
Begitu King kehilangan kesadaran, pengaruh hipnotis yang bekerja pada Ivana langsung terlepas. Gadis itu mendapatkan kembali kesadaran nya, dan mendapati bahwa dirinya kini tengah bertarung dengan Gio.
“Gio!”
Satu pukulan berhasil dihindari. Melihat kekuatan dan kecepatan serangan yang tak masuk akal itu, Ivana menyadari bahwa pemuda dihadapannya itu tengah berada dalam pengaruh kekuatan Ether.
Apa Gio tengah meniru kemampuan Etherkinesisnya dan kehilangan kendali?
Ivana melihat sekeliling nya, mendapati bahwa puluhan penonton yang semula memenuhi gelanggang mulai berhamburan keluar. Tak jauh dari Ring, King sudah tergolek tak sadarkan diri.
Apa yang terjadi?
Masih terus menghindari serangan Gio, Ivana makin terpojok. Tentu saja karena tubuh dalam mode normalnya tak bisa mengimbangi kecepatan Gio yang kini berada dalam mode the Beast.
“Gio! Sadar Gio!!” Ivana berusaha menyadarkan Gio, namun lagi lagi hasilnya nihil. Satu pukulan mengenai bahu nya, dan Ivana jatuh terjerembab.
Seseorang yang mengenakan hoodie dan masker hitam menghambur ke arena pertarungan dari arah bangku penonton. Belum sempat Gio melancarkan serangan lainnya kea rah Ivana, penonton misterius itu sudah menahan pergerakan Gio.
__ADS_1
“Kak Ivana! cepet pergi dari sini!” ucapnya sambil terus berusaha menahan pergerakan Gio.
“Yukiya? Ngapain lo disini?” tanya Ivana begitu ia mengenali suara orang menolongnya itu.
Usaha yang dilakukan Yukiya tak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian, dalam sekali gerak, Gio berhasil memukul wajah Yukiya dan menghempaskan pemuda itu hingga tubuhnya membentur pembatas Arena.
Yukiya terbatuk, tentu saja karena bagian punggungnya yang paling telak terkena benturan.
“Yukiya!” Ivana langsung berlari menghampiri sang adik.
Darah segar mengucur dari pelipis yang terkena goresan kacamata akibat pukulan Gio sebelum nya. sementara kacamata Yukiya sendiri sudah terlempar hingga keluar Arena.
Yukiya menyeka darah yang menetes dengan jemari nya.
“BUKAN ITU MASALAH NYA!”
***
__ADS_1
Awal nya, palung itu terasa tak memiliki dasar. Semakin dalam Eric tenggelam, semakin dingin suhu air yang ia rasakan. Pada detik berikut nya, Eric dapat merasakan dirinya terhisap semakin dalam.
Tidak, bukan terhisap…
Ia merasakan tubuhnya mulai mengambang kearah yang berlawanan. Dan beberapa saat kemudian, ia tiba diatas permukaan air. Eric berusaha mempertahankan kepalanya agar tetap berada diatas air, dan berusaha memenuhi paru parunya dengan udara. Matahari bersinar terik, angin berhembus pelan. Sungguh suasana yang berbanding terbalik dengan apa yang ia alami sebelum nya.
Tak jauh dari tempatnya muncul, Eric mendapati dirinya berada tak jauh dari garis pantai. Pemuda itu segera berenang ketepian, hingga kedalaman air menjadi cukup dangkal dimaa ia bisa melangkahkan kakinya untuk sampai di garis pantai.
Tempat ini, adalah pantai yang sama dengan tempat yang ia datangi bersama Vira. Hanya saja, suasananya berubah siang. Eric melihat kesekeliling. Ia tak mendapati siapapun ada disana.
Inikah Archein milik King?
“Jadi, gue harus ngapain disini?” tanya Eric pada dirinya sendiri. Sejauh mata memandang, tak ada hal lain selain hamparan pasir dan laut.
Tak ada Hiraeth yang menjadi penunjuk jalan nya.
Eric melepaskan pandangannya lagi ke sekitar. Ada sesuatu yang mengambang di dekat batu karang. Tampak seperti pakaian yang tersangkut, atau semacam nya.
__ADS_1
Pemuda itu pun mendekati sesuatu yang tersangkut di batu karang itu. namun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa sesuatu yang semula ia anggap baju yang tersangkut itu adalah… se sosok mayat.
***