
Pagi itu begitu melewati gerbang sekolah, entah secara kebetulan atau di sengaja, Eric berpapasan dengan Julia. Gadis itu menatap Eric dengan tatapan kesal. Eric hendak melenggang menuju kelas dan mengabaikan Julia ketika tiba tiba gadis itu menarik tangan nya.
“lo masih mau cari masalah sama gue?” tanya Eric spontan.
“pulang sekolah nanti, lo ada waktu?”
“waktu sih banyak… tapi yang jelas bukan buat lo”
Eric langsung pergi meninggalkan Julia, yang kemudian langsung mengejar nya lagi, mencegah nya untuk pergi.
“ada hal penting yang harus gue bicarain sama lo” gadis itu bersikeras.
“kenapa nggak sekarang aja sih” protes Eric seraya melepaskan cengkraman tangan Julia di lengan baju nya.
“waktu nya Cuma sebentar, plis… “ Julia setengah memohon.
“Julia!” seseorang memanggil dari kejauhan. Orang itu, adalah Alfian, kali ini ia datang tanpa diikuti hantu berambut perak yang biasa menemani nya. Julia langsung melepaskan tangan nya dari lengan baju Eric dan bergerak mundur.
“lo udah nyampe ternyata” Julia menundukan pandangan nya, enggan menatap mata Alfian.
“masih pagi udah ribut sama adik kelas… pantesan gue ngerasa aneh waktu lo tiba tiba berangkat duluan tanpa ngebangunin gue” ucap Alfian kemudian.
“pulang sekolah, di depan GOR teratai” Julia berbisik pelan sebelum meninggalkan Eric dan Alfian menuju kelas nya.
“cewek emang susah di tebak jalan pikiran nya…” Alfian menghela nafas panjang, membiarkan gadis itu berlalu begitu saja. “oh, kebetulan banget lo disini… gue mau minta maaf soal kemarin”
***
Masih ada jeda waktu sekitar 20 menit sebelum jam pelajaran pertama di mulai. Jadi, Eric dan Alfian memilih untuk bicara di bangku halaman sekolah untuk meluruskan masalah kemarin.
“gue sama Julia itu… sebener nya udah pacaran 3 tahun” Alfian membuka pembicaraan.
“wait… barusan lo protes karena Julia nggak bangunin lo sebelum berangkat. Jangan bilang… kalo kalian tinggal serumah?” tanya Eric penasaran
“kami emang tinggal serumah”
“oh… oke” Eric tidak tahu harus berkata apa. “buset… masih SMA, pacaran tinggal serumah. Eh, emang nya boleh? Tapi… siapa yang larang. Lagian orang tua Julia… eh? Emang nya gak apa apa?” berbagai pikiran aneh terbesit di pikiran Eric.
Alfian langsung menjitak kepala Eric, agar pemuda itu berhenti memikirkan hal yang aneh aneh.
“gue tau apa yang lo pikirin, lo pasti mikir yang aneh aneh”
Eric langsung menganggukan kepala nya, jujur.
“gue, Julia, dan beberapa anak rantau lain nya emang tinggal bareng sejak lulus SD. Ada suami istri yang jaga tempat itu juga. Bentuk nya emang kaya rumah besar… tapi tiap anak punya ruang pribadi masing masing dan lebih mirip kost-an. Jadi, jangan mikir yang aneh aneh” Alfian menjelaskan.
“oh, oke”
“gue sama Julia emang udah pacaran selama tiga tahun… tapi, kadang kadang, dia juga jalan sama cowok lain. entah Cuma temen deket, temen jalan, atau mungkin lebih dari itu. dia juga sering nyembunyiin banyak hal dari gue. Makanya, gue cemburu… ketika lo tau sesuatu tentang Julia yang bahkan gue sebagai pacar nya aja gak tau.” Alfian menghela nafas panjang. “gue minta maaf… marah nya gue kemarin itu Cuma akumulasi dari masalah gue yang udah ngendap beberapa waktu.” Alfian mengakui kesalahan nya.
__ADS_1
“ya, terus terang… gue juga agak kaget karena gak tau permasalahn nya apa. Tapi kalo lo emang pacar ‘si nenek sihir nyinyir’ itu… ya, gue pikir wajar lo cemburu”
“jadi, kemaren lo ngomong apa ke Julia sampai di gampar gitu?”
Eric sudah menduga kalau pertanyaan itu akan diajukan lagi. Jadi, ia berpikir sejenak sebelum memutuskan jawaban atas pertanyaan itu.
“oke.. gue balik nanya. Menurut lo, kenapa Julia ngerahasiain sesuatu itu dari lo?”
Alfian berpikir sejenak.
“karena dia nggak percaya sama gue…” jawab nya kemudian. Jawaban itu mungkin ada benar nya, dan Eric bisa merasakan sedikit kesedihan dari jawaban Alfian. Tapi bukan itu yang ingin ia dengar.
“satu, mungkin karena itu hal unfaedah yang lebih baik nggak di ceritain ke siapa siapa termasuk lo. Dua, mungkin karena dia nunggu saat yang tepat buat cerita ke lo. Bukan nya itu bagus? Berarti dia mempertimbangkan hubungan kalian… makanya dia belom bisa cerita?”
“bener juga…” Alfian tersenyum mendengar jawaban Eric.
Sebuah senyum palsu.
“lagian… kalo dia udah berani jalan sama cowok lain, kenapa nggak lo putusin aja?” tanya Eric lagi lagi penasaran.
Alfian mengambil jeda beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu.
“karena gue gak tahu, apa yang bakal terjadi sama gue kalo kami putus. Terus terang… sejak gue menginjakan kaki di kota ini, nggak ada satu hari pun yang gue lewatin tanpa Julia.” Alfian tertawa kecil mendengar jawaban nya sendiri. “geli banget kan”
Eric memang belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelum nya. tapi jawaban Alfian, entah kenapa membuat nya sedih, sekaligus ingin tertawa di saat bersamaan.
***
“rambut lo kenapa?” tanya Eric begitu bertemu dengan Yukiya. Jika diperhatikan, Eric dapat melihat bekas potongan tidak rapih di bagian kanan rambut yukiya, membuat tatanan rambut nya tampak tidak simetris.
“nggak sengaja kepotong” jawab Yukiya singkat. Yukiya menyentuh bagian rambut nya yang bermasalah itu.
“emang keliatan banget ya? Apa ketampanan gue jadi berkurang drastis?”
“emm… Cuma keliatan agak nggak rapih aja sih” jawab Eric jujur.
.“Elvira belom datang ya? Apa dia telat?”
“entah… mungkin telat”
Beberapa saat kemudian, suara bel masuk berbunyi. Namun Elvira masih belum menunjukan batang hidung nya. Eric mulai khawatir, jangan jangan Elvira kembali ‘kambuh’ mengingat Regina ibunya memang pernah berkata kalau kondisi jiwa Elvira berada dalam keadaan tidak stabil dan masih harus menjalani sesi konseling dengan psikiater.
Kalau iya, kali ini apa yang menjadi pemicunya?
“ki, kemarin lo jadi pulang sama Elvira?” tanya Eric pada Yukiya.
“iya, jadi kok”
“waktu pulang bareng lo kemarin, apa dia nunjukin gelagat aneh gitu?” tanya Eric lagi. Yukiya berpikir sejenak.
__ADS_1
“nggak kok… biasa aja”
***
Berhubung Klub Esperia masih belum memiliki ruangan resmi, dan Nathanael tengah menerima tamu penting di ruangan nya. maka sebagai ketua klub, Alfian berinisiatif untuk mengadakan pertemuan di atap sekolah saja. Normal nya, atap sekolah bukanlah tempat yang bisa secara bebas diakses oleh murid begitu saja. Namun entah bagaimana caranya, Alfian bisa mendapat izin dari dewan keamanan siswa untuk menggunakan tempat itu sebagai tempat pertemuan sementara.
Atap sekolah itu tampak luas dan dikelilingi pagar pelindung setinggi dua meter. Tak ada tempat duduk, hanya ada beberapa kaos, celana, sepatu yang tampak nya milik klub basket atau klub sepak bola. Sudah jadi hal yang wajar bagi murid Santana High school yang berkegiatan dibidang olah raga untuk mandi dan mencuci pakaian di sekolah. Walau menaruh pakaian di atap ‘sedikit’ melanggar aturan, namun selama tida bergeletakan dan mengganggu pemandangan, sepertinya bahkan Gio sebagai ketua dewan keamanan sekolah memiliki kelonggaran.
“kalian harus berterima kasih ke gue. Kalo bukan gue yang nego ke Gio, kita pasti gak bakal dapet izin buat ngadain pertemuan disini” Alfian sesumbar. Ketiga nya mengambil tempat duduk dibagian atap yang tertutup bayangan gedung Aula. Walau begitu, hawa dari terik nya matahari yang terpantul dari cat putih yang melapisi seluruh atap, tetap tak terhindarkan.
“iya oke… tapi, apa angin nya nggak terlalu gede disini? Sinar matahari nya juga lagi terik banget”
protes Yukiya. Ketika menengok arloji nya, waktu menunjukan pukul 13.00. wajar saja matahari bersinar terik.
“itulah kenapa, skin care itu penting. Gue nggak pernah lupa bawa sun screen ke mana mana” Alfian merogoh saku celana nya dan mengeluarkan sunscreen berbentuk stick dari sana.
“ini Sunscreen? Kok kaya deodorant?” kali ini Eric yang bertanya.
“norak lo… sunscreen itu kan ada yang bentuk nya lotion, ada juga yang bentuk nya stick biar praktis. Di amerika nggak ada yang kaya gini?”
Eric menggelengkan kepala nya, sementara Yukiya langsung mengambil Sunscreen itu dari tangan Alfian dan memakai nya.
“mau pake?” Yukiya menawarkan pada Eric. awal nya, pemuda itu ragu. Tapi karena penasaran, akhirnya ia menerima tawaran itu juga. Sensasi dingin ketika Sunscreen itu menyentuh kulitnya dan meninggalkan jejak yang terasa sejuk ketika tertiup angin benar benar membuat Eric ketagihan. Pada akhirnya, Eric menggunakna Sunscreen itu nyaris di seluruh bagian kulitnya yang terekspos sinar matahari.
“lo dapet dari mana barang kaya gini?” tanya Eric penasaran.
“oh, jangan salah. Itu bukan barang sembarangan. Itu Sunscreen preloved nya Starla. Dia kasih ke gue dengan harga miring. Barang kaya gini, belum dijual bebas di indo” Alfian lagi lagi pamer. Tapi mendengar nama Starla disebut… sudah bisa ditebak siapa yang paling bersemangat.
“barang preloved nya Starla? Jadi ini pernah dipake starla? Barang sepenting ini lo dapet dari mana?”
Sejak menginjakan kaki nya di atap ini, untuk pertama kali nya yukiya menjadi antusias. Tentu saja karena yang dibahas disini adalah Starla, model sekaligus Aktris favoritnya.
“yup, salah satu murid sini ada yang pernah jadi pasangan Starla buat pemotretan majalah. Dia yang ngenalin gue ke Starla dan Circle beauty blogger nya. dari situ, gue bisa dapet info skin care bagus atau barang preloved yang dijual rada murah.” Alfian menjelaskan.
Dan perbincangan mengenai Starla terus berlanjut hingga pada suatu titik, Eric merasa ada yang tidak beres dengan percakapan antar pria di loteng sekolah mengenai artis dan ***** bengek per-skin care-an.
“jadi, tujuan kita ngadain pertemuan disini apa?” Eric akhirnya mengganti topic pembicaraan.
“bener juga, gue sampai lupa tujuan kita datang kesini apa” Alfian mengeluarkan laptop dari dalam tas nya dan menyerahkan nya pada Yukiya. “oke, sebagai non-esper. Tugas lo adala mencatat agenda kegiatan kita. Termasuk absensi dan agenda hari ini”
“siap bos!”
“agenda kali ini, kita bakal diskusi masalah cakupan Request kita. Kita harus bikin poster, buat promosi. Supaya klub kita eksis. Buat isi poster nya, apa kalian ada usul?”
Eric mengangkat tangan nya.
“Klub Esperia, menerima segala jenis permintaan. Anda butuh pelet? Ingin memikat laki laki? Silahkan hubungi Nathanael di nomor xxx-xxx-xxx”
***
__ADS_1