Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Cha no Yu


__ADS_3

    Ivana merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur UKS yang sepi. Hanya ada suster penjaga dan dirinya disana, tempat tidur lain yang berjejer di samping tempat tidur Ivana benar benar kosong. Suster penjaga itu menutup tirai kamar tempat Ivana terbaring setelah memastikan bahwa Ivana memiliki Vital Sign yang baik dan tidak mengalami demam.


    Semalam, ia hanya sempat tertidur selama satu jam, dan kini kepalanya terasa sakit. Perkataan Janetta benar benar mengganggunya. Kalau sang ibu benar benar berasal dari Pandora Association, apa kedatangan nya kesekolah ini pun… ada tujuan nya?


    Siapa yang membunuh ibunya, dan menaruh jasadnya dalam Aquarium berisi Resin?


    Ivana bukannya ingin membalaskan dendam atas kematian sang ibu, toh pekerjaan yang dilakoni seorang pembunuh bayaran memang berputar disekitar jurang kematian. Ia hanya ingin tahu, siapa dan kenapa. Juga… dari mana semua akar kehidupannya berasal?


    “Kak Ivana?” seseorang membuka tirai kamar tempat Ivana berbaring. Ivana sudah menduga kalau adiknya akan langsung mendatangi UKS begitu mengetahui kalau dirinya ada disana.


    “Ngapain lo kesini?” Ivana membalikan tubuhnya memunggungi Yukiya. Menunjukkan bahwa ia masih tidak terima dengan kejadian tempo hari.


    “Lo masih marah sama gue?” tanya Yukiya memelas. Ivana memilih untuk diam dan tak menjawab pertanyaan itu.


    “Ngambeknya lama amat sih kak? Segitu betah nya ya tinggal di rumah Eric? lo nggak khawatir, ninggalin gue sendirian di rumah?” Yukiya merajuk.


    “Gue nggak khawatir, toh lo malah terlibat sama sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Pake rahasia rahasiaan lagi soal… kemampuan lo” ucap Ivana ketus.


    “Gue juga kaget kok, beneran. Kemampuan ini juga baru ada sejak beberapa bulan yang lalu. gue nggak ngasih tahu kak Ivana karena gue juga bingung” Yukiya menjelaskan.


    “Papa sama mama, tahu soal ini?”


    Yukiya terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ivana.


    “Mungkin gue harus jelasin dari awal, alasan kenapa gue punya kemampuan ini”

__ADS_1


    Ivana segera bangkit dari tempatnya tidur, bersiap untuk menyimak penjelasan Yukiya.


    “Lo inget soal tradisi Cha No Yu klan Dokumizu, klan asal nyokap gue?”


    Ivana berpikir sejenak, berusaha mengingat ingat kejadian itu. ia ingat, hari dimana Yukiya dibawa pergi oleh sekumpulan orang dengan Kimono serba hitam. hari dimana Yuriko, ibu Yukiya menagis sejadi jadinya.


    “Itu, kejadian dimana sepupu sepupu lo mulai ngilang secara misterius kan?”


    Yukiya menganggukan kepalanya.


    “Mereka sebener nya nggak ngilang, kak Ivana mungkin nggak dikasih tahu karena kak Ivana terhitung sebagai orang diluar klan Dokumizu. Kenyataan nya, sepupu sepupu gue itu tewas setelah Ritual Cha no Yu delapan tahun yang lalu”


***


    Klub itu terasa makin sepi karena ketidakhadiran Elvira dan Yukiya. Selama dikelas, Elvira tampak bersikap normal dengan murid murid lainnya. Tapi, gadis itu selalu menghindari Eric dan Yukiya.


    Tak lama kemudian, Eric dapat mendengar suara ketukan di pintu. Padahal biasanya, anggota klub Esperia tidak akan mengetuk pintu terlebih dahulu dan langsung masuk. Eric bangkit dari tempat duduknya. Mungkinkah itu staff Santana yang hendak bertemu dengan pak Nathanael?


    Suara ketukan itu terdengar makin cepat dan keras.


    “Ya tunggu sebentar” ucap Eric seraya membuka pintu.


    Namun, yang ia temui dibalik pintu itu bukanlah staff sekolah, melainkan sosok Elvira dengan mata nyalang dan dahi yang dipenuhi keringat.


    “Eric” ucap gadis itu begitu ia pertemu mata dengan sang pemilik nama.

__ADS_1


    “Elvira? eh… ini siapa?” tanya Eric bingung. Ia tak tahu, apa gadis yang ada dihadapan nya ini tengah berada dalam mode “Vira” atau “Elvira”


    “Ini aku, Vira. Boleh masuk nggak?”


    Eric memperlebar pintu dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Kalau itu Elvira, jangankan meminta masuk, melewati ambang pintu menuju ruangan dimana terdapat laki laki disana akan membutuhkan banyak pertimbangan.


    Gadis itu langsung duduk di sofa, sementara Eric duduk tepat di sofa yang berhadapan dengan tempat Vira duduk. Gadis itu mengamati sekitar, seolah memastikan bahwa taka da siapapun disana.


    “Disini Cuma ada kamu?” tanya Vira pada Eric.


    “Iya, yang lain belum datang” ucap Eric jujur.


    Vira kembali memperhatikan keadaan sekitar.


    “Hantu yang… rambutnya putih itu nggak ada disini kan ya?” gadis itu berusaha memastikan. Eric mengedarkan pandangan nya kesekeliling. Sejauh ini, ia memang tak mengindera keberadaan makhluk tak kasat mata itu dimanapun.


    “Kayak nya nggak ada. Emangnya kenapa kalau dia ada?” Eric balik bertanya.


    Vira menelan ludah, kemudian terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Eric.


    “Aku mau cerita sekaligus minta tolong sama kamu” ucap gadis itu serius. Gadis itu memainkan jemarinya, ia tampak membutuhkan banyak pertimbangan sebelum melanjutkan kata katanya.


    “Hantu yang rambutnya putih itu jahat sama aku. Katanya, dia pengen aku mati supaya badan ini jadi milik Elvira seutuhnya.”


***

__ADS_1


__ADS_2