Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
First impression


__ADS_3

BUGHH!!


            Satu pukulan mendarat di pipi kanan Eric. pukulan lain nya mungkin akan menghantam Eric andai tindakan Julia tak dicegah oleh anak anak lain yang segera menahan nya, dan berusaha menenangkan gadis itu.


“apa lo bilang? Dari mana lo denger itu hah!??” Julia sepenuh nya dikuasai emosi.


            Eric menyeka jejak darah di sudut bibir nya. ia bisa saja menghindari pukulan Julia barusan. Tapi ia memilih membiarkan pukulan itu mendarat di wajah nya.  kata kata Julia memang keterlaluan, tapi kata kata yang ia ucapkan di telinga Julia barusan juga tak kalah keterlaluan. Jadi, boleh dibilang… Eric akan menganggap hal ini sebagai sesuatu yang impas.


“kok lo kaget sih? bukan nya kerjaan lo juga nyari tau informasi tentang orang lain buat dijadiin bahan gosip? Gak usah berlebihan. Lo boleh anggap kalo gue juga sama busuk nya sama lo.”


Eric mendekatkan wajah nya pada Julia.


“Namanya juga anak dari kalangan elit. Wajar dong, kalo gue nyari tau tentang sesuatu yang berusaha lo tutupin setengah mati supaya orang orang kaya lo bisa gue kendaliin. Don’t take it personal, okay?” Eric mengembalikan kata kata itu  pada Julia.


“Dasar brengsek!”


Julia menyambar buku catatan kecil yang baru ia keluarkan lalu membawa nya pergi. Dan untuk melampiaskan kekesalan nya, ia menendang sebuah tong sampah di luar kelas, menumpahkan isi nya ke lantai koridor yang baru saja di sapu.


            Alfian yang mendengar keributan itu langsung menghampiri Eric, memeriksa pipi kanan Eric yang baru saja mendapat pukulan keras dari Julia.


“buset deh… kali ini lo nyari masalah sama cewek mana lagi?” Alfian menyindir. Ia merogoh saku nya, mengeluarkan sebuah plester dan menaruh nya di hadapan Eric.


“no homo ya, jadi lo pasang aja sendiri” ucap nya sambil berlalu pergi.


***


            Bel tanda berakhir nya jam pelajaran untuk murid S-class berbunyi. Kepalan tangan Julia yang mengenai wajah Eric dengan telak, tampak nya membuat wajah pemuda itu mulai memar. Plester saja tidak cukup untuk mengatasi hal itu, jadi Elvira berinisiatif mengambil cold pack dari unit kesehatan siswa untuk mengompres pipi Eric yang mulai bengkak itu.


“gue gak bermaksud belain lo atau apa… jadi ga usah ngerasa berhutang budi” ucap Eric ketika Elvira menaruh Cold pack dihadapannya.


“siapa bilang gue ngerasa hutang budi sama lo? Gue Cuma kasihan sama tante Regina, kalo pulang pulang muka lo bengkak parah, pasti tante Regina yang paling histeris” Elvira beralasan.


“lagian, gue penasaran… lo ngebisikin apa sih sampe bisa dijotos kaya gini?” tanya Yukiya kemudian. Eric refleks menoleh kerah Elvira, kalau kalau gadis itu membaca pikiran nya saat ia menyelam masuk ke dalam memori Julia.

__ADS_1


“gue gak tahu apa apa ya… males banget gue ikut campur sama perkara yang bukan urusan gue” ucap Elvira begitu memahami maksud tatapan Eric padanya. “ngomong ngomong, gue harus nyerahin formulir pendaftaran klub dulu. Bisa ribet kalau telat ngumpulin…”


“El, ngomong ngomong… lo ikut klub atau eskul mana?” tanya Yukiya penasaran.


“Esperia…” jawab Elvira singkat. “lo juga gabung kan? Udah apply?” tanya Elvira pada Eric. pemuda itu menggelengkan kepala nya. ia masih sibuk mengompres pipi nya yang terasa berdenyut.


“lo duluan aja, ntar gue nyusul…” ucap Eric santai.


“oke…”


            Elvira pun meninggalkan ruangan kelas sambil membawa tas nya. Eric masih sibuk membereskan beberapa buku untuk dimasukan ke dalam tas nya, ketika tiba tiba yukiya menghampiri nya dengan wajah semangat.


“jadi, Elvira bakal gabung klub nya kak Alfian itu?”


Dilihat dari wajah nya yang penuh semangat, sepertinya tidak akan sulit mengajak Yukiya untuk ikut bergabung juga.


“iya, lo mau gabung?”


Eric mengeluarkan secarik kertas berisi formulir aplikasi Klub dari tas nya.


            Eric melihat biodata yang dituliskan yukiya diatas kertas itu. di kolom nama, yukiya menuliskan ‘Yukiya I.’ ia lahir pada 19 desember di Yokohama. Yukiya menyingkat nama belakang nya. apa karena nama itu terlalu rumit?


“nama belakang lo… ‘I’ itu singkatan dari apa?” tanya Eric penasaran.


Yukiya menghentikan kegiatan menulisnya dan menaruh jari telunjuk di depan bibir nya.


“Ra… ha… si… a”


***


“ujung ujung nya, kita gak dapet ruangan tetap karena Klub kita sepi peminat dan belum menunjukan kontribusi apa apa buat sekolah. Tapi kabar baik nya, pak Nathanael bersedia buat minjemin ruangan pribadi nya buat tempat kumpul hari ini” ucap Alfian begitu Elvira menyerahkan formulir Aplikasi Klub ke tangan nya.


“jadi, ruangan nya kecil?”

__ADS_1


“ya… mau gimana lagi…”


            Alfian membukakan pintu untuk Elvira, agar gadis itu bisa masuk ke ruangan pak nathanael. Tapi, tepa sebelum kakinya melangkah lebih jauh… tiba tiba Elvira terdiam.


“Kak Alfian!” panggil Eric yang segera menghampiri dari ujung koridor, diikuti Yukiya yang berjalan di belakang nya. “ini formulir pendaftaran nya, punya Yukiya juga” Eric menyerahkan dua lembar formulir itu ke tangan Alfian.


“bisa juga lo narik orang lain masuk klub gak jelas gini… lo pake pellet ya?” ucap Alfian setengah bercanda.


“najis!” sangkal Eric kesal. Pemuda itu kemudian mengintip ruangan di balik pintu yang barusan dibuka oleh Alfian. Ruangan nya cukup sempit, mungkin hanya sebesar 3 x 4 meter. Ada sebuah meja dan kursi kerja yang tampak nya memang satu paket. Dihadapan meja kerja itu, ada sebuah sofa yang cukup untuk di duduki tiga orang. Satu buah sofa lagi yang bisa di duduki dua orang terletak di seberang sofa pertama. Terdapat dua buah jendela yang menghadap langsung ke halaman sekolah. Udara di dalam cukup sejuk berkat Air conditioner yang terpasang di salah satu sisi dinding. Eric masih ingat jelas tempat ini, tempat dimana ia dibawa ketika ingatan nya tak sengaja bercampur dengan Elvira pada kejadian di hari pertama masa Orientasi.


“ini ruangan klub nya?” tanya Yukiya heran.


“bukan, ini ruangan pak Nathanael… kita dipinjemin ruangan ini Cuma buat pertemuan hari ini aja” Alfian kembali menjelaskan. “ayo masuk” ajak Alfian pada anggota baru klub nya itu.


Sementara itu Elvira, masih mematung di ambang pintu.


“Elvira, lo kok malah bengong disitu?” tanya yukiya heran. Elvira menatap ruangan itu dengan tatapan takut.


“kalian… masuk duluan aja… gue disini dulu sebentar” ucap gadis itu terbata. Ia masih memegang kenop pintu dengan tangan gemetar. Tiba tiba, ia teringat kenangan ketika ia di tinggal di rumah hanya dengan saudara tiri lak laki nya yang kasar. Jika masuk ke dalam ruangan itu dan pintu ditutup, siapa yang tahu hal buruk apa yang akan menimpanya.


“Yukiya, duduk duluan yu… gue pegel berdiri terus” ajak Eric yang tampak paham dengan situasi nya. Alfian sudah pernah memberitahu nya, kalau Elvira mengidap gangguan ketakutan berlebih terhadap laki laki. Terbukti dari sifat defensive nya yang menolak masuk ke ruangan kecil yang hanya diisi laki laki itu.


            Seorang laki laki bertubuh tinggi dengan anting salib di telinga kiri nya kemudian masuk ke dalam ruangan. Kulit nya putih, nyaris transparan. Tatapan mata ny tenang, Penampilan nya tampak seperti artis artis yang hanya muncul di drama korea. Eric mengingat orang itu, mereka sudah pernah bertemu sebelum nya ketika ia hendak mengunjungi ayah nya di kantor sehari setelah ia tiba di Indonesia.


“Pak nathanael” ucap Alfian begitu pemuda dengan manik Obsidian itu memasuki ruangan. Tanpa aba aba, pemuda itu langsung mengambil sofa paling kecil yang cukup untuk di duduki dua orang dan memindahkan nya ke dekat pintu. Ia kemudian menata sofa lain nya sedemikian rupa agar semua tempat duduk di ruangan itu saling berhadapan.


“Elvira, kamu boleh duduk dekat pintu. Pintu nya juga tidak usah di tutup. Kalau kamu tidak sanggup ikut pertemuan hari ini… kamu boleh pulang duluan” ucap pemuda itu pada Elvira.


            Sesosok hantu berambut perak yang selalu mengikuti Alfian langsung mengambil tangan Elvira dan menuntun gadis itu untuk duudk di tempat duduk yang disediakan Nathanael.


“gue ada disini, jadi gak usah takut oke?” ucap hantu itu pada Elvira. kini Gadis itu sudah tampak tenang. walau Elvira takut pada laki laki, tampak nya hal itu tidak berlaku pada laki laki yang ‘sudah mati’ alias hantu. Setidak nya, itulah pendapat eric setelah mengamati perilaku Elvira di ruangan ini.


            Setelah memastikan semua murid duduk di tempat nya masing masing, Nathanael pun mengambil tempat duduk di meja kerja nya sendiri.

__ADS_1


“nama saya Nathanael kim. Umur saya 22 tahun. Mulai hari ini, saya akan menjadi guru pembina di klub Esperia”


Pemuda itu, membuka pertemuan.


__ADS_2