaban kalian, silahkan taruh di loker nomor 87.
foto terlampir.*
Eric geleng geleng kepala.
“tempat ini dianggap biro jodoh atau apaan sih” keluh nya sambil menyerahkan isi surat itu pada yukiya yang masih sibuk mengetik.
“ya.. mau gimana lagi? Permasalahan anak SMA kan nggak bakal jauh dari hal remeh kaya gini. Jangan disamain sama hidup lo yang penuh drama dong” ucap Yukiya santai.
“hei, hidup lo mungkin jauh lebih penuh drama disbanding hidup gue” Eric menyindir. Yukiya tersenyum kecil.
__ADS_1
“maybe yes… maybe no” jawab nya singkat.
“buat sementara, Cuma dua surat itu yang nyampe ke meja gue. dan karena lagi lagi kita nggak ada kegiatan, dari pada buang buang waktu… beres Yukiya ngetik semua request-an… silahkan bubar. Gue mau istirahat dulu disini, karena AC nya beneran bikin adem.” Alfian merebahkan diri nya di kursi.
“karena nganggur, gue pulang duluan aja… bye”
Elvira langsung mengemasi tas nya dan pergi meninggalkan ruangan walau Alfian belum memberi persetujuan apa apa.
“astaga… anak itu dari dulu emang seenak nya” keluh Alfian. “Cuma Elvira yang boleh bersikap kaya gitu ya. Kalian jangan” ia mengingatkan.
“tapi kalau dipikir pikir… Elvira itu selalu pulang sendirian ya, apa nggak punya temen yang tinggal nya deketan sama dia gitu?” tanya Yukiya tiba tiba.
“dia kan emang tinggal sendiri, di komplek apartemen yang pembangunan nya belom rampung. Jadi wajar aja kalau nggak ada temen pulang bareng” Eric menjelaskan.
“di apartemen? Dia tinggal di lantai atas gak?”
“dia tinggal di lantai tujuh kalau nggak salah” Eric berusaha mengingat ingat.
Pernyataan Yukiya itu benar benar membuat Alfian dan Eric terkejut. Kedua nya bungkam, tak tahu harus menanggapi pertanyaan itu dengan jawaban apa.
“siapa tahu kan… dari lantai segitu dia…”
Yukiya mendemonstrasikan gerakan orang yang jatuh dari ketinggian dengan tangan nya. “wuuuusshhh… dan Brukkk! Kepala duluan yang jatoh”
***
Setelah menyelesaikan tugas nya, yukiya segera pamit dan meninggalkan ruangan pak nathanael. Tadinya, Eric juga ingin segera pergi. Tapi, ia baru ingat kalau Alfian berhutang satu penjelasan lagi pada nya.
“Gue, dan Elvira emang pernah ngelakuin percobaan bunuh diri. Dulu, waktu kami masih sama sama menjalani perawatan mental di Central Hospital. Kalo waktu itu nggak dicegah sam aJulia yang kebetulan datang buat jenguk gue, sekarang kami pasti udah di alam lain” Alfian membuka pembicaraan. “tapi setelah kejadian itu, gue dan Elvira udah nggak pernah ketemu lagi. Kami baru ketemu lagi ya sekitar sebulan sebelum ujian masuk Santana”
“percobaan bunuh diri itu, bareng sama hantu yang dulu sering ngikutin lo dan akhir akhir ini jadi sering ngikutin Elvira?” tanya Eric. Alfian menganggukan kepala nya.
“waktu itu, kalian mau bunuh diri gara gara apa?” tanya Eric lagi.
__ADS_1
“lo nggak bakal ngerti ric… rasa takut karena nggak ada seorang pun yang nerima keberadaan anak anak kaya kami. Rasa takut mati sendirian… walaupun terus terang, mungkin waktu itu kami mutusin buat bunuh diri bareng karena efek dari gejala depresi juga. Makanya kami ketemu di fasilitas perawatan mental” Alfian beralasan.
“dan janji buat mati barengan itu… apa masih berlaku sampai sekarang?”
Alfian menggelengkan kepala nya.
“gue udah punya Julia, dan anak itu juga udah mati duluan ninggalin kami…” Alfian merujuk pada si hantu berambut perak. “yang tersisa tinggal Elvira sendirian. Tapi dia yang sekarang, pasti nggak bakal ngelakuin hal bodoh kaya gitu lagi”
Benar, Elvira sudah berjanji. Waktu itu Elvira sendiri yang mengatakan pada Eric, bahwa apapun yang terjadi ia akan terus bertahan hidup.
“ngomong ngomong gue denger, Elvira itu kan udah diadopsi sama sekretaris nya bokap lo. Otomatis, kalian bukan sodara dong. Tapi, kenapa… lo peduli banget sama dia?” tanya Alfian dan senyum jahil nya. Eric sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Alfian.
Tapi perasaan Eric untuk Elvira bukan lah sesuatu yang romantis seperti rasa suka. Melainkan tanggung jawab atas apa yang terjadi pada mendiang ayah Elvira.
“apapun itu, yang jelas bukan seperti dugaan lo saat ini” Eric mengelak.
Ponsel Eric bergetar, menandakan ada pesan baru yang masuk. Eric segera memeriksa isi pesan itu.
JellyJ : “Ric, gue tunggu di gerbang”
Ternyata pesan itu berasal dari Julia.
Eric jadi merasa tak enak pada Alfian, namun ia bingung harus mengatakan apa. Alfian menengok ke luar jendela dan mendapati kalau Julia sudah berada disana sambil memainkan ponsel nya, tampak seperti menunggu kedatangan seseorang.
“lo ada janji sama Julia kan?” ucap Alfian tiba tiba. Eric hanya bisa menganggukan kepala nya, canggung.
“Julia udah ngasih tau gue kok… walaupun nggak detil. Tapi gue mau nyoba percaya sama kata kata lo. Apapun itu, kalo Julia memutuskan buat nggak cerita ke gue… mungkin karena momen nya aja yang nggak tepat”
Eric tahu Alfian berbohong. Tapi mau bagaimana lagi… ia dan Julia memang mempunyai urusan yang tak boleh di ketahui siapapun.
“oke, gue pulang dulu ya” ucap eric Akhirnya. Ia pun bergegas meninggalkan ruangan. Meninggalkan Alfian dan senyum palsu nya.
***
__ADS_1