
“Ric, lo kenal cewek itu gak?” tanya Yukiya sambil menunjuk gadis bersurai hitam dan bermata gelap yang duduk di jajaran depan. Kepala nya masih di perban, dan tak lupa gadis itu mengenakan sarung tangan yang menjadi ciri khas nya.
“oh… Elvira?” jawab Eric setelah melihat gadis yang dimaksud. “dia gak sempet ikut Orientasi karena satu dan lain hal sih… wajar kalo lo baru lihat dia hari ini” Eric menjelaskan.
“oooh… jadi cewek itu yang namanya Elvira” Yukiya memperhatikan gadis itu lagi. Beberapa orang mendekati bangkunya, dan mengajak nya berkenalan. Ia terlihat ramah.
“kalo gitu, gue mau kenalan…” ucap yukiya riang, sambil menghampiribangku Elvira. Eric memperhatikan gesture Elvira ketika Yukiya mendekati nya. diam diam, Eric merasa cemas. Dengan kondisi Elvira saat ini, apa ia bisa berbaur dengan murid lain nya secara normal?
“hey… lo Elvira ya? Kenalin, nama gue Yukiya.” Yukiya mengulurkan tangan, hendak menjabat tangan Elvira.
“nama gue Elvira…” gadis itu menjabat tangan Yukiya seperti orang normal. “Lo asli orang jepang?” tanya Elvira penasaran. Jika dilihat dari nama, tentu saja ‘Yukiya’ memiliki kesan jepang yang cukup kental.
“nyokap gue orang jepang, bokap gue orang Bandung. Gue tinggal di jepang Cuma sampai umur tujuh tahun. Jadi, kayak nya kurang tepat kalau gue disebut orang jepang asli”
“eh, tapi keliatan kaya orang jepang banget loh…”
Eric yang melihat dari kejauhan mulai penasaran dengan isi pembicaraan yukiya dan Elvira. Mereka kelihatan akrab, kenapa Yukia bisa dengan mudah menjadi akrab dengan Elvira? Pemuda berwajah Oriental itu ternyata diam diam mempunyai kemampuan bersosialisasi yang bagus juga. Tak lama kemudian, pembicaraan kedua nya pun berakhir dan Yukiya kembali ke tempat duduk nya di samping Eric dengan mata berbinar.
“astaga… kalau dilihat lihat, Elvira cantik juga ya. Dia agak pendiem dan misterius. Gue juga suka gaya rambut nya…” Yukiya berkomentar.
“oh ya?” Eric sudah menduga, kalau Yukiya tidak suka perempuan yang terlihat kuat seperti Ivana, ia mungkin akan lebih tertarik pada gadis seperti Elvira. Dan, binggo… ini mungkin bisa jadi peluang untuk menarik Yukiya masuk ke dalam klub Esperia. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan jawaban yang ia butuhkan dari Alfian.
“katanya sih… Elvira bakal masuk klub Esperia. Klub yang ditawarin kak Alfian ke lo kemarin” Eric berusaha memancing Yukiya.
__ADS_1
“oh ya? Lo tau dari mana?”
“dia bilang ke gue…” ucap Eric ragu. Ini memang hanya dugaan. Tapi fakta bahwa Elvira mengenal Alfian dan punya kemampuan untuk membaca pikiran orang lain, mengarahkan Eric pada asumsi bahwa gadis itu mungkin saja akan bergabung dengan klub bentukan Alfian. Mungkin.
“lo seakrab itu ternyata, sama Elvira. Kenal di mana?”
“aduhhh… lo gak update banget sih. Eric udah kenal Elvira dari lama dong. Elvira itu kan anak pungut keluarga Gildereich” ucap seorang gadis yang tiba tiba sudah berada di belakang bangku Eric dan yukiya. Gadis itu memiliki rambut coklat yang dikuncir kesamping kiri, dan mengenakan aksesoris disana sini. Rok yang ia kenakan mungkin terlalu pendek, sehingga ia harus menutupi nya dengan jaket yang ia ikatkan di pinggang nya. Ketika Eric berbalik, gadis itu mengambil satu jepretan foto dengan kamera yang ia bawa. Flash dari kamera itu mengenai mata Eric. membuat Eric refleks mengerjapkan mata nya beberapa kali.
“lo siapa?” tanya Eric dengan nada sinis.
“kenalin, gue Julia. Orang yang bikin Artikel tentang lo di mading tempo hari” gadis itu menjawab santai. Seolah tulisan yang ia buat beberapa hari yang lalu bukan hal yang besar. Padahal karena tulisan itu, Eric menjadi bahan pembicaraan seisi sekolah selama seminggu penuh.
“Artikel itu gak di pajang di mading, tapi di papan pengumuman di lobby utama. Lo gak bisa bedain papan pengumuman sama mading ya?”balas Eric dingin.
“by the way… lo bisa permisi dulu gak, gue mau ngobrol sama Eric sebentar.” Ucap Julia pada Yukiya. Yukiya langsung bangkit dari tempat nya duduk dan mempersilahkan Julia untuk duduk di bangku nya.
“silahkan kak..” ucap nya sopan.
“thanks”
Julia mengeluarkan sebuah amplop dan note kecil dari saku nya. ia membuka amplop itu, menjajarkan kumpulan foto yang berisi adegan ketika Elvira menampar nya tempo hari. Juga adegan ketika Alfian membawa nya ke ruang pak Nathanael. Eric tak habis pikir, dari mana Julia mendapatkan semua foto ini? apa gadis itu berada di sana ketika kejadian itu terjadi.
“gila… lo bener bener paparazzi” Eric menggeleng geleng kan kepala nya tak percaya.
__ADS_1
“semua anak jurnalistik selalu bawa kamera kemana mana, supaya momen langka kaya gini, nggak lewat gitu aja… jadi, apa lo bisa jelasin kejadian yang ada di foto ini secara Rinci?” Julia menggenggam pena nya, bersiap untuk menuliskan informasi apapun yang akan ia dapat dari Eric mengenai kejadian itu dengan antusias. Tapi Eric hanya menatap nya lurus. Ia tak mengucapkan apapun.
Di sana, Eric tengah membaca masa lalu gadis dihadapan nya.
Suasana rumah yang berantakan, botol alcohol berserakan dimana mana.
Seorang wanita dengan pakaian minim, masuk ke dalam rumah. Ditemani seorang pria. Kedua nya berada di bawah pengaruh alcohol.
Seorang gadis kecil yang masih mengenakan seragam sekolah, duduk disudut ruangan, ia kelaparan… dan takut. Lalu hari berganti hari, dan wanita itu terus membawa pria yang berbeda ke rumah nya. pada suatu hari… wanita itu pulang dalam keadaan babak belur…
“Eric… Eric! woy!” Julia menyentak pemuda dihadapan nya, membuyarkan focus Eric yang sedari tadi tengah mencari sesuatu dalam masa lalu Julia.
“gue tau, gue cantik… tapi gak usah ngeliatin sampai kaya gitu lah. Ayo lanjutin wawancara kita. Jadi, gimana cerita nya anak pungut kaya Elvira, nampar seorang Eric Gildereich?” tanya Julia lagi. “oh tapi, wajar sih kalo anak pungut gak punya etika… kita kan gak tau, pas di panti dia di didik kaya gimana”
Eric tersenyum sinis.
“lo bener… namanya juga diambil dari panti asuhan, kita gak tau pas di panti asuhan dia di didik kaya gimana. Mungkin kurang diperhatiin juga, ibu panti kan ngurus anak nya banyak” Eric berujar.
“Wah… akhirnya lo nyambung juga sama pemikiran gue” puji Julia.
“iya, tapi menurut gue anak panti asuhan yang akhirnya jadi anak pungut itu jauh lebih baik daripada…” Eric menghentikan perkataan nya sejenak, sebelum akhir nya berbisik tepat ke telinga Julia.
“Anak Lonte”
__ADS_1