
Suasana malam di bellkarta cukup ramai, kota ini bahkan layak dijuluki sebagai kota yang tidak pernah tidur. Pusat perbelanjaan dan restoran restoran mewah baru akan tutup menjelang tengah malam, bahkan tempat hiburan malam pun baru buka pada pukul sepuluh malam.
Sementara itu, Baik Yukiya maupun Ivana belum memutuskan tempat yang tepat untuk makan malam.
“makan Ramen aja yuk, kaya nya disekitaran sini masih ada restoran jepang yang buka deh” pinta Yukiya. Ivana menggelengkan kepala nya.
“enggak, gila aja ngajak makan makanan tinggi karbohidrat kaya gitu malem malem gini. Kalo rada siang sih ayo” tolak Ivana.
“jadi mau makan apa dong? Kak Ivana kebanyakan milih nih” protes Yukiya. “gimana kalau ayam goreng aja yang gampang?”
“ayam goreng boleh juga… tapi cari yang nyediain salad buah juga” Ivana memberi syarat.
“kak… restoran fast food mana yang nyediain salad sih?”
“kalo dicari pasti ada”
“iya, dicari sampe subuh baru nemu deh”
Ivana mengedarkan pandangan nya, mata nya tertuju pada restoran Red palace, sebuah restoran mewah yang terletak tepat di jantung pusat kota.
“waktu kita datang kesini, kita pernah diajak ke restoran itu kan?” tanya Yukiya. Ivana menganggukan kepala nya.
“iya, udah lama juga kita nggak ke tempat itu.”
__ADS_1
“kak Ivana nggak kepikiran buat kesitu kan? Gue nggak mau masuk kesana pake kaos oblong dan celana jeans rompal rompal gini”
“ya salah sendiri pake baju kaya gitu? Apa perlu gue jait tuh robekan di lutut nya?”
“ ini tuh fashion… lo nggak ngerti fashion sih” Yukiya meledek. “lagian, kak Ivana juga nggak mungkin masuk ke sana dengan pake hoodie dan rok sekolah kan?”
“tau kok, lagian gue juga nggak bawa duit sebanyak itu buat makan disana” Ivana memutar bola mata nya.
Di tengah pembicaraan itu, mata Ivana langsung tertuju pada anak laki laki berseragam siswa Santana Senior high school yang datang ke restoran itu ditemani seorang laki laki dewasa yang mengenakan jas.
“tunggu, itu kan… Alfian?”
***
“kenapa Alfian ada di restoran itu sama om om?’ apa jangan jangan… dia punya sugar Daddy?” tebak Ivana.
“gue nggak liat muka om om itu dengan jelas… tapi kaya nya, orang itu lumayan tajir. Makan di red palace itu bukan kapasitas nya karyawan biasa” Yukiya ikut berkomentar. “gue nggak nyangka kalau kak Alfian orang nya gitu”
“gue juga nggak nyangka… sejak pertama kali ketemu dia dua tahun yang lalu, gue juga nggak nyangka kalau Alfian orang kaya gini” Ivana menimpali.
“ada kemungkinan nggak sih kalo orang itu keluarga nya?”
“setahu gue nggak sih… justru dia tinggal di asrama karena dia nggak punya keluarga disini” Ivana menyesap lemon Juice dihadapan nya. “tapi, dari awal juga gue udah ngerasa curiga sih sama gerak gerik Alfian. Dia cepet banget akrab sama orang orang dewasa. Contoh nya pak Nathanael”
__ADS_1
“mungkin dia bisa akrab sama pak Nathanael karena nilai di mata pelajaran kesenian nya bagus?” Yukiya menebak.
“kaya nya enggak deh.” Ivana menyuapkan French fries ke mulut nya sebelum melanjutkan pembicaraan. “soalnya waktu hari pertama pelajaran kesenian pas kelas satu, mereka justru udah keliatan akrab banget. Seolah seolah mereka temenan. Padahal itu pertama kali nya pak Nathanael ngajar, dan itu juga pertama kali nya kami masuk kelas kesenian”
“selain itu…lo tau kan kalo gue pernah nggak naik kelas satu tahun gara gara berantem terus pas SMP?” tanya Julia. Yukiya menganggukan kepala nya. itu adalah masa masa suram dimana tiap hari ia mendapati Ivana pulang dengan beberapa luka baru tiap hari nya.
“waktu gue stay di kelas tiga SMP, gue sekelas sama Julia dan Alfian. Tapi Alfian sendiri sebener nya bukan murid asli Santana Junior Highschool. Ada desas desus kalau sebener nya Alfian itu dipindahin dari sekolah lama nya karena ada masalah.” Julia menjelaskan.
“masalah apa emang nya?” tanya Yukiya penasaran.
“ini Cuma desas desus ya… tapi katanya, dia melakukan percobaan bunuh diri sama dua orang temen dari sekolah asal nya. dan salah satu anak itu adalah Elvira”
Pernyataan Ivana itu seolah membunyikan bel dalam pikiran Yukiya. Begitu rupanya… pantas saja waktu itu Julia ada disana.
“gue curiga kalau cewek sinting itu yang mempengaruhi Alfian buat bunuh diri. Alfian yang gue kenal itu bukan tipikal orang yang cepet putus asa. Nggak mungkin orang yang punya pikiran positif kaya Alfian bisa bunuh diri gitu aja” Ivana menduga duga. “soal ini nggak perlu lo ceritain ke siapa siapa ya… ini diantara kita aja”
“jadi waktu Elvira nyerang gue yang lagi dirawat itu… kejadian nya setelah percobaan bunuh diri itu?”
“bisa jadi. Lo dirawat di Central hospital kan lumayan lama. Jadi ada kemungkinan kalau Elvira waktu itu dirawat di fasilitas perawatan mental pasca kejadian itu.”
Setelah menghabiskan waktu sekitar empat puluh menit, akhirnya Alfian keluar dari restoran Red palace bersama pria yang sebelum nya menemani nya masuk. Dan kali ini, Ivana dan Yukiya dapat melihat wajah pria itu dengan jelas.
“itu kan Om Alex?”
__ADS_1
***