
Gio tampak terkejut begitu menyadari kandidat sebagai calon ketua The hive itu juga jatuh pada Alfian. Ia tak menyangka kalau pemuda yang tampak biasa biasa saja itu adalah Sub Esper seperti diri nya.
“Lo… Gio kan?” ucap Alfian tak kalah terkejut.
“Benar, kalian mungkin sudah berkenalan karena sama sama berada di kelas S.”
Gio menatap Alfian dari kepala hingga ujung kaki. Ia tidak tampak seperti seseorang yang terlatih. Mengalahkan nya mungkin bukan hal yang sulit.
“Oke, dalam The Hive… kemampuan bela diri memang penting. Tapi, kemampuan menyelesaikan tugas secara efisien dan tepat sasaran jauh lebih penting. Pertama tama, saya ingin menguji kalian lewat sebuah misi sederhana. Kalian tahu El diablo?”
Gio menelan ludah. Sudah lama ia tak mendengar nama itu disebut. Apa perkumpulan itu masih ada?
“Saya nggak tahu pak!” ucap Alfian jujur.
“Oke, saya akan jelaskan sedikit. itu adalah sebuah gangster paling kuat di Bellkarta. Kebetulan, orang di samping mu ini adalah mantan anggota nya”
Alfian menoleh ke arah Gio.
“Oh, pantesan… pagi pagi saya ngeliat dia berantem pak” ucap Alfian dengan wajah polos.
“Hey! Jangan asal ngomong, yang nyerang gue duluan itu Ivana, gue kan Cuma nangkis!” Gio beralasan.
“Kamu bertengkar dengan perempuan?” tanya Mr.Arthur heran.
“Tidak pak, begini… Ivana itu—“
“Spesial” Alexander Gildereich memotong. “Kalau kamu memang bertengka dengan Ivana, apa boleh buat. Kamu yang pernah berada dalam satu perkumpulan nya pasti lebih tahu tentang sifat gadis itu. dia… unik”
“Jadi, mari kita lanjutkan pembicaraan kita sebelum nya. saya akan menjelaskan pada kalian tentang misi kecil kecilan ini. ketua El diablo itu… dia mengambil sebuah kartu dari saya. Kartu para penguasa. Kalau kalian bisa mengambilkan kartu itu untuk saya, saya akan sangat berterima kasih.” Pemilik Saint Corp itu menjelaskan misi nya pada Alfian dan Gio.
__ADS_1
“Jadi… El diablo itu, masih ada pak?” tanya Gio penasaran.
“Tentu masih ada, dan sekarang menjadi klub resmi di Santana Senior High school, walau keberadaan nya tak banyak diketahui orang dan cenderung dirahasiakan. Selain itu, kegiatan El diablo nanti nya akan berada di bawah pengawasan The Hive secara langsung. Kalian tahu artinya?”
Gio menganggukan kepala nya yakin.
“Siapapun ketua The Hive kelak, ia akan punya kewenangan untuk mengendalikan El diablo”
“Kamu benar. Sekarang, silahkan keluar dari ruangan ini dan bawakan saya kartu itu secepat nya”
***
Alfian dan Gio memang keluar dari ruangan itu secara bersamaan. Namun, kedua nya tampak sama sama buta akan misi yang diberikan tersebut.
“Gue udah lama nggak denger kabar dari El diablo. Kalau pun mereka masih ada, gue nggak begitu yakin kalau markas mereka masih di tempat yang sama” ucap gio terus terang.
“Apalagi gue… gue nggak tahu apa apa soal gangster atau apa pun itu”
Tentu saja ini demi Ivana. jika ia berhasil menjadi ketua The Hive, dan mengendalikan El diablo, Ivana tak perlu khawatir lagi soal keselamatan adik nya, atau paksaan untuk menjadi anggota El diablo.
“Lo boleh kejar gue kalau bisa. Tapi gue ragu, lo bisa ngikutin langkah kaki gue… panjang kaki kita aja beda jauh” ejek Gio sebelum mulai berlari menuruni tangga.
“Anjirrr… sombong banget mentang mentang tinggi”
Alfian tersenyum Licik dan melangkah menuju jendela yang terbuka lebar. Kemudian, pemuda itu naik ke atas jendela tersebut, dan melompat…
***
Gio menoleh kebelakang. Bagus, tak ada tanda tanda keberadaan Alfian yang mengekor di belakang nya. mungkin, pemuda itu sudah menyerah duluan. Selain buta arah, ia juga buta akan musuh seperti apa yang harus ia hadapi.
__ADS_1
Ini akan jadi kemenangan yang mudah.
Jarak dari Santana Senior High school dan gelanggang terbengkalai yang dulu menjadi markas El diablo tak terlalu jauh. Itu adalah tempat pertama yang terpikirkan oleh Gio ketika mendengar nama El diablo.
Kurang dari sepuluh menit kemudian, Gio sudah tiba di gelanggang terbengkalai itu. Gio mendorong dua daun pintu setinggi kurang lebih tiga meter itu dengan kedua tangan nya. di dalam gelanggang terbengkalai itu, seorang pemuda duduk seorang diri di atas sebuah bangku besi yang tampak karatan.
“hei, gue udah nunggu lo dari tadi” ucap nya santai.
Cara bicara nya yang semula formal dan kaku memang berubah drastis. Ia bicara dengan cara bicara yang persis seperti kebanyakan anak muda di Bellkarta. Tapi, Gio tak akan pernah melupakan Iris merah dan wajah pemuda yang mengingatkan nya pada Ivana itu.
“Daniel… Reyes” Gio menyebut nama pemuda itu.
“Wow… lo masih inget nama gue ternyata. Tapi, di tempat ini nama gue bukan Daniel Reyes. Lo boleh panggil gue dengan nama Sandi Prince”
“Dimana anggota El diablo yang lain? ”
Gio melepaskan pandangan ke sekeliling nya. ini bukan tipuan, benar benar tak ada siapapun disini selain pemuda dihadapan nya.
“Sayang nya, Cuma ada gue disini. Kalo lo mau reunian, ini bukan tempat yang tepat” orang yang memperkenalkan diri nya sebagai Prince itu bangkit dari tempat nya duduk.
“Dimana King?” tanya gio lagi.
“Kita bahas itu nanti. Cerita nya panjang… tapi sekarang, yang lo butuhin adalah ini kan?”
Pemuda itu merogoh saku jas sekolah nya. ia mengeluarkan kartu ‘king Diamond’ dan menunjukan nya pada Gio. Kartu King Diamond itu dulu nya adalah symbol dari keberadaan ketua El diablo.
Tidak mungkin, apa ketua El diablo telah berganti. Ini kah kartu ‘penguasa’ yang dimaksud oleh Alexander Gildereich?
Daniel memasukan kembali kartu itu ke saku baju nya.
__ADS_1
“Hey… lo nggak berpikir kalau gue bakal kasih kartu ini ke lo gitu aja kan?”
***