
Eric tiba di depan sekolah tepat pukul delapan lewat dua puluh menit. Sepuluh menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Mobil hitam yang mengantar nya dari rumah sudah pergi, Eric berjanji untuk menghubungi supir nya lagi jika urusan nya sudah selesai nanti.
Soal Izin, selama Eric sudah menuntaskan semua modul dari tutor harian yang mengawasi nya, sang mama tak akan banyak protes.Cuma ada satu aturan yang harus di patuhi, ‘jangan terlibat masalah. Jika terlibat masalah, selesaikan dengan penuh tanggung jawab’ setidak nya, itulah pesan Alexander Gildereich pada putra semata wayang nya.
Seorang laki laki dengan hoodie biru pastel dengan celana pendek selutut dan sneakers menghampiri nya. Matanya mengerjap karena ngantuk, dan ia langsung menguap begitu menghentikan langkah nya di depan Eric.
“hai, udah lama nunggu nya?” ucap Alfian.
Melihat penampilan Alfian yang tampak kontras dengan pakaian serba jeans yang ia kenakan membuat Eric mulai curiga akan tempat yang hendak ia datangi. Apa Alfian tidak salah kostum? Bukan kah markas El diablo yang hendak mereka datangi adalah tempat berkumpulnya gangster dari seluruh Bellkarta? Kemana semua kesan seram yang tadi siang Alfian ceritakan pada Eric?
“kak Alfian nggak lagi ngelindur kan?” Tanya Eric, berusaha memastikan.
“Emang kenapa? Gue biasa datang kesana pake baju gini kok. Justru supaya kelihatan kontras” ucap nya penuh percaya diri. Alfian menyerahkan masker hitam yang ukuran nya cukup untuk menutupi separuh wajah Eric.
“just in case, lo nggak mau jadi bahan omongan di mading lagi. nanti disana pasti ada perwakilan dari klub
Jurnalistik loh. Mending lo tutupin sebagian muka lo pake ini”
“kak Alfian nggak pake?” Eric langsung menerima pemberian Alfian dan memakai nya.
“gue nggak perlu nutupin kegiatan gue dari siapa siapa kok” ucap nya santai. “ayo berangkat, sebelum tempat nya penuh”
***
Tempat yang hendak Eric dan Alfian tuju adalah sebuah gelanggang olah raga tak terpakai yang berjarak sekitar satu kilo meter dari sekolah.
“waktu masa masa awal pembangunan Santana Senior High School, gelanggang ini pernah jadi gelanggang utama tempat diadain banyak pertanding pertandingan sekolah. Sekarang, karena pembangunan fasilitas sekolah nyaris seratus persen rampung, gelanggang ini udah nggak dipakai karena jarak nya terlalu jauh dari gedung utama.” Alfian menjelaskan sambil berjalan.
“dua kali seminggu, bakal diadain pertarungan, entah itu antar sekolah atau antar anak anak bermasalah. Tujuan nya adalah, supaya acara baku hantam bisa terkoordinir dimana peraturan dan lain lain bakal disesuaikan berdasarkan kesepakatan bersama. Kalo lo rebutan cewek sama seseorang, lo juga bisa daftar buat berantem disini. Kalo lo punya dendam sama seseorang juga, lo bisa daftar buat berantem disini. Kalo punya masalah yang Cuma bisa diselesein dengan kekerasan tapi lo nggak punya skill buat berantem, El diablo juga bisa nyediain tukang berantem lewat protokol tertentu. Intinya, ini tempat yang tepat buat pukul pukulan.”
“selain Arena pertarungan, tempat ini juga sering dipakai buat transaksi. Entah itu dalam bentuk informasi, uang, atau barang illegal dan lain lain. Makanya untuk meminimalisir hal hal yang tidak diinginkan, anak The hive dari dewan keamanan sekolah juga dikirim ke tempat ini sebagai pengawas. Yang dikirim kesini pun biasa nya Cuma laki laki. Nyaris nggak ada cewek di tempat ini”
__ADS_1
Eric dan Alfian tiba di Gelanggang olah raga yang dimaksud. Yang berjaga di pintu adalah laki laki dengan jas putih yang menjadi ciri khas anggota The Hive. Gio, pemuda itu tampak agak terkejut ketika melihat Eric datang bersam Alfian.
“kenapa?, gue nggak telat kan?” ucap Alfian ketika Gio menghalangi jalan masuk nya.
“bentar, lo bawa siapa ini? Dia bukan nya anak yang punya sekolah?” Tanya Gio sambil menunjuk wajah Eric yang ditutupi masker hitam.
“yup, lo benar”
“lo ngapain bawa anak ini kesini? kalo Ada apa apa gimana?” protes Gio.
“kok tamu nya di tahan? Itu Alfian kan?” terdengar suara seorang gadis menghampiri pintu masuk yang dijaga Gio. “Acara nya udah mau mulai loh”
“lihat si Alfian bawa siapa ke tempat kaya gini”
Baik Eric dan gadis itu sama sama terkejut begitu mata kedua nya bertemu.
“Eric?”
“kak Ivana?” ucap Eric nnyaris tak mempercayai apa yang ia lihat. “kak Alfian, lo bilang nggak ada cewek ditempat kaya gini?” Tanya Eric pada Alfian.
“anak yang punya sekolah ngapain di tempat kaya gini? Nggak dicariin mama lo?” Tanya Ivana provokatif. Membuat Eric agak tersinggung. Apa dimata Ivana, ia terlihat seperti anak mami yang selalu diikuti mama nya? Anak manja
macam apa yang dikirim ke negeri asing dan beradaptasi seorang diri di usia yang tergolong masih sangat muda?
“kak Ivana sendiri ngapain di tempat kaya gini? Emang nya nggak takut diapa apain? Nemenin pacar atau gimana?” Eric balas menyindir. Namun, Ivana tampak tak terganggu dengan sindiran itu.
“Gio, lo lanjut periksa tamu yang lain aja. Biar gue yang ngomong sama mereka berdua” ucap Ivana seraya menggiring Eric dan Alfian ke tempat lain yang lebih sepi. Sementara Gio, melanjutkan tugas nya memeriksa tamu yang melewat pintu utama.
***
“oke, jelasin supaya gue paham. Kenapa lo bawa anak ini ke markas El diablo?” ucap Ivana pada Alfian begitu ketiga nya sampai di sisi lain Gelanggang, tempat yang jarang didatangi orang.
__ADS_1
“jawaban nya panjang, soal pengalaman… berhubungan sama orang orang bermasalah… asset… ehm, apa lagi yah?” Alfian berusaha mengingat ingat pembicaraan nya dengan Eric tadi siang.
“biar gue aja yang jelasin.” Potong Eric karena tampak nya, kemampuan mengingat Alfian setara dengan kemampuan ikan koi. Payah.
“gini kak, gue datang ke sini karena pengen tahu soal El diablo. Sekolah ini dan ***** bengek permasalahan nya suatu hari nanti bakal di warisini ke gue. Jadi, gue ngerasa kalo gue ber hak tau segala hal mengenai apa yang suatu hari nanti bakal jadi bagian tanggung jawab gue” Eric menjelaskan.
“nah, itu maksud gue tadi”Alfian mengangguk kan kepala nya, mengiyakan ucapan Eric.
Ivana berpikir sejenak. Alasan Eric memang bisa diterima, tapi itu tidak menutup kenyataan bahwa tempat
ini terlalu berbahaya untuk orang se penting Eric. Eric itu anak tunggal, kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan… keluarga Gildereich jelas akan kehilangan penerus satu satu nya.
“lo nggak ngerti situasi nya. Tempat ini terlalu berbahaya buat orang kaya lo… kalo terjadi sesuatu sama lo, gue juga ikut kena imbas nya” ucap Ivana.
Mendengar jawaban Ivana, justru Eric merasa heran. Jika terjadi sesuatu pada diri nya, kenapa Ivana ikut terkena imbas nya? Memang Ivana ini siapa Eric?
“oh astaga… kalo ngomongin soal bahaya, bukan nya kak Ivana lebih rentan? Kalo kak Ivana aja bisa masuk, kenapa gue nggak? Yang harus pulang itu justru kak Ivana. Bahaya cewek keluyuran jam segini. Apalagi di markas gangster?” Eric menggeleng gelengkan kepala nya.
“Eric, lo gagal paham deh” ucap Alfian sambil menepuk pundak Eric. “l udah denger soal Prince kan? Yang gue ceritain tadi siang?”
Eric menganggukan kepala nya.
“orang yang ngalahin semua anggota lama El diablo dan sekarang jadi ketua?”
“yup bener. Menurut lo, Prince gimana? Kuat? Serem?”
“kalo berdasarkan cerita lo sih… jelas dia bukan orang sembarangan.” Eric berpendapat.
“nah ceritanya belum selesai. satu tahun yang lalu… El diablo sempet bermasalah sama seseorang. dan orang itu nantangin ketua El diablo langsung. Dua tulang rusuk prince patah, ada keretakan di tulang tibia nya juga. Buat pertam kali nya, kedudukan El diablo terancam. Apa lo tau, siapa orang gila yang ngalahin orang se hebat prince?”
Eric menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
“lo nggak bakal percaya kalo orang itu adalah cewek yang ada dihadapan lo”
***