
“kak Alfian, lo nggak lupa kan kalo lo utang banyak penjelasan ke gue…” ucap Eric begitu Yukiya meninggalkan atap sekolah.
“oke, jadi… apa aja yang mau lo tanyain ke gue?”
Sebenar nya, ada banyak hal yang ingin Eric tanyakan. Hingga rasanya seharian bicara pun belum tentu bisa memuaskan rasa ingin tahu Eric. ia juga ingin bertanya mengenai masa lalu Elvira, dan Rencana mati bersama yang ia lihat dalam kenangan gadis itu.
Tapi, ia ingin mendengar cerita itu dari mulut Elvira sendiri. Mungkin nanti, jika waktu nya tepat. Disamping itu, ada banyak hal juga yang ingin ia ketahui tentang Santana Senior high school, termasuk larangan Mr.Arthur untuk mendekati klub tertentu.
“El diablo dan the Core itu, klub apa?” tanya Eric akhirnya.
Alfian tersenyum mendengar pertanyaan Eric. ia sudah menduga kalau Eric akan menanyakan hal itu.
“baik El diablo maupun The core, rasanya kurang tepat kalo disebut sebagai Klub. Masing masing Cuma punya dua anggota resmi, dan walaupun nggak pernah di resmikan sebagai bagian dari klub legal di Santana Senior high school, masing masing punya peran yang cukup Vital. Peran vital yang bahkan warga sekolah pun nggak tahu” Alfian memulai penjelasan nya.
“El diablo itu dulunya sekelompok Gangster. Ada masa dimana Santana Senior high School sering tawuran sama anak SMA lain. lo bisa tanya bokap lo, betapa parah nya kelakuan El diablo dulu, sebelum Mr.Arthur diangkat jadi kepala sekolah tiga tahun yang lalu. Gue emang nggak terlalu paham detail nya gimana, tapi setahun setelah jadi kepala sekolah, beliau bikin regulasi baru mengenai klub khusus yang nggak ada kaitan nya sama kegiatan sekolah. Dan aturan itu berlaku buat El diablo dan The Core. Gangster kaya El diablo malah nggak dibubarin, tapi regulasi pemilihan anggota tetap nya diperketat jadi Cuma satu orang per angkatan. Kalau dipikir pakai akal sehat, gimana cara nya seorang kepala sekolah bikin gangster berisi anak anak pembuat onar Tunduk gitu aja sama aturan sekolah?”
“El diablo punya protocol tetap dalam menentukan ketua mereka. Siapapun yang bisa menang baku hantam sama semua member El diablo sekaligus, boleh jadi ketua. Dua tahun yang lalu ada satu orang yang berhasil ngalahin member El diablo sekaligus dalam satu malam. Dan orang itu, sampai saat ini masih jadi ketua El diablo. Dia yang bikin El diablo tunduk sama aturan sekolah. Nama sandi nya selama berkegiatan sebagai member el diablo adalah Prince. Kedengeran keren kan, penjelasan gue tentang El diablo?” ucap Alfian bangga.
Cerita Alfian memang kedengaran menarik, nyaris membuat Eric berpikir bahwa cerita tentang El diablo itu agak terlalu dibuat buat.
“jadi, El diablo itu gangster? Kegiatan gangster emang nya ngapain lagi selain nge bully, nge rokok, dan bikin onar? Kenapa Mr.Arthur ngebiarin hal kaya gitu tetep ada di lingkungan sekolah?” tanya eric lagi.
“Eric… nggak gitu aturan main nya. kan udah gue jelasin, kalo El diablo yang sekarang udah bukan pembuat onar kaya El diablo yang dulu. Lo mungkin nggak tau, tapi keberadaan tukang berantem di tiap sekolah itu menentukan
reputasi sekolah di dunia bawah juga loh. Maksud gue, selalu ada anak sekolah lain yang nantangin buat berantem, atau sengaja nyari masalah. Ada hal hal yang nggak bisa ditangani orang dewasa, dan terkadang hal itu harus diselesaikan lewat jalan kekerasan. Itu sebabnya El diablo masih ada” Alfian menjelaskan. Eric menganggukan kepala nya paham.
“Cuma anak yang benar benar bermasalah yang dikirim ke sana. terlibat sama kegiatan mereka juga bisa bikin anak yang punya sekolah kaya lo berada di situasi yang berbahaya. Lo bisa ja di culik dan dijadiin Sandra supaya pihak sekolah bisa memenuhi tuntutan tertentu. Well… siapa tahu kan? Ini Cuma khayalan gue doang sih” Alfian berandai andai.
“kalau gue pengen ketemu mereka, gimana cara nya?”
__ADS_1
“ngapain ketemu anak El Diablo? Mau nyari masalah?” tanya Alfian heran. Ketika semua orang berusaha untuk tidak berurusan dengan El Diablo, anak pemilik sekolah ini jutru malah ingin bertemu dengan orang orang dari ‘dunia bawah’ tersebut.
“gue pengen ngalamin banyak hal yang belum pernah gue alami sebelum nya. seluruh sekolah ini, nggak.. bahkan semua asset di pulau ini suatu hari nanti bakal di percayakan ke gue. Jadi gue ngerasa kalau berhubungan dengan orang orang paling bermasalah sekalipun, itu hal yang penting.” Eric beralasan.
Perkataan Eric ada benar nya juga. Jadi, Alfian memutuskan untuk membantu eric mencapai tujuan nya tersebut. Walaupun, agak merepotkan.
“oke, kalo itu motivasi lo. Gue bakal bantu sebisa gue. Tapi inget, resiko lo tanggung sendiri. I can’t be your knight in shining armor kalo sampe terjadi apa apa sama lo.” Alfian memberi peringatan, dan Eric mengangguk tanda setuju.
“oke, kalo gitu… jam setengah Sembilan malam ini, kita ketemu lagi di depan sekolah”
***
Sepasang mata Yukiya memperhatikan wajah Julia yang sedari tadi sibuk mengetik kan informasi
mengenai klub Esperia di computer nya.
“Mungkin sekitar tiga tahunan” jawab Julia singkat. Ia masih sibuk berkutat dengan computer nya.
“kak Julia tau kalo kak Alfian punya sixth sense?” tanya Yukiya lagi.
“gue nggak pernah ngebahas hal kaya gitu sama Alfian. Gue bukan tipikal orang yang bisa percaya gitu aja sama hal hal metafisik.”
Walau ia mengatakan hal itu, Julia tetap tak bisa membantah kenyataan bahwa Eric mengetahui rahasia tentang masa lalu nya. bagaima pemuda itu mengetahui rahasia orang yang bahkan baru pertama kali ia temui, pernyataan Yukiya mengenai kemampuan Eric untuk melihat masa lalu orang lain adalah satu satu nya penjelasan paling masuk akal, setidak nya untuk saat ini. dan Julia mau tidak mau harus mempercayai nya.
“jadi kak Julia nggak percaya kalo kak Alfian punya Sixth sense?”
Julia tiba tiba menghentikan kegiatan nya.
“lo dari tadi banyak nanya hal yang nggak penting ya” ucap nya kesal.
__ADS_1
“sorry, gue Cuma heran aja… orang yang pacaran selama tiga tahun, tapi masih susah buat saling percaya. Bukan nya aneh?”
Kata kata yang terlontar dari mulut Yukiya memang benar, namun entah kenapa terasa menyakitkan. Karena bahkan setelah menjalin hubungan selama bertahun tahun, tetap ada banyak hal yang tak bisa ia ungkapkan pada Alfian. Dan itu membuat nya lelah.
“itu bukan urusan lo!”
Yukiya bangkit dari tempat nya duduk, lalu mengulurkan tangan nya untuk menyisipkan Julia ke belakang telinga kanan nya, membuat anting anting hitam polos yang ia kenakan lebih terlihat. Perbuatan seperti itu tentu saja tak bisa diterima begitu saja oleh Julia, terlebih Yukiya adalah adik kelas yang baru di kenal nya hari ini. jadi gadis itu langsung menepis tangan Yukiya.
“lo apa apaan sih!” ucap nya seraya bangkit dari tempat nya duduk dan mencengkram kerah baju Yukiya. Pemuda itu hanya tersenyum dan memiringka kepala nya, menunjukan pada Julia anting yang terpasang di telinga kiri nya.
“gue pake anting yang mirip banget kaya punya kak Julia. gimana? Mirip gak?”
Julia langsung melepaskan cengkraman nya dari kerah baju Yukiya. Lagi lagi ada orang aneh yang muncul. Anting hitam yang ia kenakan, adalah pemberian seseorang yang mengaku sebagai ayah biologis nya. sepintas memang terlihat seperti anting hitam biasa, tapi di dalam nya ada ukiran bertuliskan nama nya, satu hal yang tidak bisa ia pastikan dengan hanya melihat sekilas anting yang dikenakan Yukiya.
“Cuma mirip” ucap Julia sinis, diam diam ia pun berusaha meyakinkan dirnya sendiri.
“desain poster nya, gue percayain ke kak Julia deh. Bisa beres dalam waktu 24 jam kan? Kalo gitu… besok gue kesini lagi buat ngambil poster sama tagihan nya. maaf udah ganggu waktu nya” ucap Yukiya sambil berlalu pergi.
“oi, Yukiya”
Julia tiba tiba memanggil nama Yukiya ketika pemuda itu hampir melangkah meninggalkan ambang pintu. Pemuda itu pun menghentikan langkah nya.
“Apa kita pernah ketemu sebelum nya?”
Yukiya tersenyum tipis.
“dalam dua puluh empat jam terakhir, ini kedua kali nya gue denger pertanyaan itu”
***
__ADS_1