Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
The innermost feeling


__ADS_3

Berada dalam Loop, Eric kini terjebak dalam ruang imajiner yang alfian ciptakan dalam pikiran nya sendiri. suara Nathanael yang sedari tadi menuntun nya tak lagi terdengar. Sosok Julia berkali kali muncul dihadapan nya, dan Eric berusaha mengejar sosok itu.


Sia sia, tak terkejar.


Tiap kali Eric mengejar sosok itu, Julia selalu menghilang di ruangan berikut nya. lalu muncul kembali dari arah yang berkebalikan dengan Arah lari eric sebelum nya. gadis itu tak henti henti nya tertawa.


Eric berhenti sejenak dan mulai melihat ke sekeliling. Di saat seperti ini, di ruang imajiner yang tak dapat dipahami dengan logika, hal pertama yang harus ia lakukan adalah menenangkan pikiran nya.


Dalam ruang infinit itu, Eric duduk diam. Menyandarkan tubuh nya ke tembok, dan menatap kosong ke langit langit.


Sosok Julia dewasa berlari di hadapan nya, ia biarkan lewat begitu saja. Jika ini ruang imajiner milik Alfian, mungkin sosok Julia yang tak terkejar itu adalah bentuk kekhawatiran Alfian terhadap hubungan nya dengan gadis itu. loop ini juga… mungkin, wujud dari permasalahan yang tak dapat Alfian pecahkan.


“kak Alfian… hubungan Toxic kaya gini kenapa masih dilanjutin sih? lo pikir gue nggak bisa liat senyum palsu basi di muka lo atau gimana?” rutuk Eric.


“berdasarkan pengalaman saya, hubungan dimana salah satu diantara kalian masih nyimpen banyak rahasia… hubungan seperti itu nggak bakal bisa dibawa kemana mana.”


            Betapa terkejut nya Eric ketika mendapati Alex Gildereich sudah duduk di samping nya.


“Papa?” ucap eric tak percaya. Eric langsung menggelengkan kepala nya. tidak, ini bukan Alexander Gildereich yang sesungguhnya. Ini hanya proyeksi dari apa yang ada di alam bawah sadar Alfian.


“Eric… gimana kalau kamu pulang ke Indonesia dan masuk Ke SMA Santana?”


            Oh, ini kata kata yang diucapkan Alex ketika meminta nya untuk meninggalkan Amerika. Kali ini apa? kenapa alam bawah sadar Alfian bisa menciptakan sesuatu yang bahkan tak di ketahui Alfian sendiri?


“Berhati hatilah dengan klub Jurnalistik, terutama anggota the core. Dan kalau bisa… jangan mau berurusan dengan El diablo. Cuma murid yang benar benar bermasalah yang dikirim ke sana” suara lain nya muncul, kini berasal dariMr.Arthur yang tiba tiba sudah ada di hadapan Eric.


Halusinasi lain nya?


Beberapa lembar kertas muncul dari langit langit. Headline bulleti sekolah yang bertuliskan


“PUTRA PEMILIK SAINT CORP DIKALAHKAN OLEH GADIS BIASA”


            Eric bangkit dari tempat nya duduk, loop dalam alam bawah sadar alfian sepertinya bercampur dengan kekhawatiran yang ada pada dirinya. ke khawatiran yang tampak Eric sadari telah menjadi beban pikiran nya selama ini.  jika hal ini terus berlangsung, bukan tida mungkin trauma masa lalu nya pun akan ikut muncul.


“sialan!!!”

__ADS_1


Brak!!


Eric membenturkan kepala nya ke kaca jendela. jika realitas ini tercipta dari kekhawatiran di alam bawah sadar Alfian yang perlahan bercampur dengan rasa khawatir dalam diri Eric, maka cara paling mudah untuk keluar dari tempat ini adalah dengan melawan rasa khawatir nya sendiri.


“Papa boleh aja masukin gue kesini, tapi mau apa dan bagaimana gue ngejalanin kehidupan gue disini, gue sendiri yang nentuin!”


Brak!!


Eric kembali membenturkan kepala nya ke kaca lagi.


“Jauhin the Core? Hindarin El diablo? Gue yang dulu mungkin bakal nurut gitu aja tapi… Elvira udah maafin gue. jadi nggak apa apa kan kalo gue nge hapus rasa bersalah gue atas kejadian itu?”


Eric lagi lagi membenturkan kepala nya. dan kali ini, darah segar mengalir dari kening nya yang terluka.


“Nggak apa apa kan, kalau gue berhenti Menuhin ekspektasi semua orang dengan cara jadi anak penurut?”


Retakan di kaca itu melebar


“mulai sekarang, gue bakal hidup dengan cara gue sendiri!”


Jendela itu pecah. sosok Alex, dan Arthur yang mendadak muncul, tiba tiba menghilang begitu saja. Di luar jendela, Eric mendapati sosok Julia kecil tengah berada di halaman sekolah, tepat di bawah jendela yang ia pecahkan.


gadis itu menengadah kan tangan nya, memberi isyarat pada Eric untuk melompat.


Pada moment berikut nya, Eric sudah melompat dari jendela.


***


Tubuh Eric yang beberapa sata lalu sempat melemah, kini mulai stabil. Eric menghela nafas panjang dalam tidur nya.


“Eric, kamu bisa dengar saya?” tanya Nathanael.


“ya, saya bisa dengar” jawab Eric pelan.


***

__ADS_1


Eric tiba di realitas iamjiner lain nya, sebuah reruntuhan gereja tua dimana hujan turun deras.


“Saya ada di reruntuhan gereja… hujan turun deras” Eric mendeskripsikan.


“Bagus, kamu ada di tempat yang tepat. Alfian pasti ada di sekitar situ”


Eric melangkahkan kaki nya, dan melihat sekeliling. Hujan turun deras, namun ia sama sekali tak merasa basah atau kedinginan. Langit kelabu, sejak datang ke tempat ini, tak sekalipun ia pernah melihat matahari.


“siapa kau?”


Seorang bocah laki laki, tiba tiba sudah berdiri di hadapan Eric. Ia mengenakan jubah hitam yang menutupi nyaris separuh wajah nya. Bocah itu membuka tudung jubah nya. wajah nya tampak mirip dengan Alfian.


“aku tidak pernah melihat orang seperti mu masuk ke dimensi imajiner ini. bahkan di ruang memori lain pun… aku tidak pernah melihat sosok mu dimana mana” Bocah itu berucap. “tapi, Alfian mengenal dirimu. Kalau Hiraeth menuntun mu kesini, maka kau bukan seseorang yang berbahaya bagi Alfian”


Begitu rupanya… jadi bocah ini menyebut sosok Julia kecil dalam alam bawah sadar Alfian sebagai Hiraeth. Istilah untuk menggambarkan Perasaan ingin pulang ke rumah yang bahkan tak pernah ada. Bagi Alfian, sosok Julia saat kedua nya pertama kali bertemu, mungkin tampak seperti itu.


“kau berhasil terbebas dari loop, itu bagus. Kalau kau terjebak dalam kegilaan di dalam Loop, Alfian mungkin akan kerepotan karena harus mengeluarkan mu dari sana, dan hal itu menguras energi batin nya”


Bocah laki laki itu mendudukan diri nya di atas peti mati tempat Alfian berada.


“mengakses Library’s of life di usia yang terlampau muda, anak ini benar benar rentan terhadap berbagai jenis gangguan psikis”


“sorry, tapi… kaya nya gue harus cepet cepet bangunin kak Alfian deh.”


Bocah itu menyunggingkan senyum jenaka khas anak anak.


“kau yakin mau pergi begitu saja? Tempat ini berisi penuh tentang segala informasi yang diketahui Alfian. Selagi dia tertidur di peti ini, apa kau tidak mau berkeliling dulu?” bocah itu menawarkan.


Eric menggelengkan kepala nya.


“nggak deh, lagian rasanya… kak Alfian nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue”


“oh ya? Tapi mungkin saja Alfian tahu sesuatu tentang apa yang kamu cari saat ini. tujuan mu di panggil ke Santana Senior Highschool missal nya?”


***

__ADS_1


__ADS_2