Unusual Highschool Days

Unusual Highschool Days
Regret


__ADS_3

Sesuai janji, Eric memang menemui Julia di gerbang sekolah. Satu hal yang terjadi diluar dugaan adalah…


Ia tak menyangka kalau Gio juga turut serta.


“gue janji bakal jaga jarak dari kalian. lima meter? Nggak… bahkan kalau kalian butuh privasi sampai sepuluh meter pun gue nggak keberatan” ucap Gio begitu Eric menyatakan keberatan nya.


“iya, tapi bukan itu masalah nya…” Eric menggaruk kepala nya yang tak gatal, bingung harus menjelaskan apa pada Gio.


“gue nggak peduli sama urusan pribadi kalian. Yang jelas, gue harus jagain lo dari nenek sihir nyinyir maniak informasi pribadi orang orang ini” Gio merujuk pada Julia. Gadis itu langusng memutar bola mata nya kesal.


Pemuda ini pasti masih dendam mengenai apa yang terjadi pada Ivana.


“yaudah nggak apa apa. tapi bener ya, lo jaga jarak sepuluh meter kan?” tanya Julia, berusaha memastikan. Gio mengangguk yakin.


“oke… ayo jalan” ucap Julia akhirnya.


Setelah Julia dan eric berjalan sekitar sepuluh meter, barulah Gio mengekor di belakang. Eric bersyukur, setidak nya pemuda itu menepati janji nya.


***


            Julia dan Eric memutuskan untuk melanjutkan kegiatan mereka di sebuah kafe yang letak nya tak jauh dari pusat kota. Sementara itu, Gio (atas perintah Julia yang tega) diminta untuk menunggu diluar. Berkali kali Eric meminta Gio untuk ikut masuk ke café dan cukup duduk di tempat yang cukup jauh saja. Namun, Gio menolak dengan alasan ide ini lebih efisien demi keselamatan Eric sendiri.


“oke, jadi mari kita mulai dari data data yang gue selidikin sejak satu tahun kebelakang” Julia membuka laptop nya, menunjukan daftar siswa yang selama ini menjadi bagian dari penyelidikan nya. “mereka orang orang yang data diri nya nggak lengkap, atau menurut dugaan gue… sengaja disembunyiin sama pihak sekolah” Julia menjelaskan.


            Eric memperhatikan daftar di hadapan nya.  disana terdapat nama nama yang memang sudah sangat familiar bagi Eric. nama yang terpampang di layar itu adalah Alfian, Janetta, Gio, Yukiya, Ivana, dan seseorang bernama Daniel.

__ADS_1


“ini baru daftar yang gue periksa dari angkatan gue dan angkatan diatas gue ya. Gue belom meriksa semua daftar anak kelas satu. Dari angkatan kalian, yang gue periksa baru Yukiya doang” Julia menambahkan.


“kak Alfian, kak Ivana… bahkan kak Gio juga?” ucap Eric tak percaya.


“yup, benar. Dan asal lo tahu aneh nya kecuali Yukiya, orang orang ini punya posisi penting di The hive, El diablo, dan…” Julia tak melanjutkan perkataan nya. ia masih ragu ketika jarinya menunjuk nama janetta, ketua klub Jurnalistik yang juga menjadi bagian dari penyelidikan nya.


“The core?” Eric menebak. Julia menganggukan kepala nya.


“ternyata, lo juga udah tahu soal The core”


“asal kak Julia tahu, begitu dipastikan kalau gue bakal sekolah disini, Mr.Arthur nyuruh gue buat nge hindarin El diablo dan The core. Awal nya gue nggak tau eskul macam apa itu, sampe kak Alfian bawa gue ke markas El diablo langsung tempo hari. Gue udah tahu soal El diablo, juga the Hive. yang sama sekali belom gue ketahui… mungkin tinggal The core.” Eric berujar.


            Julia menyesap Caramel Machiato yang baru saja dipesan nya dan menyunggingkan senyum misterius.


Eric benar benar kehabisan kata kata.


“kak Gio emang pernah ngasih tahu kalau anak The core punya jaringan informasi yang bahkan bisa mencakup dunia bawah nya Bellkarta. Tapi kerjaan lo kan Cuma nyari bahan gossip” ucap Eric jujur.


“Kurang ajar!!” Julia memukul kepala Eric dengan sendok dihadapan nya.


“loh, salah gue dimana nya? jangan lupa kalo kesan pertama gue ke kak Julia itu jelek ya… itu kan gara gara kak Julia nyari bahan gossip dari gue” Eric mengenang pertemuan pertama nya dengan Julia. “berani taruhan deh, kak Gio juga pasti nggak suka sama kak Julia karena pernah di jadiin bahan gossip juga” tebak Eric.


Julia menghela nafas panjang.


“soal Gio, itu beda cerita. Dan terus terang, sampe sekarang… gue masih ngerasa bersalah sama dia” Julia menatap Gio yang masih berada di luar kafe. Pemuda itu duduk di salah satu tempat duduk yang di sediakan di luar, sambil memperhatikan orang orang yang berlalu lalang di depan café.

__ADS_1


“lo kenal anak kelas 2S yang namanya Ivana?” tanya Julia. Eric menganggukan kepala nya.


“anggota El diablo kan?”


“yup, benar. dua tahun sebelum Prince nge rombak geng El diablo jadi klub yang sekarang… Ivana itu salah satu anggota disana. Dia keluar karena satu kejadian yang bikin adik nya celaka.”


“jadi, kak Ivana punya adik?”


Julia menganggukan kepala nya.


“tapi, gue sendiri nggak pernah ketemu sih. Ivana Cuma pernah cerita kalau dia punya adik laki laki yang umur nya sekitar empat tahun lebih muda dari dia”


Eric menganggukan kepala nya paham. Kalau dilihat dari umur, merujuk pada Ivana yang kini duduk di kelas 2 SMA adik Ivana mungkin saat ini masih duduk di bangku SMP.


“Selama keluar dari El diablo itu, dia sering di kejar kejar sama gangster lain karena reputasi nya di dunia bawah yang mentereng.” Lanjut Julia.


Tentu saja Ivana punya reputasi seperti itu di kalangan gangster. Setelah memastikan  cara Ivana bertarung di atas Ring dengan mata kepala nya sendiri, Eric sudah tak heran mendengar cerita itu.


“dari dulu, Gio itu suka sama Ivana. bahkan alesan dia mati matian masuk jadi anggota The hive pun, itu supaya dia bisa nge jagain Ivana dari anggota gangster yang ngejar ngejar dia. lo tau sendiri kan, di sekolah ini The hive punya kewenangan di atas El diablo. Dan El diablo sendiri terkenal sebagai geng terkuat di bellkarta. Dengan ngendaliin El diablo… Gio pikir, dia bisa ngelindungin Ivana. tapi…”


Julia menyesap Machiato nya lagi. Ada ekspresi sedih yang tak dapat dijelaskan dari wajah Julia ketika ia hendak menceritakan kelanjutan cerita nya.


“demi masuk The core… gue ngejual Ivana ke El diablo”


***

__ADS_1


__ADS_2