Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Threats


__ADS_3

    “Loh kamu disini? Kenapa kemarin bolos kegiatan dan tidak datang kesini?” tanya Nathanael pada gadis dihadapannya itu.


    “A… ada urusan pak, hari ini juga ada urusan lagi pak” Vira mengalihkan pandangannya, sebisa mungkin tidak bertemu mata dengan Nathanael.


    “Tunggu sebentar, kamu bukan Elvira ya?” tanya Nathanael penuh selidik.


    Gadis itu terlihat cukup panik. Ia tiba tiba menutup telinga dengan kedua tangannya.


    “Percuma, suara saya bisa tembus ke alam bawah sadar kamu”


    Nathanael memposisikan dirinya tepat diambang pintu, menghalangi jalan Vira kalau kalau gadis itu hendak kabur. Pemuda itu menggulung lengan bajunya dan meletakkan satu tangan di kepala vira.


    “Elvira, bangun!”


    Dalam sekejap, dunia Vira menjadi hitam.


    Baik Eric maupun Alfian hanya bisa terdiam melihat kemampuan Nathanael itu. Eric sempat berpikir apa ini cara yang sama seperti ketika dirinya dituntun dalam Archein?


    Elvira mengerjapkan matanya beberapa saat. Ia tampak kebingungan sekaligus terkejut dengan situasi dimana dirinya berada.


    “Maaf pak, bisa saya keluar?” gadis itu meremas kenop pintu, tangan nya sedikit gemetar.


    “Silahkan…” Nathanael segera mempersilahkan gadis itu untuk pergi setelah yakin kalau gadis dihadapan nya adalah Elvira, bukan Vira.


    Eric menatap Nathanael dengan tatapan tak percaya. Apa ini… tindakan yang dapat dibenarkan?


    “Jangan melihat saya seperti itu, saya melakukan itu semua untuk kebaikan Vira dan Elvira juga”


***


    “Gue pengen kak Julia jadi pacar gue” ucap Yukiya serius. Julia mengernyitkan dahinya. Kata kata Yukiya barusan, apa ia tak salah dengar?


    “Lo… pasti becanda kan?” ucap Julia berusaha tampak acuh tak acuh.


    “Gue serius”


    Gadis itu menelan ludah. Permainan macam apa ini? apa Yukiya tengah… bermain main dengan nya?


    “Lo kan udah tahu kalau gue udah punya pacar. Pacar gue itu Alfian, ketua klub lo sendiri!” ucap Julia tegas.

__ADS_1


    “Ya… terus emang nya kenapa? Selama janur kuning belom melingkar, siapapun masih milik bersama” ucap Yukiya tanpa keraguan.


    “Kenapa lo tiba tiba mau pacaran sama gue? maksud gue, emang nya lo suka sama gue?” tanya Julia jujur. Mendengar pertanyaan itu, yukiya tampak berpikir sejenak.


    “Suka ya… gue sendiri nggak paham, suka yang lo maksud itu kaya gimana. Gue suka muka lo, gue nggak suka cara ngomong lo. gue suka cara lo ngorek informasi, gue nggak suka warna rambut lo. lo harus nanya lebih spesifik, suka yang lo maksud itu dalam aspek apa dan tolak ukur nya apa”


    Julia benar benar kehabisan kata kata.


    “Lo bahkan nggak suka sama gue, kenapa lo pengen gue jadi pacar lo?” tanya Julia lagi.


    “Gue udah SMA. Di TV, Di Novel, di Komik, di lagu, dimanapun… ini umur yang cocok buat pacaran. Kebetulan lo cewek, dan bisa gue manfaatin. Jadi, kenapa gue nggak pacaran sama lo buat nambah nambah pengalaman?”


    Julia mengepalkan tangannya kesal. Pemuda dihadapan nya ini memang hanya ingin main main.


    “Kak Julia… sebelum lo marah marah dan protes, lo harus inget kalau… sesuatu yang lo cari setengah mati itu ada ditangan gue. ayolah, bukannya lo udah ngorbanin terlalu banyak hal buat hal ini? berkorban sedikit lagi, dan lo sampai di tujuan lo. simple. Gue juga nggak bakal minta yang aneh aneh, Cuma ngajak jalan sekali kali dan mungkin minta lo buat ngabisin waktu beberapa bulan sama gue. nggak ada ruginya.” Yukiya berterus terang.


    “Terus, Alfian gimana? Lo pikir gue bisa putus sama Alfian gitu aja?”


    “Gue nggak masalah kok kalo kak Julia masih mau pacaran sama kak Alfian. Gue nggak keberatan buat berbagi, asalkan lo selalu ada tiap kali gue butuh. Gue orang nya nggak ribet sih”


    Julia menatap tajam kearah Yukiya.


    Yukiya tersenyum puas mendengar ucapan Julia.


    “Seminggu deh. Seminggu lagi, gue bakal ngajak lo pacaran lagi, dan lo nggak boleh nolak. Kalo mau tetep pacaran sama Alfian… silahkan. Yang jelas, mulai minggu depan lo bakal jadi pacar gue.” Yukiya mendekatkan bibirnya ke telinga Julia. “lo nggak mau kan, aib lo kesebar? Inget, yang ada di posisi tidak menguntungkan itu kak Julia. Lo yang butuh ke gue, jadi… sebaiknya lo nurut.”


    Mendengar hal itu, Julia tampak terkejut. Apa ia… baru saja diancam?


    Bukankah perasaan ini terasa sangat familiar?


    Diancam, dan diperalat. Itu bukan hal yang asing bagi seorang Julia.


    Ditengah pembicaraan itu, tiba tiba Julia mendengar suara pintu diketuk. Ia segera menoleh kearah jam dinding. Satu jam sudah berlalu sejak ia keluar kelas, tampak nya murid kelas A sudah mulai datang ke ruangan Jurnalistik.


    “Masuk aja, pintunya nggak dikunci”


***


    Apa keuntungan yang didapat Yukiya jika memacarinya?

__ADS_1


    Julia tak dapat menebak motif pemuda itu, terlalu banyak informasi yang tak ia ketahui soal Yukiya. Apalagi keputusan mendadak janetta yang mejadikan Yukiya sebagai anggota The core begitu saja. Lagi lagi, ia harus memilih. Memilih diantara dua hal yang… sama sama tak bisa ia korbankan begitu saja.


    “Julia… Julia!”


    Julia langsung tersadar dari lamunannya. Ternyata Alfian yang bertopang dagu tepat di jendela di samping tempat Julia duduk sudah memanggilnya sedari tadi.


    “Eh, apa?” tanya Julia bingung.


    “Gue tanya, lo mau pulang bareng gak? Gue mau nebeng di mobilnya pak Nathanael. Kalo lo mau pulang bareng sekarang, lo nggak usah capek jalan kaki kan?”


    Julia mengurut dahinya pelan. Memikirkan permintaan Yukiya membuatnya sakit kepala.


    “Pulang bareng deh, gue juga udah selesai”


    Julia segera mematikan komputer nya, dan mengemasi barang barang nya yang tercecer diatas meja.  Aneh, tak biasanya Julia membiarkan barang barang seperti alat tulis dan buku tulis tercecer begitu saja. Gadis itu biasanya paling benci kalau barang barang kecil berserak diatas meja komputernya.


    “Lo lagi ada masalah?” tanya Alfian khawatir.


    “Nggak kok, Cuma banyak hal yang harus dikerjain dan waktunya lumayan mepet.” Julia beralasan.


    “Beneran?”


    Julia menganggukan kepalanya cepat.


    “Yaudah, gue tunggu di tempat parkir ya. lo udah tau kan mobil pak nathanael yang mana?”


    “Iya, bentar lagi gue nyusul kok. lo duluan aja” Julia berusaha meyakinkan.


    “Oke” ucap Alfian sambil berlalu pergi.


    Setelah memastikan bahwa tak ada satupun barang yang tertinggal, Julia langsung menenteng tas nya dan pergi meninggalkan ruangan nya.


    “Julia, tidak biasanya kamu langsung pulang…” Janetta berkomentar.


    “Iya kak, gue agak capek. Semua kerjaan ada di file biasa ya, artikel buat Mading minggu ini juga udah selesai. Gue pulang duluan…” ucap Julia sambil meninggalkan ruangan Jurnalistik. Diam diam, Yukiya tersenyum melihat sikap Julia yang tampak tak nyaman berada di wilayahnya sendiri.


    Ia tak pernah menyangka, perempuan yang tampak seenaknya itu bisa merasa bimbang.


    “Ternyata, kak Julia Cuma cewek biasa ya…” Yukiya berkomentar.

__ADS_1


***


__ADS_2