
“sebenar nya ada pilihan lain. orang selain kamu yang punya kemampuan buat masuk ke alam bawah sadar orang lain, Cuma Elvira. Tapi kalau harus bawa Alfian ke tempat nya Elvira, saya nggak yakin kalau waktu yang kita punya cukup. Bagaimanapun, pilihan tetap ada di kamu” ucap Nathanael.
Tak ada pilihan lain, Eric harus melakukan nya.
“saya bersedia. Jadi, apa yang harus saya lakukan?” tanya Eric akhirnya.
“bagus. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah tidur” jawab Nathanael.
Eric mencoba berbaring di samping Alfian, dia atas pasir pantai yang kering. Ditemani angin laut yang berhembus dingin, juga suara deburan ombak.
Sial, kalau begini cara nya ia tak akan bisa tidur.
“gue bisa bantu. Tapi janji ya… lo bakal ikut gue abis urusan sama Alfian selesai” ucap Daniel.
“iya, gue kan udah bilang setuju”
“oke”
Iris Daniel kembali berubah keemasan.
“Eric, gue perintahkan lo buat tidur!” ucap Daniel. Dan seketika, Eric pun kehilangan kesadaran nya.
***
“Eric, kamu bisa dengar suara saya?”
Dalam kegelapan, Eric mendengar sebuah suara.
“Ya, saya bisa dengar” ucap Eric dalam kegelapan itu.
“bagus, sekarang ucapkan Maglindo”
“Maglindo!”
***
Tiba tiba, Eric merasakan sensasi terjatuh yang benar benar terasa nyata. Eric membuka mata nya dan mendapati bahwa ia kini tengah terjun bebas dari langit, dalam ketinggian yang tak pernah ia bayangkan sebelum nya.
Jantung nya berdebar kencang, tubuh nya menjadi tegang karena mempersiapkan diri untuk benturan.
__ADS_1
“Tenang Eric, ini Cuma mimpi. Kamu akan baik baik saja”ucap suara itu lagi.
Tentu saja yang ia dengar adalah suara wanita. Karena Nathanael kini telah berubah wujud menjadi wanita. Termasuk pita suara nya.
Perlahan, Eric dapat merasakan kalau kecepatan jatuh nya mulai melambat. Hingga akhirnya, ia mendarat di suatu hutan yang asing.
“ini dimana?” tanya Eric heran.
“kamu ada dalam wilayah imajiner yang diciptakan oleh Library’s of life. Tugas kamu saat ini, adalah mencari lokasi dimana Alfian berada”
Eric melihat sekeliling nya. hanya ada hutan, dan suara nyanyian yang berasal entah dari mana.
“focus, Eric… jangan dengarkan suara nyanyian itu, atau kamu akan keluar dari realitas imajiner itu!”Nathanael memperingatkan.
“oke, saya mengerti.”
“dalam realitas imajiner itu, hukum ruang dan waktu tidak berjalan seperti di dunia nyata. Saya harap, kamu tidak kehilangan kewarasan kamu disana. Apapun yang kamu lihat, itu adalah bagian dari alam bawah sadar Alfian”Nathanael kembali menjelaskan.
Tiba tiba Eric mendengar suara anak kecil dari arah belakang nya. ia mendapati sosok gadis kecil berambut hitam panjang, dan seorang bocah laki laki berambut keperakan.
“oh, disini ada Elvira dan… anak kecil yang mirip dengan hantu yang sering mengikuti Alfian dan Elvira” Eric memberitahukan.
Seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir kali ini menghampiri Eric. wajah nya trelihat agak familiar.
“oh, ada anak kecil yang mirip kak Julia juga” ucap Eric.
“dari ketiga orang itu, menurut kamu… siapa yang paling dekat dengan Alfian secara personal?”
Eric berpikir sejenak.
“mungkin kak Julia, karena dia pacar nya” Eric menebak.
“oke, kalau begitu… kamu ikuti sosok yang mirip Julia itu”
Sesuai instruksi, Eric pun mengikuti sosok Julia yang berwujud anak kecil itu. mereka terus berjalan
ke dalam hutan hingga akhirnya tiba di sebuah pohon yang tampak berbeda dan berukuran paling besar. Eric menyadari kalau suara nyanyian yang sedari tadi mengalun, tiba tiba saja berhenti.
Julia kecil diam mematung, menatap Eric dengan tatapan lurus. Begitu pun dengan Elvira kecil dan bocah berambut perak di samping nya. tiba tiba saja, tubuh itu meleleh di hadapan Eric. yang berdiri dihadapan nya kini tinggal Julia kecil.
__ADS_1
“bocah bermabut perak dan Elvira kecil itu… tiba tiba meleleh pak”
“Tidak apa apa, itu Cuma realitas yang diciptakan dari rasa khawatir Alfian. Elvira yang dia kenal hari ini, mungkin bukan Elvira yang ia kenal bertahun tahun yang lalu. Dan sosok bocah berambut perak itu… pada kenyataan nya sudah mati”
Entah bagaimana, Eric dapat memahami perasaan kehilangan yang dirasakan oleh Alfian.
Beberapa saat kemudian, Julia dalam wujud anak kecil mengulurkan tangan nya pada Eric.
“Dia… mengulurkan tangan ke saya” ucap Eric.
“Bagus, dia akan menunjukan dimana jiwa Alfian berada”
Eric menerima uluran tangan itu. perlahan, Julia kecil menuntun Eric untuk masuk ke dalam batang pohon besar di hadapan nya. tentu saja karena hukum ruang dan waktu tak berlaku, Eric dapat menembus batang pohon besar itu dengan mudah nya.
Kali ini, ia tiba di sekolah. Bangunan Santana Senior High school tempat nya menuntut ilmu. Dihadapan nya, kini berdiri sosok Julia saat ini, dengan mata yang keseluruhan nya hitam. Sosok itu berlari meninggalkan Eric, dan Eric mengejar nya.
“Tunggu!” ucap Eric pada sosok Julia itu.
Namun sosok itu terus berlari, dan perlahan seluruh ruang kelas dan tangga membentuk suatu system paradox dimana Eric tak dapat menemukan ujung koridor dimanapun.
“Eric, sekarang apa yang kamu lakukan?”
“saya lagi ngejar kak Julia… tapi, koridor ini… tiap ruangan kelas maupun tangga… nggak ada ujung nya” Eric mendeskripsikan.
“Eric, apa itu sosok Julia yang barusan menuntun kamu?”
“bukan, yang sebelum nya menuntun saya itu sosok kak Julia dalam wujud anak kecil. Yang sekarang lagi saya kejar adalah kak Julia versi hari ini. tapi kok mata nya hitam semua ya…” jawab Eric.
“tidak, Eric! jangan! Kamu akan masuk ke dalam Loop!”
Suara tawa, tiba tiba memenuhi kepala Eric.
Suara nathanael, sudah tak bisa menjangkau nya lagi.
***
“Eric! Eric! kamu bisa dengar suara saya?” ucap Nathanael di telinga Eric. Gio memeriksa tanda vital di tubuh Eric. denyut nadi pemuda itu makin melemah.
“ini gawat, benar benar gawat!”
__ADS_1
***