
Tak ada tanda tanda kehidupan dari tubuh Alfian, dan Eric baru menyadar nya.
“tidak apa apa, seperti yang saya jelaskan barusan, Librarian pasti menjalankan protocol khusus untuk menyelamatkan Alfian dari situasi kritis ini yang perlu kita lakukan hanyalah bergerak ke arah laut secepat mungkin” ucap Nathanael sambil terus memacu kendaraan nya.
“jadi, Alfian lagi dalam keadaan mati suri?” tanya Eric khawatir.
“ya, anggap saja demikian”
Kendaraan masih melaju di jalanan yang lengang. Tinggal sepuluh kilometer menuju laut terdekat.
“ngomong ngomong, kenapa lo bisa ada di Aquatic Center niel?” tanya Gio pada Daniel yang duduk di jok depan.
“oi, mana sebutan kak nya? walau kita seumuran, gue tetep kakak kelas lo” protes Daniel.
“oh, lo butuh dipanggil kak?”
“bukan masalah butuh nggak butuh tapi…” Daniel melirik kea rah Eric melalui spion.
“oh, gue bakal tetep panggil kak Daniel dengan sebutan kak kok, walaupun kak Gio Cuma manggil dengan nama doang” ucap Eric yang menyadari tatapan Daniel pada nya.
“nah bagus, adek kelas yang baik nggak perlu ngikutin senior *** kaya dia” Daniel menunjuk wajah Gio.
“adek kelas yang baik, nggak perlu ngikutin senior *** kaya dia” Gio balik menunjuk wajah Daniel.
Eric tertawa melihat kelakukan dua kakak kelas nya itu.
“apa yang lucu?” tanya Gio kesal.
“nggak… gue Cuma nggak nyangka aja. The hive dan El diablo yang punya reputasi mentereng ternyata punya ketua yang suka ngeributin hal hal sepele…” ucap nya jujur. “jadi, kenapa kak Daniel bisa ada di Aquatic center?”
“yah, tadinya gue mau nyari Alfian buat naik ke atas Ring. Kebetulan gue ada jadwal pemotretan besok, gue nggak bisa terlalu lama disana kalau nggak mau babak belur. Ivana juga lagi kurang fit.” Daniel menjelaskan. “tapi, karena
Alfian nggak memungkinkan…”
Eric diam diam melirik ke arah Nathanael, penasaran apakah sebagai seorang guru, Nathanael akan mencegah perkelahian antar siswa. Tapi pemuda yang kini telah bertransformasi menjadi seorang gadis itu tampak focus menyetir. Sepertinya, ia tak begitu peduli akan hal ini.
__ADS_1
“terus gimana? Mau dibatalin?” tanya Gio.
“nggak mungkin dibatallin. Apalagi Ivana udah izin nggak bisa ikut buat jadwal sabtu malam. Kalau di tumpuk terus, minggu depan kami bisa kewalahan” jawab Daniel. “maka dari itu, gue kepikiran buat bawa Eric ke GOR malam ini”
“gue nggak setuju!” Tolak Gio tegas. Tentu saja, mana mungkin Gio setuju. Helen sudah mempercayakan keselamatan putra nya pada Gio. Baik ke atas Ring dan bergabung dengan pertarungan liar tanpa pengaman? It’s a big NO.
“kalo gitu, lo mau gantiin Alfian? Nggak bisa kan, karena posisi lo sebagai pengawas. Kalau ada apa apa sama muka gue, mau tangggung jawab sama jadwal pemotretan gue besok, atau…”
Daniel memundurkan jok nya sedikit dan melirik ke arah Gio.
“lo lebih suka kalo Ivana yang lagi nggak fit buat naik ke atas Ring?”
Gio langsung mendelik ke arah Daniel. Daniel tahu, kelemahan terbesar seorang Gio. Kalau menyangkut soal Ivana, ia tak akan bisa berkutik.
“gue nggak keberatan kok…”
Nathanael tiba tiba mengerem mobil nya mendadak, membuat Eric, Gio, dan Daniel nyaris terantuk.
“mbak, bisa lebih smooth nggak sih nge rem nya?” protes Daniel.
Jarak dari jalan raya ke tepi pantai sekitar tiga ratus meter. Nathanael memarkir kendaraan nya di pinggir jalan begitu saja. Gio membawa Alfian di punggung nya, sementara Daniel dan Eric mengikuti dari belakang. Setelah tiba di garis pantai, keempat nya berhenti.
“baik, sekarang kamu taruh Alfian di air” Nathanael kembali memberi instruksi. Perlahan, Gio menurunkan tubuh Alfian dari punggung nya, membiarkan tubuh pemuda itu terendam air.
Eric dan pak Nathanael dapat melihat sosok wanita penghuni kolam Aquatic Center itu keluar dari tubuh Alfian. Mata hitam dan seringaian penuh gigi tajam itu perlahan menghilang, berubah menjadi sosok wanita cantik yang bergerak meninggalkan tubuh Alfian.
Namun setelah itu, tak ada reaksi apa apa.
Tubuh Alfian masih terbujur kaku, tanpa denyut nadi maupun detak jantung.
“sekarang gimana pak?” tanya Eric sedikit panic.
“oke, bawa dia ke tempat yang kering” ucap Nathanael.
Setelah memastikan kalau Alfian berada di tempat yang aman, Nathanael langsung melakukan resusitasi jantung pada Alfian. Ia melakukan nya beberapa kali hingga Alfian terbatuk dan mengeluarkan air yang memasuki tenggorokan nya.
__ADS_1
Tapi tubuh alfian kembali tak menunjukan Reaksi apa apa.
“saya akan coba bangunkan dia lewat alam bawah sadar nya” ucap Nathanael. Ia mengenggam tangan Alfian dan menutup mata nya.
“Alfian, kamu bisa dengar suara saya?” ucap Nathanael. Tak ada reaksi. Alfian masih terdiam. Nathanael langsung membuka mata nya.
“Nggak bisa, dia nggak bisa dengar suara saya. Daniel, coba bangunkan Alfian dengan Direct command” Nathanael memberi instruksi.
Dalam sekejap, Iris Daniel berubah keemasan.
“Alfian, gue perintahkan lo buat bangun!” ucap nya lantang.
Alfian tetap tak menunjukan reaksi apapun.
“ini gawat…” Nathanael terdiam. Ia berusaha memutar otak, bagaimana cara nya menyelamatkan Alfian?
“emang nya, ini pertama kali nya kak Alfian ada di situasi kaya gini pak?” tanya Eric penasaran.
“nggak, dulu dia pun pernah mengalami hal ini. dan Cuma orang orang dari asosiasi Pandora yang bisa nolongin dia. tapi…”
Nathanael kini mengalihkan pandangan nya pada Eric.
“ini mungkin sebuah pertaruhan yang beresiko. Tapi nggak ada salah nya mencoba. Eric… Cuma kamu yang bisa membantu Alfian”
“hah? Gimana pak?” Eric terkejut mendengar pernyataan Nathanael.
“Retrocognition kamu,pada dasar nya adalah kemampuan untuk masuk ke ruang memori yang ada di alam bawah sadar manusia. Saya akan menuntun kamu untuk masuk ke alam bawah sadar Alfian. Tapi bukan berarti tidak ada resiko nya”
Eric menelan ludah.
“apa resiko nya pak?” tanya nya ragu.
“kalau gagal, kamu mungkin akan berada dalam Loop dan berakhir dalam keadaan mati suri.”
***
__ADS_1