Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Trauma


__ADS_3

Alexander gildereich langsung memeluk hangat putra nya begitu Eric memasuki ruang kantor.


“Sudah besar kamu nak, papa jarang lihat kamu. Tahu tahu kamu sudah mau masuk SMA saja” ucap Alex melepas rindu pada putra semata wayang nya.


“Papa pasti sibuk, kota ini kelihatan beda banget dari lima tahun yang lalu” jawab Eric.


“Jadi gimana, kamu udah keliling keliling sekolah?” tanya Alex.


“Belum pa, selesai ujian tadi langsung cari makan dan berangkat kesini. Tapi tadi Eri liat halaman sekolah dari tempat ujian di lantai tiga. Tempat nya lumayan luas ternyata” Eric berkomentar.


“Lain kali, kamu harus keliling keliling supaya bisa lihat fasilitas lain nya. Oh ya, papa mau kenalin kamu sama Mr.Arthur, kepala sekolah di Santana high school.”


Pria yang dimaksud langsung bangkit dari sofa dan menghampiri Eric.


“Nama saya Arthur, saya dengar… kamu akan mulai sekolah di Santana high school semester ini” ucap nya seraya menjabat tangan Eric.


“Ah, belum tentu pak. Hasil ujian nya belum keluar” Eric merendah.


“Ada banyak hal yang perlu saya jelaskan tentang Santana high school karena ada beberapa hal spesial yang membuat Santana high school berbeda dari sekolah pada umum nya” Mr.Arthur membuka pembicaraan.


“Ayo duduk disini, penjelasan nya bakal panjang” Alex menyuruh putra nya untuk duduk di samping nya, dan Eric menuruti nya.


“Pertama tama, kamu mungkin sudah tahu kalau murid sekolah ini bukan anak anak biasa pada umum nya. Ada banyak anak dengan latar belakang yang unik. Ada anak pejabat, anak politikus, penerima beasiswa, bahkan anak criminal dan mafia. Tapi, ketika masuk ke lingkungan sekolah… semua latar belakang itu dianggap tidak ada dan semua murid di tempatkan di kelas S sampai E sesuai peringkat mereka di ujian masuk dan ujian khusus yang diadakan tiap tiga bulan”


Eric mengangguk tanda paham.


“Kurikulum untuk tiap kelas dari S-class sampai E-class berbeda beda. Murid murid S-class biasa mengejar target belajar lebih cepat dari kelas lain nya, karena itu jam belajar mereka lebih singkat dan padat. sisa waktu mereka di sekolah dialokasikan ke kegiatan ekstrakurikuler lain yang menunjang bakat mereka. Hal yang sama juga mengalami penyesuaian di kelas lain nya” Mr.Arthur menjelaskan.


“Menurut papa, karena kemampuan belajar tiap anak berbeda beda… kurikulum ini cukup bagus untuk di implementasikan.” Alex berkomentar.


“Selain system belajar yang berbeda, perbedaan lain yang membedakan sekolah ini dari sekolah pada umum nya adalah… tiap permasalahan yang dihadapi murid, diselesaikan oleh murid pula tanpa melibatkan orang dewasa. Ini untuk mencegah konflik berkepanjangan yang melibatkan jabatan dan kekuasaan orang tua murid. Keadaan Pulau yang sedikit terisolasi juga mendukung hal ini, kebanyakan penghuni bellkarta adalah pelajar yang merantau dari luar pulau. Ada beberapa organisasi siswa yang khusus menangani hal tersebut. Tapi ada satu pesan saya untuk kamu…” Mr.Arthur mengambil jeda beberapa saat. “berhati hatilah dengan klub Jurnalistik, terutama anggota the core. Dan kalau bisa… jangan mau berurusan dengan El diablo. Cuma murid yang benar benar bermasalah yang dikirim ke sana”


***


Sisa penjelasan Mr.Arthur, kurang lebih menjabarkan secara terperinci mengenai system belajar, dan system pembagian kelas yang menyerupai kasta. Juga perbedaan antara kelas yang satu dengan kelas yang lain nya. Dari semua pembicaraan itu, hal yang paling membuat menarik adalah peringatan untuk berhati hati dengan anggota The core dan El Diablo. Kenapa, ia harus menghindari dua klub itu?


Sejauh ini, Eric belum dapat memastikan, apakah status nya sebagai anak dari pemilik Saint corporation akan diketahui banyak orang atau tidak. Akan lebih baik kalau hal itu tidak terungkap, karena ia tidak terlalu suka menyandang status sebagai “anak yang punya sekolahan.” Stigma itu akan membuat banyak mata tertuju pada nya. Dan orang orang akan mulai menaruh Ekspektasi terhadap dirinya.


“Oh ayolah, gak mungkin anak yang punya sekolahan gagal masuk ke sekolah punya bapak nya sendiri”


Eric tiba tiba teringat pada ucapan anak laki laki yang diikuti oleh hantu tadi. Dari mana ia tahu kalau Eric adalah anak Alexander Gildereich? Dan ada urusan apa dia di kantor ini? Selain itu, eskul apa yang baru didirikan hari ini dan kenapa ia bisa dipastikan akan menjadi anggota di eskul itu?


Eric menghela nafas panjang.


Baru kemarin ia kembali dari Amerika, sambil membayangkan betapa menyenangkan nya kalau ia bisa menjalani kehidupan anak SMA yang normal. Tapi bahkan hari ini saja, ia sudah bertemu orang yang berteman dengan hantu, undangan menuju klub tanpa nama, dan peringatan langsung dari kepala sekolah.


***


Seminggu berlalu sejak Tes masuk Santana Senior high school. Kemarin ia sudah menerima surat yang menyatakan bahwa ia lolos tes masuk, dan memenuhi syarat untuk ditempatkan di S-class. Elvira juga mendapat pemberitahuan yang sama. Itu artinya, untuk satu semester kedepan kedua nya akan berada di kelas yang sama.


Banyak orang berkerumun di depan papan pengumuman, membuat Eric penasaran pada sesuatu yang dimuat disana. Ketika ia mulai merapat ke tempat kerumunan, beberapa orang mulai menatap nya dengan tatapan aneh.


“PUTRA PEMILIK SAINT CORP DIKALAHKAN OLEH GADIS BIASA”


Kira kira begitulah headline dari bulletin sekolah yang terpampang disana, beserta peringkat hasil tes masuk yang sebelum nya takpernah dipublikasikan. Elvira ada di peringkat satu, sementara Eric berada tepat dibawah nya.


“Lo mau berita nya di take down, Atau mau protes sama klub jurnalistik?” tanya Alfian yang ternyata sedari tadi sudah ada diantara kerumunan itu.


“Nggak ada masalah sama berita nya kok” ucap eric acuh tak acuh, sebelum pergi meninggalkan kerumunan menuju ruang kelas. Ia tampak tidak begitu peduli dengan isi Buletin yang dipampang pagi itu.


Namun sebenarnya, disepanjang perjalanan menuju kelas, Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Eric. Sebenar nya bukan headline berita itu yang membuat nya terganggu. Melainkan kenyataan bahwa Elvira dapat mengalahkan nya dan berada di posisi teratas. Kenyataan yang mengusik rasa tidak aman dalam diri Eric. Bagaimana kalau tujuan orang tua nya mengadopsi anak itu adalah untuk berjaga jaga kalau Eric tidak dapat memenuhi ekspektasi mereka lagi? Itu memang hanya prasangka tak berdasar. Tapi tetap saja, pikiran seperti itu dapat mengganggu nya.


Di ruangan kelas Elvira yang tengah duduk manis di bangku nya tampak terkejut ketika Eric masuk ke kelas. Ia langsung bangkit begitu Eric melewati bangku nya.


“Eric… lo udah lihat papan pengumuman?” tanya Elvira gugup.


“Udah” jawab eric singkat. Mood nya tampak sedang berada dalam keadaan yang kurang baik. Ia langsung menaruh tas nya di salah satu bangku yang kosong. Dan duduk disana.


“Lo marah?” tanya Elvira ragu. Gadis itu menghampiri Eric sambil tetap menjaga jarak seperti biasa. “sorry… gue gak bermaksud…”


“Elvira…” Eric langung menggenggam tangan Elvira yang ditutupi sarung tangan dengn erat, membuat gadis itu terkesiap. Wajah nya memucat, Eric dapat merasakan gadis itu sedikit gemetar. Terakhir kali ia memegang tangan Elvira adalah lima tahun yang lalu, sebelum ia berangkat ke Amerika. Waktu itu, Elvira tidak menunjukan reaksi seperti ini. Entah apa yang mengubah nya.


Orang orang yang tertarik dengan adegan itu mulai memperhatikan Eric dan Elvira. Semua mata kini tertuju pada kedua nya. Beberapa orang mungkin berspekulasi kalau ini adalah sebuah adegan romantis atau semacam nya.


“Eric, bisa tolong lepasin tangan gue?” Elvira setengah memohon.


Tapi Eric tak menggubris permintaan itu. Ia merasa terancam, begitu mengetahui kalau Elvira punya kemampuan yang setara dengan nya di bidang akademis. Jadi, untuk menyingkirkan rasa tidak aman itu… ia akan memanfaat kan kemampuan nya, untuk mencari tahu kelemahan Elvira. Agar sewaktu waktu jika dibutuhkan, gadis itu tetap berada di bawah kendali nya.

__ADS_1


“Bisa lihat gue sebentar?” tatapan Eric berubah dingin. Ia menatap Elvira dengan tatapan intens, dan perlahan mulai memasuki ruang memori gadis itu.


Lembar demi lembar


Eric melihat Telapak tangan dengan penuh goresan luka… Elvira mengiris tangan nya sendiri dengan raut wajah datar. Gadis itu membuat Janji kelingking dengan seseorang untuk bunuh diri bersama.


“Stop!”


Seorang gadis kecil dengan banyak luka lebam di sekujur tubuh nya tengah menangis meminta pertolongan, seorang anak laki laki yang memukulinya dengan gagang telepon. Wanita berusia pertengahan tiga puluhan yang tampak panic, suasana rumah yang hening dan dingin.


“Berhenti!”


Eric tahu, ia harus segera berhenti. Tapi di dalam sana, dibalik mata misterius itu… masih tersimpan  banyak rahasia. Kelemahan seorang Elvira yang paling fatal. Kejadian yang mengawali semua ini. Dalam kenangan yang dikubur jauh dan nyaris terlupakan itu, Eric melihat mayat seorang wanita tergantung di tengah ruangan, dan Elvira kecil menatapnya dengan tatapan kosong. Tatapan mata orang mati.


PLAKKK!!!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Eric, setetes air mata jatuh di sudut wajah nya.


“LO KETERLALUAN!! GUE BILANG BERHENTI!” Elvira berteriak sebelum akhirnya berlari sambil menagis sejadi jadinya.


Tiba tiba saja Eric merasa sekujur tubuh nya sakit, dan kepala nya terasa berat. Ada kesedihan, kesedihan yang benar benar mendalam yang menyelimuti nya. Seolah semua rasa sakit dalam ingatan Elvira itu milik nya. Orang orang hanya berkerumun menonton kejadian itu, hingga Alfian menarik lengan Eric untuk meninggalkan kerumunan.


“Ikut gue” ucapnya seraya menyeret Eric menuju suatu tempat.


***


Tubuh Eric bergetar hebat, ia tak dapat mengendalikan rasa takut yang mencengkram nya saat ini. Ia dipukuli, dibenci, dan dibuang. Semua mata penuh penghinaan itu menghantui pikiran nya, ia benar benar kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih saat ini.


“Eric, lo bisa denger gue?” Alfian menepuk nepuk pundak Eric. Tapi pemuda itu tak memberi respon apapun. seorang pemuda dengan anting salib memasuki ruangan, ia langsung menghampiri Eric yang masih gemetaran.


“Ada apa ini?” tanya nya pada Alfian.


“Overwritten, memori dia kecampur sama memori Elvira pak” Alfian menjelaskan keadaan nya.


“Oke, Eric Gildereich… kamu bisa dengar saya?” pemuda itu menyentuh kening eric.


“Sekarang… tidur!”


Dan semua nya menjadi gelap.


***


“Eric Gildereich” jawab eric.


“Apa yang kamu lihat?”


Citra seorang laki laki muncul dihadapan nya. Laki laki itu memukuli Eric, Eric benar benar dapat merasakan rasa sakit nya.


“Saya… dipukuli…” ucap Eric terbata.


"Itu bukan kenangan kamu, kamu anak seorang konglomerat yang dijaga body guard 24 jam. Gak ada yang berani memukuli kamu”


Seketika itu juga, adegan yang eric saksikan berubah, ia hanya melihat laki laki tak dikenal itu memukuli Seorang gadis kecil, dan gadis kecil itu adalah Elvira.


“Sekarang, apa yang kamu lihat?”


Diatas sebuah gedung yang cukup tinggi, Eric melihat dua orang anak laki laki. Anak laki laki yang pertama menyerupai Alfian, dan yang satunya menyerupai hantu yang mengikuti Alfian. Ketiga nya membuat janji kelingking untuk mati bersama.


“Saya, janji… akan bunuh diri bersama… kak Alfian dan… orang itu” lagi lagi Eric berucap terbata.


“Itu bukan kenangan kamu. kamu menghabiskan waktu lima tahun di amerika, dan selama masa itu… kamu tidak pernah bertemu dengan Alfian”


Seketika itu juga, adegan yang Eric saksikan berubah. Ia hanya melihat Elvira disana, membuat janji kelingking dengan Alfian dan hantu berambut perak itu.


“Sekarang, apa yang kamu lihat?”


Kini, disebuah ruangan yang kosong… Eric melihat ibunya gantung diri.


“Mama… mati…”


“Itu bukan kenangan kamu, kamu baru bertemu dengan ibumu pagi ini”


Lagi lagi adegan itu berubah. Yang ia lihat adalah Elvira kecil, tengah menatap kosong sosok ibunya yang tergantung dan terbujur kaku.


“Sekarang, apa yang kamu lihat?”


Kali ini Eric bersembunyi di dalam sebuah lemari. ia bisa melihat keluar melalui celah di pintu lemari. Sekelompok orang yang berpakaian serba hitam dan bersenjata memburu masuk kedalam ruangan, menembaki seorang Pria ber jas putih yang selalu menemani nya. Pria yang hangat, pria yang begitu eric kenal. Satu peluru lolos mengenai bahu Eric, rasa sakit nya benar benar terasa.

__ADS_1


“Saya tertembak… di bahu kanan”


“Oke,yang satu itu memang milik mu”


***


Eric terbangun, ia langsung duduk dan merasakan kepala nya berputar. Ia mengerjapkan mata nya berusaha menyingkirkan sensasi berputar itu dari kepala nya.


“Lo udah sadar ternyata…” ucap Alfian yang sedari tadi menemani Eric di ruangan itu.


Eric melihat ke sekitar nya. Ruangan itu tampak seperti ruang kantor bernuansa merah dengan berbagai ornament antic di dinding nya. Tak jauh dari sofa tempat nya berbaring, ia bisa melihat Alfian tengah duduk di meja kerja dengan santai sambil membaca buku.


“Ini… dimana?” tanya Eric sambil memegangi kepala nya yang masih sakit.


“Kantor pak Nathanael. Kamu langsung dibawa kesini setelah kejadian tadi” Eric turun dari meja dan kini duduk di sudut sofa tempat Eric terbaring tadi.


“Lo ingat kejadian tadi?” tanya nya.


Eric terdiam sejenak. Ia mengingat semua nya dengan jelas. Ia menerobos masuk ke dalam ruang memori Elvira, mengupas masa lalu gadis itu. tapi Kenapa, Elvira bisa tahu kalau ia tengah membaca masa lalu nya?


“Kenapa Elvira bisa tahu kalau gue lagi baca masa lalu dia?” Ucap Eric heran.


“Karena dia… bisa baca pikiran lo. Dia esper, sama seperti lo dan gue” jawab Alfian sesingkat mungkin. “lo mungkin butuh penjelasan lebih detail, tentang kenangan yang lo lihat… tentang Esper, tentang apa yang terjadi sama lo barusan. Tapi, gue gak akan jawab sebelum lo resmi bergabung sama klub Esperia.”


Eric memijat kening nya pelan, berusaha mencerna situasi nya saat ini. Jadi, Elvira bisa membaca pikiran


nya… itukah sebab nya gadis itu menyuruh nya berhenti? Karena ia dapat melihat masa lalu yang berusaha ia lupakan dengan membaca pikiran nya saat eric mulai masuk ke dalam ruang kenangan Elvira.


“Lo tau gak, butuh sesi konseling bertahun tahun supaya dia bisa ngelupain kejadian yang lo intip dalam memori dia barusan. Dan lo bikin dia inget lagi tentang itu semua...”


“Dimana Elvira sekarang?” Eric memotong kata kata Alfian.


“Pulang lah… kemana lagi”


Eric langsung bangkit dari sofa dan hendak meninggalkan ruangan ketika tiba tiba Alfian menahan tangan Eric, mencegah pemuda itu untuk pergi.


“Mau kemana lo?” tanya Alfian dengan nada serius.


“Ke tempat Elvira” jawab Eric tegas.


“Mau ngapain? Minta maaf? Nyamperin dia sekarang Cuma bakal nambah masalah… kita gak bakal bisa ngehibur atau bantuin dia sedikit pun” Alfian menjelaskan. Eric tampak heran dengan penjelasan Alfian yang menggantung.


“Oh, jangan bilang lo gak tau… kalo Elvira itu ngidap gangguan Androphobia?”


***


Jumlah pegawai laki laki yang berkurang drastis sejak kedatangan Elvira di rumah nya, alasan kenapa Elvira selalu menjaga jarak tiap kali berbicara dengan lawan jenis. Juga sarung tangan yang selalu ia kenakan, semua nya terjawab sudah. Jadi, sejak awal… orang tua nya sudah mengetahui keadaan Elvira. Kenapa hanya Eric yang tidak tahu?


Eric keluar dari ruangan pak Nathanael saat waktu menunjukan pukul dua sore. Ia tak menyangka kalau dirinya akan pingsan selama itu. Eric langsung menuju ruangan kelas dan mengambil tas nya. Murid lain telah menjalani masa Orientasi hari pertama. Berkeliling sekolah, melihat lihat fasilitas yang ada. Eric bisa melakukan nya di lain waktu, yang penting ia ingin menemui Elvira sekarang juga.


Letak apartemen tempat Elvira tinggal memang tak jauh dari sekolah. Hanya berjarak kira kira lima ratus meter. Pembangunan Apartemen itu belum selesai. Nyaris seluruh kamar di tempat itu belum ditempati. Hanya pos


penjaga saja yang berpenghuni. Wajar saja, mengingat kompleks Apartemen ini baru akan diisi satu tahun mendatang, untuk murid murid yang datang dari luar daerah.


Setelah mengetahui letak kamar yang ditempati Elvira dari penjaga, Eric pun langsung berjalan menaiki tangga menuju lantai tujuh, tempat dimana gadis itu tinggal. Tak ada elevator, hanya ada tangga. Tak lama kemudian, ia pun tiba di lantai tujuh.


Eric nyaris tak dapat merasakan hawa keberadaan manusia, hingga ia melewati satu kamar dimana terdengar suara isak tangis perempuan. Suara itu terdengar seperti suara Elvira. Eric memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar itu.


“Elvira?” ucap nya seraya mengetuk pintu perlahan. Tak ada jawaban. “el, apa lo di dalam?” tanya Eric.


“PERGI!” gadis itu berteriak dari dalam.


“El, sumpah… gue gak bermaksud buat ngorek luka lama lo atau apa. Gue gak tahu kalau lo bisa…”


PRAAANGGG!!!


Terdengar suara sesuatu yang dibanting kearah pintu dan pecah. Serpihan kaca menyelinap keluar melalui celah di pintu. Keberadaan eric benar benar tak diterima disini. Eric berhenti mengetuk pintu di hadapan nya.


Bukan sekali dua kali Eric menyelinap masuk kedalam relung ingatan seseorang. Mencari informasi yang ia butuhkan, mencari tahu kelemahan orang lain. ia sudah melakukan nya selama bertahun tahun sejak ia tahu bagaimana cara menggunakan kemampuan nya. Baru kali ini ia tertangkap basah.


Eric menyandarkan kepala nya ke pintu kamar Elvira. Berharap gadis itu akan membukakan pintu untuknya, agar ia bisa meminta maaf. Perasaan curiga, terancam, keinginan untuk memanfaatkan kelemahan orang lain untuk kepentingan nya sendiri. Sisi gelap yang ingin ia tutup rapat rapat. Kalau boleh jujur, Eric pun benci sisi dirinya


yang seperti ini. Ia tak ingin siapapun tahu mengenai sisi gelap nya, termasuk Elvira.


***


Warna langit senja sudah berubah biru ketika suara mobil terdengar memasuki halaman apartemen. Tak lama kemudian, Regina Gildereich sudah berada di lantai tujuh, menghampiri putra nya yang tengah duduk sambil memeluk lutut di depan salah satu kamar dengan tatapan kosong.

__ADS_1


“Eric” wanita itu memanggil. Orang yang dimaksud langsung menoleh. “ikut mama, ada yang mau mama bicarakan sama kamu.


***


__ADS_2