Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Innocence


__ADS_3

Gio merogoh saku celana nya dan mengambil selembar sapu tangan. Dengan teliti, ia membersihkan pintu loker itu dari coretan coretan lipstick dan eye liner yang menempel disana.


“ini loker Ivana” jawab Gio sambil menggosok coretan eyeliner yang membandel.


“kak Ivana… di bully?” tanya Eric ragu.


“sort of? Dia emang kuat kalo urusan berantem. Tapi kalo soal pergaulan, dia payah. Dia nggak tau cara nya gaul sama anak perempuan.”


“tapi nggak perlu sampai kaya gini juga kan? Atau barangkali kak Ivana pernah berantem sama siapa gitu?” tanya Eric lagi.


“gimana ya, gue emang nggak terlalu paham soal cewek. Ivana itu tipikal anak yang keras kepala. Selama dia benar, nggak ngikut pendapat mayoritas pun dia berani mempertahankan pendapat dia. Dia juga cantik, kuat, dan lumayan populer dikalangan anak anak cowok. Sikap kaya gitu, kalo dari sudut pandang anak anak cewek mungkin jadi sesuatu yang menyebalkan. Sok cantik, tukang cari perhatian, egois… imej kaya gitu terlanjur nempel dalam diri Ivana. tadinya Cuma satu dua orang yang nggak suka sama dia. Tapi yang nama nya nge gunjing orang, nikmat banget kalau dilakuin rame rame kan… dari situlah dia di bully”


            Dari cara Gio mendeskripsikan Ivana, Eric menyadari kalau Gio boleh jadi memiliki perasaan tertentu pada gadis itu. kagum mungkin?


“tapi kak Gio kan ketua The hive. Apa kalian nggak bisa ngatasin masalah perundungan kaya gini?”


Gio menggelengkan kepala nya.


“kaya nya Ivana nggak terlalu keberatan sama situasi kaya gini. Lagian sejak kejadian itu… Ivana juga agak menghindar dari yang nama nya temenan sama cewek.”


“kejadian apa?”


Gio berpikir sejenak, berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan nya sesingkat mungkin pada Eric.


“cerita nya lumayan panjang. Tapi kalau di deskripsiin secara singkat, dia dijual ke El diablo sama sahabat deket nya sendiri”


***


            Eric masuk ke kelas tepat ketika lonceng berakhir nya pelajaran bahasa inggris berbunyi. Syukurlah yang ia lewatkan hanya pelajaran bahasa inggris, ia hanya perlu mengerjakan tugas tambahan yang harus dikumpulkan sebelum pulang sekolah sebagai ganti absensi. Eric menggulung lengan jaket nya agar seragam olah raga itu tidak terlalu terlihat ngatung. Tapi tentu saja bagian celana tidak bisa ia tutupi, tidak mungkin ia menggulung semua ujung pakaian nya Karena justru akan terlihat makin aneh. Yukiya yang duduk di samping nya hanya bisa menahan tawa melihat Eric yang terpaksa mengenakan seragam olah raga kekecilan milik Alfian. Sementara Elvira yang duduk agak jauh di barisan depan menatap Eric dengan tatapan bersalah.


“untung seragam nya Cuma ngatung ya, nggak terlalu ngetat.” Komentar Yukiya sambil berusaha menahan tawa.


“nggak apa apa deh. Masih mending di kasih pinjem”

__ADS_1


            Eric mengeluarkan buku paket bahasa inggris dan buku tulis nya. masih ada waktu sekitar lima menit sampai guru pelajaran lain masuk. Jika ia mencicil pekerjaan nya di sela waktu yang ada, mungkin saja tugas itu akan selesai bahkan sebelum jam pulang sekolah. Namun tiba tiba, Yukiya menyodorkan buku paket bahas inggris pada Eric.


“ini punya Elvira. Kata dia, salin aja biar cepet”


Eric langusng melirik pada Elvira yang memperhatikan nya dari barisan depan. Eric memberi isyarat ‘Ok’ dengan jemari nya, memberi tanda pada Elvira kalau ia akan menyalin jawaban Elvira dari buku paket itu untuk mempersingkat waktu pengerjaan tugas tambahan. Elvira menggangguk, dan kembali mengalihkan pandangan nya kedepan sementara Eric mulai menyalin.


Eric menyadari kalau Ada jejak darah yang diseka pada beberapa halaman sebeum nya. sudah mengering. Apa terjadi sesuatu pada Elvira?


***


“gue bener bener minta maaf soal tadi pagi, sumpah… itu gue bener bener refleks” ucap Elvira yang langsung menghampiri tempat duduk Eric begitu jam istirahat pertama dimulai.


“nggak apa apa, gue yang salah juga kok.” Jawab Eric.


“lo nggak dendam sama gue kan?”


“enggak…”


“beneran?”


            Tiba tiba saja, eric merasakan hawa keberadaan samar yang sangat dingin dari arah belakang bangku nya. ia menoleh, dan mendapati kalau wajah sesosok hantu berwajah pucat berada sangat dekat dengan bagian samping wajah nya. membuat jantung Eric terlonjak kaget.


“shit! Bikin kaget aja” rutuk Eric kesal.


“ngobrol nya udah beres?” tanya hantu berambut perak itu.pada Eric.


“iya udah! Duh rese banget sih… bisa jantungan gue kalau lo tiba tiba ada di deket gue!”


            Hantu berambut perak itu menoleh pada Yukiya yang duduk di samping tempat duduk Eric. ia tampak asyik bermain ponsel dan tak menyadari keberadaan hantu itu sedikit pun.


“ngomong ngomong, kenapa kemaren lo nggak masuk El? Lo sakit?” tanya Yukiya sambil meletakan ponsel nya di atas meja. “lo nggak ngabarin kita kalo lo sakit… harus nya kita bikin grup chat buat anggota eskul ya, supaya bisa ngabarin kalau ada apa apa”


Elvira diam diam mengepalkan tangan nya kesal. Jelas jelas penyebab ia tak masuk sekolah kemarin adalah anak ini. setelah memancing diri ‘Vira’ yang ada dalam dirinya untuk muncul, Yukiya bersikap seolah ia tak tahu apa apa. padahal butuh usaha yang besar untuk memaksa ‘Vira’ tetap tertidur. Elvira bahkan ber kali kali harus menghubungi konselor nya untuk mengatasi hal itu.

__ADS_1


Tapi ada bagus nya juga Yukiya bersikap seperti itu. kepribadian ganda nya adalah sesuatu yang ingin ia sembunyikan dari Eric. orang yang mengetahui tentang keberadaan ‘Vira’ hanya Yukiya, teman hantu nya, dan konselor nya. selain itu, tak ada lagi yang tahu. Bahkan Alfian sekalipun.


“iya, gue kurang enak badan”


“emang udah sering nggak enak badan?”


“iya”


“kok nggak periksa ke dokter?”


“udah kok”


“terus apa kata dokter?”


            Benar benar menjengkelkan, Yukiya memborbardir Elvira dengan pertanyaan bertubi tubi.


“lo kepo banget sih, nggak usah di interogasi kali. Kalo badan kurang fit ya emang lebih baik bolos sekolah.”


Syukurlah Eric yang tampak nya menyadari ke tidak nyamanan Elvira atas pertanyaan yukiya, memotong percakapan itu.


“hmm… bagus deh kalau lo udah sehat” Yukiya tersenyum puas setelah berhasil membuat Elvira merasa terpojok.


“Udah dulu ya, gue balik ke bangku gue. kayak nya jam istirahat pertama udah mau beres” ucap Elvira yang tampak agak terburu buru kembali ke bangku nya. hantu berambut perak itu mengikuti nya, sambil terus menatap Yukiya dengan tatapan tak suka. Sementara itu, yukiya kembali melanjutkan Game di ponsel nya yang tadi sempat ter tunda.


“Yukiya, lain kali nggak usah tanya macem macem ke Elvira. Lo nggak liat kalo barusan dia kelihatan nggak nyaman?” tegur Eric.


“kenapa? Gue Cuma khawatir sama dia kok. Gue Cuma takut kalo dia kena sakit yang aneh aneh” Yukiya beralasan.


“iya… tapi lain kali nggak usah nanya terlalu detail deh. Lo itu nggak tau apa apa soal Elvira”


Yukiya tertawa sinis mendengar ucapan Eric.


“Eric… eric. yang nggak tau apa apa itu justru lo” gumam nya.

__ADS_1


***


__ADS_2