
“Perbaiki grafik nomor 3, lalu pelajari lagi tentang teori likuiditas keuangan…” Janetta menutup bukunya, mengakhiri materi yang harus ia sampaikan malam itu.
“Kak Janetta balik lagi kesini lusa kan?” tanya Eric. Janetta menganggukkan kepalanya.
“Oke, berarti masih ada waktu buat ngerjain tugas sekolah…”
Eric menutup bukunya juga, dan merapikan alat tulis yang tercecer di atas meja.
“Kalian udah selesai belajarnya?” tanya Ivana yang sedari tadi menunggui Eric di salah satu kursi perpustakaan. “berarti pembicaraan yang tadi bisa lanjut dong?”
“Bisa, tapi waktu saya tidak banyak. Supir pribadi Eric aka mengantar saya pulang lima menit lagi” Janetta memeriksa arloji nya.
“Pak Yudha bisa gue minta buat nuggu sebentar lagi kok. lagian, dia tinggal disini dan perjanjian nya, dia emang kerja sesuai kebutuhan pribadi gue. jadi, silahkan lanjut pembicaraan yang tadi” pinta Eric, sedikit menuntut.
“Baik, ini soal saya dan Daniel kan?” tanya Janetta berusaha memastikan. Ivana dan Eric menganggukan kepalanya serempak.
“Kami datang ke Indonesia bersama Mr.Arthur yang saat ini menjabat sebagai kepala sekolah. kami masuk ke Santana melalui jalur rekomendasi khusus, dan yang mengajukan kami adalah Mr.Arthur. apa itu sudah cukup jelas?”
“Terus, hubungan lo sama kak Daniel apa?” tanya Ivana lagi.
“Teman yang sama sama datang dari Vatikan. Kami tidak mempuyai hubungan lain selain itu”
Ivana mengacak rambutnya, frustasi. Janetta jelas jelas masih bersifat defensive. Mebelok kan pertanyaan, membeberkan fakta untuk berkelit dari pertanyaan yang sesungguhnya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia gangster, ini bukan trik yang asing bagi gadis itu.
“Gini aja. gue bakal berterus terang, alasan kenapa gue nanyain soal hubungan kalian berdua adalah… karena kalian sama sama datang sebagai orang yang punya kaitan dengan Pandora Association. Oke, jangan tanya gue tahu dari mana. Dan mendiang nyokap gue juga… gue ngerasa kalau dia ada kaitannya sama Pandora Association. Lo tahu kenapa? Karena symbol Eos yang gue lihat di badan nyokap gue, ada juga di badan nya kak Daniel”
__ADS_1
Mata Janetta terbelalak, gadis itu tidak dapat menutupi keterkejutan nya. jantung nya berdebar cepat.
Siapa yang menyangka, target mereka berada sedekat ini?
Pantas saja Daniel bersikap seperti itu…
Semua mimpi singkat ini akan berakhir sebentar lagi.
Janetta tiba tiba berdiri, dan membuka beberapa kancing teratas dari Blouse hitam yang ia kenakan.
“Oi oi oi! Jangan lupa gue ada disini! Please!” protes Eric begitu menyadari gelagat Janetta yang hendak menyingkap pakaian nya.
Gadis itu menunjukan sesuatu, sebuah rajah yang terukir di tengah dada nya. symbol Eos, symbol yang persis sama seperti milik Daniel.
***
Vladivostok, kota pelabuhan terbesar yang terletak di pesisir pantai timur Rusia. Puluhan kapal dagang sering singgah di tempat ini. terletak diujung Golden horn Bay, tempat itu berada tak jauh dari perbatasan rusia dengan tiongkok dan korea utara.
Salju turun deras, udara dingin yang membekukan tulang berhembus tenang. Ivana kecil mendekatkan dirinya ke penghangat ruangan. Hari ini, seperti biasa sang ibu pulang terlambat. Padahal hari sudah gelap.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang membuka kunci pintu depan rumah. Ivana langsung berlari menyambut kedatangan sang ibu. Ia sempat hampir terpeleset karena kaus kaki yang ia kenakan terasa licin diatas lantai kayu yang menjadi alas rumah nya. beruntung, gadis itu cukup cekatan untuk mengendalikan diri.
“Ibu, kau sudah pulang?” gadis yang fasih berbahasa rusia itu berkata riang.
“Kau belum tidur, Ivana?”
__ADS_1
Wanita cantik dengan rambut pirang pucat bergelombang yang terurai itu masuk kedalam rumah sambil membawa sebuah kantong plastic berukuran sangat besar. Ia tampak membutuhkan usaha banyak untuk menyeret kantong plastic hitam itu.
“Ibu, apa ibu perlu bantuan?” gadis kecil itu menawarkan.
“Kembali ke kamarmu Ivana, ibu masih ada urusan. Ibu akan menyusul nanti” ucap wanita itu tegas. Ivana menganggukan kepalanya patuh, dan segera kembali ke kamarnya.
Gadis kecil itu segera naik ke tempat tidurnya, dan membalut tubuhnya dengan selimut. Lima menit, sepuluh menit, sang ibu tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Ivana yang penasaran akhirnya kembali meninggalkan tempat tidurnya, dan menuju ruang tengah. Mendapati bahwa sang ibu tengah duduk santai sambil menikmati sebotol minuman yang tampak nya mengandung alcohol.
Ivana tahu, sang ibu mungkin baru akan tidur setelah puas minum.
Ivana pergi kedapur, penasaran akan makanan yang dibawa sang ibu untuk dimasak esok hari. Kantok plastic besar yang barusan dibawa, tampak dijejalkan begitu saja kedalam kulkas. Ivana penasaran, apakah ibunya baru saja membeli daging dalam jumlah banyak? Menyetok persediaan makanan di musim dingin seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan.
Ivana membuka kantong plastic hitam itu.
Bau amis mulai tercium, bau amis yang cukup menyengat. Tetesan darah mulai tumpah dari dalam kantong plastik mengotori lengan baju gadis itu. daging segar kah? Aneh sekali, kenapa penjual daging itu tidak mencuci dagangan nya dengan benar?
Ivana memasukkan tangan nya kedalam kantong plastic itu. ia begitu terkejut ketika menyentuh sesuatu yang terasa seperti jari jari manusia. Tidak, ini mungkin hanya khayalan nya saja. Ivana menarik keluar benda mencurigakan itu. nafasnya tercekat begitu menyadari bahwa yang ia Tarik adalah tangan manusia sungguhan.
Jadi… darah yang mengotori pakaian nya pun, adalah darah manusia?
Ivana menutup mulut nya rapat rapat, berusaha mengendalikan diri agar tak satu jeritan pun lolos dari bibirnya sendiri.
“Ivana, kenapa kau belum tidur?”
***
__ADS_1