
“Maksud lo… apa?” tanya Gio kesal. Yukiya membenarkan posisi kaca matanya sebelum menjawab pertanyaan Gio.
“Bokap gue selalu bilang, ada beberapa hal yang harus tetap dilindungin… walau harus dengan cara ngotorin tangan kita sendiri. Kalau itu buat orang orang yang penting di hidup gue, nyebar gossip, nyebar aib, bahkan memanfaatkan orang lain pun bakal gue lakuin.” Ucap yukiya tanpa rasa bersalah. “Gue tahu, lo nggak bisa ngungkit soal perundungan yang diterima kak Ivana karena posisi lo sebagai ketua The hive. ada… jauh lebih banyak hal yang harus lo prioritaskan dibanding masalah perundungan yang bahkan kak Ivana pun nggak terlalu ngurusin”
Gio tak dapat menyangkal hal itu. tentu saja, karena ia anak yang kini hidup dibawah pengaruh Saint Foundation, menjaga suasana di Santana agar tetap kondusif adalah prioritas nya. dan dengan posisi nya sebagai ketua The hive, ia tak bisa memperlakukan Ivana sebagai anak emas nya.
“Dari pada itu, ada hal penting lain yang harus gue sampaikan ke kak Gio”
Yukiya merogoh saku jas nya, dan menyerahkan sebuah amplop pada Gio. Gio langsung menerima amplop itu dan menerima isinya yang ternyata terdiri dari beberapa lembar foto.
“Kalau nggak cepet cepet diberesin, justru ini yang bakal jadi masalah besar”
***
Ivana meletakkan tas nya di jajaran paling kiri, tepatnya di baris ketiga yang terletak paling dekat dengan jendela seperti biasa. tas Gio sudah ada di samping tempat duduk nya. dan seperti biasanya pula, pemuda itu memang seringkali tidak ada di kelas, terutama ketika jam pelajaran belum dimulai.
Seorang gadis menghampiri Ivana dengan wajah kesal, diikuti dua gadis lain yang mengekor dibelakang.
Braakkkk!!!
Gadis itu menggebrak meja Ivana keras, seisi kelas langusng hening dibuatnya.
“Artikel di mading itu, ulah lo kan?” ucap nya tanpa basa basi.
“Artikel yang mana? Gue baru datang, dan belom baca mading soalnya” tanya Ivana heran.
__ADS_1
“Jangan pura pura nggak tahu! Yukiya itu adik lo kan? Lo nyuruh adik lo yang anak jurnalistik buat bikin artikel kaya gitu kan? Lo pikir gue **** apa?”
Ivana mengernyitkan dahinya. Ia kira, hanya orang orang tertentu saja yang tahu kalau Yukiya adalah adiknya. Ini memang bukan rahasia, tapi tetap saja… beberapa orang pasti sudah menjadikan ini sebagai bahan omongan, terlebih ia dan yukiya sama sekali tidak punya kemiripan apa apa.
“Tahu dari mana yukiya adik gue?” Ivana balik bertanya.
“Oh, bagus banget lo ya… ngalihin pembicaraan kaya gini.”
Gadis itu mencengkram kerah baju Ivana.
“Ada tim lawyer di perusahaan tempat bokap gue kerja, tindakan adik lo ini bisa gue tuntut pake UU ITE. Apa perlu, gue tuntut dulu supaya kalian nggak berani macem macem sama gue?”
Ivana tampak acuh tak acuh mendengar ancaman itu. terus terang, ia bisa saja membanting gadis dihadapan nya dalam satu gerakan. Bukan perkara sulit, tapi Ivana jelas punya harga diri sebagai seorang petarung. Ia, tak akan pernah melawan seseorang yang bahkan tak puya kemampuan untuk melawan balik.
“Lo bener bener kurang ajar!”
Gadis itu mengangkat tangan nya, hendak menampar wajah Ivana. namun, gerakan tangan nya mendadak terhenti begitu ia mendengar perintah yang diucapkan oleh seseorang yang berada tepat dibelakangnya.
“Cukup sampai disitu!”
Ucap alfian yang entah sejak kapan sudah berada di tempat itu. gadis itu menoleh, mendapati bahwa ketua kelasnya tengah duduk di atas meja yang terletak tepat dibelakangnya.
“Masih pagi udah ribut. Nggak usah lebay deh, artikel nya juga Cuma ada di mading entrance hall dan udah dicabut. Jadi, nggak usah dibesar besarin. Lagian, soal kalian yang suka clubbing juga udah bukan rahasia lagi. Tiap hari kalian kan sok sok an pamer cerita soal klub malam ke mana mana dengan wajah bangga. Kok satu artikel aja bikin kalian kebakaran jenggot” lanjut pemuda itu.
“Nggak usah ikut campur, ini bukan urusan lo!”
__ADS_1
“Gue ketua kelasnya disini, lo lupa ya? urusan kelas ini ya urusan gue juga. Kecuali kalo lo mau dropped down ke kelas A, ya sana…”
Gadis itu memutar bola matanya kesal, kemudian berbalik meninggalkan Alfian dan Ivana, begitu pun dengan dua gadis lainnya yang sedari tadi mengekor dibelakang.
“Emangnya Yukiya bikin artikel apaan sih?” tanya Ivana penasaran.
“Artikel soal mereka yang ketangkep basah pergi clubbing. Sekarang lagi rame banget tuh, terutama di kalangan anak kelas lain yang emang suka ngedengerin gossip tentang anak S class” jawab Alfian.
“Eh, ngomog ngomong…”
Alfian mengubah posisi duduknya. Kali ini, ia duduk di bangku Gio yang terletak tepat disamping Ivana.
“Julia apa kabar?” tanya Alfian pada Ivana.
“Lah… yang satu rumah sama dia kan elo, kok nanya gue?”
“Iya, gue kan belom ketemu Julia lagi… tdai pagi jug ague langsung berangkat gitu aja. dia nggak ngomong apa apa ke lo?”
Ivana menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian, suasana kelas mendadadak senyap.
Seorang gadis yang tampak asing melangkah masuk, dan mencuri perhatian seisi kelas,
“Hai…”
***
__ADS_1