
“Dissociative Identity Disorder, DID, atau istilah yang secara awam disebut kepribadian ganda” Yukiya menjelaskan.
“Itu… sejenis penyakit psikologis kan?”
“Yup. Benar~ kalo gue bilang Elvira punya DID, apa lo bakal percaya?”
“Mana bukti nya?”
Yukiya tertawa lepas mendengar pertanyaan Eric.
“Tuh kan, lo nggak percaya! Oke oke… anggap aja gue Cuma bercanda”
Tiba tiba, Yukiya merasakan ponsel yang ia taruh di saku jas nya bergetar. Ia langsung mengangkat telpon itu.
“Halo?” ucap Yukiya pada seseorang di seberang telpon. Dalam sekejap, wajah Yukiya berubah ceria ketika mendengar suara wanita yang menelpon nya.
“Okaa-san!” ucap Yukiya dengan wajah sumringah. Selanjutnya, seluruh percakapan dilakukan dalam bahasa jepang yang benar benar tak Eric pahami. Yang ia tahu, Okaa – san adalah sebutan untuk ‘Ibu’ dalam bahasa jepang. Yukiya terlihat bahagia menerima telpon itu, walau wajah nya tampak agak kecewa ketika sambungan telpon terputus.
“Nyokap lo?” tanya Eric penasaran.
“Yup, katanya dia nggak bisa ikut bokap ke Indonesia karena masih ada urusan di Paris.”
“Loh, kebetulan banget Nyokap gue juga lagi di paris.”
Di tengah pembicaraan itu, Julia membuka pintu mobil dan masuk setelah berganti baju dengan mengenakan Tee, Zipper hoodie, dan jeans. ia menenteng tas ransel berisi beberapa perlengkapan milik Alfian.
“Tapi… ibu ibu di Paris ngapain ya? nggak mungkin kan nyari barang diskonan sampai paris?” Yukiya menebak nebak.
“Ngomong ngomong soal paris, kalo nggak salah minggu ini deh ada Paris fashion week” ucap Julia yang ikut nimbrung. “emang nya siapa yang ke Paris?”
“Nyokap gue sama nyokap Yukiya… tapi bisa aja tujuan nya beda sih”
“Enak banget bisa kesana… orang kaya emang beda. Gue Cuma bisa nonton yang kaya gitu dari Zu-tube aja. walaupun kadang, gue nggak paham juga sih sama selera fashion orang sana”
__ADS_1
“Kalo kak Julia jadi pacar gue, gue pesenin tiket kesana deh!” celoteh Yukiya yang langsung disambut oleh jitakan dari Eric yang duduk di kursi depan.
“Masih bocah udah belajar jadi PHO (Perusak Hubungan Orang)!” ucap Eric.
“Kalo gitu, kita pacaran sekarang”
Perhatian Eric dan Yukiya langsung tertuju pada Julia yang mengucapkan hal itu dengan enteng nya.
“Be… beneran?” tanya Yukiya tak percaya.
“Beneran, sayang~”
Wajah Yukiya langusng berubah merah padam. Sementara itu Julia melirik jam tangan nya.
“Oke, kita putus. Secara teknis, gue udah jadi pacar lo selama dua puluh detik.” Julia mengulurkan tangan nya pada Yukiya. “mana Visa, duit, dan Tiket pesawat bolak balik nya? kan gue udah jadi pacar lo?”
Yukiya tertawa mendengar candaan Julia.
“Well… that’s wouldn’t be a joke next time”
***
“Eh, emang nya kak Alfian diizinin makan makanan dari luar rumah sakit?” tanya Yukiya sambil memasukan beberapa buah buahan ke troli belanjaan yang di bawa oleh Eric.
“Boleh kok… kalau nggak boleh, ya kita makan aja” jawab Julia asal.
Setelah cukup berbelanja, Eric pun membawa troli belanjaan itu ke kasir.
“Tunggu, yang bayar siapa?” tanya Eric pada Julia dan Yukiya yang sudah bersiap kabur dari meja kasir.
“Yang bayar ya, yang bawa troli” jawab Julia santai.
“Hah?” Eric memicingkan mata nya pada Julia dan Yukiya.
__ADS_1
“Lo kan anak orang kaya. Apa lo tega ngebiarin orang miskin kaya gue ngebayar semua belanjaan ini?” ucap Julia dengan wajah memelas.
“Hei, jangan ngaku miskin kalo masih bisa beli skin care”
“Kalau dibandingin sama bokap lo yang punya banyak asset di Bellkarta, pelajar biasa kaya gue ya terhitung miskin”
Tanpa perlu mendengar alasan lebih lanjut, Eric langusng mengeluarkan kartu dari dalam dompet nya. orang tua Eric memang tidak membatasi uang saku putra mereka, tapi di akhir bulan, Eric diharuskan membuat rincian pengeluaran nya selama sebulan penuh. Termasuk keperluan keperluan sederhana, semua akan dimintai pertanggung jawaban. Berfoya foya secara berlebihan bukanlah gaya hidup keluarga Gildereich.
Setelah membayar semua barang belajaan, Eric menenteng sekantung penuh berisi belanjaan itu ke luar toko swalayan, dan mendapati bahwa Julia dan yukiya tengah asyik makan es krim sambil menunggu nya.
“Hai! Udah belanja nya? ternyata lo suka belanja juga ya” ucap yukiya sambil menikmati es krim nya.
“Jadi, gue yang bayarin… gue juga yang bawa barang belanjaan nya?” protes Eric.
“Jadi, harus gue yang bawa? Lo tega biarin cewek yang bawa barang belajaan nya?” lagi lagi Julia beralasan.
“Ehem… oke oke, sebagai cowok yang gentle biar gue yang bawain sebagian barang belanjaan nya”
Yukiya bangkit dari tempat nya duduk dan berjalan menghampiri Eric. tiba tiba Eric menyadari bahwa di belakang Yukiya sebuah motor yang di tumpangi dua orang misterius melaju kencang. Pria yang duduk di bangku penumpang memegang tongkat Bisbol, ia bersiap menghantam kepala Yukiya dengan tongkat itu.
Eric menjatuhkan belanjaan nya, dan bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan pemuda itu.
Tapi Eric terlambat sepersekian detik, walau ia berhasil menarik Yukiya, ujung tongkat itu tetap mengenai kepala Yukiya. Kedua nya terjatuh, sementara dua orang yang mengendarai motor itu langsung pergi meninggalkan lokasi. Setelah melemparkan kartu ‘King Diamond’ ke tanah.
Kedua nya mengenakan Helm Full face, baik Eric maupun Julia tak dapat mengenali mereka, selain itu, plat motor yang mereka kenakan ditutupi sesuatu.
Julia bergegas menghampiri Eric dan Yukiya yang terduduk di tanah, sementara orang orang mulai berkerumun, berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
“Kalian berdua nggak apa apa?” tanya Julia.
“Gue nggak apa apa. tapi Yukiya…”
Yukiya memegangi bagian belakang kepala nya yang terasa sakit, dan mendapati bahwa ada luka sobekan yang mengeluarkan darah disana.
__ADS_1
Lalu, semua nya menjadi gelap.
***