
“Kak Alfian, hari ini ngumpul di rumah kakak ya? aduh, sorry banget. Gue disini lagi rada sibuk karena kak Julia nggak datang buat kegiatan klub selama lima hari.gue juga baru tahu kalau jadi anak the core, artinya jadi babu nya anak jurnalistik juga. Sekarang, gue lagi sibuk jadi kuli ketik dan nyortir gossip gossip yang bakal masuk bulletin sekolah. aduuuh… pokoknya, gue juga tahu ini gak penting. Tapi mau gimana lagi kan ya?”Yukiya menjelaskan segalanya melalui sambungan telepon.
“Ya udah, mau gimana lagi… prioritasin aja dulu yang penting” ucap Alfian setelah mendengar penjelasan Yukiya.
“Oke, makasih banyak ya kak, gue lajutin kerjaan dulu”
Setelah Yukiya mengatakan hal itu, sambungan telepon pun terputus.
Sudah lima hari berlalu sejak Julia putus dari Alfian. Sudah lima hari pula Julia tidak menunjukkan batang hidung nya. entah apa yang dilakukan Julia di dalam kamarnya, yang jelas hal itu membuat Alfian cukup khawatir.
“Gue harusnya udah nggak peduli lagi kan? Tapi gue kepikiran terus… kenapa Julia nggak keluar kamar. Kadang, gue suka tiba tiba ngebayangin, gimana kalo Julia didalam sana ternyata nggak keluar keluar karena dia udah mati?” Alfian memainkan jemarinya, pertanda bahwa ia tengah berpikir keras.
“Kak Alfian mikir kejauhan kali…” ucap Eric yang terpaksa mendengarkan celotehan Alfian sejak tadi. Saat ini, ia tengah berada di kamar Alfian. Mendengarka semua curhatan Alfian sudah menjadi rutinitas Eric selama lima hari ini, seolah klub Esperia sudah beralih fungsi menjadi tempat Alfian meluapkan semua kegalauan nya.
“Apa gue nyuruh Elvira buat nanyain keadaan Julia aja kali ya? pura pura bertamu gitu? kalau cewek, mungkin bakal lebih ngerti sama perasaan cewek kan ya?” sebuah ide tiba tiba muncul di kepala Alfian.
Eric cepat cepat menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Itu ide terburuk yang pernah gue denger. Kak Alfian tahu sendiri kalau Elvira itu aneh. Vira emang bakal nurut nurut aja kalau disuruh kaya gitu. kalau tiba tiba di tengah jalan dia ganti kepribadian jadi Elvira, dan histeris karena ngeliat kita, gimana?” Eric berspekulasi. “temen sekelas lain nggak ada yang… jenguk gitu? atau nanyain kabar kak Julia kek? Walau judul nya kak Julia ngambil jatah Remote class, minimal, ada yang nanya nanya kan alasan kenapa dia nggak hadir di kelas?” tanya Eric.
“Masalahnya, Julia pun lagi digossipin… dia selingkuh lah, jadi simpanan om om lah, dan yang paling parah dan nggak masuk akal, ada juga yang gosipin kalau dia nggak masuk sekolah karena Aborsi. Dengan banyak nya kabar nggak jelas kaya gitu… anak anak cewek juga nggak ada yang mau berurusan sama Julia, karena takut kena imbas buruk” Alfian menjelaskan.
“Itu gila sih… bahkan udah keterlaluan walau buah bibir nggak berdasar” Eric berpendapat. “emangnya kak Alfian nggak bisa bantu lurusin masalah itu, gitu? kalau kak Alfian sebagai pacarnya… eh, maksud gue mantan nya yang nyanggah, mereka mungkin bakal berenti nge gosipin kak Julia”
Alfian menggelengkan kepalanya lesu.
“Gue ini terkenal sebagai bucin nya Julia, dan udah keseringan belain dia. waktu dia jalan sama Prince, waktu dia pergi ke klub malam buat ngebuntutin beberapa orang, atau disituasi situasi yang… rawan gossip lain nya. gue selalu belain dia. dan sekarang, disituasi kaya gini… kalaupun gue bilang kalau semua rumor itu nggak berdasar, mereka pasti nggak akan percaya. Mereka bakal ngira kalau gue ngelakuin itu semua supaya bisa balikan lagi sama Julia” Alfian menjelaskan.
“Ya gitulah, dunia pergossipan” lanjutnya.
Mengenakan Tee lengan pendek, Jumper suit kasual dan sepatu Sneakers, gadis berambut pirang yang tampak seperti boneka Bisque itu dipersilahkan untuk masuk.
“Ivana?”
***
__ADS_1
Buru buru Alfian dan Eric membuka pintu kamar, dan mendapati bahwa ibu kost tengah menunjukan jalan menuju kamar Julia pada Ivana. gadis itu tampak membawa kotak yang jika Eric tebak dari merek dan logo nya, mungkin berasal dari toko kue donat yang cukup terkenal di pulau ini.
Ivana yang sedari tadi menyadari bahwa seseorang tengah menatapnya dari kejauhan langsung menoleh, mendapati bahwa dua orang aneh tengah mengintipnya dari pintu salah satu kamar yang tidak tertutup sempurna.
Wajah Ivana seolah mengatakan “serahin urusan kaya gini ke gue”
Membuat Eric dan Alfian lega sekaligus was was. Bukankah hubungan diantara salah satu anggota the core, dan anggota El diablo ini tidak cukup baik?
Apa yang sebenarnya direncanakan Ivana?
Setelah diketuk beberapa kali, pintu kamar Julia pun terbuka walau hanya sedikit. Gadis itu mengintip untuk mencari tahu siapa tamu yang mengunjungi disaat seperti ini.
Setelah mengucapkan beberapa patah kata, Ivana pun masuk begitu saja melewati pintu kamar Julia.
“Hal yang gue pikirin dengan muter otak sampai pusing… ternyata bisa dilewatin sesederhana itu sama Ivana” ucap Alfian, nyaris tak mempercayai apa yang baru saja ia lihat.
“Yah… yang ngerti perasaan cewek, ya emang cewek lagi”
__ADS_1
***